Azzam menyandarkan tubuhnya pada kepala dipan sambil memegangi ponselnya yang berusaha terhubung kepada bunda Haura. Pria itu sekarang ada di motel, menyewa kamar lantaran tidak nyaman berada di rumah yang telah di sediakan pak Kiai. Terlebih setelah pembicaraannya beberapa jam lalu.
Jangankan untuk menerima, mendengarnya saja Azzam merasa berdosa dan menyelingkuhi istrinya, apalagi jika benar-benar melakukan.
Azzam tersenyum sembari mengucapkan salam kala panggilan videonya dijawab oleh sang bunda.
"Pasti mau menanyakan kabar istrinya," cibir bunda Haura.
"Apa Hayyah baik-baik saja Bunda? Ayah sudah datang untuk memeriksa?"
"Ayah mengatakan hari ini banyak perkembangan dari Hayyah Nak."
"Ada kemungkinan untuk sadar?"
"Tentu saja. Kita harus berdoa lebih rajin lagi dan percaya bahwa Allah tidak tidur."
"Maaf karena sempat ...."
"Jangan meminta maaf pada bunda, tetapi meminta maaflah pada Allah yang kamu ragukan kekuasaannya."
"Iya Bunda." Tatapan Azzam meredup. Ia seolah gagal menjadi manusia dengan meragukan Tuhannya, padahal baru diberi cobaan seperti ini.
Harusnya ia berusaha mencontoh nabi Ayub As. Nabi yang selalu pasrah dan sabar menerima ujian Allah selama 18 tahun lamanya. Bahkan saat Harta, keluarga di rengut secara bersamaan. Sementara ia yang baru diberi ujian dua minggu sudah mempertanyakan kuasa Tuhannya.
Azzam mengusap wajahnya kasar. Tanpa membuang waktu segera mengambil air wudhu dan shalat taubat. Memohon ampun atas dosa-dosa yang ia lakukan.
....
Perusahaan Azzam
Pak Haikan menatap perusahaan cukup besar di hadapannya sambil menghela napas panjang. Kali ini ia datang bukan untuk urusan pekerjaan, tetapi ingin bertemu CEO nya secara pribadi.
Baru saja pak Haikal akan melangkah masuk, ia pun bertemu asisten Azzam yang hendak pergi.
"Pak Hasan!" panggil pak Haikal.
"Hasan yang hendak menjemput keponakannya di sekolah mengurungkan niatnya pergi. Menghampiri pak Haikal, mertua dari bosnya meski tidak ada yang tahu.
"Saya ingin bertemu dengan pak Azzam, apa dia ada di perusahaan?"
"Pak Azzam sedang ada perjalanan ke luar kota, mungkin pulang lusa. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Hasan.
"Tidak ada, kalau begitu terima kasih." Haikal pun meninggalkan perusahaan Azzam.
Pria paruh baya itu ingin menanyakan hal apa yang putrinya ambil dari Azzam sehingga mencarinya. Hati pak Haikal tidak akan lega sebelum menyelesaikan masalah putrinya.
....
Kota Bandung ....
Azzam yang baru saja ceramah di depan para kaum adam dan kaum hawa pun segera meninggalkan panggung usai berpamitan. Ia memilih duduk di belakang panggung alih-alih berbincang ria seperti sebelumnya.
"Ustaz Azzam mau minum apa?" tanya putri bungsu pak Kiai.
"Aku tidak ingin minum apapun," jawab Azzam tanpa melirik sekalipun.
Alih-alih pergi, gadis itu malah duduk di kursi plastik dekat Azzam.
"Ustaz Azzam sudah bicara dengan Abi?"
"Hm."
"Bagaimana keputusan Ustaz?"
"Maaf, tapi aku tidak bisa menerima pinangan pak Kiai. Aku memiliki istri yang sangat aku cintai."
"Ustaz Azzam sudah menikah?" Gadis itu terbelalak. Ia yang mengagumi ustaz tampan itu sejak dulu, ternyata terlambat meminta abinya melamar Azzam.
"Hm." Azzam kembali ke panggung demi menghindari putri bungsu pak Kiai. Andai saja Hayyah sehat, mungkin saat ini gadis itu telah mendampinginya menjalani aktivitas seperti biasa.
Saat sore pun mulai menjelang, Azzam memisahkan diri dengan rombongan pondok. Besok adalah acara terakhir dan ia bisa pulang menemui Hayyah.
Tanpa istirahat lebih dulu, Azzam berniat menghubungi bundanya, tetapi panggilan masuk secara tiba-tiba dari nomor yang sama.
"Kabar Bunda baik?" tanya Azzam usai mengucapkan salam.
Tak ada jawaban di seberang telepon, yang terdengar hanya isakan kecil dari bunda Haura di sertai bunyi layar EKG yang semakin berisik. Belum lagi suara ayahnya yang memberikan perintah pada beberapa temannya.
"Bunda, Hayyah baik-baik saja kan?" Jantung Azzam berdetak tidak menentu saat ini.
"Bunda?"
"Pulang Nak."
"Hayyah kenapa bunda?"
"Pulang sekarang Nak."
"Jawab pertanyaan Azzam Bunda. Apa yang terjadi pada istri Azzam?" Suara Azzam mulai bergetar tetapi tidak kunjung mendapatkan respon dari bundanya.
"Azzam ...."
"Detak jantung istrimu berhenti Nak."
Bagai disambar petir, Azzam menjatuhkan ponselnya. Tulang-tulangnya terasa melunak mendengar kabar buruk itu. Ia baru saja ceramah tentang sebuah keikhlasan dan kesabaran, tetapi apakah Azzam bisa melakukan sesuai ceramahnya tadi siang?
Azzam langsung menyambar barang bawaannya dan mengambil ponsel yang terjatuh. Memesan tiket dengan pemberangkatan kilat tanpa peduli akan harganya. Sepanjang perjalanan pulang Azzam terus berdoa agar istri yang ia tunggu terbangun tidak tidur untuk selamanya.
Tanpa sadar air mata berhasil membasahi pipi Azzam. Pikiran dan hati Azzam tidak tenang selama perjalanan. Ia terus beristigfar agar tidak lepas kendali.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, termasuk menunggu pesawat take off, kemacetan di jalan dan perjalanan menuju rumah sakit. Akhirnya Azzam sampai di depan pintu ruangan perawatan istrinya.
Di dalam sana tidak ada suara kebisingan terdengar seperti di telepon. Semuanya tampak sepi seolah tak ada penghuni di dalamnya. Azzam sampai takut membuka ruangan itu dan tidak menemukan istrinya yang tertidur.
Udara dingin lantaran gerimis di luar tak mampu menghapus keringat di tubuh Azzam akibat berlarian di tengah kemacetan. Pria itu menggelengkan kepalanya sambil mengepalkan tangan kuat-kuat.
"Aku ikhlas ya Allah," lirihnya kemudian membuka pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
gedang Sewu
ak juga ikut degdegan ya,sama persis dgn mak/ibu ku waktu itu takut jg jdnya
2024-05-28
1
Hafifah Hafifah
aduh kok aku juga ikut deg"an ya
2024-05-07
1
Lilik Juhariah
keren banget novelnya alurnya
2024-04-23
1