Kimy menjadi kepikiran dengan kata-kata Ice. Ia memang belum sepenuhnya tahu segalanya tentang Aditya. Bahkan, hingga detik ini, Aditya tak pernah mengajaknya untuk sekadar berkunjung ke rumahnya. Bukankah itu adalah sebuah kejanggalan? Namun, melihat keseriusan sang CEO padanya selama ini, Kimy masih punya alasan untuk menampik kecurigaannya.
Tak bisa menunggu sampai Aditya pulang dari kantor. Kimy akhirnya menghubungi Aditya untuk mengajak makan siang bersama sekaligus ingin meminta kejelasan terkait potret yang ia dapatkan dari Ice. Diajak makan siang bersama oleh gadisnya, Aditya tentu tak dapat menolak.
Mereka bertemu langsung di lokasi tempat mereka akan makan. Sebuah restoran mewah bergaya oriental. Mereka sengaja reservasi untuk sebuah ruang VIP. Hanya ingin pertemuan mereka lebih privat.
Aditya lantas memeluk mesra kekasihnya ketika baru tiba. Tak dapat dimungkiri, Aditya selalu merindukan sang model tiap jam, tiap menit, bahkan tiap detik. Kimy masih menahan dirinya untuk memberondong segudang tanya pada sang CEO. Ia pikir akan membahasnya setelah selesai makan siang saja.
Tak berapa lama, makanan mereka pun tandas.
“Cukup lezat menu kita hari ini, ya. Tapi, jujur, mas lebih suka masakan kamu, Kim,” seru Aditya.
“Em, Mas lagi buru-buru, kah? Apa Mas harus segera balik ke kantor?”
“Kalo Kimy-nya mas pengin mas tetep nemenin kamu, mas juga gak akan balik ke kantor, kok. Gimana, Sayang?”
Nah, mulai terlihat lagi. Sikap Aditya yang selalu berusaha memprioritaskan gadisnya. Bagaimana mungkin pria seperti ini tega main belakang atau berdusta padanya? Kimy tak henti memikirkan kebingungannya.
“Mas... sebenernya aku pengin ngomongin sesuatu sama Mas.”
“Oke, bilang aja, Sayang. Ada apa?”
“Hm, tadi pagi sebelum Mas ke kantor, Mas pergi ke mana dulu? Em, maksudnya, apa ada tempat lain yang Mas kunjungi sebelum ke kantor?”
Aditya bingung dengan pertanyaan Kimy. Mengapa tiba-tiba Kimy menanyakan hal seperti itu? Atau jangan-jangan ....
“Em, seinget mas, gak ada, sih, Sayang. Emang kenapa?”
Kimy mulai tak yakin dengan kekasihnya. Jika memang itu bukan hal yang harus disembunyikan, mengapa Aditya mesti berbohong?
“Mas yakin?” tanya Kimy sekali lagi.
“I-iya. Kenapa, Kim?”
Kimy langsung menyodorkan ponselnya pada Aditya, menunjukkan sebuah potret yang ia dapatkan dari Ice tadi.
“Lalu, ini Mas, kan? Aku gak mungkin salah lihat, Mas. Jelas ini memang Mas Ditya.”
Aditya terbelalak. Dari mana Kimy mendapatkan potret dirinya bersama Naya di sekolah? Apa Kimy tadi juga ada di sana?
“Mampus. Kali ini lo beneran ketahuan, Dit!” gumam Aditya dalam hati.
“Mas, kenapa diem? Ini Mas, kan?” cecar Kimy lagi.
Aditya masih memikirkan alibi yang tepat untuk peristiwa dan potret itu. Ia masih belum siap jujur pada sang kekasih. Aditya tak ingin Kimy semakin menaruh curiga dan berpikir macam-macam tentangnya.
“E-ehh i-iya, ini mas. Mas lupa soal pergi ke sana. Tapi, kamu dapet foto ini dari mana, Sayang? Apa tadi pagi kamu juga ada di sana?”
“Aku dapet dari Ice. Ice tadi kebetulan lewat depan sekolah itu dan dia lihat Mas Ditya ada di sana. Mas gandeng anak kecil masuk ke dalem sekolah.”
Aditya meraih jemari tangan Kimy, mengusapnya, lalu menggenggamnya erat. Sebisa mungkin ia berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif dari benak Kimy.
“Kim, soal tempat itu, mas memang sering ke sana. Mas jadi salah satu donatur buat sekolah itu karena mas pikir potensi sekolah itu bagus. Nanti, kalo kita udah punya anak, mungkin kita bisa sekolahin dia di sana, ya, kan?”
“Oke, kalo begitu. Terus... gadis kecil itu siapa? Gak mungkin dia itu anak Mas, kan?”
“Kamu mikirnya apa, Sayang? Mas bohongin kamu gitu? Itu ... dia memang bukan putri mas. Jadi, waktu mas ke sana, mas kebetulan ketemu dia baru mau masuk. Dia itu putri salah satu klien mas, dan mas udah cukup kenal deket sama dia karena beberapa kali ketemu. Kebetulan dia mau masuk kelas dan mas juga mau masuk, makanya mas ajak bareng sekalian. Begitu aja, Sayang.”
“Jadi, itu anak klien Mas? Tapi, kenapa Mas bisa seakrab itu sama anak orang lain? Ice bilang, tadi kalian akrab banget, kayak ayah dan anak.”
“Astaga, Kim. Kalo mas gak kenal dia, mas juga mana mungkin bisa akrab? Udah mas bilang, kan, mas udah kenal cukup deket sama dia. Selain itu, mas juga suka sama anak kecil.”
Kimy masih mencerna penjelasan Aditya. Sementara itu, Aditya berpikir, bisakah Kimy mempercayai alasannya kali ini? Atau Kimy akan terus mencecarnya dengan pertanyaan lainnya? Aditya juga berpikir, sepertinya bukan hanya Kimy yang patut diwaspadai, tetapi juga Ice.
“Kim, masih berpikiran aneh-aneh soal mas?” tanya Aditya memastikan.
Perlahan Kimy menggeleng. Aditya langsung merengkuh Kimy dalam pelukannya.
“Maafin aku, Mas. Aku sempet curiga sama Mas.”
“It’s ok, Sayang. Potret itu memang mengundang kecurigaan. Mas paham, kok. Tapi, percayalah. Mana mungkin mas bohongin kamu atau berniat nyakitin kamu? Kamu sendiri ngerti, kan, sesayang apa mas sama kamu?”
Kimy mengangguk dalam pelukan Aditya.
“Ya udah, enough! Gak perlu dibahas lagi, ya. Lupain aja, Kim.”
Kimy kembali mengangguk. Sang CEO merasa lega, kali ini ia bisa lolos dengan alasannya. Kimy masih bisa percaya dengannya. Namun, sampai kapan terus begini? Berapa ribu alasan lagi yang mesti Aditya siapkan demi bertahannya hubungan mereka?
“Ya udah, Mas. Mas bisa balik ke kantor sekarang, kok.”
“Kamu mau langsung pulang, Sayang?”
“Em, gak, sih, Mas. Habis ini, aku mau mampir ke mall dulu buat belanja bulanan.”
“Hmm, okay. Kalo gitu, biar mas temenin kamu belanja, ya.”
“Mas, gak perlu, gak usah. Aku bisa sendiri, kok. Mas harus ke kantor lagi, kan? Aku gak mau Mas ninggalin kerjaan Mas cuma buat nemenin aku.”
“No problem, Sayang. Mas gak terlalu sibuk hari ini, kok. Mas bisa temenin kamu dulu, anter kamu pulang, baru deh, mas ke kantor lagi. Mobil kamu biar dianter ke apartemen sama orang mas. Kamu sama mas aja.”
Kimy tak bisa menolak tawaran Aditya lagi. Kali ini, ia pasrah membiarkan Aditya menemaninya belanja bulanan. Mereka pun menuju salah satu mall besar di dekat sana.
Kimy mulai mengecek daftar barang apa saja yang mesti ia beli, yang sudah ia susun rapi di note ponselnya. Aditya mendampingi Kimy ke sana kemari untuk mengambil barang. Baru kali ini seorang Aditya Pratama menemani seorang wanita belanja bulanan. Bahkan, ia tak pernah melakukan hal ini untuk Sasa—istrinya.
“Masih banyak, ya, Sayang?”
“Iya, Mas. Banyak yang harus aku beli. Em, kenapa? Mas bosen, ya, nemenin aku belanja?” canda Kimy sembari tersenyum.
“Eh, gak, kok, Kim. Di mana pun dan kapan pun, asal sama kamu, gak ada kata bosen di kamus mas.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments