Aditya tiba di apartemen Kimy sekitar pukul tujuh malam. Tanpa perlu mengetuk pintu lebih dulu, pria itu bisa langsung masuk. Begitu ia ada di dalam, Aditya disuguhi suasana berbeda, khususnya di dekat balkon apartemen Kimy.
“Sayang.”
“Eh, Mas Ditya udah dateng.”
Kimy baru saja selesai bersiap dan sedikit berdandan. Meski hanya perayaan kecil di apartemennya, Kimy ingin selalu tampil cantik saat menyambut kekasihnya. Dengan mengenakan pakaian santai, aura kecantikan Kimy masih bisa terpancar.
“What is this? Kita mau ... barbeque-an di dalem apartemen?”
“Yap, betul, Mas. Biar antimainstream. Hehe.”
“Terdengar menyenangkan. Oke, Sayang. Makasih, ya, udah mau repot siapin ini semua buat mas.”
“Sama-sama. Aku harap Mas suka, meski ini hanya perayaan kecil.”
“Mas selalu suka tiap bisa habisin waktu berdua sama kamu. Love you, Sayang.” Aditya merangkul Kimy dan mengecup singkat bibirnya.
“Love you too. Em, Mas... hadiah aku nyusul, ya. Aku belum sempet siapin sesuatu buat Mas. Habisnya aku jarang kasih hadiah ke cowok, jadi agak bingung mau kasih apa buat Mas.”
“Hey, hadiah? Buat apa lagi, Kim? Kenapa harus kasih mas hadiah segala? Mas gak minta apa pun, kok.”
“Ya, aku tau. Tapi, masa' di moment spesial Mas, aku gak kasih apa pun buat Mas? Selama ini padahal Mas udah sering banget kasih aku hadiah.”
“Why? Lalu kenapa, Sayang? Mas gak butuh apa-apa lagi. Kamu udah siapin semua ini buat mas, bahkan mau nemenin mas rayain malem ini, itu udah lebih dari cukup buat mas. Gak perlu kasih apa pun lagi, ya, Sayang.”
“Hmm, no. Pokoknya aku akan tetep kasih. Tapi besok, yah.”
“Astaga, kamu ini. Bandel juga kalo dibilangin. Okelah, up to you. Hm, ya udah, bisa kita mulai barbeque-nya? Mas udah laper, nih.”
“Eh iya, Mas. Yuk!”
Mereka ke arah balkon. Aditya melepas jasnya dan mulai menyiapkan bakaran untuk memanggang beberapa tusuk daging dan sayuran. Kimy sudah menyiapkan segalanya sedari tadi. Malam ini, mereka bisa menikmati menu bakaran berdua sampai puas.
Sesekali, tawa dan canda mereka bersahutan. Beberapa tusuk satai bakso dan sosis mulai tandas.
“Sini, biar mas aja, Sayang. Ini panas, loh. Ntar kamu kena.”
“Ih, gapapa kali, Mas. Aku bisa, kok. Nih.”
“By the way, bumbunya enak, loh. Ini kamu yang bikin sendiri, Kim?”
“Iya, Mas. Tadi barusan kusiapin.”
“Hmm, pantes. Mantap, sih.”
Pasangan itu menikmati kudapan barbeque mereka sembari berbincang dan menatap suasana langit malam dari balkon. Aditya duduk di bawah, beralas tikar dan kasur lipat yang sudah ditata Kimy di sana sebelumnya. Pria itu memangku kekasihnya, membiarkan Kimy duduk di atas pahanya dan menyandarkan kepala pada dada bidangnya.
“Hm, Mas mau pulang jam berapa?” tanya Kimy.
“Kamu pengin mas cepet-cepet pulang? Udah bosen, ya, mas keseringan di sini?” sahut sang CEO sambil memainkan rambut Kimy yang tergerai.
“Hihh, gak gitu. Orang aku cuma nanya, kok.”
“Kalo mas jawab malem ini mas gak mau pulang lagi gimana? Masih boleh kan mas nginep di sini lagi? Kalo udah di deket kamu gini, mas rasanya mager mau pergi-pergi lagi.”
“Hmm. Iya deh iya. Terserah Mas aja.”
“Maaciihh, Cantik.”
“Hmm.”
“Sayang, mas seneng, deh, kalo kita bisa punya quality time begini sering-sering. Rasanya ... gak bisa dijelasin pake kata-kata. Intinya, kenyamanan mas selalu ada di kamu. Kamu sayang sama mas juga, kan?”
“Iyah. Aku juga seneng kalo bisa sama-sama Mas terus. Aku pun sayang sama Mas.”
“Mas bener-bener gak bisa kehilangan kamu, Sayang. Mas mau kebersamaan kita ini seterusnya, selamanya.”
Setelah saling mengucapkan kata cinta, keduanya memagutkan bibir satu sama lain. Menikmati manisnya kecupan di bawah sinar bulan malam yang indah.
***
Sang CEO terbangun, ia melirik ke arloji di tangannya, waktu menunjukkan hampir pukul enam pagi. Walau semalam ia berbincang begitu lama dengan Kimy, pagi ini ia tak sampai kesiangan.
Terlihat di sampingnya, Kimy masih memejamkan mata. Aditya mengusap lembut wajah teduh kekasihnya lantas mendaratkan satu kecupan panjang di pipinya. Setelah itu, Aditya langsung mencari kemejanya dan ia kenakan kembali.
Saat Aditya tengah mengancingkan kemejanya satu per satu, Kimy pun tampak mulai bergerak dan terbangun.
“Mas Ditya,” panggil Kimy lembut.
Aditya langsung kembali menoleh ke arah gadisnya dan mendekatkan wajahnya ke sana.
“Hai, morning, Sayang.” Satu kecupan kembali mendarat, kali ini di bibir Kimy.
“Pagi, Mas. Mas udah bangun dari tadi?”
“Baru aja, kok, Kim. Habis ini mas mau ke kantor. Kamu ada pemotretan?”
Kimy mengangguk.
“Ya udah, nanti mas anter kamu dulu, baru mas ke kantor.”
“Hm, gak usah. Aku masih agak nanti berangkatnya. Mas ke kantor duluan aja. Aku nanti pake mobil sendiri.”
“Are you sure?”
“Ya. Udah, Mas. Mas bisa pergi sekarang.”
“Oke kalo gitu. Makasih buat semalem, ya. See you. Kabarin mas kalo ada apa-apa.”
“Daa, Mas Ditya!”
Aditya meninggalkan apartemen Kimy. Ia harus pulang untuk mandi dan bersiap ke kantor. Siapa tahu juga ia masih sempat bertemu Naya sebelum Naya diantar ke sekolah.
Sementara Kimy mulai bersiap untuk berangkat ke lokasi pemotretannya hari ini. Rencananya, setelah pulang dari pekerjaannya nanti, Kimy akan pergi membeli hadiah untuk Aditya sesuai janjinya semalam. Walau sama sekali belum terpikir dalam benaknya, barang apa yang mau ia beli. Ia pun berniat meminta saran pada Ice bila sampai nanti pikirannya masih buntu.
Satu sesi pemotretan sudah Kimy lakukan. Ia punya waktu istirahat kurang lebih dua puluh menit sebelum sesi berikutnya dimulai. Ketika Kimy tengah bersantai di sofa, tiba-tiba Ice menghampirinya dengan wajah tegang. Seperti ada hal besar yang ingin diberitahukannya pada Kimy.
“Kim, kamu sama Om Aditya baik-baik aja?” tanya Ice.
“Kenapa Ice tiba-tiba nanya soal aku sama Mas Ditya? Kami baik-baik aja lah. Semalem kami bahkan baru habisin waktu berdua, barbeque-an, buat rayain penghargaan yang dia dapet. Ice kenapa, sih? Kok, mukanya tegang gitu?” heran Kimy.
“Ice barusan tau sesuatu. Kim mungkin belum tau ini. Dan, mungkin Kim bakal syok setelah tau soal ini.”
“Tau soal apa, sih, Ce?”
Ice menunjukkan artikel berita di ponselnya kepada Kimy. Begitu melihat headline berita tersebut, Kimy terbelalak, tak bisa berkata-kata, hanya terus menggeleng.
[ THE MOST BRILLIANT BUSINESSMAN TAHUN INI, SALAH SATUNYA PUNGGAWA PRATAMA ENTERPRISES. LIHAT SIAPA SOSOK WANITA DI BALIK SUKSESNYA HOT DADDY INI! ]
Tepat di bawah headline tersebut, terpampang sebuah foto keluarga. Di situ tampak jelas wajah Aditya tengah menggendong Naya—putrinya, dan ditemani Sasa—istrinya, di sampingnya. Keterangan foto itu pun menyebut jelas bahwa wanita di foto tersebut adalah istri dan anak dari seorang Aditya Pratama.
“Kim, kamu yang kuat, ya,” ucap Ice yang mulai panik melihat Kimy terdiam.
“Ce? Ice, ini apa? Gak mungkin, kan? Mas Ditya ... dia udah berkeluarga? Ini gak bener, kan, Ce!” Air mata Kimy mulai menetes.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Neneng Dwi Nurhayati
semoga kimy dapat sosok baru yg benar2 single & cinta sama kimy
2024-04-03
3