Azzam diam-diam memperhatikan raut wajah pak Haikal kala berhasil memperlihatkan foto Hayyah yang berada di dalam ponselnya. Reaksi alami seorang ayah, pak Haikal langsung merebut ponsel Azzam dan menghapus foto tersebut.
"Di mana kamu mengambil foto putri saya? Jangan karena kamu rekan kerja saya, kamu lancang menyimpan foto Hayyahku!" bentak pak Haikal.
"Tenang lah Pak, saya mempunyai urusan dengan putri pak Haikal. Dia mengambil sesuatu yang berharga dalam diri saya kemudian menghilang."
Pak Haikal menggelengkan kepalanya. "Putri saya tidak mungkin mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Jangan memfitnahnya meski dia sudah tidak ada, pak Azzam. Dia harta paling berharga dalam hidup saya dan saya benci mendengar keburukannya." Mata pak Haikal memerah. Rasa rindu bercampur marah sedang menyatu.
Rasa sakit seorang ayah yang ditinggalkan putri pertamanya tanpa harus melihat jasad lebih dulu. Jika ada orang yang datang padanya membawa Hayyah dan meminta imbalan semua harya yang ia miliki. Haikal akan memberikannya tanpa harus berpikir lagi.
"Sudah tidak ada?"
Pak Haikal tergugu, tubuh pria itu seakan melemah. Sampai saat ini dia tidak ingin mengakui bahwa putrinya telah tiada, tetapi satu bulan telah berlalu mustahil seseorang akan hidup di aliran sungai yang deras.
"Hayyahku menghilang tepat di hari pernikahannya. Adiknya mengatakan mereka dicegat perampok di jalan dan Hayyah tidak sengaja terjatuh ke sungai dengan arus yang deras." Pak Haikal menunduk. "Katakan apa yang dia ambil dari pak Azzam, saya akan menggantinya agar dia tenang di sana."
"Bagaimana jika putri pak Haikal masih hidup?"
"Saya pun merasa seperti itu tapi fakta berkata lain. Maaf karena membahas hal seperti ini di jam kerja." Pak Haikal beranjak dari duduknya tanpa pamit pada Azzam.
"Bukan pak Haikal," lirih Azzam. Ia mengeluarkan daftar nama dan mencoret nama pak Haikal di dalamnya. Sekarang yang harus ia temui adalah Airin, perempuan yang pak Haikal sebutkan tadi
Namun, tidak untuk hari ini mengingat sudah lama ia meninggalkan istrinya. Mungkin saja Hayyah terbangun dan mencari dirinya. Azzam bergegas meninggalkan cafe tersebut.
....
Sama seperti malam-malam sebelumnya, Azzam akan menghabiskan waktunya duduk di samping brankar sambil melantunkan ayat-ayat suci. Berharap suaranya mampu menembus alam bawah sadar Hayyah dan hatinya tergerak untuk kembali.
Di balik pintu, bunda Haura meneteskan air matanya. Ia kasihan melihat betapa menderita putranya saat ini. Kurang tidur dan jarang tersenyum seperti dulu. Haura tidak menyesal merestui hubungan Azzam dengan Hayyah, hanya saja hatinya sakit mendapati putra yang selalu ia doakan kebahagiaannya tak kunjung merasakan hal itu.
Bunda Haura menutup mulutnya agar isakan itu tidak terdengar. Ia berbalik dan langsung memeluk sang suami kala menyadari kedatangannya.
"Mas Harun, tolong lakukan yang terbaik untuk menantuku. Aku tidak mampu melihat Azzam seperti ini," lirihnya dalam pelukan.
"Mas sudah berusaha Sayang, bersabarlah. Bukankah buah dari kesabaran sangat indah?"
"Aku selalu ingin bersabar, tapi aku tidak mampu melihat putraku hancur."
"Haura Sayang, percayalah ketidak mungkinan akan menjadi mungkin jika Allah sudah berkehendak. Alih-alih bersikap seperti ini, mari kita luluhkan sang pemilik hati agar mengembalikan kebahagiaan putra kita," bisik Harun merengkuh tubuh istrinya.
Sementara di dalam ruangan perawatan, Azzam meraih tangan istrinya dan mengelus secara perlahan. "Aku berhasil bertemu pak Haikal, Hayyah. Sepertinya dia sangat merindukanmu. Apa kamu tidak ingin bangun dan menemuinya, Sayang? Pak Haikal hancur setelah kepergianmu."
"Bukan hanya pak Haikal, aku pun merasakan hal yang sama."
"Bangunlah istriku, aku takut goyah akan keyakinanku pada Allah."
....
Azzam yang hendak berangkat bekerja harus mengurungkan niatnya kala sang Bunda datang berkunjung ke ruangan perawatan Hayyah. Mata bunda Haura terlihat bengkak seolah baru saja menangis. Menyadari hal itu Azzam pun mendekati bundanya, mengusap pipi wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
"Mata Bunda bengkak. Bunda menangis karena sesuatu?" tanyanya lembut.
"Tidak Nak, bunda hanya terlalu banyak tidur akhir-akhir ini."
"Benarkah?"
"Iya Sayang."
"Syukurlah. Azzam tidak suka jika melihat bunda bersedih. Oh Iya, ada apa bunda datang pagi-pagi seperti ini? Istri Azzam bisa dijaga oleh suster."
"Bunda ingin menyampaikan pesan pak Kiai di pondok. Pak kiai mengajakmu ke luar kota untuk mengisi beberapa ceramah Nak."
"Maaf Bunda, tapi Azzam tidak bisa meninggalkan ...."
"Pergilah Nak, ada bunda di sini yang menjaga istrimu. Sebarkan kebaikan di luar sana agar banyak orang yang mendoakan kebahagiaanmu."
Azzam menundukkan kepalanya, beberapa menit kemudian ia berlutut di depan bunda Haura tanpa peduli setelan jas yang ia kenakan kusut.
"Azzam sepertinya sudah gila Bunda," lirih Azzam tak ingin menatap bundanya yang ikut berlutut.
"Apa maksudmu Nak?"
"Azzam mulai goyah Bunda. Azzam mulai meregukan Allah. Azzam merasa selama ini Allah tidak pernah ada untuk Azzam. Azzam benar-benar sudah gila." Pria tampan yang mempunyai gelar Ustaz itu mulai terisak di pangkuan bundanya.
Keyakinan dan pikiran yang berusaha ia jaga agar tidak ternodai oleh keraguan mulai goyah karena Hayyah tidak kunjung terbangun.
"Istighfar Nak. Allah selalu ada untuk kita. Mungkin Allah mempunyai rencana yang indah untukmu dan Hayyah, itulah mengapa memberimu ujian seperti ini."
"Maafkan Azzam Bunda."
"Pergilah Nak, ikut pak Kiai dan tenangkan pikiranmu. Ingatlah bahwa Allah selalu bersama kita. Jangan pernah meragukan-Nya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Hafifah Hafifah
😭😭😭😭😭 ikut sedih deh
2024-05-07
2
Hafifah Hafifah
nah bener tuh si airin tuh pasti pelakunya
2024-05-07
1
Lilik Juhariah
hiks hiks hiks azam
2024-04-23
1