Mengetahui bahwa Hayyah dan Bundanya sedang berada rumah sakit, Azzam pun rela meninggalkan rapat yang baru berlangsung beberapa menit. Pria itu bahkan meminta maaf pada seluruh karyawannya lantaran telah membuang waktu mereka dengan hal sia-sia seperti ini.
Tak membutuhkan waktu lama, Azzam pun sampai di rumah sakit milik ayahnya. Berjalan cepat menuju ruangan VVIP khusus keluarga besar Edelweis. Ia membuka pintu secara terburu-buru dan mendapati orang tuanya berdiri di samping brankar sang istri.
"Kenapa Hayyah bisa tiba-tiba pingsan Bunda?" tanya Azzam usai mengucapkan salam.
"Bunda juga tidak tahu Nak. Tadi Bunda dan Hayyah singgah di sekolah TK kamu, katanya dia seperti mengenal sekolah itu. Saat menemani Hayyah masuk, tubuhnya tiba-tiba berkeringat dan jatuh pingsan."
Azzam menghela napas panjang, ia duduk di kursi tepat di samping brankar dan menatap gadis yang masih belum sadar padahal beberapa menit telah berlalu.
"Sepertinya istri kamu tidak bisa menahan gejolak kesakitan kala ingatan berusaha memasuki otaknya," ujar ayah Harun, dokter yang turun tangan untuk memeriksa kondisi menantunya.
"Apakah cederanya separah itu Ayah?"
"Sepertinya iya. Amnesia pasca trauma memiliki dua aspek. Melupakan ingatan masa lalu pasca kecelakaan atau sulit mengingat kejadian usai kecelakaan."
"Lalu apa yang akan Ayah lakukan pada istri Azzam?" Ustaz muda itu menatap ayahnya dengan raut kebingungan.
"CT Scan untuk mengetahui keseluruhan cedera istrimu. Tapi kita bisa melakukannya setelah dia sadar." Dokter Harun beralih pada istrinya. "Sayang, biarkan Azzam bersama istrinya di sini."
"Iya Mas." Haura pun mengikuti suaminya menuju ruangan lain, menyisakan Azzam yang kembali menatap wajah pucat Hayyah.
"Aku baru saja merasa senang mengetahui ada seseorang yang mengenalmu Hayyah, tapi menapa malah membuatku khawatir di hari yang sama?" lirih Azzam.
Entahlah, tapi rasa tanggung jawab itu seolah tertanam di hatinya terlebih sekarang Hayyah adalah istri yang harus ia bimbing ke jalan jauh lebih baik.
Allah tidak akan memberikan cobaan pada umatnya jika mereka tidak mampu. Jika cobaan itu datang padamu, artinya kamu bisa dan kuat untuk menyelesaikannya meski harus terluka.
Kelopak mata yang mulai bergerak membuat Azzam tersenyum. Ia meraih tangan Hayyah. Namun, baru saja akan berucap tangan yang sempat ia genggam ditarik cukup kasar.
"Siapa kamu?" tanya Hayyah dengan kening mengerut.
"Aku suamimu Hayyah."
"Tapi aku belum menikah, aku ...."
"Kita sudah menikah." Azzam memperlihatkan foto pernikahan yang menjadi Background ponselnya.
"Benarkah? Kapan itu terjadi?"
"Beberapa hari yang lalu. Sepertinya kamu melupakan hal penting lagi Hayyah. Tapi tidak apa-apa aku akan menemanimu untuk kembali normal."
"Jadi kamu benar suamiku?"
"Hm."
....
"Apa kamu menemukan petunjuk tentang keberadaan Hayyah?" Pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut pak Haikal. Sejak kepergian putrinya, pria paruh baya itu tidak berselera melakukan apapun. Bahkan tubuhnya semakin kurus memikirkan penderitaan Hayyah yang seperti apa di luar sana.
"Papa tidak boleh hanya terpaku pada kak Hayyah saja. Lihatlah, ayah semakin kurus. Airin juga merasa sakit kak Hayyah pergi, tapi kita harus mengikhlaskannya agar kak Hayyah tenang Pa."
"Benar yang dikatakan Airin, Mas. Kita harus ikhlas demi kebahagiaan putri kita."
"Tidak segampang itu. Hayyah adalah satu-satunya harta yang papa miliki." Haikal beranjak dari duduknya tanpa menghabiskan makan malam.
Airin dan mamanya yang melihat itu menghela napas panjang. Entah dengan cara apalagi mereka meyakinkan bahwa Hayyah telah pergi. Andai gadis itu masih hidup, dia pasti kembali menemui mereka bukan malah bersembunyi.
"Apa suamimu bersikap sama Nak?"
"Iya Ma, harinya di penuhi oleh Hayyah dan Hayyah. Airin sampai muak mendengarnya. Airin menyesal telah ...." Ucapan Airin berhenti kala mendengar salam dari ruang tamu. Ia pun beranjak dan menghampiri suaminya yang baru pulang. Entah bekerja atau sibuk mencari Hayyah.
"Mau makan malam dulu?" tanya Airin.
"Tidak, aku sudah makan malam di luar." Adam melenggang ke kamarnya setelah menyerahkan tas kerja juga jas yang sejak tadi berada di tangan.
Airin pun mengikuti langkah Adam menuju kamar. Duduk di sisi ranjang, menunggu sang suami selesai mandi. Ia mendekati kala pria itu keluar dalam keadaan segar dan hanya mengenakan handuk.
"Sejak menikah kamu tidak pernah menyentuhku Mas. Sekarang aku akan memberikan hakmu meski hanya pengantin pengganti kakakku sendiri." Airin mengelus dada bidang Adam.
"Aku lelah Airin, kita bisa melakukannya lain kali." Menyingkirkan tangan Airin dari dadanya dan langsung memakai baju.
"Lain kali yang kamu ucapkan sudah puluhan kali Mas."
"Airin, kumohon jangan mencari perdebatan aku benar-benar lelah."
"Lelah mencari Hayyah," sindir Airin tersenyum kecut. Saat itulah Adam langsung berbalik dan menatap Airin.
"Kenapa kau tidak senang aku mencari Hayyah? Harusnya kamu bersyukur aku mati-matian mencari kakakmu Airin."
"Karena kamu mencintainya."
"Meski aku mencintainya aku tidak bisa memilikinya lagi karena kita sudah menikah. Aku mencarinya bukan untuk kembali, tetapi memastikan dia baik-baik saja. Aku akan hidup tenang setelah menemukan Hayyah entah bernyawa atau tidak!"
"Aku tidak tahu apa yang dimiliki Hayyah sampai dia begitu di sayangi semua orang." Airin melenggang pergi dengan perasaan kecewa. Namun, Adam sama sekali tidak peduli.
Pria itu malah berbaring di ranjang dan memejamkan matanya. Sudah hampir setengah bulan, tetapi ia belum menemukan kabar apapun.
"Apakah aku harus menyerah untuk mencarinya? Apa benar dia sudah meninggal?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Pujiastuti
semoga semua yang terjadi pada Hayyah cepat terbongkar siapa dalang yang sudah membuat Hayyah menghilang
2024-03-30
1
Hasbi Kc
terkadang orang yg paling jahat itu orang yg paling dekat dgn kita,ya seperti Airin ini kayaknya dia yg sudah mencelakai hayya
2024-03-30
1
Eva Karmita
lanjut thoooorr 🔥💪🥰
2024-03-30
1