Seorang gadis cantik dengan tampilan sederhana tapi tetap terlihat elegan turun dari sebuah taxi. Kanaya dengan ragu melangkahkan kakinya di sebuah bengkel sederhana, dimana mobilnya diperbaiki.
"Assalamualaikum." ucap Kanaya hingga membuat semua yang ada di sana menoleh.
"Waalaikum salam." setelah sejenak mereka terpana, akhirnya salam balasan itu terdengar hampir serempak dari hampir seluruh lelaki penghuni bengkel.
Siapa yang tidak mengagumi sosok cantik dengan gaya yang cukup elegant dan pembawaannya begitu sopan.
"Mas Baranya ada?" tanya Kanaya dengan wajah malu-malu karena menyadari semua mata masih memperhatikannya. Beberapa pasang mata yang sedang menatap kekaguman mampu membuatnya salah tingkah.
" Oh yang punya mobil Civic merah ya?" tanya seorang lelaki yang punya tampilan paling rapi itu berjalan mendekat.
"Iya, Mas." jawab Kanaya sambil mengangguk sopan.
"Bara baru saja keluar. Tapi, dia sudah berpesan jika ada temannya yang akan datang mengambil mobil Civic merah." jelas lelaki pemilik bengkel itu.
"Oh..." Ada rasa kecewa saat Kanaya tidak menemukan Bara, padahal selain mengurus mobil, dia juga ingin mengganti uang Bara yang sudah digunakan untuk membayar biaya rumah sakitnya kemarin.
" Itu mobilnya di sana, Mbak!" tunjuk lelaki itu tak kalah sopan.
" Oh ya, habis berapa, Mas?" tanya Kanaya dengan membuka tasnya yang menggantung di bahu.
" Nggak usah, Mbak. Semua sudah di tanggung Bara. Dia sendiri yang mengerjakan mobil Civic itu." jelas lelaki itu membuat Kanaya tertegun. Dia semakin merasa sungkan jika seperti ini.
"Ehmmm, bagaimana ya..."
"Dibawa saja mobilnya, Mbak. Bara orangnya memang baik dengan siapapun meskipun terkesan sangar." jelas lelaki itu membuat Kanaya tersenyum kaku.
Akhirnya lelaki itu mengantar Kanaya menuju mobilnya. Sikap Kanaya yang begitu sopan dan anggun membuat orang-orang menatap sungkan meskipun penuh kekaguman.
" Tolong bilang ke Mas Bara, saya sangat berterima kasih." lanjut Kanaya ketika membuka pintu mobilnya.
" Iya, nanti saya sampaikan."ujar lelaki itu.
" Assalamualaikum."pamit Kanaya.
" Waalaikum salam."jawaban lelaki itu kemudian membuat Kanaya masuk ke dalam mobil.
Gadis itu pun melajukan mobilnya dengan santai sambil meresapi mesin mobil hasil perbaikan Bara.
"Lumayan, meskipun bengkelnya tak sebonafit milik Uncle Alex." gumam Kanaya dengan melajukan mobilnya menuju Kafe 'Senada' yang menjadi kesepakatan dirinya dan Arslan bertemu.
Sore itu, saat mentari mulai berangsur surut ke ufuk barat, Kanaya keluar dari mobil dan menatap sejenak sebuah kafe yang di kelilingi jendela kaca yang di desain seolah sedang berembun.
Kanaya memantapkan langkah untuk masuk ke dalam. Setelah beberapa waktu dia menenangkan diri, pada akhirnya dia harus menghadapi dan menyelesaikan masalah ini.
Kanaya mengedarkan pandangannya, gadis berkerudung merah itu pun akhirnya berjalan menuju sosok lelaki gagah yang tengah duduk di pojokan.
"Assalamualaikum, Nay." sapa Arslan terlebih dahulu setelah Kanaya sampai di depannya.
"Waalaikum salam."jawab Kanaya dengan mengalihkan tatapan saat Arslan memandanginya dengan sorot mata yang entah.
"Apa kabar, Sayang." lanjut Arslan membuat Kanaya yang masih tertunduk itu pun tersenyum miris.
Bagaimana bisa lelaki yang sudah mengkhianatinya itu melontarkan panggilan 'Sayang' padanya.
"Baik, Mas." jawab Kanaya.
"Nay, kenapa kamu menghindariku?Aku kangen, Nay." lanjut Arslan dengan menatap lekat gadis yang kini tak berani membalas tatapan matanya.
"Aku sakit, Mas. Jadi aku butuh istirahat." jawab Kanya masih dengan menundukkan pandangannya. Dia takut tidak bisa lepas dari pria yang sudah memperangkapnya dalam cinta.
"Jangan bohong, Nay! Aku mencarimu ke rumah dan Tante Hanum mengatakan kamu di tempat Riska. Tapi sampai sana kamu juga tidak ada."ujar Arslan mulai mendesak Kanaya.
Kanaya pun langsung mendongakkan wajah, menatap lelaki di depannya.
"Aku bukan Mas Arslan yang senang menyembunyikan sesuatu."sindir Kanaya membuat Arslan menghela nafas.
