"Mas Azzam!"
Azzam yang di panggil lantas mendongakkan kepalanya. Kening ustaz muda itu mengerut lantaran bingung Hayyah tiba-tiba memanggilnya mas padahal tadi mengatakan melupakan tentangnya.
"Kamu mengenalku?"
Hayyah tertawa. "Maaf karena membohongi mas Azzam. Aku tadi hanya mengetes sebesar apa kesabaran mas menghadapi sikap bodohku ini."
"Astagfirullah Hayyah, aku tidak suka candaan mu."
"Maaf."
"Lain kali jangan berbohong meski hanya sebatas candaan. Mungkin satu atau dua kali masih ada yang percaya pada kita, tapi tidak untuk selamanya. Bagaimana jika benar-benar dalam bahaya tapi orang menganggapnya bercanda hm?"
"Aku mengerti, tidak akan aku lakukan untuk kedua kalinya."
Hayyah menatap penuh kagum garis wajah Azzam yang kembali fokus pada sebuah buku, berbeda dengan tangan yang selalu menggenggam jemarinya. Aneh bukan? Mereka menikah karena sebuah insiden, tetapi sikap Azzam seolah mereka sudah lama saling mencintai.
Mungkinkan begini indahnya pacaran setelah halal? Sangat menyenangkan dan menggugurkan dosa-dosa.
"Kenapa bisa pingsan?" Azzam mendongak setelah menyelesaikan bacaannya.
"Aku mengunjungi sekolah bersama bunda tadi. Aku merasa tidak asing dengan lingkungannya. Saat memasuki pekarangan, sebuah ingatan bayangan hitam seolah mengejutkanku. Bayangan anak-anak yang memanggilku ibu guru."
"Lain kali lebih berhati-hati lagi saat bepergian. Kalau bisa jika ingin mengunjungi tempat yang tidak asing untukmu, ajak aku bersamamu."
"Kenapa Mas Azzam manis sekali setelah menikah?" Pertanyaan itu seolah tidak bosan Hayyah keluarkan kala merasa perhatian Azzam berlebihan.
"Karena kamu istriku. Tidurlah jangan banyak bicara lagi. Kamu harus istirahat."
Hayyah mengangguk, membaringkan tubuhnya. Ia memang sudah mengantuk tetapi tadi tidak enak melihat wajah datar Azzam kala ia berbohong.
"Selamat malam suamiku."
"Jangan lupa baca doa."
"Iya."
....
Jika dilihat dari di fisik, Hayyah adalah pasien yang sangat sehat. Namun, berbeda dengan hasil ST Scan yang berhasil dokter Harun ambil. Ternyata ada cedera serius di otak Hayyah yang baru ditemukan hari ini. Anehnya tak ada reaksi kesakitan yang dikeluhkan oleh Hayyah, padahal jika itu pasien orang lain mungkin rasa sakit lebih sering terjadi.
"Apa lukanya karena benturan keras di sungai Yah?" tanya Azzam setelah selesai mendengar penjelasan singkat dari dokter Harun.
"Sepertinya bukan benturan tidak sengaja Nak."
"Lalu?"
"Dari pembengkakan, seolah benda tumpul memaksa merusak otak bagian kiri."
"Azzam tidak mengerti Yah."
"Sulit menjelaskannya."
Azzam yang tak ingin memaksa pun kembali ke ruangan perawatan istrinya. "Sepertinya kamu belum bisa pulang. Tinggallah beberapa hari lagi. Ayah akan membantumu mengobati kepalamu yang terluka di bagian dalam."
"Mas Azzam tidak keberatan?"
"Untuk apa?"
"Kita baru menikah dan katanya baru bertemu tapi aku sudah menyusahkan hampir setiap hari."
"Tidak sama sekali Hayyah. Fokuslah pada pengobatanmu dulu, siapa tahu setelah ini kamu bisa mendapatkan sebuah petunjuk." Azzam mengusap kepala Hayyah yang terbalut hijab instan.
"Semoga saja Mas."
"Tunggu di sini aku menerima telepon dulu." Azzam segera menjauh kala merasakan ponselnya bergetar. Ternyata ia mendapatkan telepon dari Hasan.
"Kenapa Hasan?" tanyanya setelah mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Ada berkas yang harus di bubuhi tanda tangan pak Azzam. Apa bapak tidak bisa ke kantor sebentar?"
"Tidak bisa, datanglah ke rumah sakit Edelweis untuk menemuiku."
"Baiklah."
....
Usai menelepon atasannya, Hasan menatap keponakannya yang berusia lima tahun tersebut. Hari ini ia mendapatkan jadwal mengasuh lantara kakaknya ada kesibukan. Sangat diuntungkan tidak ada jadwal padat hari ini dan pak Azzam tidak pernah mempermasalahkan ia yang sering membawa anak ke perusahaan.
Hasan bergegas menuju rumah sakit sambil mengendong anak lelaki yang memeluk lehernya erat.
"Kita mau ke mana paman Asan?"
"Rumah sakit."
Bocah lima tahun itu menggelengkan kepalanya. "Abi tak mau dicuntik!"
"Siapa juga yang mau menyuntik Abi? Dagingnya keras," cibir Hasan.
"Benalkah? Daging Abi kelas jadi nda cuntik?"
"Hm."
"Kalau cuntik Abi nanis!" Bocah berusia lima tahun itu mengerucutkan bibirnya. Menikmati langkah lebar sang paman yang telah sampai di rumah sakit.
Sebelum memasuki ruangan sesuai petunjuk suster, Hasan terlebih dahulu mengetuk pintu hingga keluarlah Azzam dengan sarung yang melilit di pinggangnya. Sepertinya baru saja selesai shalat zuhur.
"Memangnya siapa yang sakit Pak sampai ...." Mata Hasan membola melihat seorang perempuan duduk di atas brankar sambil menyantap makan siangnya. Begitu pun dengan Abizar menganga dengan mulut mungilnya.
"Bu Hayyah?"
"Ibu gulu?"
Hayyah yang sejak tadi fokus pada makanannya lantas menoleh. Mengerutkan kening lantaran terkejut ada yang mengenalinya.
"Ibu gulu!" Abizar berlari menghampiri Hayyah yang terpaku. Bocah itu berusaha naik ke brankar tetapi tidak bisa karena tubuhnya yang pendek.
Melihat itu Azzam pun langsung mengendong, terlebih Abizar cukup dekat dengannya lantaran sering ke perusahaan.
"Siapa dia Mas?" tanya Hayyah.
"Namanya Abizar, dia sekolah di TK tempat kamu pingsan kemarin."
"Kenapa dia memanggilku guru?"
"Karena bu Hayyah guru sekaligus wali dari Abizar."
"Aku seorang guru?" Mata Hayyah semakin membola. Semuanya sulit untuk di percaya terlebih statusnya sebagai seorang guru padahal membaca saja ia baru bisa setelah beberapa kali belajar.
"Abi tanen bu gulu."
"Huh?"
"Mau memangkunya?" tanya Azzam, terlebih tangan Hayyah terbebas tanpa selang infus.
"Boleh." Hayyah mengangguk dan segera memangku Abizar.
Melihat itu Azzam pun menjauh dan mendekati Hasan yang tengah menyiapkan berkas-berkas penting yang harus di tanda tangani.
"Sudah menemukan sesuatu tentang Hayyah?" tanya Azzam sembari menandatangani berkas penting.
"Kenapa bu Hayyah bisa bersama pak Azzam?" Alih-alih menjawab, Hasan malah mengeluarkan rasa penasarannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Yunia Afida
hayah istri azam san
2024-04-03
1
Yunia Afida
apakah hayah disiksa dulu baru diseburkan di sungai
2024-04-03
1
Teh Yen
akhirnya abizar bisa ketemu Bu gurunya 🤗🤗 smoga menemukan titik terang yah
2024-04-03
1