Sebelum benar-benar masuk ke mobil saminya, Haura kembali menghampiri Aisyah yang berdiri sambil tersenyum. Wanita paruh baya itu langsung memeluk perempuan yang sangat sempurna di matanya. Jangankan membentak, bicara saja Aisyah sanggatlah lembut dan tak pernah membuatnya kecewa selama tinggal di rumah.
Namun, apa boleh buat takdir tak memihaknya untuk menjadikan Aisyah menantunya lantaran Azzam mempunyai pilihan sendiri.
"Sekali lagi maafkan bunda karena telah memberimu harapan Nak. Bunda sudah berhasil melukai hatimu," bisik Haura di telinga Aisyah.
Saat itu juga manik indah Aisyah berkaca-kaca, ia menarik napas dalam-dalam dan membalas pelukan wanita yang hampir menjadi mertuanya.
"Jangan meminta maaf Bunda. Ini semua bukan kesalahan bunda. Mungkin Aisyah dan ustaz Azzam memang tidak berjodoh. Ais yakin Hayyah adalah perempuan yang tepat menjadi menantu di keluarga Edelweis."
"Hatimu besar sekali Nak, bahkan kamu rela berbohong pada orang tuamu tentang kunjungan bunda ke Desa."
"Hati-hati di jalan Bunda, Ais akan menyusul beberapa hari lagi."
Haura menganggukkan kepalanya, wanita paruh baya itu menghapus air matanya kemudian tersenyum pada orang tua Aisyah, barulah setelahnya memasuki mobil di mana Hayyah sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya.
Dari cara bunda Haura memperlakukan Aisyah, Hayyah dapat menarik kesimpulan lain. Terlebih Aisyah adalah gadis yang sangat sempurna dan pantas bersanding dengan ustaz Azzam. Namun, meski begitu Hayyah tidak akan mengalah karena Azzam adalah miliknya. Ia akan berusaha menjadi lebih baik dan mengingat masa lalunya yang entah seperti apa.
"Kenapa tidak di depan Sayang?" tanya Harun kala Haura malah duduk di jok belakang tepat di samping Hayyah yang sedang melamun.
"Aku ingin duduk bersama menantuku," jawab Haura.
Mobil pun perlahan melaju di jalanan setengah rusak. Sesekali Hayyah tersenyum canggung kala bertemu pandangan dengan mertuanya yang sesekali menatap.
"Di mana keluargamu Nak? Apa mereka juga tinggal di desa ini?" tanya Haura yang belum tahu apapun, toh Harun dan Azzam tidak menceritakan kisah Hayyah.
"It-itu ... Hayyah tidak tahu Bunda."
"Maksudnya?" Kening Haura mengerut.
"Hayyah kehilangan ingatan masa lalunya Sayang. Dia ditemukan oleh putra kita di pinggir sungai. Kata pak Joko, saat terbangun Hayyah hanya mengenal putra kita sebagai suaminya. Selama ini Azzam sudah berusaha menjaga jarak, tetapi karena insiden tidak terduga di gubuk mereka akhirnya di nikahkan."
Haura tertegun mendapati kenyataan tersebut.
"Tapi apa yang terjadi di gubuk hanyalah kesalahpahaman. Putra kita berniat menolong Hayyah yang hampir tertimpa pohon kelapa."
"Maaf karena membuat mas Azzam malu Bunda. Tapi Hayyah hanya mengingatnya, apa itu salah?"
Haura bergeming, wanita paruh baya itu melempar tatapannya pada persawahan tanpa ada keinginan menjawab ucapan Hayyah.
....
Haura memindai rumah kontrakan Azzam yang terdapat dua kamar dan satu ruang tamu tanpa kursi. Hanya karpet yang menjadi penggalas untuk duduk lesehan. Namun, bukan itu yang membuat Haura bungkam sejak tadi, tetapi kamar yang berjumlah dua dengan artian putranya akan tidur dengan gadis amnesia yang bahkan tidak tahu statusnya seperti apa.
"Bunda mau minum apa?" tanya Hayyah menghampiri Haura.
"Bunda tidak haus Nak."
"Bunda tidak menerima Hayyah sebagai menantu? Sikap bunda sangat baik pada Ais, kenapa tidak saat berbicara dengan Hayyah?"
"Hayyah masuklah ke kamar lebih dulu, aku ingin berbicara dengan bunda," ucap Azzam menghampiri dua wanita yang kini sama-sama penting dalam hidupnya.
Merasakan kecanggungan Hayyah pun beranjak dan masuk ke kamar Azzam. Menyisakan ibu dan anak yang duduk berhadapan.
Azzam menggenggam tangan bundanya dan tersenyum hangat. "Katakan pada Azzam apa yang menjanggal di hati Bunda tentang Hayyah."
"Status Nak. Bagaimana jika dia adalah istri orang? Kata ayah, saat kamu menemukannya dia memakai baju pengantin bukan?"
"Benar Bunda. Tapi memakai baju pengantin ada dua opsi, sesudah atau sebelum."
"Tapi tetap saja ...."
"Azzam tahu apa kekhawatiran Bunda saat ini. Bunda tenang saja, Azzam tidak akan meminta hak pada Hayyah sampai masa iddah seorang perempuan berakhir. Dengan begitu tidak ada yang perlu ditakutkan."
"Tapi tetap saja ini tidak masuk akal Nak. Kamu tidak tahu asal usul perempuan itu dan ...."
"Azzam akan bahagia bersama Hayyah percayalah Bunda. Bunkah ini cara terbaik Azzam membantunya untuk pulih?"
....
Setelah menyelesaikan semua urusan di desa dan berpamitan pada anak-anak juga pengurus desa lainnya. Azzam pun meninggalkan tempat pengabdiannya selama beberapa bulan terakhir. Namun, kepulangannya ia membawa istri yang sejak kemarin tidak ingin ditinggal olehnya. Mungkin tidak nyaman berada di sekitar bunda Haura.
"Ini rumah orang tua mas Azzam?" tanya Hayyah menatap bangunan mewah berwarna putih gading dengan aksen gold di setiap garisnya.
"Hm, kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu."
"Apa bunda mengizinkan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku tidak mengingat apapun selain mas Azzam."
"Tidak masalah." Azzam beralih menggenggam tangan Hayyah dan memasuki rumah orang tuanya. Meski tak memiliki perasaan pada Hayyah, ia tetap akan menjadi suami yang bertanggung jawab lantaran telah mengambil keputusan penting dalam hidupnya.
"Ini kamarku, istirahatlah."
"Mas Azzam mau ke mana?"
"Menemui ayah di bawah, sekalian meminta pakaian bunda."
"Jangan lama-lama." Hayyah pun duduk di bibir ranjang dan memperhatikan sekitar kamar yang suasanya sangat tenang tersebut. Tatapannya tertuju pada rak buku yang terbagi menjadi dua bagian. Satunya pemahaman tentang agama, satunya lagi tentang bisnis.
"Siapa aku sebenarnya?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Arsyad Al Ghifari 🥰
pasti karena nama Adam dan Azam berdekatan makanya hayyah hanya mengingat nama azzam
2024-03-28
3
Rosy
wajar sih kalau Haura khawatir dg status Hayyah yg tidak jelas apalagi Hayyah di temukan dg memakai pakaian pengantin..
Hayyah yg semangat ya..sekarang kamu harus pintar2 mengambil hati mertua kamu..mungkin kepribadian Aisyah bisa kamu jadikan motivasi untuk bisa menjadi pribadi yg lebih baik tentunya dg bimbingan Azzam 🤗
2024-03-27
2
Teh Yen
kasian hayyah d antara kebimbangan nya tentang siapa dirinya d situ pula.dia harus mengambil hati bunda agar bisa menerimanya sebagai menantu
smngat hayyah bundanhanya kaget dengan semua kejadian beruntun yg terjadi d.hidup putranya
2024-03-27
1