“Kenapa Mas harus takut? Mana mungkin aku bisa ninggalin Mas? Aku sayang sama Mas,” sahut Kimy.
Aditya mendekatkan wajahnya pada wajah Kimy. Keduanya bertatapan intens. Aditya menempelkan dahinya pada dahi Kimy. Mereka bisa merasakan deru napas satu sama lain. Sembari tetap merangkul pinggul Kimy, Aditya mulai bicara.
“Mungkin ... kalo suatu saat mas buat kamu kecewa, bisa aja kamu benci sama mas dan mutusin buat ninggalin mas.”
“Itu gak mungkin, lah. Aku tau, Mas Ditya gak akan pernah bikin aku kecewa.”
“Manusia bisa berbuat kesalahan, kan? Kita gak akan tau gimana dan apa yang akan terjadi ke depannya, Kim.”
“Oke. Tapi, aku tetep yakin, kita gak akan terpisah. Rasanya sulit kalo bayangin aku mesti ninggalin Mas, karena aku udah telanjur cinta sama Mas. Aku mau kita bisa selamanya sama-sama.”
Aditya mengecup kening Kimy lembut dan membawa kepala Kimy dalam dekapan dadanya. Sembari memeluk Kimy erat, Aditya berkaca-kaca memikirkan penuturan kekasihnya barusan. Kimy begitu mencintainya, sama halnya seperti Aditya yang memuja Kimy. Bahkan, Kimy amat percaya dan yakin kalau kekasihnya takkan pernah membuatnya kecewa. Aditya tak sanggup membayangkan, bagaimana jadinya jika Kimy tahu soal Sasa dan Naya.
“Mas.”
“Hm, tidurlah, Sayang. Kamu lelah, kan?”
“Mas nginep di sini lagi?”
“Tentu. Ini udah terlalu larut. Nanggung juga kalo mas pulang, kan?”
“Hmm, oke.”
“Why? Kamu gak mau bobok bareng mas?”
“Siapa bilang gak mau, Mas? Aku seneng kalo Mas bisa nemenin aku di sini. Mas itu baik banget. Aku tau seorang Tuan Aditya Pratama pasti sibuknya bukan main. Tapi, Mas masih bisa luangin waktu buat nemenin aku setiap saat.”
“Itu juga karena mas sering kangen sama kamu, Kim. Mas gak bisa lama jauh-jauh dari kamu. Em, Sayang, mas ada ide, sih, gimana kalo weekend nanti kita jalan-jalan berdua atau staycation di mana gitu? Terserah kamu mau ke mana, deh. Buat mas, yang terpenting kita punya quality time.”
“Maksudnya, Mas mau nemenin aku seharian? Kita sama-sama seharian?”
“Right. What do you think?”
“Boleh, Mas. Aku mau banget, dong. Oke, weekend nanti aku gak akan ambil job pemotretan.”
“Nice. Deal, ya, Sayang. Weekend ini. Thank you.”
“Oke, Mas Ditya.”
Setelah perbincangan mereka tentang rencana liburan akhir pekan ini, dalam waktu singkat, Kimy langsung tertidur pulas. Aditya yang belum bisa memejamkan mata masih terus mengusap punggung Kimy sambil sesekali menciumi bahu hingga kepalanya.
***
Saat malam menjelang weekend, Aditya berada di rumah. Namun, seperti biasa, ia hanya terus menyibukkan diri di ruang kerjanya. Pikirnya, itu lebih baik daripada ia harus di kamar, satu ruangan dengan Sasa—istrinya. Yang ada mereka selalu bersitegang. Aditya merasa sama sekali tak nyaman, malah justru terus menghabiskan tenaga dan buang-buang waktu ketika berhadapan dengan Sasa.
Tiba-tiba, Naya—putri kecil Aditya menerobos masuk ruang kerja ayahnya tanpa mengetuk pintu lebih dahulu.
“Papa... Papa masih kerja, ya?” ucapnya polos.
“Eh, Princess-nya papa, kok, ke sini? Gak bobok? Naya gak ngantuk?”
Naya menggeleng.
“Papa masih lama kerjanya?”
“Hm, lumayan. Memangnya kenapa, Cantik?”
“Uhm, aku mau bilang sesuatu.”
Aditya meraih Naya dan mendudukkan putri cantiknya di atas pangkuannya.
“Oke, mau bilang apa? Naya mau apa?”
“Besok kan hari libur, Papa libur, kan?”
“Terus?”
“Aku pengin kita liburan. Mau jalan-jalan, Pa.”
“Em, maksudnya Naya mau jalan-jalan sama papa?”
Naya mengangguk.
“Memang Naya pengin ke mana?”
“Ke mana aja, yang penting jalan-jalan.”
Mendengar ajakan putrinya, Aditya dilema. Pasalnya, sang CEO sebelumnya sudah berjanji, akhir pekan ini akan menghabiskan waktu berduaan saja, jalan-jalan dengan Kimy. Kini, bagaimana ia bisa memilih antara kekasih dan putrinya?
“Papa? Gimana? Papa mau, kan?”
“Eh, em... kalo besok papa ada kerjaan gimana? Naya mau pergi lain kali aja?”
“Gak mau. Pokoknya besok. Masa' hari libur Papa masih kerja? Aku aja libur.”
“Em, Sayang, tapi papa—
“Pokoknya besok, Pa. Ya udah, kalo Papa gak mau, aku ngambek aja. Nanti aku bilang sama mama kalo aku gak mau makan.”
“Hey, kok, gitu? Jangan, dong. Kalo Naya ngambek, nanti papa sedih. Terus, kalo Naya gak makan, nanti Naya sakit gimana?”
“Makanya, Papa mau ajak aku jalan-jalan, ya!”
“Emm, Naya mau pergi berdua sama papa?”
“Kok berdua? Sama mama juga, Pa. Masa' mama ditinggal?”
“Hmm, iya-iya oke baiklah. Kita jalan-jalan besok, ya. Tapi janji, anak papa gak boleh ngambek, gak boleh mogok makan, yah!”
“Oke, Papa. Aku mau kasih tau mama dulu.”
“Habis itu langsung bobok, ya, Nay. Biar besok gak kesiangan.”
Naya berlari keluar dengan senang hendak menemui Sasa. Sementara kini Aditya benar-benar bingung. Bila ia besok harus pergi menemani putrinya jalan-jalan, lalu bagaimana dengan Kimy?
“Oh God! Gimana cara aku kasih tau ke Kim kalo besok aku gak bisa penuhin janji? Pasti Kim kecewa. Aku sendiri yang ajak dia, tapi aku juga yang harus batalin rencana tiba-tiba. Maafin mas, Sayang. Mas harap kamu gak kesel sama mas,” batin Aditya.
***
Esok harinya, Kimy jadi gelisah. Aditya tak kunjung datang menemuinya. Bahkan, sudah berkali-kali Kimy mencoba menghubungi Aditya, tetapi tak pernah ada respons.
“Mas Ditya ke mana, ya? Apa dia lupa sama janjinya hari ini? Atau, jangan-jangan terjadi sesuatu yang buruk sama dia? Ah, gak, Kim, gak boleh mikir yang aneh-aneh. Em, Mas ... angkatlah. Seenggaknya kasih aku kabar. Jangan bikin kepikiran kayak gini,” gerutu Kimy.
Aditya masih harus fokus dengan keluarganya, dengan istri dan putri kecilnya. Sesuai permintaan Naya, keluarga kecil itu hari ini berlibur bersama, menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama. Mereka sudah memulai aktivitas liburannya sejak pagi. Itu sebabnya, Aditya bahkan belum sempat mengabari Kimy. Sebenarnya, ia pun masih bimbang, alasan apa yang bisa ia kilahkan pada Kimy agar kekasih kesayangannya tak terlalu kecewa.
Rencananya, Naya dan kedua orang tuanya hari ini akan melakukan banyak hal dan mengunjungi beberapa tempat. Dari mulai makan bersama, berbelanja, keliling kota, sampai menonton film kesukaan Naya.
Menjelang siang hari, mereka bertiga berhenti di sebuah kafe es krim karena Naya sangat menyukai es krim. Di sela-sela kebersamaan mereka, Aditya mencuri waktu dan kesempatan untuk menelepon Kimy. Ia sudah tahu, banyak panggilan tak terjawab di ponselnya dari sang kekasih. Ini bahkan sudah terlalu lama, harusnya Aditya sudah mengabarkan batalnya rencana jalan mereka pada Kimy sejak pagi. Sehingga, ia tak mesti membuat Kimy segelisah itu. Aditya agak menjauh dari Sasa dan Naya sementara mereka masih menanti es krimnya datang.
Aditya menelepon Kimy dari luar kafe.
“Halo, Sayang?”
“Astaga! Mas ke mana aja, sih? Dari tadi aku teleponin Mas, Mas gak jawab. Aku tuh cemas, Mas. Takut Mas ada apa-apa. Mas juga belum ke sini sampe sekarang. Padahal udah siang banget.”
“Sayang, maaf, ya. Mas baru bisa pegang ponsel sekarang. Em, mas ... mas minta maaf juga, rencana jalan-jalan q-time kita hari ini harus terpaksa batal dulu, Sayang, ya. Maaf banget. Mas ada ... ada kerjaan mendadak, harus ketemu klien penting.”
Entah bagaimana reaksi dan tanggapan Kimy setelah ini. Aditya hanya berharap Kimy bisa memaklumi kebohongannya kali ini, bisa mengerti dirinya tanpa rasa kesal. Walau Aditya pun sudah tahu dengan jelas, rasa kecewa yang dirasakan Kimy pasti ada meski sedikit. Aditya tak ingin karena ini hubungan mereka jadi renggang. Sang CEO masih waswas menanti respons Kimy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments