Sesuai janjinya, Aditya menjemput Kimy di apartemennya untuk mengantarnya ke lokasi pemotretan siang ini.
“Makasih, Mas Ditya.”
“Sama-sama, Sayang. Mau mas temenin sampe selesai?”
“Eh, ya gak usah lah, Mas. Mas kan harus balik ke kantor.”
“Gapapa, kok, kalo mas gak ke kantor sehari aja.”
“No. Udah, Mas ke kantor aja. Lagian, Mas pasti bakal bosen nanti kalo nungguin aku di sini.”
“Gak akan bosen, dong. Kan, mas lihatin kamu yang super cantik dan seksi.”
“Mas, apa sih? Udah, deh. Mas pergi aja sekarang.”
“Hmm, oke. Nanti kalo dah selesai, kabarin aja, ya. Biar mas jemput lagi. Have fun, Sayang.”
Sebelum pergi, Aditya tak lupa meninggalkan kecupan di bibir Kimy.
***
Hubungan Aditya dan Kimy sudah berjalan lebih dari seminggu. Selama ini, Kimy merasa bahagia karena memiliki kekasih seperti seorang Aditya Pratama yang begitu perhatian dan memperlakukannya selayaknya ratu.
Cinta yang selalu ditunjukkan dan diekspresikan setiap saat. Dalam sehari, tak pernah terlewat sekalipun kata-kata sayang yang diucap Aditya pada gadis pujaannya itu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Aditya selalu menyempatkan waktunya mengantar-jemput Kimy ke tempat pemotretan. Ketika keduanya senggang, tak mau melewatkan kesempatan untuk pergi jalan berdua. Makan siang, makan malam, hingga bermesraan memadu kasih di apartemen Kimy. Apartemen Kimy kini sudah jadi tempat wajib kunjungan rutin Aditya setiap hari.
Hingga detik ini, Aditya masih bisa menyembunyikan rahasianya dari sang kekasih. Walau, terkadang ada saja saat-saat yang membuatnya tiba-tiba panik, takut ketahuan. Aditya tetap bungkam perihal ini, sebab ia tak ingin kehilangan gadis yang jadi candunya saat ini.
Siang ini, mereka berdua kembali makan siang bersama. Kali ini, mereka memilih kafe yang tak jauh dari kantor Aditya. Kimy langsung ke sana seusai pemotretan. Mereka janjian bertemu di tempat. Sebenarnya, sang CEO sudah menawarkan untuk menjemput Kimy untuk pergi ke sana, tetapi Kimy menolak. Tak mau terlalu merepotkan sang kekasih. Lagi pula, ia bisa menyetir dan membawa mobil sendiri.
“Mas, udah lama nunggunya, ya?” seru Kimy begitu baru sampai di tempat dan melihat Aditya sudah duduk di sana.
“Gak, kok. Mas juga barusan sampe.”
“Agak macet tadi.”
“Tadi harusnya gapapa mas jemput aja, Sayang. Biar kamu gak perlu capek nyetir.”
“Gapapa, Mas. Mas Ditya udah terlalu sering anter jemput aku. Ntar mobil aku gak guna lama-lama.”
“Hmm. Ya udah, pesen dulu, yuk.”
Mereka memesan menu pilihan masing-masing. Sembari menikmati makanannya, obrolan terus mengalir di antara mereka.
“Btw, Mas Ditya belum kasih tau aku apa aja makanan kesukaan Mas. Ntar Mas kasih tau, ya. Siapa tau nanti kapan-kapan aku bisa masakin buat Mas.”
“Really? Kamu bisa masak?”
“Why not? Selama ini aku tinggal sendiri. Aku suka masak, kok. Cuma kadang-kadang aja makan di luar atau order online kalo lagi capek atau males.”
“Hm. Mas pikir kamu kayak yang lain. Biasanya wanita karier, apalagi kelas supermodel secantik kamu, rata-rata pada gak suka masak. Ternyata, kekasih mas ini bener-bener paket komplet.”
“Mas bisa aja. Kan, gak semua begitu. Ntar deh, kalo Mas mampir lagi ke tempat aku, Mas harus coba masakan aku.”
“Siap. Kamu juga harus kasih tau mas, apa aja yang kamu suka.”
“Hm, memang masih perlu, Mas? Kayaknya tanpa aku kasih tau pun, Mas Ditya udah bisa tau semuanya. Udah terbukti lah. Mas pernah bilang ke aku waktu itu, seorang Aditya Pratama bisa dengan mudah dapetin info apa pun. Bahkan, sebelumnya Mas juga udah niat banget cari tau banyak hal soal aku.”
“He-he. Ya, kali aja kan ada yang terlewat sama mas. Kalo kamu langsung yang kasih tau kan lebih enak.”
“Hahh, oke. Tapi nanti, setelah aku wawancara Mas lebih lanjut. Setelah aku tau apa aja kesukaan Mas. O ya, terus kalo Mas sendiri, apa lebih suka makan di luar? Kan, Mas masih sendiri. Apa di rumah ada yang masakin buat Mas?”
Mendengar pertanyaan Kimy yang satu ini, Aditya langsung tersedak. Bahasan Kimy kali ini mengarah pada sesuatu yang selama ini disembunyikannya.
“Eh, Mas kenapa? Pelan-pelan, Mas. Minum dulu, gih. Em, apa aku salah bicara?”
Setelah meminum segelas air, Aditya berusaha menetralkan suasana. Ia tak ingin Kimy menaruh curiga padanya.
“Ehh, gak, kok, Kim. Gapapa, Sayang. Em, soal itu ... iya, ada yang masakin buat mas di rumah buat sarapan dan makan malem. Kalo makan siang, mas lebih sering di luar atau di kantor. Tapi, mas juga sering males makan di rumah, sih. Kalo begitu, sarapan atau makan malem juga kadang mas lebih milih di luar,” jelas Aditya.
“Siapa yang masakin Mas? Mas ada pembantu di rumah, ya?” Kimy masih penasaran.
“Ha? E-iya, Sayang.”
“Hm. Jadi, Mas Ditya tinggal berdua aja sama pembantu Mas di rumah? Em, pembantu Mas masih muda? Apa dia cantik?”
“He em. Kenapa, Kim? Kamu cemburu sama dia? Ya masa' seorang Kimberly cemburu sama pembantu? Yang bener aja, Sayang. Kamu bahkan gak bisa dibandingin sama dia.”
“Ya kali aja dia beneran cantik. Kalo gitu, ntar bisa aja Mas tertarik sama dia. Namanya juga pria. Apalagi kalian tinggal berdua, satu rumah tiap hari.”
“Astaga, Kimy-Sayang. Kamu gak perlu mikir macem-macem gitu. Mas udah punya kamu yang sesempurna ini, ngapain juga mas masih lirik yang lain.”
“Hm, aku pegang omongan Mas, deh. Kapan-kapan ajak aku main ke rumah Mas, ya. Biar sekalian aku bisa kenalan sama pembantu Mas.”
Lagi-lagi, Aditya dibuat berkeringat dingin oleh permintaan Kimy.
“Em, iya ... lain kali mas ajak, ya. Mas lagi sibuk akhir-akhir ini,” kilah Aditya.
“Mas udah sering banget ke apartemen aku, tapi aku malah belum pernah tau sama sekali di mana rumah Mas.”
“Iya, Sayang. Nanti, ya.”
“Oke, Mas. Gapapa. Aku hanya penasaran aja, kok. Kalo buat aku, mau ketemu di mana pun juga gak masalah. Yang penting aku bisa sama Mas.”
Model cantik itu memang sudah telanjur menjatuhkan hatinya pada Aditya. Begitu pun Aditya yang sudah terjerat pesona kecantikan dan keramahan kekasihnya. Tak mungkin keduanya bisa saling lepas semudah itu.
Entah, sampai kapan Aditya mampu menutupi apa yang ingin ia tutupi. Kimy sejauh ini sama sekali tak curiga. Ia tak tahu saja, seorang pembantu yang mereka bahas tadi sejatinya hanya bagian dari alibi dan kebohongan CEO tampan itu. Yang ada bukan pembantu, melainkan wanita berstatus lain.
“Maaf, Kim. Bukan sekarang. Mungkin suatu saat, mas baru akan jujur sama kamu. Mas gak mau hal ini sampe ngerusak hubungan kita. Maafin mas, Sayang.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments