Kayra sangat terlihat memukau saat itu. Raka terlihat tidak tertarik pada Kayra di hadapan Rian, karna jika Raka tidak menutupi rasanya itu Rian akan semakin menjadi menggodanya.
"Mungkin. " Jawab Raka seolah-olah tak perduli.
Sementara Rian terus memuji kecantikan Kayra saat itu, membuat Raka jengah mendengarnya.
"Mau kemana Bang ? " Tanya Rian melihat abangnya berdiri dari duduknya.
"Toilet sebentar, " jawab Raka.
Saat Raka berjalan ke arah Toilet, beberapa wanita menghadangnya meminta foto bersama.
Dengan gaya dingin dan penuh karismanya Raka menuruti apa yang para wanita itu inginkan.
Rian dari kejauhan tak tahan saat menahan tawanya. Beberapa detik Raka tertahan melayani beberapa permintaan foto, Raka bingung atas permintaan foto itu.
"Loh ada apa ini ? " Gumam Raka dalam hatinya, ia langsung melanjutkan langkahnya cepat.
Saat hendak menuju toilet, Raka tak sengaja melihat Kayra sedang di tarik paksa oleh seseorang.
"Lepas ... Sakittt .... " Pekik Kayra yang tidak mendapatkan pertolongan dari siapapun.
Raka yang mengingat Kakek Ruslan ia langsung berniat untuk membantu Kayra.
"Ada apa ini ? " Tanya Raka membuat Kayra syok.
Kayra langsung mendekat ke arah Raka, Kayra menarik lengan Raka.
"Anda pergi saja Pak, jangan ikut campur urusan ini. Dan satu lagi jangan ceritakan masalah ini pada Kakek. " Ujar Kayra menatap Raka dalam.
Raka mengartikan tatapan Kayra, Kayra memintanya untuk tidak ikut campur namun tatapan itu mengartikan bahwa dirinya sedang butuh pertolongan.
"Siapa dia ? " Tanya laki-laki bertubuh besar pada Kayra.
Kayra menoleh ke arah Raka dengan tatapan gugup. " Di-dia bukan siapa-siapa. "
Kayra pun di tarik kembali oleh laki-laki itu, tanpa sepengetahuan Kayra. Raka mengikuti Kayra terlihat sebuah amarah saat laki-laki itu berbicara pada Kayra.
Kayra terus menyatukan tangannya seperti sedang meminta maaf.
Tamparan keras pun Kayra dapatkan. Laki-laki itu pergi sementara Kayra duduk di belakang gedung cafe itu, ia duduk sambil memeluk kedua lututnya ia benamkan wajahnya itu di atas lututnya sambil menangis sesenggukan.
Raka sangat emosi saat melihat seseorang mendapatkan perlakukan keras seperti itu apalagi ini seorang wanita.
Raka mendekati Kayra dan duduk di samping Kayra.
"Ada masalah apa sebenarnya ? " Tanya Raka membuat Kayra terperanjat kaget langsung menyeka air matanya itu.
Kayra menatap marah ke arah Raka, ia tidak mau lebih lama lagi berada di dekat Raka. Kayra takut jika nanti Raka akan memberitahukan masalah ini pada Kakek nya.
"Kamu bisa jawab pertanyaan saya tidak ? " Ucap tegas Raka mengehentikan langkah Kayra.
Kayra menoleh, Raka melihat sebuah nama di sebelah kanan pakaian Kayra.
"Kayra. " Gumam Raka dalam hatinya .
"Saya tidak mengenal anda Pak ! Kan sudah saya bilang jangan ikut campur. " Ucap Kayra dengan pipi merah bekas tamparan dan mata di penuhi amarah.
" Saya memang tidak mengenal kamu sebelumnya, tapi saya yakin kamu butuh pertolongan. " Jawab Raka.
" Saya tidak butuh pertolongan siapa pun, terimakasih. " Ucap keras kepala Kayra pada Raka.
Saat Kayra membalikan badannya kembali, langkah Kayra terhenti saat laki-laki tadi kembali. Kali ini laki-laki itu kembali dengan dua orang laki-laki lainnya.
Kayra dengan langkah mundur menjauh dari mereka, sampai langkah mundurnya terhenti karna tertahan oleh tubuh kekar Raka.
Lengan Kayra di tarik oleh Raka, sehingga ia kini berada di belakang tubuh kekar Raka.
"Oh jadi sekarang ada yang mau lagi lindungi wanita ini. Kamu tidak kapok dengan hal buruk apa jika ada yang coba melindungi kamu, Hah ? " Ucap garang Laki-laki bertubuh besar itu. Wajah laki-laki seram dengan tato dimana-mana bahkan sampai menutupi kulit tangan dan wajahnya.
Kayra hendak berjalan agar berada di depan tubuh kekar Raka, " Pergi Pak ... Pergi. " Bisik Kayra pada Raka.
Raka menahan gerakan Kayra agar tetap berada di belakangnya. " Pak anda dalam bahaya kalau seperti ini. " Bisik Kayra kembali.
"Ada maslah apa anda dengan wanita ini ? Saya tidak akan tinggal diam jika ada seorang wanita di perlakukan semena-mena seperti ini. " Tutur tegas Raka menunjukan kesatria nya. Dengan tatapan elangnya Raka memperhatikan setiap wajah para preman itu.
"Kami tidak ada urusan dengan anda, wanita itu milik Bos kami. Orangtuanya lah yang menyerahkan wanita itu pada Bos kami. " Jelas salah satu preman dengan tato tengkorak di lehernya.
Kayra kali ini benar-benar bergerak untuk berada di depan tubuh Raka.
Sebelumnya ada seseorang yang berusaha melindungi Kayra, namun mereka dengan ganasnya menusuk orang yang mencoba melindunginya.
"Sudah saya bilang beri saya waktu untuk melunasi semua hutang Ayah saya, tolong jangan seperti ini. Itu bukan uang sedikit untuk saya lunasi dalam waktu dekat ini. " Jelas Kayra semakin membuat Raka Paham jika itu masalah hutang piutang.
Para preman itu tertawa bersama, " Bos saya tidak butuh uang kamu. Yang dia butuhkan itu tubuh kamu. "
Kayra bergetar kala mendengar ucapan itu, "Saya tidak mau. Saya mampu membayar hutang Ayah saya tapi tidak sekarang. "
Ucap keras Kayra sudah lelah terus menerus di incar oleh para preman itu.
Preman itu hendak membawa Kayra dengan paksa, namun tangan Kayra lebih dulu di tarik oleh Raka. Sehingga kini Raka yang berhadapan langsung dengan preman ini.
Perkelahian pun terjadi, Raka sedikit terkena sayatan pisau di perutnya namun tidak begitu parah, itu hanya goresan.
Kayra terus meminta tolong namun tidak satu pun orang yang mau melerai perkelahian itu, sesekali Kayra menarik salah satu preman yang hendak melukai Raka namun tubuh Kayra terpental karna tenaganya tak cukup kuat.
"STOP ... Bawa saya sekarang. " Teriak Kayra tidak mau ada korban lagi.
Saat Kayra berteriak, para Preman itu berhenti berkelahi dengan Raka. Kini fokus para Preman itu pada Kayra.
Raka tidak terima jika Kayra harus di bawa oleh para Preman itu, air mata Kayra sagat mengalir deras saat ia sadar bahwa semua impiannya akan berakhir saat dirinya di bawa oleh para preman itu.
Tanpa Kayra duga Raka menarik tangan Kayra, sehingga tubuh lemas Kayra mendarat dalam pelukan Raka.
"Jangan bawa dia, berikan kartu nama ini pada Bos kalian. Hubungi saya. " Bentak keras Raka dengan wajah memerah karna emosinya belum tersalurkan sepenuhnya.
Salah satu preman pun berbisik, kala melihat kalung yang di kenakan Raka terlihat jelas. Kalung itu mengartikan lambang kemiliteran.
"Bos bawa saja kartu namanya ,dia TNI urusannya akan panjang. " Bisik salah satu preman itu.
Mereka pun membawa kartu nama itu. Raka mendekap tubuh lemas Kayra, Kayra menangis dalam pelukan Raka.
"Sudah ... Sudah kamu aman sekarang, " ucap Raka yang beranggapan bahwa semua masalah beres setelah bos yang di maksud oleh para preman itu menghubungi Raka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments