Banyak orang berkata bahwa pernikahan yang di mulai dengan sebuah insiden tidak akan berakhir bahagia. Namun, untuk Azzam sendiri, pernikahan yang di awali oleh apapun jika niatnya baik maka semua berakhir indah. Begitupun dengan pernikahan yang akan ia bina bersama Hayyah. Gadis yang menjadi garis takdirnya.
Ustaz Azzam menoleh ke belakang usai memanjatkan doa pada yang kuasa. Mengeluarkan tangannya pada Hayyah yang kini menjadi makmumnya.
"Jika tidak mengetahui sesuatu tanyakan padaku Hayyah."
"Kenapa sikap mas Azzam sekarang sangat berbeda? Sebelum menikah mas Azzam tidak ingin menatapku dan sering kali mengabaikan keberadaanku."
"Sebelum dan sesudah adalah dua hal yang berbeda Hayyah. Sebelumnya kamu bukan siapa-siapa dalam hidup aku. Kita bukan mahram yang diharuskan terus berduaan. Jika itu terjadi kita hanya akan menimbulkan fitnah dan Zina."
"Tapi kita tidak melakukan hal di luar wajar jika hanya berbicara Mas."
Azzam tersenyum tanpa melepaskan tangan mungil Hayyah yang berada dalam genggamannya. "Jangankan berbicara berdua, menatap lawan jenis saja adalah zina. Zina mata sangat berbahaya jika dilakukan terus menerus dan yang dirugikan adalah kaum perempuan."
"Apa itu sebabnya mas Azzam selalu menunduk jika berbicara?"
"Hm."
"Aku beruntung mempunyai suami seperti Mas Azzam." Hayyah tersenyum lebar. Ia yang menganggap Azzam suaminya sejak dulu tentu tidak canggung jika bicara berdua seperti ini.
"Mau belajar sekarang?"
"Mau." Hayyah mengangguk antusias. "Aku mau pintar membaca dan mempelajari banyak hal. Satu lagi, aku ingin mengingat semuanya tentang diriku."
"Aku akan membantumu."
Senyuman yang merekah di wajah Hayyah seketika hilang kala menyadari ucapannya. "Aku tidak mau mengingat semuanya Mas. Bagaimana jika aku benar istri orang seperti yang dikatakan Bunda?" tanyanya yang mendengar pembicaraan suaminya bersama bunda Haura saat di desa.
"Kamu harus mengingat semuanya Hayyah. Mungkin saja sekarang keluargamu sedang mencari. Tentang kamu milik siapa, jawabannya adalah aku."
"Mas tidak akan menceraikan aku?"
"Bicara apa kamu ini hm? Pernikahan adalah ibadah seumur hidup dan aku tidak akan menodainya dengan perceraian."
....
"Sampai kapan kamu bersikap seperti ini Mas?" Suara Airin meninggi lantaran muak akan tingkah suaminya. "Aku istrimu, kenapa kamu hanya peduli pada orang yang sudah meninggal?"
"Hayyah masih hidup asal kamu tahu! Ini semua juga kesalahanmu Airin. Andai saja kamu tidak keras kepala aku tidak akan kehilangannya!" balas Adam. Pria itu sangat mencintai Hayyah, dan hatinya sakit harus menikahi perempuan lain di hari kehilangan Hayyah.
"Setidaknya anggap aku istrimu Adam."
"Aku selalu menganggapmu istri Airin. Aku selalu mengakuimu di mana pun aku berpijak. Tapi aku benci jika kamu melarangku untuk mencari Hayyah. Aku tidak suka setiap kali kamu mengatakan Hayyah sudah meninggal!"
"Tapi itu kenyataannya!"
"Sudahlah, aku lelah." Adam melenggang ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Jam sepuluh malam ia baru pulang lantaran sibuk mencari keberadaan Hayyah tanpa titik terang yang jelas. Hatinya tidak akan tenang sebelum menemukan Hayyah, entah dalam keadaan hidup atau tidak.