Percakapan mereka terjeda saat ada pelayan kafe membawakan minuman yang sudah mereka pesan.
"Semua itu tidak seperti yang kamu pikirkan, Nay." ujar Arslan.
"Aku dan Rindu masih sebatas hubungan kerja. Kami tidak pernah memiliki hubungan khusus."
"Tapi, kalian punya perasaan khusus, kan?" sela Kanaya, rasanya dia ingin tahu sejauh mana hubungan keduanya.
"Cara kalian menatap, aku sudah tahu, Mas, jika kalian saling menyukai."
"Saat acara kantor enam bulan lalu, aku sudah mulai merasa ada yang berbeda dari cara Mas Arslan menatap Mbak Rindu. Bahkan, saat kami berdua menawarkan secangkir kopi, Mas Arslan mengambil apa yang ada di tangan Mbak Rindu." cecar Kanaya, matanya mulai mengembun mengingat bagaimana Arslan memuji sekretarisnya yang pandai meracik kopi.
" Tapi saat itu aku mencoba percaya dengan kalian. Aku pikir Mas Arslan lelaki yang baik dan Mbak Rindu wanita yang tahu bagaimana menjaga diri."
"Aku minta maaf. Aku khilaf, aku hanya tidak menyadari jika aku sudah melukai perasaanmu saat itu." sela Arslan saat melihat Kanaya mengusap embun di matanya.
"Bukan hanya saat itu. Bahkan, bagaimana Mas Arslan membiarkan aku menunggu Mas Arslan sampai kehujanan di tepi jalan lantaran mengantarkan Mbak Rindu terlebih dahulu, itu membuat aku hanya menjadi penghalang antara Mas dan dia." Dengan mengingat banyak hal yang melukai perasaannya, Kanaya seperti membacakan banyak dakwaan pada Arslan.
"Bukankah, Mas Arslan juga memberikan Mbak Rindu sebuah hadiah gaun yang sama denganku, hanya saja beda warna." lanjut Kanaya, sebenarnya masih banyak hal yang mengganjal dalam hatinya selama ini. Tapi, karena cintanya pada Arslan yang begitu dalam hingga membuat gadis itu hanya menyimpan saja rasa kecewanya.
"Maafkan aku, Nay. Aku hanya kasihan dengan Rindu, dia tidak pernah memiliki itu semua. Hidup selalu membuatnya tertekan."
"Dan aku mencintaimu, Nay." Arslan menggenggam tangan Kanaya, sorot matanya penuh permohonan.
Kanaya menarik tangannya, dengan wajah memerah dan mata yang berkaca-kaca, dia memberanikan diri membalas tatapan Arslan.
" Tapi, Mas Arslan pernah punya perasaan cinta atau tertarik atau semacamnya, kan, sama Mbak Rindu?" pertanyaan Kanaya membuat Arslan bungkam. Dia tak mampu lagi berkata karena Kanaya sudah mendengarkan semua percakapannya dengan Rindu.
"Kami sudah sepakat, Nay. Jika hubungan kami hanya sebatas teman kerja. Aku mencintaimu. Rindu juga mengerti itu." jelas Arslan.
" Aku ingin kita putus, Mas." Dengan perasaan berat Kanaya meletakkan cincin yang baru dilepaskan di hadapan Arslan.
Seketika itu pula Arslan tersentak kaget, dia tidak menyangka jika Kanaya akan mengambil keputusan itu.
" Nggak , Nay. Aku nggak mau putus. Aku mencintaimu, Sayang."ujar Arslan. Dia memang tidak ingin putus dengan Kanaya.
" Aku sudah yakin dengan keputusanku,Mas." lanjut Kanaya kemudian beranjak dari duduknya dan berlari kecil meninggalkan Arslan.
Bagi Kanaya ini keputusan berat, dia sangat mencintai Arslan. Arslan memang sosok yang diidamkan para gadis. Bahkan, Kanaya pun sudah jatuh pada pesonanya, tapi sebuah pengkhianatan sudah melukainya hingga dia tak bisa bertahan dengan rasa yang sudah ternoda.
Arslan pun mengejar Kanaya setelah meninggalkan uang dua ratusan di atas meja.
"Naya..." panggil Arslan saat mencoba menghentikan langkah Kanaya.
Lelaki itu pun akhirnya menahan lengan Kanaya saat gadis itu akan membuka pintu mobilnya.
" Beri aku kesempatan, Nay. Aku akan memperbaiki semuanya!" pinta Arslan, matanya sudah memerah, dia benar-benar takut kehilangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Agus Tina
Kenaoa sosok wanita lemah sll menjadi daya tarik lelaki dan jadi alasan untuk mencintai ... nggak suka tipe wanita spt Rindu ....
2024-06-27
1
Khairul Azam
prnh denger orang bilang gini "org yg prnh selingkuh pst akn mngulangnya lagi dn lg smpai dia terbujur kaku tak brnyawa" krn pda dasarnya itu sdh mnjdi sifat yg tak bsa di rubh😏
2024-04-25
2
Thea_noni
ayo ayo.... semangat up ya Thor...💪
dan terimakasih sudah up🙏
2024-04-25
1