Tak pernah terpikirkan oleh Hayyah bahwa semuanya akan indah seperti hari ini. Mertua yang ia kira tidak ingin menerima keberadaannya malah terlihat antusias menemaninya membeli beberapa keperluan. Bahkan bunda Haura menawarkan barang yang bagus dan menjelaskan kekurangan dan kelebihan.
"Kartu ini diberikan mas Azzam untuk di pakai Bunda." Hayyah menyerahkan kartu pada mertuanya.
"Simpan untukmu sendiri. Hari ini bunda yang bayar semuanya sebagai penyambutan menantu cantik," balas Haura menolak uluran tangan Hayyah.
"Tapi ...."
"Jangan menolak rezeki."
"Terima kasih Bunda."
Hayyah terus mengikuti langkah mertuanya yang baru keluar dari toko baju. Hatinya terasa senang mendapatkan perlakuan seperti ini. Mertua yang di idam-idamkan semua perempuan telah ia dapatkan lalu hal apalagi yang harus ia sesali nantinya?
Bahkan jika ingin memilih, Hayyah tidak mau mengingat semuanya. Ia ingin hidup tanpa ingatan masa lalu dan bahagia bersama keluar barunya.
"Sebelum pulang kita makan dulu Ya. Bunda akan mengajakmu ke rumah makan tempat kesukaan Azzam."
"Iya Bunda." Hayyah mengangguk antusias.
"Beruntungnya aku bertemu orang-orang baik di saat tak mengenali semua orang. Aku bagaikan langit malam yang di dampingi ribuan bintang," batin Hayyah.
....
Jam makan siang hampir tiba tetapi Azzam masih sibuk berkutat dengan berkas-berkas penting di hadapannya. Sesekali pria itu melirik perbandingan antara laporan keuangan bersama pengeluaran-pengeluaran lainnya yang lagi-lagi mengalami selisih lumayan besar.
"Bahkan dihitung berulang kali hasilnya tetap beda," lirih Azzam menghentikan semua kegiatannya. Kepalanya mulai sakit memikirkan pekerjaan yang terus saja berdatangan.
Azzam menyandarkan punggungnya pada kursi dan mengambil napas dalam-dalam. Tangan yang tak sengaja menyentuh layar ponsel membuat benda pipih itu menyala dan menampilkan foto pernikahannya bersama Hayyah. Sederhana tetapi akan berkesan seumur hidupnya. Background tersebut di ganti oleh Hayyah sendiri saat meminjam ponselnya semalam dan Azzam pun tidak mempermasalahkannya.
"Apa yang sedang dia lakukan sekarang?" gumam Azzam mulai penasaran kegiatan Hayyah saat tidak bersamanya.
"Pak Azzam, semuanya sudah siap," ujar Hasan yang baru saja masuk ke ruangan bosnya.
"Suruh mereka istirahat dulu sampai shalat zuhur tiba."
"Baik Pak." Pandangan Hasan tertuju pada layar ponsel Azzam berikutnya. Ia yang tak pernah melihat atasannya menyimpan foto seorang perempuan pun memberanikan bertanya, terlebih ia mengenal perempuan tersebut.
"Aku baru tahu bahwa selera pak Azzam seperti bu Hayyah."
Tentu ucapan itu membuat Azzam terkejut. "Kamu mengenalnya?" Rasa lelahnya seakan hilang mengetahui ada yang mengenal istrinya. "Duduk dulu aku ingin bicara!"
Azzam pun beralih duduk di sofa berhadapan dengan Hasan. Menunggu penjelasan dari mulut asisten yang telah lama bekerja dengannya.
"Aku mengenal bu Hayyah sejak satu tahun yang lalu tetapi kita tidak dekat Pak. Bu Hayyah adalah guru keponakan aku"
"Seorang guru?"
"Ya, tapi kakak aku mengatakan bahwa bu Hayyah tidak lagi datang ke sekolah setelah hari pernikahannya di tentukan. Hal itu membuat keponakan aku bersedih lantaran sangat dekat dengan bu Hayyah."
"Akhirnya aku menemukan sepenggal kisah tentang istriku," batin Azzam tersenyum tipis.
"Hasan, tolong cari tahu lebih lanjut tentang bu Hayyah. Tentang kenapa dia berhenti mengajar setelah rencana pernikahannya."
"Bapak benar-benar mencintainya?"
"Tidak, tapi dia akan menjadi sekolah dasar untuk anak-anakku nanti."
"Pak Azzam bisa saja, tapi aku akan mencari tentang bu Hayyah secepatnya."
"Terima kasih Hasan."
"Sama-sama Pak."
Hasan pun meninggalkan ruangan atasannya. Pria itu tersenyum lebar tahu bos yang selama ini jauh dari perempuan mulai terang-terangan menyelidiki seseorang. "Sepertinya pak Ustaz CEO mulai jatuh cinta," gumamnya.
....
Hayyah, gadis itu menyandarkan kepalanya pada jendela mobil. Matanya seolah dipaksa tertutup selama perjalanan, mungkin karena tidak terbiasa bangun terlalu dini seperti yang ia lakukan bersama Azzam tadi.
Namun, tatapan sayu yang hampir terpejam itu membola lalu menyepit di menit yang sama kala melewati bangunan di pinggir jalan.
"Aku seperti mengenal tempat itu!" ucapnya dengan suara lumayan tinggi.
"Apa yang kamu katakan Nak?" tanya Haura yang sejak tadi fokus menyetir.
"Sekolah tadi, aku seperti mengenalnya Bunda."
"Benarkah?"
Haura perlahan menepikan mobilnya, kemudian putar balik untuk mengunjungi sekolah TK cukup berkelas. Bahkan Azzam dan Aira-putrinya pernah sekolah di sana saat berusia 4 tahun hingga 6 tahun. Dengan artian lain masuk TK A dan TK B.
Sesampainya di depan bangunan yang tampak sepi, Haura dan Hayyah menatap dengan pikiran yang berbeda. Hayyah berusaha mengingat sementara Haura mengenang masa-masa kecil anak-anaknya yang telah dewasa.
"Aku merasa pernah mengunjungi tempat ini Bunda, tapi aku tidak ingat kapan dan mengapa aku ke sini."
"Kamu memiliki anak atau keponakan yang sekolah di sini?"
"Anak?" lidah Hayyah terasa keluh, bagaimana jika benar itu terjadi? Lalu bagaimana dengan rumah tangganya dengan Azzam.
"Bunda hanya bertanya, belum tentu semuanya benar." Haura menggenggam tangan menantunya dan mengajak ke dalam bangunan yang kebetulan pagarnya terbuka.
Jalan-jalan sebentar memperhatikan sekitar. Namun, hanya bertahan beberapa menit lantaran keringat dingin mulai menguasai tubuh Hayyah.
"Nak?"
"Kepala ku sakit." Hayyah memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Bayang-bayang hitam bermuncul sesat sebelum akhirnya terjatuh pada paving di mana dedaunan berjatuhan satu persatu.
"Hayyah!" Haura terkejut, ia berlutut dan menopang tubuh menantunya. Segera menghubungi Azzam lantaran tak menemukan seseorang yang bisa ia mintai tolong di sekitar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
Hafifah Hafifah
si hayyah udah mulai inget masa lalunya
2024-04-17
3
Teh Yen
hayyah mulai mengingat sesuatu yah tp masih smaar
2024-04-03
1
Hasbi Kc
tenang hayya mertuamu itu orangnya sangat baik,karena dulunya juga punya kisah yg sangat sedih dengan perlakuan mertua tirinya
2024-03-30
1