Tidur setelah subuh adalah hal yang sangat indah, apalagi merasakan hangatnya balutan selimut tebal. Namun, sepasang suami istri di dalam kamarnya tidak tergoda akan kenikmatan itu. Alih-alih tidur keduanya malah mengaji dan belajar satu sama lain dan sesekali tertawa bersama.
Hayyah yang sering kali salah penyebutan saat belajar Iqro. Alih-alih marah Azzam malah tertawa gemes menyaksikan bagaimana polosnya wanita itu kala bertanya dengan nada.
"Oh salah ya?"
"Bukan salah, tapi kurang tepat."
"Tapi aku hampir bisa kan Mas?"
"Jauh lebih baik dari pada tidak berusaha sama sekali."
"Kalau begitu belajarnya sampai di sini dulu, aku mau ke dapur siapa tahu bunda sudah bangun."
"Duduklah atau pejamkan matamu sebentar, sepertinya kamu sangat mengantuk Hayyah." Azzam menarik tangan istrinya yang hendak pergi.
"Tapi aku ingin mengambil hati Bunda."
"Tapi memasak bukan kewajibanmu apalagi hanya untuk mengambil perhatian Bunda. Terlebih di jam seperti ini bunda masjid berada di kamar bersama Ayah. Mereka melakukan hal yang sama seperti kita."
"Begitu? Ya sudah aku mau tidur sebentar tapi di pangkuan Mas, apa boleh?"
Azzam terdiam sebentar sebelum akhirnya menyetujui permintaan Hayyah. Saat itulah Hayyah membaringkan kepalanya di pangkuan sang suami masih menggunakan mukena. Sementara Azzam sendiri melanjutkan mengajinya setelah tertunda akibat Hayyah yang memaksa ingin belajar.
Sesekali Azzam menatap wajah damai Hayyah yang begitu cepat terlelap. Ia tidak rugi memperistri Hayyah, malahan ia sangat beruntung mendapatkan pasangan hidup yang mau belajar ke arah yang lebih baik. Semangat melakukan sesuatu dan bertanya padanya.
"Semoga tidak ada badai besar yang menghantam rumah tangga kita Hayyah. Kalau pun ada, semoga kita bisa melewati semuanya. Jika boleh jujur aku pun khawatir jika kamu memang milik orang lain." Azzam mengusap pipi Hayyah.
....
Merasa Hayyah masih merasakan ke canggungan ketika bertemu dengan bundanya, Azzam pun menggenggam tangan istrinya hingga sampai di meja makan. Menarik kursi untuk Hayyah duduk berhadapan dengan bunda Haura.
"Selamat pagi Bunda," sapa Hayyah.
"Pagi Nak, apa tidur kalian nyenyak?"
"Tidur Hayyah nyenyak, tapi tidak tahu dengan mas Azzam Bunda. Dari jam 4 pagi tidak tidur sampai sekarang."
"Bukannya kamu ikut?"
"Tapi aku tidur setengah enam pagi Mas."
Harun dan Haura tersenyum melihat perdebatan kecil putra dan menantunya. "Ayo sarapan dulu! Oh iya, setelah ini istrimu ada kegiatan apa Azzam?"
"Membawanya ke kantor, Bunda. Sekalian belanja keperluan Hayyah. Baju bunda sedikit kebesaran di tubuh Hayyah."
"Biarkan bunda yang menemani Hayyah."
"Azzam senang mendengarnya Bunda." Azzam merasa lega mengetahui bunda Haura ingin mendekatkan diri pada istrinya. Padahal wanita paruh baya itu sempat mempermasalahkan status Hayyah yang tidak jelas.
Setelah sarapan bersama, Azzam pun pamit pada orang tuanya juga istri yang mengikuti sampai di depan rumah.
"Hati-hati Mas."
"Baik-baik sama Bunda. Dan ini untukmu." Menyerahkan kartu pada Hayyah. "Gunakan untuk membeli semua keperluan yang kamu butuhkan. Seperti pakaian sesuai kenyamanan kamu. Perawatan kulit atau pun skincare seperti yang lain."
"Apa aku kurang cantik?" tanya Hayyah dengan polosnya.
"Justru karena kamu cantik, kamu harus menjaganya untuk suamimu Hayyah." Azzam lagi-lagi tertawa. Ia mengusap kepala Hayyah yang tertutup hijab sebelum akhirnya meninggalkan rumah.
Tak melihat motor Azzam lagi, Hayyah pun masuk ke rumah dan menghampiri bunda Haura yang tengah berbincang dengan ayah Harun.
"Itu menantu kita sudah datang, kalau begitu mas pergi dulu ya." Harun mengecup kening Haura sebelum pergi.
"Ternyata sikap lembut mas Azzam dari ayahnya," batin Hayyah.
....
Hayyah mengira perjalanannya dengan bunda Haura akan terasa hambar dan menegangkan. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Ia sejak tadi senyum-senyum sendiri mendengar cerita bunda Haura tentang Azzam.
"Jadi mas Azzam pernah menangis karena tidak ingin menikah, Bunda?"
"Benar Nak, katanya dia takut kalau sampai tidak bisa membimbing istrinya menuju surga bersama."
"Hayyah akan berusaha mengimbangi mas Azzam Bunda. Hayyah juga berjanji untuk berusaha mengingat semuanya."
"Pelan-pelan saja jangan terlalu memaksakan diri Nak. Itu bisa membuatmu terluka nantinya." Haura membanting setir kemudi memasuki halaman toko donat yang cukup dekat dengan rumah sakit. Di dalam ramai akan pelanggan.
"Tunggu sebentar ya." Haura turun lebih dulu dari mobil kala mendapatkan telepon dari seseorang.
Hayyah pun ikut turun dan berdiri di depan toko donat, saat itulah seseorang menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu, Kak?" tanya karyawan Haura Bakery sopan.
"Dia menantu saya," ucap Haura.
"Ah maaf Bu saya tidak tahu kalau kakak ini menantu ibu." Perempuan itu memberikan bow.
"Tidak masalah namanya juga orang tidak tahu." Haura hanya melempar senyum, mengajak Hayyah memasuki toko donat.
"Ini punya Bunda?"
"Iya."
"Hebat." Hayyah menatap takjub pada semua orang, terutama karyawan yang memakai seragam masing-masing. Semuanya menutup aurat dan mayoritas perempuan.
"Bunda lupa menceritakan satu hal lagi tentang suamimu Nak. Azzam memiliki perempuan yang sangat dia sayangi melebihi bunda. Sekarang perempuan itu sedang magang di salah satu rumah sakit di luar kota."
"Apa maksud Bunda?" Wajah Hayyah seketika pias.
"Azzam punya adik perempuan."
"Oh adik, aku kira istri selain aku." Hayyah tertawa canggung, ia hampir saja menelepon ustaz Azzam untuk menanyakan semuanya.
"Bunda memberitahumu agar nanti saat kamu melihat Azzam bersama adiknya kamu tidak salah paham Nak. Soalnya Azzam sering kali mengunjungi adiknya jika sedang rindu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Hafifah Hafifah
tenang dia masih single kok meski dia dulu punya calon suami tapi suaminya yg sah kan kamu zam
2024-04-17
3
Hasbi Kc
azzam itu kayak bundanya baik dan rendah hati
2024-03-30
1
Yunia Afida
semangat terus 💪💪💪💪💪
2024-03-29
1