"Hayyah-Hayyah dan Hayyah. Kenapa dia selalu menjadi prioritas di rumah ini? Aku juga ingin bahagia sepertinya!" gerutu Airin mengepalkan tangannya.
Wanita itu mengira hilangnya Hayyah ia bisa bahagia. Namun yang terjadi malah sebaliknya.
....
Jam empat dini hari Hayyah terbangun lantaran sayup-sayup mendengar suara di dalam kamarnya. Gadis itu memandangi pemilik suara tanpa beranjak dari tidurnya.
"Kebaikan apa yang aku lakukan di masa lalu sehingga mempunyai suami seperti mas Azzam?" batin Hayyah.
Bagaimana tidak, di saat semua orang sedang menikmati kehangatan di dalam selimut. Suaminya malah duduk di atas sajadah sambil memegang tasbih. Semalam Hayyah banyak belajar tentang agam pada suaminya.
Bukan karena asing dengan agama sendiri, hanya saja ia bingung lantaran semuanya tidak ada dalam ingatan. Ia bagaikan anak yang baru mengenal baik buruknya sesuatu. Jujur saja ini sangat melelahkan untuknya.
"Aku mengganggu tidurmu?" tanya Azzam yang menyadari bahwa Hayyah terjaga.
"Tidak Mas, lanjutkan saja." Hayyah menggelengkan kepalanya. Ia merubah posisi dan kembali memejamkan mata, tetapi detik berikutnya malah turun dari ranjang dan mendekati sang suami.
Duduk di belakang Azzam dan menoel lengan kekar pria itu. "Aku boleh bertanya Mas?"
"Katakan!" Azzam menghadap Hayyah dan menyimpan tasbihnya.
"Tadi Mas mengatakan bahwa shalat Fardu ada lima waktu dan wajib di tunaikan. Lalu sekarang Mas melakukan apa?"
"Shalat sunnah tahajud."
"Apa yang membedakan dengan shalat fardu?"
"Shalat sunnah jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan dosa."
"Berarti tidak wajib ya? Kalau begitu Mas tidak perlu begadang seperti ini. Besok mas bisa mengantuk."
Azzam tersenyum melihat kepolosan Hayyah. "Memang tidak diwajibkan Hayyah, tapi shalat tahajud memiliki keistimewaan dan shalat ini paling utama di antara sunnah lainnya."
"Kenapa?"
"Dengan melakukan shalat tahajud kita semakin dekat dengan Allah. Doa yang kita panjatkan setelah shalat sunnah ini insya Allah cepat di ijabah oleh-Nya. Selain itu shalat tahajud bisa menggugurkan dosa-dosa dan memperbanyak amal."
"Kalau begitu besok-besok bangunkan aku Mas. Aku ingin melakukannya agar doa-doaku segera di kabulkan."
"Dengan senang hati." Azzam lagi-lagi tersenyum. Entah mengapa sejak Hayyah datang dalam hidupnya, semuanya menjadi berwarna. Seolah Hayyah membawa bahagia untuknya.
"Kembalilah tidur."
"Tidak, sebentar lagi adzan. Kita bisa shalat subuh berjamah." Hayyah menggelengkan kepalanya. "Oh iya aku sudah banyak tahu tentang huruf yang mas ajarkan. Semuanya cepat tersimpan di kepala."
"Itu karena memang sejak awal kamu sudah mengetahuinya Hayyah, hanya saja melupakan semuanya karena benturan di kepala."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Rosy
Hayyah..tak kasih tau ya..kalau dg melakukan sholat Sunnah tahajud saja bisa mendapatkan pahala apa lagi kalau di tambah ibadah Sunnah yg lain..pasti makin gede pahalanya 🤭
2024-03-28
2
Arsyad Al Ghifari 🥰
pasti hilangnya hayyah itu ulah Airin ..orang punya hati iri itu gak akan bahagia airin
2024-03-28
1
Pujiastuti
rasai Airin kamu memang sudah jadi istri dari calon suaminya Hayyah tapi kamu juga merasa sakit hati karena dicuekin mangkanya jangan iri sama Hayyah nasib orang itu Ngak sama Airin
2024-03-28
1