Mengetahui dari ibu Fatmah bahwa Azzam sedang berada di daratan tinggi, Hayyah pun bergegas menyusul ustaz muda tersebut. Berbekal uang yang diberikan Azzam ia dapat menemukan pria itu dengan menyewa ojek. Senyuman Hayyah merekah ketika dari kejauhan melihat Azzam sedang duduk sendirian di sebuah gubuk tanpa dinding.
Derasnya hujan tak Hayyah pedulikan selama itu bisa menemui pria yang ia ingat sebagai suaminya. Gadis itu selalu merasa ketakutan jika jauh dari Azzam. Seolah-olah akan ada orang datang dan melukainya.
"Mas Azzam!" teriak Hayyah berlarian di bawah hujan. Gamis panjang pemberian bu Fatmah tentu saja telah kotor akibat percikan air. Hijab segi empat yang memang tidak terlalu rapi semakin urang-urakan. Bahkan rambut sudah memenuhi kening gadis itu lantaran berhijab tanpa dalaman.
"Kenapa datang ke sini dan hujan-hujanan?" tanya Azzam tanpa membalik tubuhnya. Dari panggilan saja Azzam sudah tahu itu Hayyah. Bagaimana tidak, tak ada seorang pun yang memanggilnya mas selain gadis yang baru saja ia temui.
"Karena ingin menemui Mas Azzam. Bu Fatmah mengatakan kalau pagi seperti ini Mas ada di gubuk."
"Aku harus melakukan apa untuk meyakinkanmu bahwa aku ini bukan suamimu Hayyah. Kita tidak boleh berduaan seperti sekarang. Aku tidak nyaman."
"Lalu aku harus melakukan apa untuk membuatmu percaya bahwa kamu adalah suamiku Mas? Aku juga tidak ingin seperti ini, layaknya orang bodoh dan tersenyum meski banyak kebingungan yang ku pendam sendiri."
"Kenapa harus menunggu hari minggu untuk mengajariku? Aku ingin cepat-cepat tahu semuanya agar tidak diejek oleh siapa pun."
Azzam menghela napas panjang, dari semua ucapan Hayyah, pria itu dapat menangkap bahwa Hayyah adalah gadis keras kepala. Hanya ingin mempercayai asumsi sendiri tanpa ingin mendengarkan orang lain.
Pria itu membalik tubuhnya dan tak sengaja menatap wajah Hayyah yang terlihat pucat dan tampak kedinginan. Ia pun menunduk, menatap kaki Hayyah yang tertutup gamis panjang berwarna hitam.
"Mahkotamu terlihat. Perbaiki hijabmu Hayyah."
"Mahkota? Aku tidak memakai mahkota Mas."
"Rambutmu."
"Oh rambut." Hayyah pun segera membenahi rambutnya meski masih asal-asalan. Ia sedikit mengigil lantaran semilir angin dan hujan deras yang berlangsung.
"Duduklah di ujung sana dan jangan mengajak aku bicara!" Azzam memberikan jaketnya pada Hayyah tanpa menatap.
"Terima kasih." Hayyah pun meraih jaket tersebut, lalu memakainya untuk mengurangi rasa dingin.
Seperti perintah Azzam, Hayyah duduk di sudut kiri gubuk dan berjarak kurang lebih dua meter dari Azzam. Sambil menunggu hujan reda, pekerjaannya Hayyah hanya menatap wajah tampan Azzam yang sibuk dengan ponselnya.
Sekuat apapun mengingat, hanya Azzam yang terlintas dalam ingatannya. Ia pun merasa terlindungi selagi bisa melihat Azzam ada di sekitarnya.
Keheningan tercipta di antara mereka hampir setengah jam lamanya. Azzam yang notabenenya jarang berbicara dengan lawan jenis terus saja menunduk. Bertasbih dan mengucapkan istigfar berulang kali untuk menghilangkan keinginannya memperbaiki hijab Hayyah saat ini.
Suara petir berhasil membuat keduanya kaget. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Azzam, melainkan batang pohon kelapa yang hampir tumbang ke arah gubuk.
Dengan gerakan singkat Azzam menghampiri Hayyah dan menarik tangannya. Tak sengaja menginjak gamis, keduanya pun tersandung dan terjatuh ke tanah berlapiskan rumput tersebut. Azzam meringis kesakitan kala punggungnya membentur bebatuan, berbeda dengan Hayyah yang mengeratkan pelukannya di atas tubuh Azzam lantaran terkejut.
Kemeja yang semula putih bersih kini berubah coklat, tubuh pun terasa sakit seolah tidak bisa bangun, terlebih Hayyah terlalu berat dan nyaman di atasnya.
"Minggir Hayyah!" perintah Azzam.
"Apa yang kalian lakukan di gubuk ini!" teriak seorang pria yang baru saja datang.
Seakan punya kekuatan, Azzam mendorong tubuh Hayyah. "Kita tidak melakukan apapun Pak," balas Azzam.
"Bohong, jelas-jelas saya melihatnya sendiri!" ujar sang petani yang berjumlah dua orang. Mereka memutuskan untuk berteduh lantaran takut pada kilat. Saat datang malah melihat sepasang manusia sedang berpelukan.
"Aku berani bersumpah Pak. Aku hanya menolong ...."
"Jangan banyak bicara kamu! Ayo kita ke rumah kepala desa. Ustaz kok kelakuannya seperti ini!"
"Tapi Pak ...."
Azzam enggang untuk mengikuti para bapak-bapak yang salah paham. Tetapi melihat Hayyah di seret paksa, ia pun ikut hingga sampai di rumah kepala desa dalam keadaan basah.
Azzam dan Hayyah menundukkan kepalanya di hadapan kepala desa, terlebih dua warga yang menemukannya tadi terus mengompori bahwa ia telah berbuat zina di sekitar gubuk dataran tinggi.
"Ustaz Azzam tidak mungkin melakukannya Pak, tidak tahu kalau wanita pendatang baru itu. Saya melihat dia terus berusaha menggoda Ustaz Azzam," celetuk ibu-ibu yang tidak suka akan kedatangan Hayyah.
"Aku tidak menggodanya Bu. Lagi pula jika menggoda tidak salah karena Mas Azzam adalah suamiku."
"Lihat dia sudah gila. Saya yakin dia hanya pura-pura demi mendapatkan ustaz Azzam."
"Kita tidak melakukan apapun seperti yang bapak ceritakan. Aku hanya menarik Hayyah agar menjauh dari tempatnya karena pohon kelapa hampir mengenai gubuk. Tapi jika perbuatan aku melanggar hukum agama dan bisa memberi contoh tidak baik, aku akan menerima hukumannya Pak. Aku bersedia menikahi Hayyah," ucap Azzam yang tak tahan semua orang menyalahkan Hayyah, padahal yang salah adalah dirinya.
Andai saja dia tidak menarik Hayyah maka ini semua tidak akan terjadi.
"Baiklah Nak, sesuai permintaan warga bapak akan menikahkan kalian berdua demi ketenangan desa. Lagi pula Hayyah terus mendekatimu yang bisa saja menyebarkan fitnah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Arsyad Al Ghifari 🥰
ini mh musibah membawa berkah zam😄😄ga apa" zam suatu hari nanti kau tak akan menyesal dengan menikahi hayyah
2024-03-27
2
Teh Yen
bagaimana.dengan tanggapan bunda haura yang akan menjodohkan Azzam dengan Aisyah yah pasti kecewa banget nih
2024-03-26
1
Pujiastuti
bagaimana jadinya kalau orang tua Azam tahu kalau anaknya sudah nikah padahal baru mau dijodohkan
2024-03-26
1