Kimy tetap diam seribu bahasa. Ekspresinya tak dapat dijelaskan. Tentu, Aditya kini makin bingung. Pria itu lantas berlutut di depan Kimy yang masih duduk di sofa. Sambil menggenggam tangan Kimy, Aditya kembali menuturkan maafnya.
“Sayang, plis jangan diem begini. Katakan sesuatu. Kamu beneran masih marah? Mas minta maaf, Kim. Oke, bilang aja, mas harus apa, biar kamu bisa maafin mas? Hm?”
Pikiran Aditya makin kacau sebab Kimy masih tak mau merespons. Gadis itu justru beranjak begitu saja dari sofa, menuju ke kamarnya, meninggalkan Aditya yang masih setia berlutut.
“Astaga. Susah banget, sih,” pikir Aditya.
Ia benar-benar khawatir kalau Kimy sampai tak bisa memaafkannya. Ia bahkan berpikir jauh lagi. Jika karena masalah seperti ini saja Kimy sudah bisa kesal sampai mendiamkannya begini, bagaimana nanti saat kedok Aditya terbongkar semua?
Aditya tak menyerah. Sang CEO yang sudah terpincut dan dimabuk asmara oleh Kimy kini menyusul gadisnya ke dalam kamar. Terlihat Kimy tengah berdiri di dekat jendela kamarnya yang cukup lebar, menatap pemandangan malam di luar.
Aditya mendekat tanpa ragu. Dirangkulnya tubuh Kimy dari belakang. Tangan Aditya kini melingkar di perut Kimy. Sambil sesekali menghirup aroma tubuh Kimy melalui lehernya, Aditya mendekatkan bibirnya ke telinga Kimy dan kembali membisikkan keinginannya. Pria ini hanya ingin Kimy lekas memaafkannya.
“Kim, forgive me. Mas tersiksa kalo kamu terus diemin mas kayak gini. Jujur, mas kangen banget sama kamu. Mas juga menyesal karena rencana kita batal. I love you, Kim. You're everything for me. Kalo kamu kesel sama mas, kamu boleh lakuin apa pun, asal jangan diemin mas begini, ya.”
“Lepasin, Mas!” Akhirnya, satu kalimat keluar dari mulut Kimy. Namun, itu bukan seperti yang Aditya harapkan.
“Kenapa, Sayang? Kamu gak mau maafin mas? Mas harus gimana?”
Kimy melepas paksa pelukan Aditya. Ia lantas duduk di ranjangnya, menjauh, seakan enggan menatap Aditya.
Dengan wajah frustrasinya, Aditya kembali mencoba. Kini mereka duduk berhadapan di ranjang Kimy. Kimy memandang wajah Aditya sekilas.
“Sayang, plis—
Belum sampai kalimat Aditya selesai, ia langsung dibuat makin heran dengan tawa cekikikan yang tiba-tiba Kimy lakukan.
“Ha-ha-ha, astaga ya ampun, Mas Ditya. Sumpah, aku gak tahan lihat ekspresi wajah Mas. Aduh, geli, deh. Ha-ha.”
Aditya masih belum bisa mencerna maksud Kimy. Ia justru bertanya-tanya dalam pikirnya sambil memasang muka linglung, apa kekasihnya sehat? Kimy kenapa?
“Mas... oke-oke. Maaf, yah.” Kimy mencoba menahan tawanya sembari kini mengelus wajah Aditya.
“Sayang, maksud kamu apa? A-apa kamu baik-baik aja?”
“Astaga. Memang Mas pikir aku kenapa? Kayak orang gila, ya? Ehe-he.”
“E bu-bukan gitu, tapi, Kim... kamu—
“Selamat Tuan Aditya, anda kena prank.”
“Hah?”
“Ya ampun. Aku tuh gak marah sama sekali sama Mas. Dari tadi, aku cuma pengin ngerjain Mas aja. Piss.”
“Ha? Gimana? Jadi, maksudnya—
“Mas Ditya, udah, Mas gak perlu minta maaf lagi. Siapa yang kesel sama Mas? Justru, lihat muka kacau Mas tadi yang berusaha minta maaf ke aku, bikin aku pengin ketawa, tau.”
“Oh God! Kamu beneran ngerjain mas? Mas pikir tuh kamu serius marah sama mas gara-gara liburan kita batal. Astaga, Kimy. Kamu tega, ya, bikin mas sefrustrasi ini.”
“Maaf, ya, Mas Ditya-Sayang. Lagian mana mungkin aku beneran marah? Apalagi tadi Mas dateng-dateng udah bawain aku bunga yang cantik dan boneka selucu itu. Tadi di telepon kan aku juga udah bilang gapapa, Mas. Ya, walau agak kesel sedikit karena tadi Mas putusin panggilan gitu aja, buru-buru banget sampe gak kasih kesempatan aku respons dulu. Padahal, aku masih pengin lebih lama ngobrol sama Mas.”
“Em, soal yang itu, maaf, yah. Tadi mas memang buru-buru karena klien mas yang minta mas segera kembali.”
“Iyah, aku ngerti, kok. Kan kubilang cuma kesel sedikit. Udah, ah. Gak usah ada maaf-maaf lagi. Intinya aku gak marah. Dan, soal aku prank Mas tadi, aku hanya bercanda. Jangan kesel, ya.” Kimy lantas memeluk erat tubuh kekar Aditya dalam posisi duduknya.
Beban berat serasa terangkat dari bahu sang CEO. Ia lega karena ternyata Kimy tak serius kesal padanya. Ia lantas membalas pelukan Kimy lebih erat seraya mengecup puncak kepala Kimy.
Beberapa saat kemudian, Kimy melepaskan pelukannya.
“Em, Mas, aku buatin kopi dulu buat Mas, ya,” tawar Kimy.
Aditya menahan tangan Kimy tetap dalam genggamannya.
“Gak perlu, Sayang. Tanpa kopi pun mas masih bisa begadang semaleman ini.”
“Ehh, maksudnya, Mas—
“Kim, kamu harus dihukum karena tadi udah ngerjain mas. Kali ini kamu gak bisa nolak mas. Mas gak akan lepasin kamu sedikitpun.”
“Hm, ih, Mas Ditya, kok, gitu? Aku kan—
Tanpa aba-aba, Aditya langsung menyosor bibir ranum Kimy. Dipagutnya dengan penuh gairah. Kimy yang tak bisa menolak pun ikut membalas ciuman Aditya, sehingga permainan bibir keduanya semakin liar. Mereka saling mencecap. Sesekali terdengar lenguhan keduanya.
Tentunya Aditya tak menginginkan hanya sebatas ini. Ciuman yang menggairahkan makin memancing nafsunya untuk lebih intim lagi dengan Kimy. Di tengah ciuman panas itu, Aditya mulai berusaha melucuti pakaian Kimy. Perlahan ia membuka kancing baju Kimy satu per satu sambil tak melepaskan tautan bibir mereka. Setelah sukses menanggalkan pakaian Kimy, Aditya membaringkan tubuh Kimy di ranjang. Pria itu melepas ciumannya sejenak, lantas beralih menurunkan rok Kimy, melepasnya dan membuangnya ke sembarang arah begitu saja.
Sambil menelusuri keindahan tubuh Kimy yang hanya tinggal tertutup bra dan celana dalam dari ujung ke ujung dengan mata sayunya, Aditya tersenyum lantas bergumam nakal.
“Mas pengin main banyak ronde sama kamu malem ini, Sayang.”
Setelah itu, Aditya mulai melucuti pakaiannya sendiri hingga tubuhnya tampak benar-benar polos tanpa penutup sehelai benang pun. Kimy memerah ketika pandangannya tak sengaja jatuh pada tubuh polos Aditya.
“Kenapa, Kim? Kamu menginginkannya, Sayang? Hm?”
“Mas...”
“Mari kita mulai sekarang, Sayang. Ayo kita bercinta sampe pagi,” gumam Aditya seraya mulai menindih tubuh Kimy di bawahnya dan melayangkan kecupan bertubi-tubi pada seluruh tubuh gadisnya. “Ini akan jadi malam yang panjang, Sayang. Hmm, you're so sexy, Baby.”
Aditya tak lagi bisa menahan diri, apalagi disuruh berhenti. Nafsunya sudah berada di puncak. Malam ini, sepertinya mereka akan bermain lebih panas dan liar dari sebelum-sebelumnya.
“Mas, tunggu. Aaahhh emmhh ah Mas.”
“Apa lagi, Sayang? Udah mas bilang, mas gak akan lepasin kamu malem ini.”
“Aku ... em, Mas, jangan lupa pake pengaman. Sshhh aahh.”
“Emmhh, ssshh ah asshh. Kenapa sekali-kali gak kita coba tanpa itu? Pasti lebih enak, Sayang. Kamu akan lebih puas. Ahh, gimana? Mau, kan?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments