Waktu yang Azzam kira hanya sebentar kini telah genap satu minggu. Namun, perempuan yang selalu mengisi hari-harinya tak kunjung bangun hanya untuk sekedar memanggilnya dengan sebutan Mas. Hayyah masih tidur dengan alat-alat di tubuhnya, membuat hati Azzam sangat hancur.
Tidak henti-hentinya Azzam meminta kepada sang pencipta agar istrinya terbangun, tetapi sampai saat ini satu pun doanya belum terkabul. Di sepertiga malamnya, di antara pagi dan siang Azzam tidak pernah lupa melakukan shalat sunnah. Mana kala salah satu doa yang dia panjatkan segera di ijabah sebelum hatinya goyah akan sesuatu.
Kini tangan itu masih menengadah di dalam mushola rumah sakit Edelweis. Ia seorang diri di dalam sana setelah menunaikan shalat duha.
"Nak, Hasan mencarimu," ucap ayah Harun yang menghampiri putranya. Hari ini tidak ada jadwal untuk Harun karena hari minggu, tetapi ia datang demi memantau kondisi menantunya.
"Hasan?"
"Hm, sepertinya ingin membicarakan hal penting di luar pekerjaan."
"Terima kasih Ayah."
Azzam pun segera beranjak dari duduknya dan menemui Hasan yang duduk di depan mushola. "Ke ruangan perawatan istri aku saja," ucapnya.
Hasan pun mengikutinya menuju ruangan Hayyah, duduk di sofa. Sementara tidak jauh dari sofa ada sebuah tirai pembatas antara brankar Hayyah agar tidak sembarang melihat istrinya yang tidak menutup aurat di dalam sana.
"Pekerjaan sepenting apa yang membawamu ke sini di hari libur Hasan?" tanya Azzam.
"Pekerjaan sampingan yang pak Azzam berikan." Hasan meletakkan dokumen penting di atas meja. "Semua informasi tentang bu Hayyah ada di dalam sana."
"Kamu sudah menemukan semuanya?" Azzam sedikit kaget dengan kecepatan Hasan menyelidiki semuanya, padahal baru sepuluh hari kerja.
Ustaz muda itu pun meraih dokumen penting tersebut, menelitinya sembari mendengarkan penjelasan singkat dari Hasan.
"Penyebab bu Hayyah menghilang setelah rencana pernikahannya karena bu Hayyah di culik saat akan menuju gedung bersama adiknya yang bernama Airin. Motif penculikannya hingga saat ini belum aku ketahui Pak, begitupun siapa pelakunya. Yang pasti, bu Hayyah di lempar ke sungai setelah tidak sadarkan diri."
Azzam memejamkan mata mendengar penjelasan singkat Hasan. Ia tak mendapat membayangkan sesakit apa Hayyah saat itu. Entah siapa yang tega menyakiti perempuan selembut Hayyah.
"Bagaimana dengan keluarganya? Apa mereka tidak mengambil tindakan untuk melaporkan ini ke polisi?"
"Kasusnya dengan cepat di tangani oleh polisi pak, tapi tidak membuahkan hasil. Setelah tiga hari kehilangan bu Hayyah, pihak keluarga mencabut laporannya."
"Kabar mengejutkannya lagi, bu Hayyah ternyata putri pertama dari pak Haikal."
"Pengusaha yang baru saja menandatangani kontrak dengan kita?" tanya Azzam memastikan.
"Benar Pak. Bu Hayyah memiliki seorang adik beda ibu dan dulunya mereka tinggal bersama. Mereka tidak pernah berselisih paham, bu Hayyah pun sangat menyayangi adiknya. Semua biodata hingga alamat keluarga bu Hayyah ada di dalam dokumen. Aku juga menyematkan biodata calon suaminya dan bu Hayyah sendiri."
"Terima kasih sudah memberikan informasi selengkap ini Hasan, tapi tolong cari tahu siapa yang menculik Hayyah sebelum pernikahan dan apa motifnya."
"Akan aku lakukan Pak."
Azzam mengantar asistennya hingga di depan pintu setelah pembicaraan mereka selesai. Usai kepergian Hasan, Azzam menghampiri Hayyah yang masih setia memejamkan mata. Ia duduk di samping brankar dan menggenggam tangan istrinya.
"Ternyata cantiknya Azzam selama ini sangat menderita, tetapi kenapa semuanya terlihat biasa-biasa saja? Bahkan kamu mampu tersenyum Hayyah. Apa karena ingatanmu yang hilang? Kalau begitu aku berharap ingatan memilukan itu tidak kembali agar sakitmu sedikit berkurang," lirih Azzam. Ia mengecup jari-jari Hayyah yang terasa dingin dan pucat.
....
Waktu terus bergulir akan tetapi Hayyah masih setia menutup Mata. Namun, itu tidak membuat Azzam putus asa. Alih-alih berdiam diri, ustaz muda itu bergerak mencari tahu seperti apa keluarga istrinya.
"Hari ini mas akan menemui papa mu. Mas tinggal sebentar tidak apa-apa kan?" bisik Azzam di telinga Hayyah.
Sebelum pergi, ia mengecup kening istrinya. Menitipkan pada suster yang memang bertugas mengawasi perkembangan Hayyah.
Sekarang sudah dua minggu berlalu, dan Azzam masih tidak terbiasa dengan semuanya. Masa-masa pengantin baru yang harusnya ia dan Hayyah menikmati penuh kebahagiaan, harus terangut akibat percikan masa lalu. Namun, Azzam tak pernah menyesali setiap keputusannya. Entah tentang menikahi Hayyah, atau melakukan operasi lantaran ia yakin ini terbaik untuk istrinya.
"Mau ke mana Nak?" tanya Bunda Haura yang berpapasan dengan Azzam di lobi rumah sakit.
"Urusan penting Bunda."
"Hati-hati."
"Iya Bunda."
Azzam pun meninggalkan rumah sakit, melahukan motor hitam kesayangannya menuju cafe tempat ia membuat janji bersama pak Haikal. Kebetulan hari ini ada pertemuan penting antara dirinya dengan pria paruh baya itu. Azzam tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Maaf karena datang terlambat," ucapnya setelah salam. Duduk di hadapan pak Haikal yang tampak lebih kurus dan lusuh dari hari pertama mereka bertemu.
"Tidak apa-apa pak Azzam. Kita langsung membahas pekerjaan saja? Saya tidak enak badan."
"Boleh Pak."
Pembahasan tentang pekerjaan pun berlarut cukup panjang hingga menemui kesepakatan. Namun, Azzam tidak kunjung mengakhiri pertemuan keduanya.
"Sepertinya pak Haikal kurang tidur," ucap Azzam.
"Sudah biasa jika pengusaha kurang tidur karena terlalu banyak beban yang di pikirkan setiap harinya." Pria paruh baya itu tersenyum.
Azzam tampak berpikir keras untuk mencari bahan pembicaraan tetapi tidak terkesan lancang.
"Um, pak Haikal mengenal perempuan ini? Asisten saya mengatakan dia adalah keluarga Bapak." Azzam lantas memperlihatkan foto yang ia dapatkan dari Hasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Hafifah Hafifah
adik tirinya yg nyulik
2024-05-07
1
Yunia Afida
pak haikal kurang tidur karena memikirkan anaknya yang hilang
2024-04-03
1
Hasbi Kc
kasihan pak Haikal,semoga cepet terbongkar siapa yg mencelakai hayya
2024-04-01
1