Lelaki Idaman

Tatapan itu. Tatapan Aditya menyiratkan bahwa ia amat menginginkan bersama Kimy. Tangan Kimy yang bebas justru berani meraih wajah Aditya, mengusap rahang tegasnya dengan tatapan menggoda.

“Benarkah?” sahut Kimy.

Aditya makin tak bisa membendung keinginannya begitu merasakan sentuhan tangan Kimy di rahangnya. Ia pun meraih tangan Kimy dan mengecupnya.

“Tentu, Kim. Saya bisa aja deketin wanita yang lain, tapi hati saya cuma menginginkan kamu.”

“Bahkan di pertemuan kedua kita?”

“Apa yang salah? Bagi saya, hanya butuh sedetik pandangan buat bikin saya tertarik sama kamu. Hm, apa saya boleh tau, lelaki tipe seperti apa yang kamu inginkan?”

“Tipe? Uhm, saya sih realistis aja, mungkin dia harus mapan, perhatian, dan good looking—itu tambahan, sih. Tapi, yang jelas, dia harus bisa buat saya jatuh cinta dan sulit melupakan.”

“Okey. Jadi, saya ada kemungkinan bisa masuk tipe kamu, kan?”

“Maybe. Mapan dan good looking, it's OK. Tapi, buat yang lain, entahlah.”

“Kalo gitu, biar saya buktiin ke kamu kalo saya bisa penuhin semua kriteria kamu.”

“Up to you, Tuan Aditya.”

“Mau saya traktir satu gelas lagi?”

“Oh, gak perlu. Ini cukup. Saya gak mau mabuk malam ini.”

“Tanpa minum apa pun, saya bahkan udah mabuk kepayang karena kamu.”

Aditya tak henti-henti mempersuasi Kimy. Semakin Kimy menolaknya justru membuat CEO muda itu makin penasaran. Hingga di detik terakhir, Aditya berhasil membuat Kimy bersedia diantar pulang olehnya.

Mereka sampai di depan pintu apartemen Kimy yang terletak di lantai tiga.

“Jadi, di sini?” tanya Aditya.

“Ya. Anda udah tau tempat tinggal saya sekarang. Puas, kan?”

“Puas? Gak segampang itu. Ini baru awal. Jangan tolak saya kalo nanti saya sering main ke sini, ya.”

“Hm, bisa dipikirkan. Tergantung situasi.”

“Kamu gak mau ajak saya mampir dulu, masuk sebentar?”

“Maaf, mungkin lain kali aja. Ini udah terlalu malam.”

“OK. Kamu pasti lelah, ya.” Aditya maju beberapa langkah, menghapus jaraknya dengan si model cantik itu. Dengan wajah inginnya, Aditya makin mendekat ke wajah Kimy, hampir-hampir bibirnya mencapai bibir sensual Kimy.

Dengan spontan, Kimy agak mendorong dada bidang Aditya agar tubuh itu bisa sedikit menjauh dari dekatnya. Niat sang CEO pun tak jadi terlaksana.

“Sorry, permisi.” Kimy beranjak berbalik badan dan masuk ke apartemennya.

Sementara Aditya tersenyum sembari berucap, “See you, Cantik!”

***

Pertemuan kedua dengan Kimy membuat Aditya makin tak bisa tidur. Ia justru lebih sering membayangkan betapa bahagianya bila ia bisa memeluk, menyentuh, hingga merasakan bibir ranum Kimy. Tak hanya dengan mengantarnya pulang kala itu, Aditya bahkan mencari informasi tentang kegiatan Kimy dari awal pagi hingga hari petang. Apa saja yang dilakukan sang model dan di mana saja tempat yang disambanginya.

Aditya sampai mengunjungi lokasi pemotretan Kimy dan itu jelas membuat Kimy terkejut. Tak menyangka sang CEO benar-benar seniat itu.

“Anda? Dari mana Anda tau saya—

“Saya termasuk orang yang cukup mudah dapet informasi semacam ini. Saya bisa tau beberapa hal tentang kamu, tanpa kamu harus kasih tau saya. Gimana? Apa ini membuat kamu jadi lebih tertarik dengan saya?”

“Not yet. Gak bisa semudah itu, Tuan.”

“Nona Kim, setiap harinya, kamu justru bikin saya makin penasaran sama kamu.”

Beberapa kali Aditya muncul di hadapan Kimy secara tiba-tiba. Menunjukkan perhatiannya dengan berbagai macam cara. Seperti menawarkannya untuk pergi dan pulang bersama, membawakan hadiah-hadiah maupun makanan kesukaan Kimy, serta terus mengumandangkan rayuan-rayuan mautnya.

Apa lagi yang belum dilakukan Aditya? Ia begitu detail, mengingat setiap lekuk tubuh Kimy sampai memajang foto seksi Kimy sebagai wallpaper ponselnya. Aditya sungguh tergila-gila. Sementara Kimy masih saja hanya menarik ulurnya.

Mendapatkan hati Kimy memang tak semudah sekadar mendapatkan kontak nomor ponselnya. Pendekatan Aditya terus berlanjut, siang-malam. Secara langsung maupun dengan ponselnya.

Kegigihan Aditya nyatanya perlahan mampu melunakkan hati Kimy. Kimy kini tak terlalu sering menghindar. Ia lebih mudah diajak oleh Aditya untuk menghabiskan waktu bersama, walau itu sekadar bertemu, mengobrol, atau makan siang.

“Saya terlalu salut dengan Anda, ternyata Anda gak main-main,” ucap Kimy di suatu makan siang bersama Aditya.

“Untuk apa saya main-main? Saya hanya ingin kamu melihat usaha saya selama ini. Jadi, apa saya udah bisa masuk kriteria lelaki idaman kamu, Kim?”

“Entahlah.”

“Semakin sering saya bersama kamu, kita menghabiskan waktu berdua, saya makin ngerasa nyaman sama kamu. Apa kamu juga bisa rasain hal yang sama?”

“....”

“I love you, yang kesekian saya katakan ke kamu,” ujar Aditya sembari menggenggam erat jemari tangan Kimy.

“Tuan—

“Hey, ayolah, Kim. Ini udah lewat berapa hari sejak pertemuan pertama kita? Kenapa kamu masih seformal ini? Bisa kan, kita bicara dan menyebut satu sama lain dengan lebih akrab?”

“Em, saya—

“Aku. Bisa, kan?”

“Baiklah Tuan, aku—

“Jangan ‘Tuan’, Kim. Kalo kamu keberatan cuma sebut nama, kamu bisa panggil saya ‘Mas’ misal. Gimana?”

“Oke Mas Ditya, aku paham.”

“Begitu lebih enak didengar. Makasih, Kimy.”

Tiba-tiba, Aditya mendapat panggilan dari kantornya. Ia harus segera kembali ke kantor.

“Mungkin sampe di sini dulu, ya. Mas harus balik ke kantor lagi sekarang. Maaf, mas gak bisa anter kamu pulang kali ini.”

“Gapapa, Mas. Silakan.”

“Oke, sampe jumpa lagi, Kim.”

Aditya beranjak berdiri dari kursinya, hampir berlalu pergi. Baru sampai di luar kafe, Aditya mesti menoleh sebab tiba-tiba mendengar panggilan Kimy. Kimy ternyata mengikutinya keluar.

“Mas Ditya!” panggil Kimy.

Begitu Aditya berhenti dan berbalik ke belakang, Kimy melangkah cepat, mendekat ke arah Aditya. Ia pun tiba tepat di hadapan sang CEO.

“Ada apa, Kim? Apa milik mas ada yang tertinggal lagi?”

Kimy menggeleng.

“Lalu?”

“I love you too. Aku juga sayang sama Mas.”

Sahutan Kimy membuat Aditya hampir tak bisa berkata-kata. Cintanya terbalas.

“Kim ... maksud kamu, ini ... ah, apa kamu serius?”

Kimy mengangguk. Setelah tersenyum pada Aditya, ia langsung memeluk Aditya. Aditya yang masih agak tak percaya seketika ikut tersenyum senang. Tanpa ragu lagi, ia mendekap Kimy lebih erat.

“Mas sangat mencintai kamu, Sayang.”

Hubungan spesial di antara mereka pun terjalin.

Karena Aditya harus segera kembali ke kantor, mereka berencana melanjutkan pertemuan indah mereka pada malam nanti.

***

Malam harinya, Aditya menemui Kimy di apartemennya. Mereka ada janji dinner bersama. Ini makan malam pertama mereka sebagai sepasang kekasih. Rasanya, mereka mulai tenggelam dalam lautan asmara. Aditya mengajak Kimy ke sebuah restoran mewah dengan pelayanan VIP. Kimy benar-benar merasa diistimewakan malam ini.

Selepas makan malam dan mengobrol banyak, pasangan itu kembali ke apartemen Kimy. Kali ini, Kimy tak ragu lagi mengajak Aditya mampir ke apartemennya.

Mereka kembali mengobrol di kamar Kimy.

“Ini, Mas.” Kimy memberikan secangkir kopi buatannya kepada Aditya.

“Makasih, Sayang.”

Aditya langsung menyeruput kopinya. Setelah meletakkan cangkirnya di atas nakas, ia memuji kopi buatan Kimy.

“Kopi kamu perfect. Mas bakal ketagihan kayaknya.”

“Mas Ditya boleh dateng kapan pun ke sini kalo pengin kopi buatan aku,” sahut Kimy sembari duduk di depan meja riasnya dan mulai membersihkan riasan wajahnya.

“Kamu tetep cantik, meskipun tanpa make-up,” gumam Aditya yang kini sudah ada tepat di belakang Kimy sambil menyangga dagunya di bahu Kimy.

Aditya pun menggiring Kimy duduk di ranjangnya kembali. Mereka saling bertatap mesra. Jemari Aditya lantas menelusuri tiap jengkal wajah Kimy.

Perlahan, wajah Aditya mendekat. Hingga bibir mereka saling terpagut. Keduanya memejamkan mata, terbuai, menikmati kelembutan bibir satu sama lain. Ciuman Aditya makin menampakkan hasratnya.

Kedua tangan Kimy melingkar di leher Aditya. Sejenak, Aditya melepaskan pagutan bibirnya.

“Mas—

“Bisakah kita lebih dari ini, Sayang?” tanya Aditya dengan suaranya yang mulai berat dan parau.

Aditya pun mulai mengecup leher Kimy. Ia benar-benar menginginkan yang lebih, malam ini.

Terpopuler

Comments

Yuliana 123

Yuliana 123

semngt thor ceritanya bgus bnget

2024-12-26

0

lihat semua
Episodes
1 Debaran dalam Pertemuan
2 Lelaki Idaman
3 Bercinta Pertama Kali
4 Pembantu?
5 Pernikahan Pertama
6 Malam Panas Nan Menggila
7 Ice
8 Love Language
9 Cemburumu, Manis Bagiku
10 Ruangan Kantor Penuh Hasrat
11 Sesi Gairah Liar Lanjutan
12 Dilema, Kimy atau Naya?
13 Takut Kimy Kesal
14 Mengerjai Mas Ditya
15 Kepergok?
16 Tak Diakui
17 Menemani Gadisnya Belanja
18 Kau Membuatku Malas Pergi
19 Rencana Perayaan
20 Headline Berita
21 Ternyata Aku Selingkuhannya!
22 Tak Siap Jadi Pelakor
23 Mabuk dan Menginginkannya
24 Tak Mudah
25 Perhatian dari Suami Orang
26 Kamu Ingin Mas Tiada?
27 Bersama Lagi, Bercinta Lagi
28 Selingkuhan Takut Diselingkuhi
29 Jangan Sebut Ini Perselingkuhan, Sayang!
30 Aura Berbeda
31 Kekhawatiran Bestie Kimy
32 Memasak Makan Malam Bersama
33 Dipaksa Berhenti
34 Menemani Putri Kesayangannya
35 Ketika Istri Mendadak Perhatian
36 Kunjungan Kantor Sekali Lagi
37 Gosip di Kantor
38 Kencan Romantis
39 Romantis? Erotis? Atau Keduanya?
40 Perhatian Aditya untuk Sang Istri
41 Teased Him
42 Ketika Istri Mulai Jatuh Cinta
43 Hukuman di Atas Ranjang
44 Berjumpa Lelaki Lain
45 Sentuhan Tak Disengaja
46 Albert Gerak Cepat
47 Kimy Butuh Lelaki Cadangan?
48 Menjeda Nikmat Bermesraan
49 Ingin Bercumbu Mesra
50 She is Mine!
51 She Loves Me? I Don't Care!
52 Merasa Panas
53 Diantar Pulang Pria Lain
54 Kimy Balas Dendam?
55 Mood Bercinta
56 Obrolan Dua Pria Dewasa di Club
57 Fantasi Liar Albert
58 Teman Ngobrol, Haruskah Dia?
59 Pemandangan Manis Membakar
60 Cara CEO Meluluhkan Kekasihnya
61 Ingin Merebut Takhta?
62 Menghadapi Tanya Istri
63 First Night in Paris
64 Mas Ditya Kenapa?
65 Prioritas
66 Jangan Bandingkan Mas Ditya dengan Al!
67 Kekasih Siaga
68 Antara Papa Adit dan Mas Ditya
69 Cemas Tak Terbendung
70 Jangan Sampai Berpaling, Sayang!
71 Ulang Tahun Mas Ditya
72 Siapa Bisa Mengerti?
73 Sebuah Permintaan
74 Mari Berpisah!
75 Tawaran Setelah Ketahuan
76 One Night with Al
77 Mengubah Keputusan
78 Baku Hantam
79 Empat Mata Bicara Affair Mereka
80 Ketika Selingkuhan Bertemu Istri Sah
81 Tak Semudah Itu, Mas!
82 Peringatan Tegas
83 Nasib Karier Kimy
84 Jangan Ada Sesal dan Ragu!
85 Kontrak Kerja untuk Kimy
86 Mengambil Tawaran
87 Hendak Dikenalkan
88 Jalan-Jalan Bertiga
89 Jangan Sampai Direbut Juga!
90 Mengambil Hati
91 Menanti Kabar
92 Tentang Sasa dan Aditya
93 Tunggulah Sebulan Lagi!
94 Happy Birthday Kimy!
95 Nikmatilah Selagi Bisa!
96 Suami Mbak Butuh Saya
97 Saat Selingkuhan Datang ke Rumah
98 Teror
99 Insiden
100 Hilang Satu Penghalang?
101 Selepas Kepergian
102 Kamu Berubah, Mas!
103 Kepergok Mertua
104 Ada Saja Penghalang Kita
105 Kimy Menghilang, Apa Dia Datang?
106 Mas, Selingkuhanmu Lelah!
107 Jangan Pergi, Ayo Menikah!
108 After Wedding
109 Suamiku Psikopat?
110 Choose The Ending
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Debaran dalam Pertemuan
2
Lelaki Idaman
3
Bercinta Pertama Kali
4
Pembantu?
5
Pernikahan Pertama
6
Malam Panas Nan Menggila
7
Ice
8
Love Language
9
Cemburumu, Manis Bagiku
10
Ruangan Kantor Penuh Hasrat
11
Sesi Gairah Liar Lanjutan
12
Dilema, Kimy atau Naya?
13
Takut Kimy Kesal
14
Mengerjai Mas Ditya
15
Kepergok?
16
Tak Diakui
17
Menemani Gadisnya Belanja
18
Kau Membuatku Malas Pergi
19
Rencana Perayaan
20
Headline Berita
21
Ternyata Aku Selingkuhannya!
22
Tak Siap Jadi Pelakor
23
Mabuk dan Menginginkannya
24
Tak Mudah
25
Perhatian dari Suami Orang
26
Kamu Ingin Mas Tiada?
27
Bersama Lagi, Bercinta Lagi
28
Selingkuhan Takut Diselingkuhi
29
Jangan Sebut Ini Perselingkuhan, Sayang!
30
Aura Berbeda
31
Kekhawatiran Bestie Kimy
32
Memasak Makan Malam Bersama
33
Dipaksa Berhenti
34
Menemani Putri Kesayangannya
35
Ketika Istri Mendadak Perhatian
36
Kunjungan Kantor Sekali Lagi
37
Gosip di Kantor
38
Kencan Romantis
39
Romantis? Erotis? Atau Keduanya?
40
Perhatian Aditya untuk Sang Istri
41
Teased Him
42
Ketika Istri Mulai Jatuh Cinta
43
Hukuman di Atas Ranjang
44
Berjumpa Lelaki Lain
45
Sentuhan Tak Disengaja
46
Albert Gerak Cepat
47
Kimy Butuh Lelaki Cadangan?
48
Menjeda Nikmat Bermesraan
49
Ingin Bercumbu Mesra
50
She is Mine!
51
She Loves Me? I Don't Care!
52
Merasa Panas
53
Diantar Pulang Pria Lain
54
Kimy Balas Dendam?
55
Mood Bercinta
56
Obrolan Dua Pria Dewasa di Club
57
Fantasi Liar Albert
58
Teman Ngobrol, Haruskah Dia?
59
Pemandangan Manis Membakar
60
Cara CEO Meluluhkan Kekasihnya
61
Ingin Merebut Takhta?
62
Menghadapi Tanya Istri
63
First Night in Paris
64
Mas Ditya Kenapa?
65
Prioritas
66
Jangan Bandingkan Mas Ditya dengan Al!
67
Kekasih Siaga
68
Antara Papa Adit dan Mas Ditya
69
Cemas Tak Terbendung
70
Jangan Sampai Berpaling, Sayang!
71
Ulang Tahun Mas Ditya
72
Siapa Bisa Mengerti?
73
Sebuah Permintaan
74
Mari Berpisah!
75
Tawaran Setelah Ketahuan
76
One Night with Al
77
Mengubah Keputusan
78
Baku Hantam
79
Empat Mata Bicara Affair Mereka
80
Ketika Selingkuhan Bertemu Istri Sah
81
Tak Semudah Itu, Mas!
82
Peringatan Tegas
83
Nasib Karier Kimy
84
Jangan Ada Sesal dan Ragu!
85
Kontrak Kerja untuk Kimy
86
Mengambil Tawaran
87
Hendak Dikenalkan
88
Jalan-Jalan Bertiga
89
Jangan Sampai Direbut Juga!
90
Mengambil Hati
91
Menanti Kabar
92
Tentang Sasa dan Aditya
93
Tunggulah Sebulan Lagi!
94
Happy Birthday Kimy!
95
Nikmatilah Selagi Bisa!
96
Suami Mbak Butuh Saya
97
Saat Selingkuhan Datang ke Rumah
98
Teror
99
Insiden
100
Hilang Satu Penghalang?
101
Selepas Kepergian
102
Kamu Berubah, Mas!
103
Kepergok Mertua
104
Ada Saja Penghalang Kita
105
Kimy Menghilang, Apa Dia Datang?
106
Mas, Selingkuhanmu Lelah!
107
Jangan Pergi, Ayo Menikah!
108
After Wedding
109
Suamiku Psikopat?
110
Choose The Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!