Hayyah yang biasanya datang ke masjid untuk belajar mengaji, kini lebih memilih berdiam diri di rumah seperti orang bodoh. Awalnya ia semangat untuk belajar lantaran yang meminta adalah Azzam, tetapi semuanya meredup akibat ucapan anak-anak di masjid. Hayyah malu jika harus ditertawakan oleh anak kecil.
"Memangnya salah jika orang bodoh ingin belajar?" gumam Hayyah seraya menatap nanar pagar kayu milik ibu Fatmah. Sekarang pikiran gadis itu tertuju pada masjid. Di mana Azzam akan tersenyum pada anak-anak yang pria itu ajar. "Aku tidak tahu makanya belajar, kenapa mereka seolah mengejek?" lanjutnya.
Hayyah terus menggerutu sampai tidak menyadari yang tadinya Ashar telah berubah menjadi magrib. Ibu Fatmah pun datang entah dari mana.
"Mau shalat bersama Nak?" tanya ibu Fatmah.
"Hayyah tidak tahu bacaannya Bu. Hayyah juga tidak tahu shalat magrib berapa rakaat."
Bu Fatmah membulatkan matanya, mungkin terkejut akan ucapan Hayyah. Terlebih gadis itu bukan lagi anak kecil.
"Ibu juga ingin menertawakanku?"
Bu Fatmah buru-buru menggelengkan kepalanya. "Tidak Nak, ibu hanya terkejut. Mari kita shalat bersama. Ibu akan memberitahumu rakaatnya dan baca-bacaan setelahnya."
"Terima kasih Bu."
Hayyah pun mengikuti langkah bu Fatmah menuju ruangan yang dikhususkan untuk shalat, padahal rumah itu terbilang sempit. Hanya ada dua kamar. Saat Azzam tinggal di sana pun, ia tidur di depan Tv.
....
"Hati-hati pulangnya, jangan saling dorong. Mengambil sendal harus tertib," ujar Azzam pada anak-anak.
"Iya Ustaz tampan!" sahut anak-anak dan segera keluar dari masjid.
Azzam pun ikut keluar, berjalan sambil memperhatikan anak didiknya yang berbaris rapi hanya untuk mengambil sendal. Melihatnya membuat Azzam bangga. Apa yang selalu ia ajarkan selalu dilakukan dengan benar.
Pandangan Azzam beralih pada lantai masjid kala ustazah menghampirinya dan mengucapkan salam.
"Perempuan bernama Hayyah tidak datang ke masjid sore ini Ustaz. Apa Ustaz Azzam tahu kenapa?" tanya Ustazah Indira.
"Aku tidak tahu, mungkin dia memiliki kesibukan lain. Mari." Azzam melanjutkan langkahnya tanpa menatap Indira, padahal gadis itu sangat cantik. Ilmu agamanya pun sangat sebanding dengan dirinya.
Namun, entah kenapa hati Azzam sama sekali tidak tergerak untuk mencintai siapa pun untuk saat ini. Ia belum siap dan takut tak bisa membahagiakan istrinya nanti.
Sebelum pulang ke kontrakan yang baru ia dapatkan, Azzam mengunjungi rumah ibu Fatmah. Ingin menanyakan alasan mengapa Hayyah tidak datang, padahal kemarin sangat bersemangat.
Sesampainya di rumah bu Fatmah, Azzam mengucapkan salam dan dijawab oleh Hayyah.
"Mas Azzam sudah pulang?" tanyanya basa-basi. Mendekati untuk meraih tangan Azzam, tetapi pria itu menyembunyikan tangannya.
"Kenapa tidak datang ke masjid untuk belajar?"
"Aku malu Mas."
"Malu kenapa?" Azzam menatap dedaunan bunga setelah duduk di teras rumah dengan jarak cukup jauh bersama Hayyah.
"Anak-anak menertawakan aku yang tidak tahu apa-apa. Bahkan saat shalat mereka mengejek. Aku tidak mengingat apapun, bahkan satu huruf pun."
"Maksud kamu?"
"Ibu Fatmah memberiku buku ini, tapi aku tidak bisa membacanya." Hayyah memberikan buku tuntunan shalat lengkap pada Azzam.
"Kamu lupa semuanya? Tapi kenapa bisa mengingatku yang jelas-jelas tidak pernah bertemu denganmu?"
"Aku tidak tahu." Hayyah menunduk. Jika boleh jujur ia pun hampir gila menghadapi dirinya. Bangun dari tidurnya ia malah tidak tahu apapun, bahkan sekedae mengenali huruf dan angka. Saat ingin belajar, semua orang malah menganggapnya remeh.
"Kalau begitu belajar!"
"Aku tidak mau belajar jika bukan mas Azzam gurunya. Aku malu pada mereka. Katanya aku sudah besar tapi tidak tahu apa-apa." Suara Hayyah semakin merendah dan itu menarik perhatian Azzam.
Lelaki itu melirik sebentar dan melihat setetes air mata terjatuh. Ada apa dengan hatinya? Ia seakan ikut merasakan penderitaan Hayyah saat ini. Berada di lingkungan asing tanpa ingatan di memori.
"Selain mengajar mengaji di masjid, aku membangun sebuah gubuk untuk tempat belajar anak-anak setiap hari minggu pagi hingga siang, jika kamu benar-benar serius ingin belajar, datanglah ke sana."
"Aku tidak akan pergi jika ada anak-anak Mas. Aku benar-benar malu."
"Duduk dan perhatikan saja apa yang aku ajarkan. Aku yakin kamu bukan bodoh, kamu hanya melupakan semuanya."
"Aku tidak bodoh?" Mendongak menatap Azzam.
"Hm."
"Terima kasih sudah berkata seperti itu Mas."
....
Kota ....
Di dalam rumah yang tampak mewah, terdapat sepasang suami istri yang sedang bertengkar. Sang pria tak pernah mau mendengarkan semua ucapan istrinya lantaran percaya bahwa putrinya masih hidup. Tetapi sang istri tetap bersikeras mengatakan putri mereka telah meninggal tepat di hari kehilangannya.
"Sampai kapan kamu akan denial seperti ini Mas? Hayyah telah meninggalkan kita untuk selamanya!" ucap wanita paruh baya.
"Jangan sekali-kali ucapkan itu. Hayyah masih hidup, putriku pasti baik-baik saja. Kenapa kau sangat keras kepala?"
"Kamu yang keras kepala Mas. Jika Hayyah benar-benar hidup, kita sudah menemukannya. Satu minggu sudah berlalu dan tak ada kabar apapun!"
"Sebelum mas melihat jasadnya secara langsung, mas tidak akan percaya apapun!" Pria paruh baya itu segera meninggalkan kamar. Ia terlalu muak menghadapi ke keras kepalaan istrinya.
Saat di anak tangga, ia berpapasan dengan gadis cantik dua tahun di bawah Hayyah. "Apa kamu menemukan kabar tentang kakakmu Nak?"
"Tidak Pa. Airin menyesal telah membuat kak Hayyah hilang. Harusnya malam itu bukan Airin yang membawa kak Hayyah."
"Di mana suami mu?" tanya Haikal, ayah dari Hayyah.
"Di kamar." Airin tersenyum.
Sebenarnya yang akan menikah malam itu adalah Hayyah, tetapi karena Hayyah di culik oleh seseorang Airin lah yang menikahi calon suami Hayyah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
gedang Sewu
mungkin itu ibu dn adik tirinya hayyah ya kok bilangnya sdh mati,klu ibu kandung kn punya filing yg kuat anaknya msh hidup,la ini tdk kok..🤔🤔
2024-05-28
1
Arsyad Al Ghifari 🥰
biar lah di katai suudzon .apa Airin dan ibunya hayyah adalah sodara dan emak tiri .ya .dan yang membuat hayyah hilang itu mereka berdua biar Airin yang menikah dengan adam
2024-03-26
1
Yunia Afida
suudzon boleh g, kayaknya ulah airin deh
2024-03-25
1