“Mas, weekend pun juga masih harus kerja, ya?”
“Iya, Sayang. Ini pun dadakan. Mas juga gak bisa nolak ini. Mas harus ketemu klien penting. Maafin mas, ya. Mas bahkan baru kabarin kamu sekarang.”
“Em, gapapa, kok, Mas. Aku paham, kerjaan Mas juga penting. Mas yang semangat kerjanya, ya.”
“Kim, mas tau kali ini mas udah buat kamu kecewa. Mas sendiri yang ajakin kamu liburan, malah mas juga yang batalin tiba-tiba. Mas bener-bener minta maaf, Sayang.”
“Aduh, Mas. Mas Ditya mau berapa kali lagi minta maafnya? Gapapa, Mas. Aku bisa ngerti. Gak masalah, kok. Ya, walaupun agak sedih, sih, karena gak jadi punya quality time sama Mas. But, it's ok.”
“Mas takut kamu kesel dan marah sama mas, terus kamu jauhin mas. Mas gak bisa kehilangan kamu, Kim.”
“Cuma kesel sedikit. Eh, he-he, gak, kok, Mas. Bercanda. Udah, deh, Mas gak perlu terlalu mikirin ini. Mending fokus dulu sama pertemuan penting Mas, ya.”
“Makasih udah mau ngertiin mas, Sayang. Kekasih mas ini memang gak ada duanya. Mas makin sayang sama kamu.”
Sedang asyik bicara dengan Kimy, Aditya dikejutkan oleh suara Naya yang tiba-tiba memanggilnya dari belakang.
“Papa, ayo masuk!”
Aditya langsung berkeringat dingin. Pasalnya, Kimy pun bisa mendengar suara Naya dari telepon.
“Mas, itu suara siapa? Em, memang pertemuan Mas di mana?”
Aditya berusaha berkilah sebisa mungkin.
“Hah? Em, itu ... itu anak klien mas. Jadi, klien mas minta pertemuannya di kafe es krim, karena sekalian mau ajak anaknya makan es krim.”
“O gitu. Hm, klien Mas sepertinya ayah yang baik. Walau harus urus kerjaan, disempetin juga buat nyenengin putrinya. Apalagi ini weekend. Mungkin itu putrinya kesel juga karena papanya masih harus kerja di hari libur, makanya minta ngikut, deh. Lucu juga, ya, Mas. Mas harus banyak belajar dari klien Mas itu.”
“Belajar? Maksudnya, buat nyenengin anak kita nanti, gitu?”
“E eh, em—
“Iyain aja, Sayang.”
Kali ini, ada yang lebih mengejutkan lagi. Sasa juga ikut berjalan ke arah Aditya dan memanggilnya dari kejauhan.
“Dit, kamu gak denger Naya manggil?”
Sebelum memicu pertanyaan lebih jauh, Aditya buru-buru mengakhiri panggilan teleponnya dengan Kimy.
“Em, Mas—
“Eh, Sayang, udahan dulu, ya. Nanti, setelah urusan mas selesai, mas kabarin kamu lagi. Nanti mas ke tempat kamu. Daa, Kim. Love you.”
Aditya langsung memutus panggilan bahkan tak menunggu sampai Kimy sempat merespons kalimat terakhirnya tadi. Di seberang sana, Kimy selalu berusaha berpikir positif. Mungkin Aditya memang benar-benar sedang sibuk bekerja. Lagi pula sang CEO sudah berjanji akan menemuinya nanti seusai bekerja.
Kini, Aditya berhadapan dengan Sasa.
“Naya manggil kamu dari tadi, Dit.”
“Iya. Aku juga denger. Telingaku masih berfungsi normal.”
“Seenggaknya respons dia dulu sebentar, malah tetep sibuk teleponan. Kamu telepon sama siapa, sih?”
“Aku pun perlu kasih tau kamu juga? Ha? Itu urusan kerjaan.”
“Ini weekend, Dit. Luangin waktu kamu buat Naya. Bisa kan fokus ke dia dulu?”
“Kamu gak perlu—
“Ma, Pa, ayo ke dalem. Nanti es krimnya meleleh,” tukas Naya menginterupsi.
Perdebatan sepasang suami-istri itu seketika terhenti. Mereka menggandeng putrinya masuk ke kafe, kembali ke meja mereka dan menikmati quality time mereka.
Putri kecil Aditya benar-benar senang hari ini bisa menghabiskan waktunya berjalan-jalan dengan mama-papanya. Potret keluarga kecil bahagia yang terlihat dari luar pandangan mata khalayak sekitar. Canda tawa bersahutan. Aditya bahkan seperti melupakan begitu saja ketegangannya dengan Sasa. Ini semua hanya demi senyum ceria sang putri.
Mereka pergi ke mall, berbelanja baju dan banyak mainan untuk Naya. Bahkan, mereka sempat menikmati arena permainan. Aditya tak ragu menemani Naya mencoba semua permainan di sana sampai Naya puas.
Aditya dan Sasa pun lanjut dengan menemani Naya menonton film favoritnya di bioskop. Hampir seharian mereka menghabiskan waktu di luar rumah. Mereka kembali pulang begitu hari sudah gelap. Aditya dan Sasa pun tak ingin Naya juga sampai terlalu lelah.
Ketika sampai di rumah, Naya mengungkapkan kebahagiaannya.
“Naya seneng?” tanya Aditya.
Gadis kecil itu mengangguk cepat sambil tersenyum lebar. “Seneng banget. Makasih, Papa. Udah mau jalan-jalan sama aku hari ini.”
“Hm, makasihnya sama Papa doang? Terus sama mama?” sergah Sasa.
“Iya... makasih juga, Ma. Aku selalu seneng kalo kita bisa pergi bareng-bareng bertiga.”
“Oke, sekarang Tuan Putri-nya papa harus ke kamar, ya. Cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, minum susu, terus bobok. Pasti capek, kan, jalan-jalan seharian? Naya harus istirahat sekarang,” seru Aditya lalu memberikan sebuah kecupan di dahi sang putri.
“Oke, Papa. Good night!”
“Good night, Sayang.”
Naya berlari ke kamarnya. Sebelum Sasa menyusul Naya, ia mempertanyakan Aditya yang terlihat bersiap mau pergi keluar rumah lagi.
“Mau ke mana lagi, Dit? Kamu gak bisa stay di rumah sehari aja? Baru juga pulang.”
“Gak perlu urusin hidup aku. Mending kamu susulin Naya sekarang. Temenin dia sampe dia tidur.”
“Kamu mau ke mana semalem ini? Seenggaknya bisa kan kamu bilang?”
“Gak ada gunanya aku kasih tau kamu. Plis, berhenti campurin urusan aku. Aku udah turutin pergi jalan-jalan seharian sama kamu dan Naya. Aku tetep penuhin tanggung jawab aku. Yang lain, bisa kan, terserah kita masing-masing mau ngapain! Aku suntuk di rumah, apalagi satu kamar sama kamu. Gak perlu nungguin aku. Aku pulang besok pagi.”
“Adit—
Kata-kata Sasa terhenti, sebab Aditya keburu melangkah pergi.
Tak ada tujuan lain bagi Aditya saat ini selain melepas rindu dengan sang kekasih sekaligus melegakan hatinya dengan memastikan Kimy tak kesal padanya akibat batalnya rencana mereka hari ini.
Aditya memencet bel apartemen Kimy, menunggu Kimy membukakan pintu untuknya. Begitu Kimy keluar, ia mendapati sosok Aditya berdiri tegap di hadapannya sambil membawa satu buket bunga serta sebuah boneka beruang pink yang lucu memegang bentuk hati bertuliskan ‘forgive me'.
Namun, tak seperti biasa di mana Kimy selalu menyambut kedatangan Aditya dengan senyuman manis atau pelukan manja. Kali ini, Kimy membiarkan Aditya begitu saja tanpa mempersilakannya masuk. Ia justru kembali ke dalam tanpa sepatah kata dan duduk di sofa mengabaikan Aditya.
Aditya yang bingung, mengikuti Kimy masuk walau tak dipersilakan seperti biasa, sembari membawa frustrasi dalam pikirnya.
“Kimy, kok, gak sehangat biasanya, ya? Apa dia beneran masih marah? Tapi, di telepon tadi dia bilang gapapa. Atau mungkin segampang itu mood cewek bisa berubah-ubah?” batin Aditya.
Aditya menghampiri Kimy di sofa. Setelah meletakkan bunga dan bonekanya, pria itu mencoba memberi pelukan pada gadis kesayangannya. Namun, belum semenit pelukan berjalan, Kimy melepaskan diri dari dekapan Aditya dan bersikap seakan ingin Aditya agak menjauh darinya.
“Hey, kamu kenapa, Kim? Beneran marah sama mas, ya? Mas minta maaf, Sayang,” ucap Aditya sembari mengusap lembut bahu Kimy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments