BAB 15.

"Bi minuman untuk siapa ? " tanya Kayra melihat bi Ima sibuk berkutik di dapur.

Bi Ima menatap Kayra, ada hal yang ingin ia sampaikan namun ia tak sampai hati mengatakannya.

"Buat tamu bu Helma Neng. " jawab bi Ima memalingkan wajahnya.

"Biar saya saja bi, " ujar Kayra.

Bi Ima menarik nampan itu, " Tidak usah. Biar bibi saja, kamu istirahat saja. "

"Tidak apa-apa bi, lagian bibi lagi siapkan makanan kan. Biar saya saja bi. " Kayra dengan lembut merebut nampan itu.

Sebuah nampan berisikan empat gelas teh hangat pun sudah ada di tangan Kayra. Bu Helma menyunggingkan senyuman liciknya kala tahu yang mengantar minuman itu Kayra bukan bi Ima.

Raka menatap Kayra yang sedang bersimpuh di bawah meja, menata gelas yang berisikan teh itu.

"Bagaimana Dew ... Raka dan Rere Mau lamaran dulu atau langsung menikah. " ucap itu keluar dari mulut Bu Helma.

Bak di Sambar petir di siang hari, ucapan itu menyambar diri Kayra yang langsung lemas dan bergetar.

"Bu ... Apa yang ibu katakan ? " bentak kecil Raka.

"Lah memang kedatangan Tante Dewi sama Rere kesini untuk apa ? kalau bukan untuk membicarakan pernikahan kalian. " jelas bu Helma sangat terdengar nyaring sehingga mampu menyayat hati Kayra yang masih duduk bersimpuh di antara bu Helma dan juga bu Dewi.

Raka menatap wajah Kayra dengan penuh perasaan. Kayra memutuskan untuk kembali ke dalam dapur membawa hatinya yang hancur.

Bu Dewi yang sangat tergoda dengan kepulan asap teh itu, membuatnya langsung ingin mencicipinya.

Namun seketika bu Dewi memuntahkan air teh itu. Langkah Kayra seketika terhenti.

"Teh apa ini ? Kok wanginya kaya sabun pencuci piring sih. " jelas Dewi merasa mual.

Bu Helma seketika merasa murka dan kesal pada Kayra.

Teriakan di iringi nada membentak terdengar di ruangan itu.

"Bu ... " bentak Raka.

Bu Helma berdiri dan berjalan ke arah Kayra. " Kamu itu kalau kerja yang benar. " bentak keras bu Helma sembari menunjuk lengan bagian atas Kayra.

Raka seketika berdiri dan menarik tangan ibunya. " Apa yang ibu lakukan. "

Bu Helma tidak melanjutkan amarahnya, terlebih saat dia sadar ada Rere dan juga Ibunya di sana. Padahal amarahnya semakin bertambah kala Raka membela Kayra.

Kayra melanjutkan langkahnya menuju dapur, suara samar Raka memanggil namanya sempat terdengar namun Kayra tidak menggubrisnya.

Kayra berdiri di samping bi Ima, bi Ima tidak tahu jika dia berbuat kesalahan. Dan akibat kesalahannya itu Kayra yang menjadi sasarannya, tapi bukan itu yang membuat Kayra sakit melainkan sosok wanita yang baru saja ia lihat.

"Neng, ini alasannya kenapa bibi melarang neng Kayra mengantarkan minuman ini. " ucap lembut bi Ima mengelus punggung Kayra.

Tiba-tiba Kayra merasa mua dan ingin muntah, Kayra lari kebelakang halaman rumah itu. Dan Raka melihatnya.

"Bi kenapa Kayra ? " Tanya Raka menaruh beberapa gelas air teh yang harus di ganti.

Bi Ima menggelengkan kepalanya. Raka seketika berlari melihat Kayra, disana Kayra sedang mencoba mengeluarkan rasa mual yang sedang ia rasakan.

Raka memijat pundak Kayra, Kayra merasa lemas karna terus mual lalu muntah seperti itu.

Kayra bangun dari posisi jongkok nya, ia menyeka air mata di wajahnya.

"Sudah, aku tidak apa-apa. " ujar Kayra hendak pergi untuk masuk ke dalam kamarnya.

"Kay ... " ucap Raka sambil meraih tangan Kayra.

"Ini bukan kemauan Mas, " ujar Raka.

"Aku tahu, ini kemauan Bu Helma yang tidak akan bisa Mas tolak. " jawab Kayra melepaskan paksa tangannya dari genggaman Raka.

"Kay ... " panggil Raka yang melihat Kayra masuk tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya.

Kayra masuk ke dalam kamarnya, ia mengunci pintu kamar itu. Sebuah test kehamilan ia ambil dari dalam tas kerjanya.

"Semoga dugaan Dokter itu salah. " gumam kecil Kayra.

Kayra masuk ke dalam kamar mandi yang berada tidak jauh dari kamarnya.

Dengan cemas dia menunggu hasil test kehamilan itu. Mata Kayra membuat sempurna air matanya bercumbu seketika dan tubuhnya merasa lemas.

"Garis dua. " ucap Kayra membungkam mulutnya.

Bi Ima yang mengetahui Kayra masuk ke dalam mandi merasa cemas, karna Kayra tak kunjung keluar dari kamar mandi itu. Bi Ima mengetuk pintu kamar mandi itu. Tak selang lama Kayra keluar nampak wajah memerah dan sembab terlihat saat itu.

"Neng .... " ucap khawatir bi Ima pada Kayra.

Kayra tersenyum, " Tidak apa-apa bi. "

Bi Ima melihat Kayra masuk ke dalam kamarnya, tatapan Kayra terlihat kosong. Meskipun bibirnya berkata bahwa di tidak apa-apa namun matanya terus mengeluarkan deraian air mata.

Malam itu Kayra tidak datang ke kamar Raka, Raka yang dari tadi menunggu kedatangan Kayra merasa khawatir sehingga ia memutuskan untuk melihat Kayra di kamarnya.

Raka membuka pintu kamar itu, rupanya Kayra lupa mengunci pintu kamarnya. Raka melihat Kayra sudah terlelap tidur dengan tangan masih menggenggam obat berwarna kuning yang mungkin belum sempat dia minum pikir Raka.

Raka mengambil obat itu, lalu ia masuk ke dalam selimut yang di kenakan oleh istrinya itu. Raka menatap wajah Kayra di sana terlihat sisa sisa air mata.

Raka memeluk tubuh Kayra dalam, Kayra merasa bahwa ada sesuatu yang berat berada di perutnya. Kayra bangun dan kaget kala melihat suaminya berada di dekatnya.

"Obat ... " ucap Kayra.

"ini ? " tanya Raka.

Kayra merasa lega karna obat itu belum sempat ia minum, Kayra mengambil obat itu lalu ia membuangnya.

"Loh kenapa di buang. " Tanya Raka.

Kayra menggelengkan kepalanya lalu berbaring kembali.

"Mas akan berusaha menolak perjodohan ini, " ucapan itu terdengar dari bibir Raka.

"Ya ... Terserah mas saja. " Jawab malas Kayra, ia merasa pusing saat itu.

Kayra enggan mengatakan tentang kehamilannya saat itu, karna ia pun masih belum percaya.

Raka tidak ingin membahas masalah Rere saat itu, yang dia tahu saat ini dia ingin merasakan kehangatan tubuh Kayra di setiap malam nya.

Di ke esokan harinya Kayra selalu saja di antar pulang oleh mobil yang sama, padahal yang mengendarai mobil itu bukan Geri saja. Kadang staf yang lain selalu di suruh Geri untuk mengantar Kayra saat pulang karna memang kondisinya belum fit.

"Mas sering melihat kamu di antar pake mobil hitam itu, siapa ? " Tanya Raka.

Saat itu Ibu Helma tidak berada di rumah, karna sedang pergi bersama Ibu Dewi ibu dari Rere.

"Cuma rekan kerja Mas. " Jawab lemas Kayra sambil menatap piring dan gelas yang sudah bersih dan kering.

Raka mengintrogasi Kayra sambil melipat kedua tangganya.

"Laki-laki ? " Tanya Raka curiga.

Kayra menoleh Raka dengan tatapan sendu.

"Kenapa Mas bertanya seperti itu ? curiga ? " Tanya balik Kayra.

"Ya ... Sudah pasti Mas curiga, kamu istri Mas. " jawab Raka yakin.

"Ya ... Dia laki-laki. " jawab Kayra apa adanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!