Seperti yang telah Azzam bicarakan bersama ibu Fatmah. Hari ini pria itu meminjam mobil milik kepala desa untuk membawa Hayyah ke rumah sakit di temani ibu Fatmah. Sebenarnya bisa saja Azzam yang membawa sendirian lantaran jika dilihat secara fisik, Hayyah sangat sehat. Namun, hati nurani Azzam menolaknya. Terlebih salama ini ia selalu menjaga jarak dengan perempuan.
Selain untuk menjaga pandangan dan tidak menimbulkan syahwat, ia juga berusaha menjaga marwah seorang perempuan yang sangat mulia di mata Allah. Namun, marwah yang berusaha ia jaga kadang kala tidak dipedulikan oleh kaum hawa sendiri. Seperti saat ini, alih-alih menutup aurat, Hayyah malah melepaskan lilitan kain di kepalanya dengan alasan ke gerahan. Padahal di dalam mobil sudah terpasang AC.
"Sebenarnya kita mau ke mana Mas Azzam?"
"Ke rumah sakit Nak," jawab bu Fatmah kala Azzam enggang menjawab pertanyaan dari Hayyah.
"Untuk apa ke rumah sakit? Aku sekarang baik-baik saja." Kening Hayyah mengerut.
"Nak Azzam mengatakan sepertinya kamu mengalami benturan cukup keras sehingga kehilangan beberapa ingatan."
Hayyah terdiam, untuk yang satu itu ia mengakui telah banyak kehilangan momen dalam memorinya. Hingga hanya nama Azzam, resepsi pernikahan juga seseorang memanggilnya dengan sebutan Hayyah. Selebihnya ia melupakan semuanya.
"Bukan karena Mas Azzam tidak mau mengakuiku sebagai istri kan?"
"Untuk apa aku mengakuimu sementara aku tidak pernah menikahimu?" tanya Azzam tanpa menoleh. "Aku sudah berada di desa ini hampir setengah tahun, mustahil rasanya kita pernah bertemu," lanjut Azzam yang tak kuasa menahan unek-unek di hatinya meski telah istigfar beberapa kali.
"Tapi aku yakin kalau kita sudah menikah." Hayyah tersenyum. Gadis itu memandang keluar dari jendela mobil. Ia duduk seorang diri di jok belakang lantaran Azzam melarangnya duduk di depan.
Sepanjang jalan Hayyah memperhatikan para petani yang sedang panen padi di setiap sawah yang mereka lalui. "Rasanya sangat asing, apa aku tidak pernah ke tempat seperti ini?" batin Hayyah.
Lamunan perempuan itu buyar kala mendengar suara pintu di banting cukup keras. Ia pun buru-buru keluar dan menatap rumah sakit lumayan besar.
"Ayo Nak!" Ibu Fatmah hendak merangkul Hayyah, tetapi perempuan itu malah beralih memeluk lengan Azzam.
"Apa yang kamu lakukan?" Azzam menyentak tangan Hayyah.
"Kenapa sikapmu seperti ini?"
"Karena aku bukan suamimu Hayyah. Kita bukan mahram yang bebas bersentuhan. Kita adalah dua orang asing."
"Aku tidak mengerti maksudmu Mas. Yang aku tahu kamu adalah suamiku."
Azzam menghela napas panjang, terus melanjutkan langkahnya hingga sampai di ruangan dokter yang ia kenali sebagai sahabat ayahnya.
"Sudah lama tidak bertemu Ustaz muda," sambut sang dokter, lirikan pria itu tertuju pada perempuan tanpa penutup kepala di belakang Azzam. Jika boleh jujur baru kali ini Azzam bersama perempuan tanpa menutup aurat.
"Kabar om baik?"
"Sangat baik."
"Kalau begitu tolong periksa teman aku." Mempersilahkan Hayyah ke depan dengan kode tangan diayungkan. "Namanya Hayyah, beberapa hari yang lalu aku menemukannya dalam keadaan terluka di pinggir sungai. Dari pengakuan kepala desa, dia kehilangan banyak ingatannya dan ...." Tenggorokan Azzam tercekat. Sulit rasanya mengatakan bahwa perempuan yang ia bawa menganggapnya seorang suami.
Ia takut jika kabar ini sampai pada orang tuanya dan menimbulkan masalah besar. Padahal alasan ia mengabdi ke desa kecil demi menghindari pernikahan yang direncanakan orang tuanya.
....
Azzam duduk sendirian di pinggir sawah yang baru saja di panen oleh pemiliknya. Pria itu menatap matahari yang hampir tenggelam, sayangnya pikiran Azzam tertuju pada pertemuannya dengan dokter yang ia kunjungi tadi bersama Hayyah.
Dokter mengatakan bahwa Hayyah mengalami Amnesia Pasca Trauma dan mengakibatkan dua kemungkinan dalam kehidupannya. Antara melupakan kejadian di masa lalu atau tidak dapat mengingat kejadian di masa mendatang pasca Amnesia. Untuk ingatan Hayyah yang menganggap dirinya seorang suami ia belum mendapatkan jawaban akan hal itu.
Apakah itu sebuah khayalan yang dianggap nyata oleh ingatan Hayyah? Entahlah Azzam pun sulit menjabarkannya. Dia memilih mengasingkan diri demi ketenangan dunia malah dirumitkan oleh masalah yang tiba-tiba datang dalam hidupnya.
"Bisakah kamu mendampinginya sampai dia mengingat semuanya? Dia hanya mengenalmu saat ini. Perempuan yang kamu bawa mengalami cedera cukup serius di bagian kepala. Untuk mencegah agar tidak semakin parah, rubalah gaya hidupnya ka arah yang lebih baik. Bantu dia mengingat semuanya agar tidak kehilangan jati diri yang sebenarnya.”
Ucapan itu terus terngiang-ngiang di pikiran Azzam hingga saat ini. Hayyah bukanlah orang penting dalam hidupnya, lalu kenapa ia harus bertanggung jawab akan hidup perempuan itu?
"Mas Azzam!"
Panggilan dari seorang perempuan membuat Azzam menoleh sekaligus menghela napas panjang. Bagaimana tidak, di pinggir jalan Hayyah sedang berdiri bersama anak didiknya di masjid.
"Aku mencari mas Azzam ke mana-mana, beruntung ada anak-anak yang ingin mengantar aku bertemu denganmu."
"Kamu memerlukan sesuatu?"
"Tidak, aku hanya ingin berada di samping mas Azzam. Aku selalu takut jika jauh darimu seakan ada yang ingin melukaiku."
"Antar perempuan ini ke rumah ibu Fatmah, Dek. Aku akan menyusul nanti," ucap Azzam tanpa ingin menatap dua perempuan berbeda generasi di hadapannya.
"Baik Ustaz." Anak kecil itu mengangguk dan beralih pada Hayyah. "Ayo Mbak!"
"Aku ingin bersama suamiku."
"Hayyah?"
"Baiklah, aku akan mengikuti keinginanmu. Jangan lama-lama Mas." Hayyah pun berlalu pergi, menyisakan Azzam yang menatap bayangan Hayyah yang semakin menjauh.
"Apa yang harus aku lakukan ya Allah? Haruskah aku membantunya atau meninggalkannya begitu saja?" tanya Azzam. Terlebih Hayyah tidak salah apapun karena yang ada di ingatannya hanya dia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Kendarsih Keken
Aq masih di sini masih nyimak
2024-05-11
0
Lisa aulia
masih nyimak ...
2024-04-01
0
Ranita Rani
ini otak msi mnerka2, apa yg terjadi pada hayyah
2024-03-24
1