"Gue, eh aku tunggu sini aja." Ucap Hira sesaat mobil Abian baru saja memasuki baseman apartemennya.
"Ikut naik aja, disini agak rawan sekarang. Banyak orang mabuk soalnya."
"Oh ya? Kok bisa banyak orang mabuk?"
"Itu."
Abian menunjuk satu sudut gedung apartemen dengan dagunya. Disana terpampanglah sebuah plakat sebuah bar. Dan karna itu, Hira pun paham.
Hira akhirnya ikut turun dari mobil dan kemudian mensejajari langkah kaki Abian.
"Mulai kapan ada bar disini?"
"5 bulanan maybe."
Hira pun manggut - manggut. "Terus gimana barnya? Bagus? Kamu pernah kesana?"
"Gak worth it dan rata - rata yang datang makhluk LGBT semua."
"Wow, oh ya? Berarti aman dong kalau gitu?"
Mendengar celetukan Hira, Abian tiba - tiba berhenti. Kini lelaki itu menatap tajam Hira. "Jangan pernah sekali - kali datang ke tempat seperti itu."
Hira mendengus dan sedikit mencebik juga. Emang siapa Abian berani - beraninya dia melarangnya.
"Aaahhh!!! Sakit Abian!! Apaan sih lo." Hira memekik. Secara tiba - tiba Abian malah menyentil keningnya.
"Gue tahu apa yang ada didalam otak lo ini. Jadi jangan coba- coba. Kalau enggak lo bakalan ngerasain akibatnya."
"Ish!! Belum apa - apa lo udah KDRT aja! Ish!! Merah nih pasti!"
"Mangkannya otak itu jangan aneh - aneh, biar gue gak perlu repot - repot normalin lagi." Dan Abian pun kembali melanjutkan langkahnya.
"Ish!!"
Walaupun kesal. Hira tetap mengikuti Abian kembali.
"Lo udah telpon bokap?" Tanya Abian, saat itu mereka sudah berdiri bersisihan menaiki lift.
"Belum." Saut Hira masih terdengar kesal.
Karna jawaban Hira itu, Abian pun langsung meraih ponselnya dan kemudian segera menghubungi Pak Rafi. Memberitahu bahwa pria paru baya itu tidak perlu khawatir pada Hira. Karna Hira sedang bersama dirinya.
Hira memperhatikan Abian yang tampak sibuk dengan ponselnya menghubungi Pak Rafi. Lumayan juga, rupanya Abian masih punya etika.
Denting lift terdengar. Abian dan Hira pun keluar dari lift dan kembali berjalan menuju unit tempat tinggal Abian. Unit itu masih sama. Abian masih tinggal ditempatnya. Dan tempat ini dulunya sering sekali Hira kunjungi. Tapi ada satu yang membuat Hira jadi penasaran. Apakah sandi apartemen Abian masih tetap seperti dulu?
Hira pun diam - diam mengintip saat Abian menekan sandi digagang pintunya. 120715. Wow, jelas Hira pun langsung melayangkan tatapan tak percayanya pada Abian. Masih sama ternyata.
"Masuk."
Hira masuk mengekori Abian dibelakang.
"Bentar, gue ambil jaket sama kunci motor dulu. Lo kalau mau minum atau apa bisa ambil sendiri. Masih hafal kan tempatnya?"
Hira hanya bisa mengangguk dengan mata yang sibuk memperhatikan sekeliling ruangan.
Apartemen ini benar - benar tidak berubah sedikit pun. Semuanya sama persis sepeeti dulu. Mulai dari cat, tata letaknya, sampai semua printilan yang digantung ditembok pun tak berubah sama sekali. Bahkan foto - fotonya dan foto - foto kebersamaan antara mereka berdua juga masih terpajang baik didinding maupun yang ada di atas nakas.
"Ini, pakai." Abian menyerahkan sebuah jaket. Dan tunggu bukankah ini jaket miliknya?
"Ini emang jaket lo." Abian berkata, seolah bisa membaca pikiran Hira. "Sengaja gue simpen, bahkan sisa - sisa baju lo sama beberapa make up dan juga aksesorisnya juga masih ada di lemari."
"Kenapa?" Hira tanya. "Kenapa lo masih nyimpen barang - barang gue? Kenapa gak lo buang aja? Sampai ini, kenapa foto - foto gue juga masih disini? Masih tetep lo pajang padahal hubungan kita udah lama berakhir."
Bolehkan Hira bertanya seperti ini. Bukan, bukan karna dia merasa senang, Abian masih menyimpan barang- barangnya atau mungkin Abian masih punya perasaan padanya. Hanya saja semuanya sudah tidak masuk akal untuk Hira. Karna Hira sendiri tak sedikit pun mengharapkan Abian.
Abian tersenyum tipis. "Emangnya kenapa? Gak boleh?"
Karna Hira tak segera mengambil jaketnya, Abian pun memutuskan untuk memakaikan jaket itu pada Hira.
"Lo aneh."
"Aneh?" Abian mengernyit. "Anehnya dimana?"
"Kita udah putus 2 tahun yang lalu Bi, tapi lo masih aja nyimpen semua barang - barang gue. Harusnya lo buang semuanya."
Abian kembali tersenyum. "Lo lupa, siapa yang dulu kekeh minta putus, dan emang gue setuju lo putusin gue? Sepertinya enggak."
"Bi," Bukan itu jawaban yang Hira inginkan.
"Hir, mau gue simpan atau mau gue buang semua itu adalah hak progresif gue sebagai pemilik barang. Jadi terserah guelah mau gue apain barang - barang itu. Lagian kalau dibuang pun sayang. Ini semuanya masih bagus - bagus."
"Jawab jujur, apa lo masih punya perasaan ke gue?"
Abian malah tergelak mendengar pertanyaan Hira. "Menurut lo?"
"Enggak, lo cuma pengen nyakitin gue sekali lagi." Sungguh jawaban diluar dugaan Abian.
"Kenapa lo bisa yakin kalau gue mau nyakitin lo?"
"Karna lo masih belum puas. Lo masih nganggep gue gampangan. Lo gak terima karna gue mandang lo dengan tatapan rendah. Gue tahu itu, dan gue bisa ngerasain."
Raut wajah Abian berubah jadi lebih dingin. Apa yang diucapkan Hira sepenuhnya benar. "Dan gimana dengan lo sendiri? Bukannya sama aja, lo juga belum puas, lo juga masih pengen balas dendam ke gue, pengen ngancurin hidup gue. Dan selamat lo udah berhasil, sejujurnya hidup gue udah hancur karna lo."
Hira dan Abian, saling bertatapan. Tatapan mata mereka sungguh tak bisa didefinisikan. Dulu, kedua insan itu saling mencintai tapi pada akhirnya menjadi saling menyakiti.
Uwek ...
Hira, tiba - tiba merasa mual.
Uwek ...
Gadis itu kemudian dengan cepat berlari ke kamar mandi.
"Hir," Abian seketika merasa cemas. Dan ikut menyusul Hira ke kamar mandi.
Hira memuntahkan semua isi perutnya. Wajahnya sudah berubah jadi pucat pasih. Butir - butir keringat juga mulai membasahi keningnya.
Ah, kenapa harus disaat seperti ini Hira kambuh. Didepan Abian Iskandar pula.
Hira menghidupkan kran airnya. Gadis itu membasuh mulut dan wajahnya dengan air. Setelahnya Hira dengan segera mengatur nafas beratnya. Hira, juga sedang mengatur gelojak yang ada diperutnya. Jangan, tolong jangan mual lagi. Dia harus kuat.
"Hir, lo gak apa - apa?" Abian mendekat dan berusaha membantu Hira. Tapi dengan gesit gadis itu menghindar.
"Jangan deket - deket."
"Hir, lo gak apa - apa? apa ada yang sakit? bilang ke gue, atau perlu kerumah sakit?"
"Gue bilang jangan deket - deket!"
Abian tersentak. Tatapan mata jijik Hira kembali. Dan itu sedikit menyakitinya.
Uwek ...
Hira kembali mual muntah. Sementara Abian tak bergerak dari tempatnya. Pemuda itu kini hanya menampilkan senyum getirnya. Tak berniat membantu Hira lagi.
Hira keluar dari kamar mandi. Dengan wajah basah dan juga sedikit berantakan.
"Sorry, Bi, kayaknya gue tiba - tiba gak enak badan. Jadi lebih baik kita tu da dulu night ridenya. Gak apa - apa kan?" Ucap Hira setelah tadi berhasil menguasai dirinya agar tetap tenang dan kuat dihadapan Abian.
Abian tak menjawab. Pemuda itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis saja.
"Sorry juga ... Tadi, gue udah nangkis tangan lo terlalu kenceng, gue gak sadar. Tolong jangan diambil hati."
Abian lagi - lagi mengangguk dan hanya tersenyum tipis.
"Thank you ." Hira tersenyum tipis. Senyum tipis tapi penuh kegetiran. Yang sekali lagi mampu membuat Abian tersentak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments