"Terima kasih Mas. " jawab Kayra masih menatap Raka dengan tatapan embun.
Raka hanya tersenyum tipis di iringi anggukan kepalanya.
Raka membalikan badannya, dan keluar dari rumah Kakek Ruslan. Sementara Kayra masih menatap punggung lebar Raka, saat itupun Kayra menitikkan air matanya.
Raka melajukan kendaraannya kembali, tanpa mau masuk ke dalam bengkelnya terlebih dahulu. Raka melajukan kendaraannya ke arah tempat tinggal Kakaknya.
Sesampainya Raka di rumah kakak nya itu, Raka mendapatkan satu buah tamparan keras dari Sang Kaka, tamparan keras itu tidak berupa kontak fisik melainkan teguran yang teramat memukul hati Raka.
"Gila kamu Dek, bagaimana jika Ibu tahu semua ini ? Kamu mau bunuh Ibu , Hah ? " teriak penuh emosi terlontar dari mulut Kak Lia Ibu dari Rian.
Raka duduk di sofa tamu rumah Kak Lia.
"Itu lah yang Raka sedang pikirkan Kak, tapi semua ini sudah terjadi. Raka harus bertanggungjawab. " jawab Raka tegas.
"Percuma saja ketegasan mu itu tidak akan berlaku di hadapan Ibu. " Umpat Kak Lia.
Peraduan selisih pun terdengar di ruangan itu, sampai Rian keluar dan melerai percekcokan antara Ibu dan Abangnya itu.
Raka memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Rian untuk mengganti pakaiannya, semangat Kak Lia masih emosi dengan sikap teledor adiknya itu.
Raka merenungi diri di dalam kamar Rian. Sampai Rian pun datang membuyarkan lamunan Raka.
"Bang saran Raka pertahankan Kayra, Abang lebih berhak atas diri Kayra sekarang. " Ucap dewasa Rian mampu masuk ke dalam pikiran Raka.
"Yang sekarang sedang Abang pikirkan itu Ibu Yan, nenek kamu. " jawab Raka.
Rian menyunggingkan senyuman tak percayanya. " Mana Bang Raka yang Rian kenal ? Abang itu abdi negara, tidak sepantasnya lembek seperti ini. "
Kata-kata lembek mampu membangunkan jiwa Raka.
"Nah gitu dong. tegak, kuat. " Goda Rian membuat Raka menggelengkan kepalanya.
"Tapi Bang, Rian bangga loh sama Abang. Malam itu Rian melihat jiwa kesatria Abang benar-benar menyala. Huhh ... Syukurlah status perjaka lapuk kini tidak lagi Abang dapatkan. "
Raka pun tersenyum kala mendengar celotehan Rian saat itu.
"Kemana Bang ? " Tanya Rian saat melihat Raka berdiri dan hendak pergi.
Raka hanya tersenyum dan menggerakkan kedua alisnya.
Rian tertawa mengejek Raka, saat tahu dari maksud senyuman dan mimik muka Abang nya itu.
Raka melajukan kendaraannya kembali tanpa mau berpamitan pada Kak Lia, karna Raka tahu Kakaknya itu masih di selimuti amarah dan kecewa.
Raka datang di waktu yang sangat tepat, karena Saat itu Kayra baru saja mau pergi ke kampusnya.
"Ayo masuk ! " ucap Raka di dalam mobilnya.
Kayra menatap tak percaya saat kaca spion mobil itu terbuka dan ada sosok Raka di dalamnya.
Kesedihan nampak masih terlihat di wajah Kayra.
"Mau kemana ? " tanya Raka.
"Kampus. " jawab kecil Kayra.
"Baik lah, " jawab Raka.
Kayra menoleh ke arah Raka, wajah Raka terlihat lebih tenang beda saat sebelum Raka meninggal Kayra di rumah Kakek Ruslan.
Setibanya di halaman kampus Kayra melirik ke arah Raka, Raka pun kini melirik ke arah Kayra.
Senyuman tipis tercurah dari bibir Raka, Kayra pun menyambut senyuman tipis itu tapi Kayra langsung menundukkan kepalanya.
"Turun lah, Mas akan menunggu kamu di sini. " jelas Raka.
Kayra seketika menatap Raka, ada perasaan tak percaya di dalam hati Kayra.
"Setelah selesai cepat lah kembali, ada hal yang harus kita bicarakan. " ucap Raka serius.
"Apa itu sebuah perpisahan? " Batin Kayra.
Kayra mengagungkan kepalanya paham. entah kenapa Kayra tidak bisa membuka pintu mobil itu padahal tombol untuk membuka kunci itu sudah di tekan oleh Raka.
Raka yang melihat Kayra sedang kesusahan ia langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Kayra, sehingga mereka sangat begitu dekat.
Deru nafas keduanya begitu terasa, sehingga tatapan mereka saling berpaut. Satu sama lain.
"Dia istri ku. " Batin Raka.
"Dia suami ku. " Batin Kayra.
Raka perlahan mendekatkan wajahnya, Kayra merasa takut akan hal itu karna sungguh ia tidak pernah di perlakukan seperti itu sebelumnya.
Aliran hangat mereka rasakan di dalam tubuh mereka masing-masing, deru nafas mereka seakan menuntut satu sama lain.
Raka semakin melancarkan niatnya untuk mencium bibir mungil istrinya itu saat melihat Kayra memejamkan matanya.
Kayra menarik nafasnya kecil saat bibir Raka sudah mulai menyentuh bibirnya itu. Dengan lihai Raka melakukan penyatuan kecupan bibir itu.
Setelah beberapa detik Raka melepaskan pangutannya, Karna ia tidak mau istri kecilnya itu kehabisan oksigen.
"Pergilah, cepat kembali " bisik Raka membuat Kayra tersipu malu.
Kayra tersenyum, seketika ia sudah lupa akan kesedihannya.
Tanpa ucapan salam Kayra keluar dari dalam mobil Raka, karna sungguh ia merasa gugup dan bergetar.
"Baru kali ini aku merasa malas masuk ke dalam kampus. " gumam kecil Kayra yang hanya bisa di dengar olehnya.
Raka menyenderkan tubuhnya di senderan kursi kemudinya. Sesekali ia tersenyum dan tertawa seperti orang gila.
Mata pelajaran di dapatkan oleh Kayra, ia merasa tidak enak karna harus membuat Raka menunggunya terlalu lama.
Selama 4 jam Kayra berada di dalam kelas, sungguh baru kali ini ia merasakan tidak fokus saat mendengarkan dosennya berbicara panjang lebar di depan kelas.
"Akhirnya. * gumam kecil Kayra.
"Kantin yu Kay ? " Ajak Hera teman Kayra yang biasa menemaninya makan di kantin saat mata kuliah selesai.
Kayra terdiam,
"Ayo .... ! " Ajak Hera kembali.
Kayra menggelengkan kepalanya, " Tidak dulu ya Her, aku buru-buru soalnya. "
"Tumben ... " umpat Hera.
"Gue duluan ya Her. " ucap Kayra terburu-buru meninggalkan Hera dengan sejuta pertanyaan nya.
Kayra berjalan sangat cepat, saat ia sudah keluar dari kampus. Kayra di hadang oleh dua orang laki-laki yang merupakan teman satu kampusnya.
Kayra sedikit berbincang, mereka membicarakan tugas yang akan di serahkan pada dosen.
Kayra melirik ke sebuah mobil putih yang masih terparkir di tempat itu, Raka menegakkan tubuhnya ia menatap lekat ke arah Kayra yang di halangi oleh dua orang laki-laki itu.
Tanpa pikir panjang, Raka menekan tombol klakson mobilnya sebanyak dua kali. Membuat Kayra segera berjalan meninggalkan dua orang teman laki-laki nya.
Kayra masuk ke dalam mobil dengan nafas sedikit tersengal. Kayra mendapatkan wajah kesal dari Raka.
Pikir Kayra mungkin Raka kesal karna sudah menunggunya lama.
"Maaf Mas, menunggu lama ya ? " tanya Kayra.
"Emm ... * jawab Raka.
"Benar saja dia marah. " gumam Kayra dalam hatinya sambil menyentuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Kayra menekan kedua telapak tangannya pada wajahnya itu, Kayra merasa sedikit pusing penglihatannya sedikit berkunang-kunang saat itu.
Raka memperhatikan Kayra.
"Nangis ? " ucap Raka.
Kayra menjatuhkan tangannya dari wajahnya itu. " Tidak. "
"Lalu, kenapa kamu seperti itu ? " tanya datar Raka menginjak pedal Gas kendaraannya untuk mulai melajukan mobilnya itu.
"Hanya sedikit pusing saja, mungkin karna semalam .... "
"tidak tidur ? " sambung Raka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
🌈Pelangi
kok mirip ama yg satunya ya kak
2024-04-06
1