Azzam, ustaz muda itu duduk di atas sajadah sambil menengadahkan tangannya ke atas. Berdoa akan keselamatan istrinya yang akan di operasi beberapa jam lagi. Ia memohon keselamatan dan hal-hal baik untuk wanita yang baru saja masuk dalam hidupnya.
Setiap doa yang ia panjatkan selalu di Aamiin in oleh pemilik nama yang ikut shalat subuh bersamanya. Azzam membalik tubuhnya dan mengulurkan tangan pada Hayyah dengan wajah penuh senyuman. Berbeda dengan Hayyah yang tampak pucat dan tangannya bergetar.
Merasakan kegelisan di benak istrinya, Azzam pun duduk sejajar dengan Hayyah. Menyatukan jari jemarinya bersama perempuan itu seolah menyalurkan kehangatan di tengah dinginnya ruangan serba putih tersebut.
"Apa tidak ada jalan selain operasi Mas? Aku baik-baik saja dan senantiasa berusaha mengingat semuanya secara perlahan," lirih Hayyah seraya menundukkan kepalanya. Menikmati genggaman tangan sang suami yang sesekali mengelus.
Yang di tanya masih saja terdiam, bahkan hanya mengecup telapak tangan Hayyah sesekali.
"Hanya ini yang terbaik Hayyah. Pembengkakan di kepalamu akan semakin parah jika dibiarkan terlalu lama. Percayalah semuanya akan baik-baik saja. Allah selalu bersama kita."
"Aku takut Mas."
"Percaya dengan kuasa Allah Hayyah. Aku yakin kamu adalah perempuan yang kuat."
Hening, sebelum akhirnya isakan kecil lolos dari bibir mungil Hayyah. Perempuan itu benar-benar takut masuk ke ruangan dingin penuh alat-alat tersebut. Ia takut tak bisa kembali dalam keadaan sadar.
"Jangan menangis Sayang." Azzam merengkuh tubuh istrinya yang terbalut mukena. Membenakan bibirnya di kening sang istri cukup lama. Terlalu banyak menghabiskan diskusi di atas sajadah, Hayyah sampai tertidur di pangkuan Azzam.
"Kak Azzam ...."
Azzam lantas menempelkan jadi telunjuk di bibir. "Istriku baru saja tidur Aira."
Aira pun mengatup bibirnya sebentar. "Aira mau pamit. Maaf tidak bisa menunggu sampai kak Hayyah di operasi." Gadis bergamis itu duduk di hadapan kakaknya. Mengulurkan tangan untuk mengecup punggung tangan pria yang selalu memenuhi semua kebutuhannya dan menjadi tempat curhat jika mengalami hambatan di tempat tinggal orang lain.
"Hati-hati di jalan dan selalu jaga marwah mu sebagai perempuan, Dek."
"Aira bakal berusaha Kak. Sampai kan pada kak Hayyah bahwa aku sudah pulang."
"Terima kasih sudah menerima kakak iparmu meski ...."
"Apapun alasannya sekarang kak Hayyah adalah istri kak Azzam jadi aku harus menghormatinya dan menyayanginya seperti aku menyayangi kakak." Aira tersenyum hangat.
Azzam memandangi punggung adiknya yang mulai meninggalkan ruangan perawatan. Gadis itu akan pulang di antar oleh ayah Harun. Biasanya Azzam yang akan mengantar, tetapi Hayyah lebih membutuhkannya saat ini.
....
Azzam mengangguk dengan pasti, tersenyum seolah semuanya baik-baik saja sambil menggenggam tangan Hayyah yang terasa sangat dingin. Mereka kini telah berada di ruangan perawatan sebelum operasi di mulai.
"Semua orang menunggumu keluar Nak. Jadi jangan putus asa di dalam sana apapun yang terjadi," ucap Haura.
"Mas akan selalu di sini menunggumu."
"Bunda dan Azzam sangat baik padaku, aku akan kembali untuk membalas semuanya." Hayyah tersenyum meski hatinya sangat gelisah. Terlebih kala melihat dua perawat datang dan genggamannya terlepas dari sang suami.
Tepat saat brankar Hayyah menghilang di pintu, setetes air mata terjatuh di pelupuk mata Azzam. Mengenai senyuman yang ia perlihatkan sejak pagi hanyalah sebuah dorongan kekuatan untuk istrinya. Azzam merasakan kegelisahan yang sama, tetapi tak berkenan bersedih.
"Hayyah baru masuk dalam hidup Azzam Bunda, tapi kenapa rasanya sesakit ini?"
"Itu karena dia istrimu Nak. Mau dia baru atau pun lama, tetap saja ikatan batin antara suami dan istri itu sangat kuat. Semuanya akan baik-baik saja Azzam."
"Bunda benar, semuanya akan baik-baik saja karena Allah bersama kita."
....
Setelah menunggu 3 jam lebih, akhirnya lampu ruangan operasi pun mati dan tidak lama kemudian dokter Edgar keluar untuk menemui Azzam dan bunda Haura yang setia menunggu hasilnya.
"Semuanya berjalan lancar pak Azzam. Bu Hayyah segera di pindahkan ke ruangan ICU untuk memantau hal-hal yang tidak diinginkan."
"Apakah istri saya akan segera sadar?"
"Saya belum dapat memastikan secara ini adalah operasi besar."
"Pak Azzam boleh menemuinya setelah bu Hayyah selesai di pindahkan. Tolong patuhi peraturan yang ada." Dokter Edgar melenggang pergi setelah berbicara dengan Azzam.
Bunda Haura yang melihat putranya bergeming perlahan menghampiri dan mengelus lengan terbalut kemeja navi itu.
"Ayo temui istrimu Nak."
"Iya Bunda."
Azzam pun menuju ruangan ICU VIP yang di sediakan oleh rumah sakit Edelweis. Ruangan tersebut di buat demi kenyamanan para pengunjung yang keluarganya membutuhkan privasi.
Tak jauh beda kelengkapan ruangan perawatan, tetapi di dalamnya di sertai banyak alat seperti ruangan ICU pada umumnya.
Azzam berdiri di samping brankar, memandangi wajah terlelap istrinya yang entah kapan akan sadar. Dari detakan jantung dan hal-hal lainnya terbilang baik jika dilihat dari layar EKG. Tatapan yang semula berada di wajah beralih pada kepala yang di perban. Tanpa membuka saja Azzam yakin bahwa Hayyah telah kehilangan rambut indahnya. Terlebih ayah Harun telah menjelaskan kemungkinan Hayyah di botak di ruangan operasi.
"Terima kasih sudah bertahan Hayyah," lirih Azzam. "Aku akan berusaha mempertemukanmu dengan keluargamu, tetapi setelah mengetahui alasan kamu bisa terdampar di desa yang cukup jauh."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
gedang Sewu
semangat trs hayyah jg buat thor sukses dn lanjuuut... 💪💪
2024-05-28
0
Yunia Afida
semangat tak💪💪💪💪💪
2024-04-03
1
Teh Yen
smoga hayyah segera sadar d baik baik saja yah
2024-04-03
1