"Ya sudah Bu baiklah, saya akan tetap bekerja di sini. " lerai Kayra pada Ibu Helma, Raka melihat Kayra mempunyai rasa hormat pada Ibunya itu.
Kayra memberikan isyarat untuk menyudahi pertengkaran itu.
Hari itu hari pertama Kayra bekerja di kantor hukum. Di mana Kayra nantinya akan mendampingi seorang pengacara yang akan mengurus sebuah keadilan.
"Kayra Putri ... " Nama yang bagus ucap Geri.
Kayra hanya terdiam saat semua berkas tentangnya sedang di pelajari oleh salah satu pengacara handal di Ibu kota.
Geri adalah satu pengacara muda dan juga handal, jam terbang nya pun sudah banyak. Geri selalu membantu kalangan masyarakat bawah, ataupun masyarakat menengah atas.
Singkat cerita Kayra pun bisa menjalin kerja sama yang baik dengan Geri. Walaupun begitu Kayra tetap mengunci hatinya untuk sang suami.
Seperti biasa Kayra selalu pulang saat sore menjelang malam. Tak jarang dia serasa di kejar waktu karna pekerjaan di rumah Bu Helma pasti sudah menunggu.
"Kamu mau saya antar Kay ? " tanya Pak Geri.
Kayra menoleh pada atasannya.
"Tidak usah Pak, saya bisa Pulang sendiri. " jawab Geri.
"Di luar hujan loh Kay, ojeg atau kendaraan umum lainnya pasti akan jarang. " sambung Geri.
Kayra mencoba menghubungi Raka. Namun sambungan telepon itu tidak berhasil tersambung.
"Tidak apa-apa Pak, semoga ada angkutan umum. " ujar Kayra berpamitan pada atasannya.
Geri membiarkan Kayra pulang, walaupun dalam hatinya ada sedikit perasaan khawatir.
Karna hujan Kayra basah kuyup saat tiba di rumah Ibu Helma. Kayra masuk lewat pintu belakang. Karna di jam itu Kayra yakin anggota keluarga di rumah itu sedang melakukan makan malam.
Raka yang bisa melihat kedatangan Kayra lewat jendela rumahnya, langsung berdiri dan berjalan ke arah dapur dengan alasan ingin membuat kopi.
Saat Kayra masuk, Kayra melihat sosok Raka menyambutnya. Di mata Raka Kayra selalu terlihat menggoda terlebih saat rambut Kayra terlihat basah dan wajahnya nya pun Basar terkena air hujan.
"Mas ... Lepas, aku basah. Nanti ada yang lihat. " Ucap kecil Kayra yang langsung di peluk oleh suaminya.
"Tidak perduli kamu basah seperti apa, yang jelas Mas sangat rindu. siapa yang mau masuk ke dalam dapur Sayang. Tidak akan ada yang melihat kok. " jawab Raka.
"Nanti malam tidur di kamar Mas ya, Mas tunggu. Ada hal yang ingin mas bicarakan. " bisik mesra Raka.
Kayra mengagungkan kepalanya.
"Kamu itu selalu terlihat cantik. " puji Raka.
Kayra mencubit lembut pinggang keras Raka. " Sudah ... Sudah, kita lanjutkan nanti. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. "
Raka seketika merasa tidak tega.
"Tidak apa-apa, lagian hanya merapihkan pakaian dan cuci piring kan. " ujar Kayra paham dengan tatapan Raka.
"Seharusnya kamu mau Mas ajak keluar dari sini Kay. "
"Bukan tidak mau Mas, tapi Ibu bagaimana ? "
"Kamu masih memikirkan Ibu ? Setelah apa yang Ibu lakukan pada mu ? "
"Tidak, aku tidak memikirkan Ibu. Yang aku pikirkan kamu, aku tidak mau Mas durhaka gara-gara aku. "
"Tapi suatu saat kamu harus mau aku ajak keluar. "
"Asal tidak bertengkar aku mau kok Mas ... "
Raka pun tersenyum dan mencubit hidung Kayra.
Malam itu seperti biasa, Kayra harus mengendap seperti maling saat memasuki kamar suaminya sendiri.
Kayra masuk membawa seragam lengkap yang sudah ia rapihkan untuk di kenakan oleh suaminya besok pagi.
"Ibu Persit yang baik. " Puji Raka.
"Aku sampai sekarang masih berasa mimpi loh, ternyata suami ku itu seorang abdi negara. " ucap Kayra.
"Semua mimpi akan menjadi kenyataan Sayang, setelah kita keluar dari rumah ini. " Jawab Raka.
Tubuh Kayra langsung di angkat oleh Raka, mereka bercanda sampai mereka tidak sadar bahwa ada seseorang yang mendengar candaan mereka di balik pintu kamar Raka.
Seperti biasa tubuh Kayra sudah menjadi candu bagi Raka, setiap mereka bersama mereka selalu melakukan aktivitas panas layaknya Suami dan Istri.
Sebelum pagi menjelang seperti biasa Kayra harus cepat keluar dari kamar Raka. Tanpa Kayra duga, bi Ima sudah berada di dalam kamar Kayra.
"BI ... " ucap Kayra seketika gugup.
BI Ima sudah menganggap Kayra sebagai anaknya begitupun dengan Kayra, sudah merasa tidak canggung lagi pada bi Ima.
"Neng ... Apa yang kamu lakukan di kamar Den Raka ? " pertanyaan mulai memberondong Kayra.
Tersirat sebuah ke khawatiran di raut wajah bi Ima.
"BI .... Bibi tenang ya ? Jangan berpikiran macam-macam dulu. " jawab Kayra mengunci pintu kamarnya dengan rapat. Lalu menarik lembut tangan BI Ima agar duduk di sampingnya.
"Neng ... Bibi takut Ibu Helma tau, itu bisa panjang urusannya neng. " ucap bi Ima mengelus lengan Kayra.
Kayra tersenyum haru melihat wajah bi Ima yang benar-benar mengkhawatirkannya.
"Bi ... Mungkin ini saatnya Bibi tahu tentang kebenarannya. " ucap Kayra.
*Apa ? " tanya bi Ima.
"Saya tahu bibi orang baik, saya tahu bibi sangat sayang pada saya. Bi.... Sebenarnya Raka itu suami saya .... " jelas Kayra langsung terpotong dengan suara tak percaya bi Ima.
"Apa ... ? " ucap syok bi Ima.
"Sttttt ... Jangan keras-keras bi. "
"Neng bibi benar-benar tidak paham. "
"Awalnya Mas Raka membawa ku kesini bukan untuk mengenalkan ku sebagai pekerja, tapi sebagai istrinya. Kami sudah menikah di bandung dan saksinya ada kok bi, saksinya juga bukan orang lain melainkan saudara dekat Mas Raka. Tapi saat kami tiba di rumah ini ... ibu Helma sudah lebih dulu menyambut ku sebagai pembantu baru di rumah ini, awalnya aku sangat marah dan kecewa pada Mas Raka. Ternyata ini perbuatan Kak Lia dia tidak mau pernikahan antara Aku dan Mas Raka ada, hanya karna aku anak seorang petani. Mas Raka mencoba menjelaskan kebenarannya namun Ibu Helma selalu saja mengeluh tentang rasa sakitnya. Al hasil kami selalu seperti ini, selalu diam-diam saat ingin bersama. " tutur Kayra dengan tetesan air mata di sudut matanya.
"Ya Alloh Gusti Neng. " ucap bi Ima langsung memeluk tubuh Kayra.
"Maafkan bibi selalu keras dan memberi peringatan untuk menjauhi Den Raka. " ucap bi Ima merasa bersalah.
Kayra membalas pelukan tubuh wanita paruh baya itu, pelukan itu mengingatkan akan pelukan mendiang ibu Kayra yang sudah meninggal 6 tahun silam.
Bi Ima kini sudah mengetahui semuanya, kini Kayra mempunyai dukungan besar dari bi Ima.
Hari itu pun Kayra beraktivitas seperti biasa, entah kenapa dia merasa tidak enak badan. Tapi Kayra memaksa kan diri untuk tetap beraktivitas.
"Kalau sakit jangan memaksa kan diri Neng, " ucap lembut BI Ima pada Kayra yang terlihat pucat.
"Tidak apa-apa bi, mungkin cuma masuk angin. " jawab Kayra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments