Sepeninggalan ayahnya, Airin segera menuju kamar untuk bertemu dengan sang suami. Ia mendapati suaminya sedang siap-siap padahal baru saja pulang bekerja. Airin pun menghampiri lantaran penasaran Adam akan ke mana malam-malam seperti ini.
"Mas Adam mau ke mana? Memangnya tidak lelah harus pergi lagi padahal baru pulang?" tanya Airin.
"Tidak ada kata lelah untuk mencari keberadaan Hayyah."
"Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan aku Mas? Aku istrimu, kenapa di pikiranmu hanya Hayyah?"
"Harusnya bukan kamu yang aku nikahi Airin. Jika saja tidak terjadi sesuatu pada Hayyah, dialah yang menjadi istriku."
"Tapi tetap saja ...."
"Aku akan mencarinya." Adam pun meninggalkan kamar, menyisakan Airin dengan perasaan berkecamuk. Sejak dulu hingga saat ini Hayyah selalu berhasil mengambil kebahagiaannya. Entah lingkungan pertemanan, kasih sayang ayah dan sekarang pria yang sangat ia cintai.
....
"Nak Ais, boleh bunda bertanya sesuatu Nak?" tanya Haura kala mereka sedang duduk bertiga di meja makan pagi ini.
Yang di panggil pun segera menghentikan aktivitas makannya. "Boleh Bunda."
"Kamu punya seseorang yang kamu sukai Nak? Atau pria impian yang ingin mempersunting dirimu?"
Aisyah terdiam, tentu saja gadis cantik nan solehah itu mempunyai pria yang ia dambakan. Tetapi ia tidak tahu apakah pria itu juga menginginkan dirinya sebagai seorang istri dan hidup sesurga bersama.
"Kenapa Bunda bertanya demikian?"
"Bunda sedang mencarikan seorang istri untuk Azzam. Jika kamu belum punya tambatan hati, bunda ingin meminta kesediaan dirimu menjadi istrinya Nak."
Aisyah seketika menundukkan kepalanya, gadis yang selalu berhijab panjang itu tak pernah menyangka bunda Haura akan berbicara hal seperti ini. Ayolah siapa yang tidak ingin menikahi Azzam? Selain tampan, ustaz muda itu paham agama dan lulusan universitas Al-Azhar Kairo.
Yang Aisyah tahu, sejak kembali, Azzam hanya fokus pada urusan akhiratnya saja dan menjadikan dunia hanya tempat persinggahan semata. Tidak ada orang yang akan membuang waktunya mengabdi pada desa kecil tanpa bayaran secuil pun bukan? Bahkan Azzam telah banyak mengeluarkan uang untuk keperluan anak-anak di desa.
"Ais ikut apa kata orang tua Bunda, karena Ais yakin pilihan orang tua tidak pernah salah."
"Ayah senang mendengarnya Nak. Setelah semua urusan ayah selesai, kita akan datang ke desa untuk bertemu orang tua mu." Harun tersenyum lebar. Hatinya lega Aisyah bersedia menjadi calon istri putranya.
Setelah berbicara panjang lebar di meja makan, Harun pun bergegas ke rumah sakit begitu juga dengan Haura ke toko donatnya yang semakin berkembang dan memiliki cabang di beberapa tempat.
Sementara di tempat lain, yakni sebuah desa. Hayyah sengaja bangun pagi-pagi sekali. Mandi dan memakai pakaian pemberian ibu Fatmah yang sangat tertutup. Jika boleh jujur ia gerah, tetapi hanya melakukan ini semua Azzam ingin berbicara dengannya.
"Ibu, Hayyah harus melakukan apa?" tanya Hayyah pada ibu Fatmah.
"Tidak perlu melakukan apapun Nak. Kamu baca-baca buku pemberian ibu saja," balas bu Fatimah yang tidak tahu bahwa Hayyah bahkan tidak bisa membaca.
"Iya Bu." Hayyah mengangguk, berjalan keluar rumah dan duduk di teras. Berharap dapat melihat Azzam pagi-pagi seperti ini.
"Apa aku harus seperti ustazah itu agar mas Azzam ingin menerimaku? Mas Azzam pasti malu mempunyai istri bodoh sepertiku," gumam Hayyah. Meski Azzam selalu berkata mereka bukan suami istri, ia tetap tidak percaya lantaran ingatannya hanya tertuju pada Azzam saja.
....
Sulitnya sinyal di desa membuat Azzam sedikit kesusahan jika akan menghubungi seseorang di kota. Pria itu akan mengunjungi tempat yang jauh demi melancarkan pekerjaannya. Misal datang ke dataran tinggi seperti saat ini.
Pria itu duduk di rumah-rumah yang sering kali di tempati para warga jika ingin menelepon. Azzam memangku laptopnya di mana terdapat banyak file-file penting di dalamnya. Di telinga pria itu ada ponsel yang menempel dan terhubung pada asistennya di kota.
"Bagaimana pekerjaan di sana Hasan? Apakah semuanya berjalan lancar?" tanya Azzam.
"Benar Pak semuanya berjalan lancar. Pak Azzam jangan lupa memeriksa file yang baru saja aku kirimkan."
"Aku susah memeriksa semuanya dan terdapat beberapa perbedaan angka dari laporan keuangan. Banyak selisih yang aku temukan Hasan. Siapa yang bertanggung jawab tentang berkas ini?"
"Manajer keuangan yang membawanya Pak."
"Suruh rangkum ulang, mungkin dia salah mengetik. Jika rangkuman berikutnya masih beda jauh, coba tanyakan dan ambil tindakan."
"Baik Pak."
Azzam pun memutuskan sambungan telepon, kemudian kembali fokus pada laptop di hadapannya. Bekerja dengan jarak jauh seperti ini memang susah, tetapi target Azzam mengabdi sekitar satu tahun lamanya. Jadi sebelum itu ia tidak akan kembali. Terlebih sekarang ia memiliki tanggung jawab pada seorang perempuan.
Langit yang tiba-tiba mendung di pagi hari seperti ini membuat Azzam mengurungkan niatnya untuk pulang dan memilih berteduh di sana. Beruntungnya tak ada satu orang pun di sana, padahal biasanya jika pagi-pagi seperti ini banyak warga menelepon sanak saudara yang merantau ke luar kota.
"Aku harus mencari keluarga Hayyah ke mana? Sementara perempuan itu sendiri tidak mengingat apapun," gumam Azzam yang pikirannya tiba-tiba tertuju pada gadis cantik itu.
Azzam melirik jam tangannya, ia hampir lupa hari ini ia punya jadwal membawa Hayyah ke rumah sakit bertemu dokter sebelumnya. Selain harga rumah sakit yang mahal, ongkos ke sana pun lumayan lantaran di tempuh kurang lebih 3 jam. Namun, Azzam tak mempermasalahkannya. Ia hanya tidak enak pada bu Fatmah jika terus menyusahkan dengan menyuruhnya ikut menemani.
"Kali ini aku mengajak siapa?" gumam Azzam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Kendarsih Keken
Penasaran Hayyah di culik oleh siapa yak
2024-05-25
1
Athallah Linggar
Nm calon suamimu dlu adam hayyah. Mhkin itu yg bkin hayyah merasa jd istri azzam. Beda tipis ih adam dan azzam
2024-05-25
1
Arsyad Al Ghifari 🥰
Aisyah anaknya Diana bukan ya
2024-03-26
1