Kayra bangun lebih dulu di bandingkan Raka. Sekujur tubuh Kayra terasa sakit, terlebih pada area sensitifnya nya.
Tanpa menghiraukan rasa sakitnya Kayra masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Guyuran air shower membuat Kayra mengingat kejadian malam tadi.
Dimana di malam tadi keperawanannya telah di renggut oleh sang suami. Membuat Kayra tersenyum kala membersihkan tubuhnya.
Sementara Raka yang enggan bangun dari tidurnya terpaksa membuka matanya terlebih saat guyuran air dari dalam kamar mandi terdengar oleh telinga Raka.
Raka mengusap wajahnya beberapa kali dan kembali berbaring kala melihat tubuhnya yang masih polos tanpa kain sehelai pun. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
"Semalam Istri ku telah memberikannya, dan aku sangat menikmatinya. " ujar Raka tersenyum lalu memaksa kan diri untuk bangun dan menyambar pakaian yang tergeletak di atas lantai bekas semalam. Ia langsung mengenakan pakaiannya itu.
Dan Kayra kini sudah keluar dari dalam kamar mandi, beruntung ia tak lagi memakai pakaian yang kekurangan bahan itu. Mata Kayra langsung tertuju pada sosok laki-laki yang kini sedang menatapnya. Tatapan Raka sangat mencurigakan saat itu.
Kayra bersikap seolah-olah ia tak melihat Raka, dengan sikap usilnya Raka memeluk Kayra dari belakang dan berbisik. " Terimakasih. "
Kayra tersenyum dan melirik Raka. " Untuk ? "
"Untuk semalam sayang. " Jawab Raka.
Kayra tersenyum malu dan menepuk jidatnya.
"Iya ... Iya ... Ya sudah Mas mandi dulu. " Perintah Kayra yang langsung di lakukan oleh Raka.
Setelah aktivitas di dalam kamar sudah selesai, Raka dan Kayra keluar Villa mencari makanan untuk sarapan pagi dan setelah itu mereka berjalan santai sambil menikmati pemandangan Lembang di pagi hari.
Mereka duduk di tepian bukit kecil, Raka ingin berbicara serius pada Kayra.
"Kay ... ? " Sahut Raka.
"Emm ... " jawab Kayra sambil menoleh ke arah Raka.
"Apa yang kamu pikirkan tentang pernikahan ini ? Tanya Raka.
Kayra sedikit berpikir lalu menjawab pertanyaan Raka.
"Awalnya aku hanya menganggap pernikahan ini sebagai sebuah pertolongan saja. " jawab Kayra.
Raka melipat kedua kakinya dan duduk menghadap ke arah Kayra yang masih menikmati pemandangan di pagi itu.
"Apa kamu mau melanjutkan pernikahan ini ? " Pertanyaan itu mampu membuat wajah Kayra sedikit berubah kesal.
"Mas bertanya seperti itu setelah apa yang sudah kita lakukan semalam ? Apa Mas hanya menuntut jasa pada ku, karna sudah menolongku ? " ungkap Kayra mengingat bahwa di awal pernikahan Raka memang bersikap dingin padanya.
Raka menatap diri Kayra, yang kini tak lagi melihat wajahnya. Kayra lebih fokus pada pemandangan sekitar.
"Bukan begitu Kay. " Ucap Raka merasa pertanyaan nya itu di salah artikan oleh Kayra.
"Jika pernikahan dan kejadian semalam itu hanya sebuah balasan atas jasa Mas. ya sudah Mas lakukan saja apa yang menurut Mas baik. " timpal Kayra.
Raka menggaruk kecil kepalanya yang tidak gatal itu. "Sayang ... Bukan begitu, ya sudah Ok. Mas salah bertanya. "
Raka menarik lengan Kayra, dan menggenggamnya erat. " Dengar, ini malam terakhir Mas weekend di kota bandung. Minggu sore Mas harus sudah kembali ke Ibu kota untuk tugas Mas. Kamu mau bagaimana ikut atau tetap di sini. "
Kayra menatap wajah Raka, terlihat keseriusan di wajah Raka. "Aku tetap di bandung saja Mas, " jawab Kayra yang masih terlihat kesal.
"Ya sudah, beri Mas waktu untuk mengurus kepindahan kuliah kamu di Jakarta. Setelah itu kamu harus ikut bersama Mas. " Tegas Raka, dari sana Kayra mulai suka dengan ketegasan Raka. itulah yang Kayra mau.
Mereka pun saling meyakinkan satu sama lain.
Raka pun kembali ke Ibu kota.
Saat Raka dan Kayra berpisah ada sebuah rasa ketidak tenangan dari diri Raka saat bertugas.
Terutama saat malam tiba, Raka selalu merindukan kehangatan tubuh Kayra. Raka sangat tidak bisa Manahan rasa itu tanpa adanya Kayra di sampingnya.
Raka belum juga menceritakan apa yang sudah terjadi pada Ibunya, ia merasa belum menemukan waktu yang tepat.
Selang beberapa bulan Raka pun sudah bisa membawa Kayra bersamanya, berita Raka akan membawa Kayra ke Ibu kota di ketahui oleh Kak Lia.
Raka akan membawa Kayra ke rumah Ibunya di sana dia akan menceritakan semuanya. Ada kecemasan dari dalam hati Kayra kala pertamakali harus berhadapan dengan ibu mertuanya. Sesampainya di pelataran rumah Raka, Kayra melihat bangunan megah berdiri di sana. "Ini rumah kamu Mas ? " Tanya Kayra.
"Bukan Sayang, ini rumah Ibu. " jawab Raka.
Sesampainya di dalam rumah, Raka di sambut oleh sosok wanita paruh baya yang baru saja turun melewati anak tangga dari lantai dua rumahnya itu.
Raka memang jarang pulang ke rumah itu, ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah dinas tempat ia bertugas. Ada hal yang membuat Raka malas pulang ke rumah itu.
"Abang sudah pulang. Sehat Nak ? " Sapa Ibu Helma memeluk hangat tubuh Raka.
Raka menjawab sapaan Ibu nya dengan pelukan tak kalah hangat.
Ibu Helma melirik pada sosok wanita yang dari tadi hanya menundukkan kepalanya. Raka mulai ingin mengenalkan Kayra pada Ibunya saat itu juga.
"Oh jadi ini wanita pencari rumput yang kamu maksud ? Kamu mau bekerja di sini untuk melunasi hutang ayah kamu pada Raka ? " Ucapan dari sebuah pertanyaan menohok itu keluar dari mulut Ibu Helma.
Seketika Kayra mengangkat wajahnya dan menatap Ibu Helma tak percaya, lalu ia menatap Raka dengan tatapan tak percaya juga.
"Bu ... " Raka ingin mencoba menjelaskan bahwa Kedatangan Raka membawa Kayra bukan untuk bekerja. Raka bingung kenapa Ibunya berpikir seperti itu dan berbicara seperti itu.
"Ya sudah nanti dia akan di antar BI Ima ke kamar pembantu di belakang, Dada ibu sakit Nak. Antar Ibu ke dalam kamar. " pinta Ibu Helma pada Raka.
Ibu Helma memang sedang menderita sakit pada jantungnya.
"Mas apa yang kamu lakukan ? Apa maksud dari semua ini ? Apa kamu benar ingin menjadikan ku pembantu di rumah ini ? " Batin Kayra merasa sakit setelah mendengar pernyataan Ibu Helma, Ibu Helma berbicara seolah-olah Raka sudah memberitahukan kedatangan dan maksud Kayra ke rumah itu.
Padahal sama sekali Raka belum berbicara soal itu pada Ibunya.
"Ayo Neng, BI Ima antar. " Ucap BI Ima pada Kayra, Kayra hanya mematung seraya menahan air matanya.
"BI ... " cegah Raka namun langsung di bantah oleh Ibu Helma.
"Apa sih kamu itu Bang, biarkan BI Imah yang mengantar pembantu baru itu. Makanya kalau mau nolong orang itu pilih-pilih bisa bayar atau tidak. " Ucap Ibu Helma keras.
Air mata Kayra seketika jatuh, namun ia langsung menyembunyikannya. Raka bukan tidak mau melawan Ibunya namun Raka melihat Kondisi Ibunya sedang tidak baik, terutama pada jantungnya.
Raka melihat Kayra mengikuti BI Imah, Raka sangat sakit melihat itu. Namun di sisi lain Raka mengingat kesehatan Ibunya.
"Kamu kenapa menangis ? " Tanya BI Imah.
Kayra menyeka air matanya lalu tersenyum dan menggelengkan kepalanya pada BI Imah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments