BAB 11.

Sebuah kamar berukuran kecil ada di depan mata Kayra, di dalam kamar itu hanya terdapat satu buah tempat tidur berukuran kecil dan lemari baju yang kayunya sudah mulai usang termakan waktu.

"Ini kamar kamu Neng, kamu istirahat saja besok kamu sudah bisa bekerja. " Tutur bi Ima mempersilahkan Kayra untuk beristirahat.

Kayra menatap sedih pada bi Ima. " Terimakasih Bi. "

BI Ima merasa kasihan pada Kayra, namun bi Imah berpikir itu hal biasa saat pertama kerja merantau.

Raka tidak bisa menemui Kayra malam itu, Ibu Helma tidak mau di tinggalkan oleh Raka. Raka harus terus berada di sisinya.

Raka coba menghubungi Kayra namun ponsel Kayra tidak bisa di hubungi.

"Aaaarrgghhhh ... Kenapa seperti ini, Sayang sedang apa kamu sekarang. " Teriak kesal Raka dalam hatinya.

Raka mengirim pesan singkat pada Kak Lia. Raka menduga itu perbuatan Kakaknya. Raka pun mendapatkan pesan balasan dari Kak Lia. Raka membaca balasan singkat dari Kakaknya, Raka membulatkan tangannya sempurna.

"Lebih baik kehilangan wanita itu, atau kehilangan Ibu ? " pesan singkat balasan dari Kak Lia.

"Benar saja ini perbuatan Kak Lia. " dengus kesal Raka.

Sementara Kayra tidak bisa tidur malam itu, Kayra menunggu kedatangan Raka. Sampai akhirnya ia menyerah dan duduk bersimpuh dengan tangisan tanpa suara di kamar itu.

Di pagi hari, Raka sudah bersiap dengan mengenakan seragam lengkapnya.

"BI ... Kayra kemana ? " Tanya Raka.

"Dia sama Pak Tejo di suruh ke pasar sama Ibu. " Jawab bi Ima.

Raka membulatkan matanya. " Pasar Bi ? " tanya Raka memastikan jawaban BI Ima.

"Iya Den, pasar. " jawab bi Ima.

Raka tak habis pikir pada Ibunya itu, itu adalah satu hal yang membuat Raka malas pulang ke rumah.

"Seharusnya aku tidak membawa istriku ke rumah ini. " Raka membodohi dirinya sendiri.

Raka tidak bisa menemui Kayra pagi itu, Raka harus segera pergi untuk tugasnya.

Di tempat lain, Ibu Helma tersenyum licik penuh kemenangan.

Keringat bercucuran di pelipis Kayra. Sesampainya di rumah itu Kayra di hadapkan oleh tugas membereskan gudang yang penuh dengan debu.

"BI Ima, apa Mas Raka sudah pergi bertugas ? " tanya Kayra yang langsung di tarik oleh bi Ima.

"Neng dengar bibi, kalau panggil Den Raka jangan Mas nanti Ibu marah, panggil dia Den Raka. " saran bi Imah membuat Kayra terdiam.

Kayra tak menjawab saran bi Imah.

"Den Raka pagi sekali sudah berangkat untuk bertugas. " ujar bi Imah

"Dia tidak menitipkan pesan apapun Bi ? " tanya Kayra.

BI Imah menggelengkan kepalanya.

"Neng bibi saranin, kamu jangan menaruh harapan ataupun suka sama Den Raka. Dia sudah ada calonnya, sekarang calon Den Raka masih kuliah kedokteran di luar negri. Setelah pulang mereka akan bertunangan atau bahkan langsung menikah. " jelas bi Imah.

Kayra syok sebuah kemoceng lepas begitu saja dari tangan Kayra. Rasa sesak tiba-tiba mendera tubuhnya. Saat bi Imah menjelaskan itu Kayra mencoba untuk tidak percaya. Namun tetap saja rasa sesak dan perih di dadanya terasa nyata.

Raka memang selalu di jodohkan oleh Ibunya, tapi Raka tidak pernah mau di jodohkan dengan siapapun. Itu hal kedua yang membuat Raka enggan pulang ke rumah itu.

Beberapa waktu Kayra terdiam, ia merasa kecewa dengan apa yang di jelaskan bi Ima.

Saat bertugas Raka tidak tenang, namun ia dituntut harus tetap fokus pada sebuah keamanan yang di embankan kepadanya.

Raka segera pulang setelah tugasnya selesai, namun seperti sudah ada perhitungannya Raka tidak bisa menemui Kayra. Karna kini Kayra sedang di suruh mengirimkan parcel buah pada salah satu teman Bu Helma yang sedang sakit di rumah sakit.

"Bu jangan seenaknya seperti itu dong nyuruh-nyuruh Kayra. Ibu tidak berhak atas itu. Dia itu is ........ " Perkataan emosi Raka terhenti kala Ibunya menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa sambil memegang dadanya.

"Ya ampun Bu ... BI, tolong ambilkan obat ibu di kamar. " Teriak Raka pada bi Imah.

Raka pun gagal memberitahukan siapa Kayra sebenarnya pada Ibu Helma.

Sampai beberapa hari bahkan hampir sepekan Raka tidak bisa menemui Kayra. Kayra merasa tidak ada usaha sama sekali dari Raka walaupun sekedar untuk menemuinya.

Kayra semakin yakin dengan apa yang di ucapkan oleh Ibu Helma saat pertama kali Kayra datang ke rumah itu.

Hingga pada satu kesempatan Raka berhasil menarik tubuh Kayra ke sebuah ruangan yang ada di dalam rumah itu.

Raka memeluk dan mencium wajah Kayra, Raka memeluk Kayra dalam. Namun Raka sadar bahwa pelukannya itu tidak di balas oleh Kayra. Raka perlahan melepaskan dekapannya. Raka menatap wajah Kayra yang hanya diam.

Setelah Raka melepaskan tubuh Kayra, Kayra membalikkan badan untuk pergi dari hadapan Raka. Raka menarik tangan Kayra agar mau mendengar penjelasannya.

"Kay ... Ini suami mu. " ucap kecil Raka.

Kayra menoleh ke arah Raka, dan tersenyum. " Jika anda ingin menyelesaikannya selesaikan secepatnya. Saya ingin kembali ke kehidupan nyata saya. Jangan tahan saya di sini " jawab Kayra berhasil memukul relung hati Raka.

"Apa yang kamu katakan ? Mas janji akan mengatakannya sekarang. Mas akan membicarakan ini pada Ibu. " bujuk Raka pada Kayra sambil menyentuh wajah Kayra yang sangat ia rindukan.

Kayra menjauhkan tangan Raka dari wajahnya, " Tidak usah. Mungkin untuk sekarang aku lebih nyaman menjadi seorang PEMBANTU di bandingkan menjadi seorang MENANTU. "

Kayra melepaskan paksa genggaman tangan Raka dari lengannya.

Raka sangat terpukul kala melihat mata Kayra yang menyimpan begitu banyak kesedihan. Kayra berlari ke arah kamarnya dan mengunci rapat pintu itu.

Sebelumnya Kayra sudah mendapatkan sebuah cacian dari kakak Raka melalui sambungan telpon, Kayra mendapatkan ancaman dari Kak Lia. Dan Kak Lia mengingatkan kesehatan Ibu Helma.

"Kay ... Kenapa jadi seperti ini ? Ini aku suami mu. " Batin Raka.

"Kakak dalang dari semua ini Kak, * batin Raka sangat menaruh emosi yang teramat dalam pada Kak Lia.

Setegas apapun Raka dalam kesatuannya bisa iya tunjukan, pendiriannya yang kuat sangat terlihat dari dalam jiwa ke Militernya. Namun semua itu tidak bisa Raka tunjukan pada Ibu kandungnya, Saat ini Raka masih terus mengkhawatirkan kesehatan Ibunya.

Apapun yang terjadi, Kayra tetap memikirkan pendidikannya.

Kayra kini sedang menjalani tugas internship (magang ) dari kampusnya, ia di tugaskan magang dengan jarak waktu yang di tentukan oleh Kantor tempat Kayra magang nantinya.

Setalah beberapa pekan Kayra berkerja di rumah Raka, akhirnya Kayra mendapatkan kabar baik tentang kabar tempat magangnya.

"Aku harus membicarakan ini pada Mas Raka, andai saja sekarang aku tidak ada di dalam rumahnya. Mungkin sekarang aku enggan menemuinya. " ucap kecil Kayra dalam kamar kecil itu.

Kayra memutuskan untuk menelusup masuk ke dalam kamar Raka, untuk mengutarakan niatnya ingin keluar dari rumah Raka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!