BAB 6.

Tubuh Kayra sudah ada dalam dekapan Raka, Raka membawa tubuh Kayra ke hadapan ayahnya.

"Anda lihat ? Sekarang anda tidak berhak lagi atas hidupnya, saya yang berhak atas hidupnya. Jangan sesekali anda mengusik hidupnya lagi tanpa seijin saya. PAHAM ? " Ucap keras laki-laki berseragam TNI itu sedikit membentak Ayah Kayra.

Ingin rasanya Rian berbicara akan keputusan Abangnya itu, namun Rian tak berani karna memang Abangnya itu sedang di selimuti amarah yang besar.

Rian berinisiatif untuk meninggalkan Raka dan juga Kayra di kamar hotel itu, Rian menyuruh semua orang untuk keluar dari dalam kamar hotel itu.

Kayra enggan menoleh ayah kandungnya sendiri, terlalu sakit untuk dirinya hanya untuk memanggil ayah saat itu.

Raka melepaskan pelukannya saat itu, Raka mencari hal yang bisa ia pakai untuk melepaskan amarahnya.

langkah Raka tertuju pada sebuah kaca yang terpasang di lemari hias yang ada di sudut kamar itu.

Dengan teriakan keras Raka meninju kaca itu dengan segenap amarahnya.

Kayra yang kaget dengan perlakuan Raka, seketika berlari dan menghentikan aksi Raka.

"Jangan Mas, sudah ... itu bahaya. Ini salah ku Mas, kenapa Mas melakukan semua ini. " Ucap Kayra tak memiliki tenaga lebih, ia memeluk Raka sampai tubuhnya benar-benar tumbang kali itu. Raka menahan tubuh Kayra dan mengangkat tubuh Kayra ke atas tempat tidur.

Raka mengusap wajah Kayra, " Kamu tidak salah, Mas tidak bisa membayangkan jika saja Mas datang terlambat mungkin semua itu akan terjadi. "

"Tapi tidak seharusnya Mas menikahi ku, bagaimana Mas bisa menikahi orang yang sama sekali tidak Mas cintai. " Jawab lemas Kayra menatap lekat wajah Raka yang sangat dekat dengan wajahnya.

Raka memang belum yakin dengan perasaannya, namun ia tidak rela jika Kayra sampai di nikahi oleh orang lain.

Malam itu meskipun mereka sudah menikah secara agama Raka tak menuntut apapun dari Kayra begitupun dengan Kayra.

Raka lebih memilih tidur di sofa sementara Kayra berbaring di kasur. Tak sedikitpun Kayra bisa memejamkan matanya.

Linangan air mata terus mengalir di pelupuk matanya. Menatap sosok yang masih mengenakan seragam hijau Army bercorak loreng, sedang terlentang di atas sofa itu.

"Siapa dia ? Apa ini ya Alloh ? Apa benar aku sekarang sudah menjadi seorang istri ? " batin Kayra bergumam seraya melihat sosok Raka sedang berbaring dengan menutupi wajahnya dengan lengan kirinya.

Air mata Kayra pun seketika deras kembali. " Ayah kenapa ayah tega menggadaikan ku ? Salah apa anak mu ini ? "

Raka yang lelah tidak bisa menemani kesedihan Kayra. Sampai pada pagi hari Raka terbangun dan melihat ponselnya. Tubuhnya terasa linu akibat dari pukulan para preman itu.

Raka terkejut kala melihat ada seseorang yang keluar dari kamar mandi.

"Astaga ... " ucap Raka dengan nada kaget sembari memegang dadanya.

Kayra yang baru saja membersihkan dirinya keluar dari kamar mandi, Kayra menundukkan kepalanya karna sungguh ia merasa canggung pagi hari itu.

Sebuah panggilan WhatsApp Raka dapatkan di ponselnya.

"Hallo Kak ? * sapa Raka berdiri membelakangi Kayra.

Raka berjalan ke arah jendela kamar hotel itu, Tangan kiri Raka memegang ponsel yang ia tempelkan di telinga kirinya sementara tangan kanan ia masukkan ke dalam saku celana kanan nya.

Itu kesempatan Kayra untuk cepat menyisir rambutnya yang masih terlihat basah.

Dengan cepat Kayra merapihkan rambut dan wajahnya, namun wajah yang begitu sembab tak mampu Kayra tutupi. Sisa tangisan semalam menyisakan bekas

yang sangat terlihat di wajah Kayra.

Kayra hanya menutupi matanya dengan sebuah kaca mata bening yang sering ia pakai saat pergi ke kampus.

"Tapi Kak ... Ya sudah baik lah, Raka akan segera pulang menemui Kakak. " jawab Raka pada Kakak perempuan nya tak lain itu adalah Ibu dari Rian.

Kayra mendengar ucapan itu, namun ia tak mau membahas itu. Kayra hanya fokus pada tempat tidur yang tidak begitu berantakan namun tetap ia bereskan.

Raka membalikkan badannya, terlihat seorang wanita dengan rambut panjangnya yang tergerai basah sedang sibuk melipat selimut tebal itu.

Pagi itu Raka mulai merasakan perasaan serba salah, dimana ia ingin berbicara dengan Kayra namun ia merasa canggung.

Kayra melihat Raka memasuki kamar mandi, di saat itu juga Kayra merasa lega ia langsung duduk dengan menghela nafas dan membuangnya secara kasar.

"Huhh .... "

Kayra sampai lupa jika di pagi itu ada kelas di jam 10 siang, Kayra mempersiapkan dirinya untuk pergi ke luar dari kamar hotel itu.

Sebelum pergi ke kampus Kayra akan menemui Kakek Ruslan terlebih dahulu, hanya beliau lah tempat Kayra mencurahkan rasa sedihnya.

Walaupun kini Kayra sudah ada seseorang yang menikahinya, tapi ia masih merasa pernikahan itu hanyalah ilusinya saja. Kayra beranggapan bahwa Raka melakukan itu semata-mata hanya untuk menolongnya saja.

Raka keluar dari kamar mandi, langkah nya sama seperti Kayra ia merasa canggung. Raka mencoba membuka ucapan terlebih dahulu.

"Kay ... Mas mau pulang ke rumah Kakak, kamu bagaimana ? " tanya Raka berhasil membuat jantung Kayra berdegup dengan kencang.

Ucapan Raka terdengar sangat datar dan dingin, membuat Kayra yakin dengan pendiriannya tentang pernikahan semalam.

"Mas pergi saja, A-aku mungkin akan pulang ke rumah Kakek. " jawab Kayra dengan suara kecilnya sedikit terbata.

Perasaan tidak tega terasa di dalam lubuk hati Raka saat mendengar jawaban Kayra.

"Baiklah, kalau begitu kita pergi sekarang. Mas akan lebih dulu mengantarmu setelah itu Mas pulang. " jelas Raka datar ia tidak tahu harus berkata apa lagi, karna sungguh perasaan yang ada di dalam hatinya itu tak menentu.

Kayra tersenyum palsu, karena senyuman itu bukan lah sebuah senyuman kebahagiaan namun kesedihan yang teramat dalam.

"Aku tidak boleh berharap banyak atas pernikahan ini. " batin Kayra perih.

"Aku belum bisa membawa Kayra ke hadapan keluarga ku, aku tahu sifat asli mereka bagaimana. " Batin Raka mengusap kasar wajahnya.

Tidak ada kehangatan sama sekali saat itu, padahal pernikahan sudah terjadi di malam tadi.

Baik Raka ataupun Kayra berjalan beriringan, tanpa mau memegang tangan satu sama lain. Pikiran Raka sangat kacau saat itu.

Perjalanan menuju rumah Kakek Ruslan pun teramat hening, mereka hanya diam tanpa mau bertutur sapa sedikit pun.

Setibanya di rumah Kakek Ruslan, Kayra dan Raka tidak mendapati Kakek Ruslan di dalam rumah. Sehingga Raka tidak bisa bertemu dan menjelaskan semuanya.

Raka pun dengan berat hati pamit pada Kayra tanpa menjanjikan bahwa dia akan kembali untuk menjemput Kayra.

"Mas pulang dulu. " Kata itu keluar dari mulut Raka.

Kayra menatap wajah Raka dengan tatapan berembun. Kayra meraih tangan Raka, ia mencium samar telapak tangan dan punggung tangan Raka.

Sentuhan lembut tangan Kayra mampu menyentuh ke dalam relung hati Raka.

"Bagaimana pun kamu suami ku Mas, bagaimana pun aku harus patuh dan hormat pada mu. " batin Kayra saat mencium samar tangan Raka.

Sebuah pelukan ingin sekali Kayra rasakan, namun Raka tak melakukannya sungguh Raka benar-benar merasa dilema dengan rasa yang ada di dalam hatinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!