“Hm, iya, deh, Mas. Aku mah percaya aja.”
“Loh, mas serius, Sayang.”
“Iya, oke. Em, Mas gak mau beli sesuatu juga? Belanja apa gitu?”
“Em, apa, ya? Kayaknya gak ada, deh.”
“Iya, sih. Mas Ditya pasti gak pernah belanja sendiri, kan, ya. Keperluan rumah pasti diurus sama pembantu Mas. Jadi, dia yang selalu pergi belanja.”
“E i-iya. Tapi, Kim, lagi pula mas juga gak sering ada di rumah, jadi gak terlalu butuh banyak keperluan.”
Troli Kimy sudah penuh dengan barang belanjaan. Berbagai macam keperluan untuknya di apartemen selama sebulan dibelinya selengkap mungkin. Aditya sama sekali tak terlihat bosan menemani Kimy berbelanja. Apalagi sembari mengambil barang-barang, mereka juga asyik berbincang. Terkadang, Aditya juga membantu Kimy mengambilkan barang yang letaknya terlalu tinggi. Ya, walau Kimy adalah seorang supermodel yang tingginya proporsional seperti model-model pada umumnya, tetap saja postur tubuh Aditya lebih tinggi beberapa centi darinya.
Kimy kini menuju ke etalase yang dipenuhi dengan beragam snack. Langsung saja ia ambil beberapa snack favoritnya lantas ia masukkan ke dalam trolinya. Melihatnya, Aditya sempat terheran. Pria itu tak menyangka bahwa seorang model cantik seperti Kimy membeli camilan sebanyak itu.
“Sayang, itu kamu yakin sebanyak itu?”
“Ya. Why, Mas? Apa ada yang salah? Ini tuh buat persediaan sebulan, gak mungkin juga dalam sehari aku mampu habisin.”
“Iya, mas paham. Cuma, mas gak nyangka aja ternyata seorang model seperti kamu suka ngemil juga.”
“Lah, kenapa, Mas? Memang kalo model, terus gak boleh ngemil, gitu?”
“Ya biasanya kan model-model gitu lebih pilih buat jaga badan, diet lah, semacam itu.”
“Eits, jangan salah. Aku juga masih jaga badan, kok, Mas. Tapi, ya, gak sampe diet-diet yang ketat gitu. Aku diet buat sehat, bukan buat kurus. Jadi, ngemil-ngemil gini masih gak masalah lah buat aku. Kan enak buat temen nonton atau baca di apartemen kalo lagi suntuk.”
“Hm, okelah.”
“Em, btw, memang menurut Mas, badan aku gak proporsional sebagai model, ya?”
“Ha? Oh God! Astaga, Kim. Kamu yang seseksi ini masih kudu mas bilang kurang proporsional? Yang bener aja, Sayang? Itu terkecuali kalo mata mas udah gak normal lagi.”
“Hehe, okey.”
Setelah dirasa Kimy semua keperluannya sudah masuk troli, ia pergi ke kasir ditemani Aditya. Begitu sang kasir selesai menghitung semua belanjaan Kimy dan menyebut totalannya, dengan sigap Aditya langsung menyodorkan credit card-nya pada kasir. Kali ini, sang CEO ingin membayar semua belanjaan Kimy. Tatapan Kimy kini menyiratkan tak terima. Gadis itu masih bisa membayar belanjaannya sendiri. Ia tak ingin Aditya menghabiskan terlalu banyak uang untuknya. Ia pun tak mau dikira perempuan materialistis dan terkesan hanya mau memoroti harta sang kekasih yang notabene CEO mapan dari salah satu perusahaan besar.
Begitu mereka agak jauh dari kasir, Kimy mulai melayangkan protesnya.
“Mas...”
“Ya. Ada apa, Sayang?”
“Ngapain tadi Mas bayarin belanjaan bulanan aku? Itu gak sedikit juga, Mas. Aku masih bisa bayar sendiri. Kalo gitu, nanti aku transfer gantinya ke Mas aja, ya. Sini nomor rekening Mas.”
“Kim, hey, memang mas gak boleh, ya, belanjain kamu? Mas kan bukan orang lain. Kecuali memang kamu masih anggep mas ini orang asing.”
“Bukan gitu juga, Mas. Aku tuh hanya gak—
“Huussst! Oke, cukup, ya. Sekali-kali gapapa, kan? Lagi pula itu gak seberapa. Come on! Plis, gak usah dipikirin lagi, gak perlu dibahas lagi. Hitung-hitung, mas sambil belajar sebelum nafkahin kamu nanti kalo kita udah menikah. Ya, kan?”
“Ya ampun, Mas!”
“Udah, em, sekarang biar mas minta belanjaan kamu ditaruh di bagasi mobil dulu. Habis itu kamu ikut mas ke sisi mall yang lain.”
“Eh, tadi Mas bilang gak pengin beli sesuatu? Aku juga udah selesai belanja, kok, Mas. Kita bisa pulang sekarang. Apa lagi?”
“Wait, bentar aja, Sayang. Ayo!”
Aditya mengajak Kimy ke sisi mall yang lain. Tepatnya di tempat etalase perhiasan. Tentunya, Kimy kembali tak terima. Mau apa lagi Aditya ini?
“Mas Ditya, ngapain ke sini?”
“Yang jelas bukan mau tidur, Sayang.”
“Mas, serius dikit, ih!”
“Oke-oke, Cantik. Sekarang kamu coba lihat-lihat dulu aja, terus kasih tau mas, mana yang kamu suka.”
“Mas, apa lagi, sih? Udah aku bilang, kan—
“Ssstt! Ayolah. Anggep aja ini hadiah dari mas, Kim.”
“Mas udah sering kasih aku hadiah.”
“Hey. Kamu ini, udah ah, mas gak mau kamu protes sekarang. Pilih aja. Em, atau mau mas yang pilihin aja, nih?”
“Mas—
“Oke, wait. Biar mas lihat dulu. Em, kamu lebih suka apa? Kalung, gelang, anting, atau cincin?” ucap Aditya sambil menelusuri beberapa perhiasan di hadapannya dengan matanya.
Karena Kimy tak juga memberi respons, Aditya menentukan pilihannya sendiri. Pria itu menjatuhkan pilihannya pada sebuah gelang emas putih yang elegan dan agak tipis. Ia mengambilnya dan langsung memakaikannya pada pergelangan tangan Kimy.
“Coba, sini, Sayang. Tuh, lihat, deh. Cantik kalo kamu pake. Bagus, kan? Gimana menurut kamu?”
“Mas Ditya....”
“Kamu gak suka?”
“Ini bagus, Mas. Gelangnya cantik. Tapi, aku gak perlu ini. Ini—
“Oke. Berarti kamu suka. Fix, ya. Mas ambil yang ini aja.”
Aditya menyerahkan gelang itu untuk dikemas. Setelah ia selesai membayarnya, ia memberikannya pada Kimy. Kimy masih terlihat ragu-ragu menerimanya.
“Aku gak suka kalo Mas habisin banyak uang buat aku.”
“Kimy-ku Sayang, no problem. Mas boleh kan nyenengin kamu dan manjain kamu? Kamu segalanya buat mas. Jangan pernah tolak hadiah dari mas, ya. Nanti gelangnya harus dipake. Bagus tau di tangan kamu.”
Aditya masih mengusap-usap lembut kepala Kimy sampai pandangannya tertuju ke sesuatu yang membuatnya kembali berkeringat dingin dan waswas. Tepat di depan matanya, ia melihat Sasa bersama Naya ada di mall yang sama dan jarak mereka hampir begitu dekat. Bagaimana jika CEO itu kepergok sedang belanja bersama kekasihnya? Bisa-bisa semuanya runyam. Terlebih kalau Kimy sampai tahu siapa Sasa dan Naya.
Tak ada yang terpikirkan di benak Aditya selain ingin segera menjauh dari tempat itu.
“Eh, em, Sayang, mas tinggal ke toilet sebentar, ya. Kamu tunggu di sini dulu. Gak lama, kok. Bentar, ya.” Aditya pamit ke toilet sembari mengecup pipi Kimy.
“Oh, okey, Mas.”
Aditya berlalu dengan terburu-buru agar tak sampai bertemu pandang dengan anak dan istrinya. Pikir Kimy, mungkin Aditya sudah sangat tak tahan ingin ke kamar kecil sampai terburu-buru seperti itu.
Menunggu Aditya yang entah benar ke toilet atau tengah bersembunyi di sisi lain mall, Kimy berjalan-jalan kecil sembari memperhatikan baju-baju yang dipajang di sekitarnya. Seketika, pandangan Kimy pun jatuh pada sosok gadis kecil yang pernah dilihatnya. Ya, Kimy melihat Naya di sana.
“Eh, anak itu ... itu bukannya putri kliennya Mas Ditya, ya? Iya, bener. Dia yang waktu itu digandeng Mas Ditya di sekolah,” gumam Kimy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments