Aditya menyandarkan kepala Kimy pada dadanya. Dielusnya rambut Kimy dengan mesra. Kimy yang masih asyik menonton serial televisi sama sekali tak merasa terganggu dengan tingkah Aditya.
“Hmm, jadi, kamu mau tidur jam berapa, Sayang? Ini udah malem. Atau, kalo memang kamu gak begitu capek dan belum ngantuk ....” Aditya lebih mendekat ke telinga Kimy sebelum melanjutkan kalimatnya, ia pun berbisik di dekat telinga kekasihnya. “Kita bisa bercinta dulu sebentar, kan?”
Mendengar itu, Kimy langsung melonjak kaget. Ia kembali pada posisi duduknya semula, agak menjauh dari Aditya.
“Mas, ih.”
Aditya meraih pipi Kimy dan mengusapnya lembut dengan jemarinya.
“Loh, kenapa, Kim? Mas kangen, pengin bercinta lagi sama kamu. Apa kamu gak kangen bercinta sama mas? Hm?”
“Em, aku jadi ngantuk deh, Mas. Mending aku tidur sekarang. Terserah Mas mau tidur di mana, ya.” Kimy berucap seraya beranjak dari sofa hendak menjauhi Aditya, tetapi dengan sigapnya, tangan Aditya menarik tangan Kimy hingga Kimy kembali terduduk di sofa bahkan lebih dekat dengan Aditya.
“Hey, kenapa tiba-tiba gitu ngantuknya? Gak mungkin, ah. Kamu pasti cuma sengaja mau hindarin mas, kan?”
Kimy menggeleng. “Gak, Mas. Emang beneran ngantuk, kok.” Sambil menampakkan ekspresi sok mengantuk.
“No. Kali ini, kamu gak bisa nolak mas, Kim. Ayolah, Sayang. Kita ke kamar, ya.”
Dengan kekuatannya, Aditya menggendong Kimy menuju ke kamar apartemen Kimy.
“Mas Ditya—
“Husssttt! Tenanglah, Cantik.”
Aditya membaringkan tubuh Kimy di ranjang. Tanpa basa-basi lagi, bibir Aditya langsung beraksi melakukan ciuman penuh hasrat pada bibir Kimy. Gadis di bawah kungkungan tubuh Aditya pun terlihat tak bisa menolak.
Ciuman sang CEO makin lama makin menuntut. Bibir Aditya berpindah menelusuri tiap jengkal leher Kimy, mengecupnya tanpa henti. Sepertinya pria itu benar-benar bernafsu malam ini.
Kecupan demi kecupan Aditya sukses memancing desahan merdu keluar dari mulut Kimy. Desahan Kimy membuat Aditya makin menggila.
“Sayang, mas sangat menginginkan kamu malam ini. Nikmatilah malam indah kita, Sayang.”
Ciuman Aditya kembali berpindah ke bibir sensual Kimy. Aditya sembari melucuti pakaiannya, dari jas hingga kemeja yang ia kenakan. Pria itu hanya tinggal memakai celananya.
Memberikan kesempatan pada Kimy untuk menetralkan napasnya, Aditya melepaskan bibirnya dari bibir Kimy. Pria itu menatap gadis di bawahnya sambil sesekali mengecup bagian wajah Kimy yang lain, dari pipi hingga kening. Tangannya mengusap kepala Kimy dengan lembut.
“Gimana mungkin mas bisa melewatkan tubuh kamu yang seindah ini, Kimy? Kamu sangat indah. Makin hari mas makin tergila-gila. Kamu selalu buat mas bergairah.”
...
“Ayo kita jadi satu malam ini, Kim. Mas akan buat kamu lebih puas.”
“Gak. Jangan sekarang.” Kimy tetap berusaha bertahan dari godaan Aditya meski tak bisa dipungkiri ia mulai menginginkannya juga.
“Kenapa? Hey, ayolah.”
Kimy menggeleng cepat.
Malam ini terasa lebih panas dari malam-malam mereka sebelumnya.
Sambil memeluk Kimy erat, Aditya berbisik mesra di telinga Kimy.
“I love you, Kimy. I love you more. Mas sangat mencintai kamu, Sayang. Kamu hanya milik mas.”
“Love you too, Mas.”
Ketika hari semakin larut, keduanya sedikit memberi jeda untuk keintiman mereka. Kimy masih berada dalam dekapan Aditya sambil masih menetralkan napasnya.
Aditya mengecup puncak kepala Kimy. “Maaf kalo tadi mas terlalu agresif. Kamu begitu menggoda, Sayang.”
“Emhh, aku lelah, Mas.”
“Tidurlah. Makasih buat malam yang indah dan amat nikmat ini, Sayangku.”
Keduanya berusaha memejamkan mata di bawah satu selimut yang sama.
Malam yang panas penuh nafsu, kini berubah menjadi malam hangat yang tenang. Keduanya terlelap usai menikmati permainan mereka.
Baru sekitar satu jam mereka tertidur, Kimy terbangun karena mendengar ponsel Aditya yang bergetar. Masih setengah mengantuk, Kimy hampir meraih ponsel Aditya di atas nakas.
“Em, siapa yang telepon Mas Ditya selarut ini, ya?” gumam Kimy sendiri.
Namun, belum sampai gadis itu bisa meraih ponsel tersebut, pergerakannya membangunkan pria yang masih mendekapnya di ranjang yang sama.
“Emmh, kenapa kamu bangun, Sayang? Ini belum pagi, kan?” Aditya memeluk Kimy lebih erat.
“Mas, itu ponsel Mas. Kenapa ada yang telepon Mas selarut ini?”
Aditya tersentak. Ia beranjak bangun dan melihat ponselnya. Tertera nama Sasa di layar ponselnya. Ia tak mau kalau sampai Kimy melihatnya juga. Ia pun menggerutu dalam hati, mengapa wanita yang berstatus istrinya itu mesti menelepon dan mengganggunya malam-malam begini.
Langsung saja Aditya mereject panggilan Sasa lantas mematikan ponselnya agar wanita itu tak bisa menghubunginya lagi.
“Mas, loh, kok, direject? Kenapa malah dimatiin ponselnya? Emang siapa yang telepon? Harusnya Mas angkat dulu, siapa tau penting, kan?” gumam Kimy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
shin injung
ga se hot judulnya
2024-04-30
1