Aditya sampai di rumahnya usai pulang dari kantor. Dari dalam terlihat seorang gadis kecil berlari menghampirinya sambil merentangkan tangan minta pelukan. Aditya menyambut gadis itu dengan penuh senyuman.
“Papa... yey Papa udah pulang,” seru gadis itu.
Aditya mendekap erat gadis itu penuh rasa sayang.
“Naya, pelan-pelan. Lain kali jangan lari-lari begitu, ya. Kalo jatuh nanti gimana? Kan, papa jadi sedih, dong.”
Inilah kenyataan yang selama ini Aditya sembunyikan dari kekasihnya. CEO tampan itu nyatanya bukan lagi seorang bujangan. Ia pria beristri dan beranak satu. Naya—dia putri kecil Aditya yang saat ini masih berusia 8 tahun.
Aditya amat menyayangi Naya. Bagaimanapun juga, gadis kecil itu adalah darah dagingnya. Ia belum mampu membongkar perihal keluarga kecilnya pada Kimy sebab ia tahu Kimy tak mungkin bisa mudah saja menerima ini.
Wanita lain pun muncul dari arah dapur.
“Naya, Sayang, biar Papa ganti baju dulu, ya. Papa dari luar. Habis ini kita makan sama-sama,” ujar wanita itu.
Dia Sasa—istri Aditya dan ibu dari Naya. Sasa seusia Aditya. Sebenarnya, Sasa bukanlah wanita yang memiliki banyak kekurangan. Ia cantik, ibu yang baik, bentuk tubuhnya pun cukup menarik—meski tak bisa dibandingkan dengan seksinya Kimy. Pernikahan Aditya dan Sasa yang sudah berjalan lebih dari 8 tahun, dari luar memang terlihat baik-baik saja. Namun, siapa yang tahu, antara Aditya dan Sasa tak pernah ada kata sejalan selain hanya untuk urusan Naya. Terbukti, bila memang Aditya mencintai Sasa, tak mungkin bisa ada seorang Kimy dalam hidupnya.
“Ganti baju dulu, Dit. Aku udah masak. Jarang-jarang kamu bisa makan malem di rumah. Naya pengin banget bisa makan bareng Papanya,” ucap Sasa di dekat Aditya.
“Hmm.” Hanya itu respons Aditya sebelum ia berlalu ke kamar untuk berganti baju.
Seusai makan malam, Aditya langsung pergi ke kamarnya. Begitupun Sasa yang menyusul ke kamar juga usai menidurkan Naya. Ya, mereka masih satu kamar bahkan satu ranjang. Namun, selama ini, tak pernah sekalipun Aditya dengan sengaja menyentuh Sasa atau terjadi hubungan suami-istri antara mereka. Terakhir kali mereka melakukannya sudah cukup lama, bahkan itu sebelum Naya lahir.
“Adit, akhir-akhir ini kamu jarang di rumah. Apa kamu harus sesibuk itu sama kerjaan kamu?”
“Urusan kerjaan aku memang penting. Lagi pula, sejak kapan kamu peduli aku di rumah atau gak, aku mau pulang atau gak?”
“Bukan soal aku. Ini lebih soal Naya. Dia selalu ngeluh ke aku karena kamu jarang di rumah. Dia cuma pengin punya banyak waktu sama Papanya.”
“Terlepas aku sibuk sama kerjaan pun, aku gak pernah lupa sama Naya. Aku tetep pulang, tetep nemuin dia. Asal kamu tau, Sa, aku pun sayang sama Naya. Dia putriku. Aku juga gak pernah mau lihat dia sedih.”
“Nyatanya kamu gak bisa kurangin kesibukan kamu demi Naya, Dit.”
“Soal Naya, kamu gak perlu atur aku gimana aku kasih waktu ke dia, gimana cara aku sayang ke dia. Aku papanya, aku pun paham gimana dia.”
Hal semacam ini sudah biasa terjadi ketika Aditya bersama Sasa. Tiada pertemuan tanpa keributan. Itu juga salah satu hal yang membuat Aditya malas di rumah kalau saja bukan demi Naya. Rumah tangga yang terasa hambar bahkan tak serasa rumah tangga. Bahkan memang sesungguhnya, komitmen di antara pasangan suami-istri itu hanyalah status hubungan demi putri mereka. Kepentingan mereka masing-masing hanya perihal seorang Naya.
Aditya tak ingin lagi memperpanjang perdebatannya dengan Sasa. Ia justru mengambil satu setelan di lemarinya dan lekas berganti pakaian lagi untuk keluar.
“Kamu mau ke mana lagi, Dit, semalem ini?”
“Kantor.”
“Lagi? Astaga, di jam segini?”
“Memang apa masalah kamu? Naya udah tidur, kan. Lebih baik aku di kantor daripada di sini.”
“Tapi, Dit—
Aditya tak menggubris Sasa lagi. Ia beranjak keluar dari rumah dan langsung mengemudikan mobilnya menuju suatu tempat.
Nyatanya bukan kantor—seperti katanya pada Sasa. Aditya pergi ke arah lain. Ia menuju ke tempat yang selalu jadi favoritnya, apartemen Kimy.
Aditya tiba di depan pintu apartemen Kimy. Begitu Kimy membukakan pintu dan mempersilakan Aditya masuk, di dalam, Aditya langsung mendekap erat kekasihnya.
“Hm, i miss you, Sayang,” ucap Aditya.
“I miss you too, Mas. Mas, kok, ke sini semalem ini?”
“Kenapa? Kamu gak suka kalo mas ke sini sekarang?”
“Bukan gitu. Aku kan cuma nanya. Kirain ada hal yang penting gitu, kan?”
“Satu-satunya yang penting itu adalah karena mas kangen kamu.” Aditya melayangkan satu ciuman di pipi Kimy.
Mereka melanjutkan obrolan di sofa.
“Em, aku buatin minum dulu buat Mas, ya. Mau kopi atau teh?”
“Kopi.”
“Oke, wait, aku buatin dulu, ya.”
Kimy mulai meracik kopi andalannya. Kopi yang jadi favorit Aditya sejak kali pertama ia mencobanya. Setelah secangkir kopi siap, gadis itu kembali ke sofa dan menyajikan kopi sempurnanya pada pria yang telah menunggunya.
“Makasih, Sayang.”
Tanpa perlu Aditya berkomentar lagi, Kimy sudah tahu kalau pria itu amat menikmati kopinya.
Sementara Aditya menyeruput kopinya, Kimy melanjutkan aktivitas menonton televisinya sembari menikmati stoples camilan keripik kentang.
“Mas pikir tadi kamu udah tidur, Kim. Ternyata belum.”
“Iya, belum, Mas. Dari tadi aku masih nonton tv aja, belum ngantuk.”
“Memang kamu gak capek habis pemotretan seharian, hm?” tanya Aditya sembari memainkan rambut Kimy yang tergerai.
“Em, gak begitu capek, kok, Mas. Tadi aku pemotretan juga gak begitu lama. Gak sampe sore aku juga udah pulang. Harusnya aku yang bilang gitu ke Mas. Mas seharian dari kantor bukannya langsung istirahat di rumah, eh, malah ke sini.”
“Mas lebih nyaman di sini sama kamu.”
“Kalo Mas sering-sering ke sini, terus rumah Mas buat apa? Mau Mas hadiahin ke pembantu Mas gitu?”
“Ya gak begitu juga, Sayang. Mas kan gak tiap hari bisa nginep di sini. Atau kamu mau mas tinggal sama kamu aja terus di sini? Gimana?”
“Em, gak deh, Mas. Ntar apa kata orang?”
“Apa pentingnya peduli kata orang, sih? Ini hidup kita. Ini tentang kita, Kim. Ngapain juga ngurusin pendapat orang?”
“Aku ngizinin Mas nginep di sini sesekali aja. Setelah aku bener-bener jadi istri Mas nanti, baru deh kita bisa tinggal berdua tiap hari.”
“Jadi, mau kapan?”
“Ha? Apanya?”
“Jadi istri mas.”
“Astaga, nikah itu juga butuh banyak persiapan, kan. Aku gak seburu-buru itu, Mas. Bahkan hubungan kita baru jalan sebulanan. Aku masih pengin kenal Mas lebih dalem lagi sebelum ke jenjang itu. Aku gak mau asal ambil langkah, Mas. Karena aku mau pernikahan aku hanya sekali buat seumur hidup. Mas juga pasti maunya gitu, kan?”
“I-iya. Mas mau kamu jadi yang terakhir buat mas.”
“Pertama dan terakhir, dong. Ya, kan? Ini kan juga akan jadi pernikahan pertama buat Mas.”
“Hm, iya, Sayang.”
Kenyataannya memang bukan lagi yang pertama bagi Aditya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments