Azzam segera meninggalkan kamar setelah bundanya tersadar. Pria itu baru ingat dengan Hayyah sakin paniknya melihat Bunda. Ia merasa bersalah dan berdosa telah mengambil keputusan tanpa melibatkan orang tua terlebih dahulu. Namun, tak ada rasa sesal di hatinya menikahi Hayyah meski semuanya di mulai akibat sebuah insiden.
Toh cepat atau lambat Azzam akan menikah, jika pun bukan dengan Hayyah mungkin perempuan pilihan bundanya. Cinta bagi Azzam adalah hal paling belakang, yang utama tujuan pernikahan itu sendiri. Lantaran pernikahan adalah ibadah seumur hidup jadi harus di memilih yang terbaik menurut logika bukan hati.
"Apakah bunda Mas Azzam sudah sadar?" tanya Hayyah kala Azzam sampai di kursi rotan. Gadis itu mendongak hingga tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya.
Azzam mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. Ia mengakui kecantikan Hayyah di atas rata-rata terlebih saat memakai gaun pengantin seperti ini.
"Katanya gaun ini punya aku saat hanyut di sungai. Dan setelah diingat-ingat ini adalah gaun pernikahan kita Mas."
"Hm ini memang gaun pernikahan kita." Azzam mengangguk tanpa protes, toh itu memang gaun pernikahan Hayyah dengannya di masa sekarang, entah di masa lalu. Namun, Azzam tidak ingin terbebani dengan memikirkan masa lalu Hayyah, padahal pemiliknya sendiri lupa segalanya.
"Mari menemui Bunda."
"Apa aku boleh mengenggam tangan Mas Azzam?" tanya Hayyah.
"Tentu."
Tanpa ragu Hayyah langsung menggenggam tangan suaminya dan mengikuti langkah Azzam menuju kamar di mana bunda Haura berada. Hayyah menghentikan langkahnya di ambang pintu melihat perempuan cantik dengan hijab panjangnya sedang duduk di bibir ranjang dan berbicara dengan bunda Haura.
Entah kenapa rasa insecure tiba-tiba datang pada Hayyah, seolah keberadaannya tidak diterima begitu baik oleh keluarga suaminya.
"Bunda?" panggil Azzam masih menggenggam tangan Hayyah.
Aisyah yang menoleh tentu melihat dengan jelas bagaimana eratnya genggaman tangan itu. Iri? Tentu saja, tapi ia tidak punya hak untuk cemburu lantaran bukan siapa-siapa.
"Ais ke dapur dulu ya Bunda." Aisyah beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar.
"B-bunda baik-baik saja?" tanya Hayyah sedikit gugup.
"Baik." Bunda Haura tersenyum. "Nama kamu siapa Nak?"
"Nama aku Hayyah Bunda."
"Nama yang sangat cantik."
Haura bergerak sedikit dan menapakkan kakinya di lantai dingin tersebut. Saat itulah Azzam melepaskan genggamannya dari sang istri. Menjatuhkan tubuhnya dan menumpu dengan lutut di hadapan bunda Haura.
"Maafkan Azzam karena telah membuat bunda kecewa atas sikap Azzam. Tapi Azzam sama sekali tidak menyesal menikahi istri Azzam sekarang Bunda." Pria itu meraih tangan bundanya. "Beri Azzam restu agar rumah tangga Azzam dan Hayyah selalu berkah di setiap langkahnya."
"Sebelum meminta maaf bunda sudah memaafkanmu Nak. Dan restu bunda selalu menyertai jalanmu." Haura menyentuh pundak putranya yang tertunduk. Ia tadi jatuh pingsan karena terlalu terkejut.
Terkejut mengetahui putranya telah mencorek nama baik sendiri dengan berduaan dengan lawan jenis. Kedua terkejut akibat Azzam menikah secara diam-diam padahal ia tidak pernah melarang Azzam melakukan apapun jika itu yang terbaik.
"Terima kasih Bunda." Azzam langsung memeluk bundanya dan membisikkan sesuatu. "Tolong bimbing istri Azzam Bunda, dia tidak tahu apapun. Jangan hakimi Hayyah apapun yang terjadi."
"Tidak akan Nak."
"Kalau saja Hayyah membuat kesalahan, tolong beritahu Azzam agar Azzam yang menegurnya sendiri. Dia terlalu perasa untuk ditegur oleh orang lain."
"Kamu mencintainya Nak?" tanya Haura.
"Sayang?" panggil Ayah Harun yang baru saja datang.
"Kenapa Mas?"
"Mau pulang sekarang atau mas mencari penginapan di kota kecil?"
"Azzam mempunyai kontrakan yang cukup untuk empat orang. Bunda dan Ayah bisa istirahat di sana dan pulang bersama Azzam besok."
"Kita ikut Azzam saja Mas."
"Baiklah." Harun pasrah akan keputusan istrinya. Pria paruh baya itu beralih pada gadis yang diam seribu bahasa di samping Azzam. Harun telah mengetahui semuanya dari pak Joko.
Tentang Hayyah yang ditemukan oleh Azzam hingga tragedi yang terjadi hari ini. Satu kelegaan hatinya lantaran putranya tidak melakukan hal-hal hina seperti berita yang sedang beredar di desa ini. Ia pun bangga pada keputusan putranya yang langsung mengambil keputusan demi melindungi gadis yang tidak tahu apa-apa.
Harun tahu betul bahwa insiden seperti ini akan selalu merugikan perempuan. Entah di cap penggoda atau murahan. Terlebih posisi Hayyah yang tidak tahu segalanya.
Sebelum meninggalkan kediaman bu Fatmah, Haura, Harun dan Azzam pamit baik-baik lantaran datang pun secara baik-baik. Mereka duduk di ruang keluarga secara lesehan lantara tidak cukupnya kursi. Hayyah pun telah berganti baju di temani oleh Aisyah tadi.
"Jika boleh tahu, tujuan bu Haura dan pak Harun ke desa ini untuk apa?" tanya pak Joko.
"Kami ...."
"Untuk mengantar Ais, Pak. Sekalian bunda dan ayah ingin melihat ustaz Azzam," balas Aisyah cepat. Cukup dia yang kecewa atas rencana pernikahan, tidak untuk orang tuanya. Ini pun demi menjaga keutuhan kekeluargaan dan tidak mempermalukan orang tua Azzam.
"Terima kasih sudah berbaik hati mengantar putri saya Pak Harun, Bu Haura. Tidak heran kenapa Ustaz Azzam memiliki hati yang mulia."
"Jangan terlalu memuji, kami hanya manusia biasa yang tidak luput dari dosa."
"Kalau begitu aku pamit ya Pak. Terima kasih untuk tumpangannya selama beberapa bulan ini." Azzam mencium punggung tangan pak Joko dan bu Fatmah. Saat sampai di hadapan Aisyah, Azzam hanya menangkupkan tangannya tanpa menatap.
"Sama-sama, ibu juga sangat berterima kasih Nak. Berkatmu di desa ini banyak anak-anak sudah pintar membaca dan mengaji. Selamat atas pernikahanmu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Kendarsih Keken
Aisyah good bngt legowo benar hati nya
2024-06-03
1
Lilik Juhariah
andai para generasi skrng mengedepankan adab , damai sudah dunia, gk ada zina, melawan orang tua, Krn menerapkan nilai Islam dg benar, gk sekedar belajar tentang Islam tanpa bisa menerapkan nnya
2024-04-23
2
Hafifah Hafifah
semoga si aisyah segera dapet jodoh
2024-04-17
2