Raka seketika syok kala mendapati pintu kamarnya terbuka, " Kay ... * ucap Raka syok tak percaya kala melihat Kayra masuk ke dalam kamarnya secara diam-diam.
Raka ingin memeluk Kayra namun Kayra menjauh dan menghindar. Namun Kayra tak bisa memungkiri bahwa dia pun merasa rindu akan dekapan hangat suaminya itu.
"Kay ... Jangan siksa Mas seperti ini. Mas rindu. " Bisik Raka mendekap kuat Kayra dari arah belakang.
Bisikan rindu Raka membuat Kayra tak mampu bersikap keras kepala saat itu. ia tak mampu menahan lagi kerinduan dan air matanya, setelah beberapa waktu terus menelan kepedihan dan kekecewaan.
Semua rasa itu tumpah saat itu juga, Raka membalikkan tubuh Kayra. Segenap jiwa Raka menangkup kedua pipi Kayra dengan tatapan sendu. Kayra sebelumnya selalu melihat sosok suaminya yang begitu kuat dan tegas, namun kini Kayra melihat sosok suaminya seperti tidak berdaya akan rasa rindu yang selalu ia tahan.
Tatapan itu seakan berbicara tentang kerinduan mereka masing-masing, Sehingga akhirnya Kayra menumpahkan air matanya di dalam pelukan Raka.
"Tidak seharusnya aku menaruh harapan lebih padamu Mas. Seharusnya kita menyudahi pernikahan ini sebelum ada rasa ingin memiliki dalam diri kita. dan seharusnya aku sadar aku siapa dan Mas siapa. " tutur Kayra di sertai linangan air mata.
Raka memegang kedua lengan Kayra, " Jangan bicara seperti Kay, kita sudah sepantasnya memiliki rasa itu. Kita sudah menikah, pernikahan ini nyata. Kita harus berjuang untuk pernikahan ini, Mas sudah mendapatkan pernikahan ini di kesatuan Mas. Ketika semuanya beres kita punya kekuatan baru untuk mempertahankan pernikahan ini. *
"Kak Lia bagaimana, Ibu bagaimana ? " tanya lirih Kayra.
Raka menyeka air mata yang ada di wajah Kayra. " Jangan pikirkan itu dulu, Meraka tidak akan bisa berbuat apa-apa ketika kita sudah mengantongi bukti pernikahan secara Agama, negara dan juga di kesatuan Mas. "
Kayra tersenyum tipis. Raka memeluk kembali Kayra, Sebuah pelukan yang saling membalas satu sama lain.
Jelas kerinduan Raka saat itu harus tersalurkan semuanya, Kayra harus mau melayani kemauan suaminya apapun itu.
Malam itu mereka habiskan bersama di dalam kamar Raka, tanpa suara mereka melakukan aktivitas layaknya suami dan isteri.
Raka sangat puas kala melihat tubuh istrinya menggelinjang beberapa kali karna mencapai titik kenikmatan dari aktivitas mereka, begitupun Raka sangat puas dengan pelayanan yang di berikan oleh istri kecilnya itu.
Deruan napas keduanya seakan menggambarkan bahwa permainan yang mereka lakukan saat itu sangat lah panas.
Sampai akhirnya Kayra tertidur di dalam dekapan tubuh kekar sang suami.
Sebelum pagi menjelang, Kayra terbangun dan harus segera kaluar dari kamar Raka. Kayra tersenyum saat menatap wajah Raka masih tertidur pulas, sebelum Kayra keluar dari kamar suaminya itu Kayra mendapatkan senyuman terlebih dahulu di wajah sang suami.
Pakaian Kayra tergeletak berhamburan di atas lantai kamar itu, ia mengambil pakaian itu dengan cepat ia menggunakannya kembali.
Waktu sangat berpihak pada Kayra, tidak ada satupun yang mengetahui bahwa Kayra semalam berada di dalam kamar Raka.
Saat Raka terbangun ia ingin memeluk tubuh mungil istrinya kembali, namun Raka terkejut kala merasakan bahwa Kayra tidak ada di sampingnya.
Raka tersenyum dan langsung memeluk bantal bekas tidur istrinya itu. Sekuat tenaganya ia bangun dari tempat tidur itu karna ia merasakan malas untuk bangun dari tidur nya, namun tugasnya lebih penting saat itu.
Dengan menggunakan seragam PDH nya si lengkapi Topi baret merah yang di selipkan di salah satu pundaknya, Raka keluar dari kamarnya.
Mata Raka terhenti kala melihat sosok yang ia cari saat bangun tidur kini sedang menatap makanan bersama BI Imah di meja makan.
"Wah ... Wah .. Wah Aden segar sekali pagi ini, kemarin-kemarin bibi melihat Aden murung terus. " goda BI Imah yang sudah menganggap Raka seperti anaknya sendiri, karna dari kecil BI Imah lah yang mengurusi Raka.
BI Imah yang lebih awal menyadari kedatangan Raka, sementara Kayra hanya fokus pada pekerjaan. Kayra sesekali melirik pada sosok laki-laki berseragam TNI AD itu.
"Iya dong Bi, semalam saya olahraga ekstrim jadi sekarang terasa segar. " jawab Raka sambil menatap Kayra.
BI Imah seketika memperhatikan tatapan Raka pada Kayra.
"Oh ya, olahraga dimana Den ? " tanya BI Imah.
"Di kamar dong Bi. " jawab Raka cepat.
Raka seketika mendapatkan kode keras dari Kayra, sehingga Raka tertawa melihat tingkah malu Istrinya itu.
"Wah olahraganya bagus sekali berarti Den, sampai-sampai Den Raka terlihat sangat bugar seperti itu. " timpal BI Imah.
Raka meneguk susu hangat. " Bukan hanya bagus BI, tapi bagus sekali. Malah saya ingin melakukan olahraga itu setiap malamnya. "Raka melirik Kayra dan mengedipkan mata kanannya.
Kayra tersenyum, hanya Kayra dan Raka yang mengerti.
"Lain kali Bibi mau lihat ah aktivitas olahraganya, nanti bibi video kan setelah itu bibi akan kirimkan pada anak bibi. Kan nanti anak bibi bisa menitu olahraga itu ya kan Den ? " Tutur BI Imah.
Seketika Raka tersedak hebat karna saat BI Imah berbicara Raka sedang meneguk air susu hangat yang di siapkan untuknya.
Kayra seketika mengambil air putih, dan menepuk punggung Raka.
"Loh Den pelan-pelan. " ucap BI Imah.
Rasa khawatir Kayra bisa di lihat oleh BI Imah, terlebih saat Raka tidak menolak saat di perhatikan oleh Kayra.
"Pelan-pelan dong Mas. " ucap kecil Kayra.
Raka menganggukkan kepalanya, tenggorokan dan hidungnya terasa perih saat itu.
Sarapan pagi pun telah selesai, Bu Helma baru turun dari kamarnya. Sehingga ia tidak melihat dan mendengar percakapan Raka di ruang makan itu.
Saat malam tiba, Raka dan Kayra diam-diam selalu menghabiskan waktu bersama layaknya seorang suami dan istri.
Raka menginjinkan Kayra magang di salah satu kantor konsultan dimana di sana terdapat pengacara-pengacara hebat yang selalu membantu siapapun yang merasa tidak di adili oleh hukum.
Raka sudah membuat rencana untuk membeli rumah untuk mereka tinggali, namun Ibu Helma tidak menginginkan Kayra keluar dari rumah itu mengingat hutang piutang ayahnya belum terbayarkan.
Bu Helma menginjinkan Kayra magang tapi setelah itu ia harus pulang ke rumah Ibu Helma untuk bekerja di rumahnya. Percekcokan sempat terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
meee
baca novel ini kok otak aku travelling nya ke mayor Teddy yak.. 😅😅😅
2024-04-03
0