12. Rasa sakit

Ddrrrtttttttt...

Ddrrrtttttttt...

Ponsel Hira bergetar panjang. Sudah beberapa kali dan tak terhitung lagi ada berapa. Tapi si pemilik masih tak bergeming. Tadi selepas kepulangan Mila dari rumahnya. Hira langsung tidur kembali. Mengistirahatkan badannya yang sakit. Agar segera pulih kembali.

“Kemana nih anak?" Rupanya si penelpon adalah Abian. Yang belum juga menyerah meskipun panggilan itu tak dijawab - jawab oleh Hira.

“Sibuk apa sih dia sampai - sampai, berani – beraninya gak angkat telpon gue, hah?” Gerutunya dengan nada kesal.

Abian melempar ponselnya. Menghela nafasnya panjang. Lalu merebahkan badannya ke atas kasur. Dan matanya kini menatap langit - langit kamar, karna merasa sepi dan bosan.

"Aishh!! Kenapa jadinya kepikiran Hira terus sih??" Abian mengacak rambutnya kasar.

"Sadar Bi, sadar. Hira cuma mau manfaatin lo aja. Jangan sampai lo punya rasa lagi atau mencemaskan dia lagi." Abian memberi remember pada dirinya sendiri.

Tapi rupanya semua celetukkan pengingat dirinya itu tak berguna sama sekali. Abian ternyata kembali meraih ponselnya yang sudah tergeletak tadi.

"Oke, gak bisa hubungin anaknya berarti kalau gitu coba hubungi bapaknya."

Dan nama Pak Rafi pun kini muncul dilayar ponselnya. Sedetik kemudian panggila itu pun tersambung.

“Hallo Papa,”

“Iya Bi, ada apa?”

“Em, gak ada apa – apa kok Pa, Bian cuma mau tanya Hira aja kok. Hira dimana ya Pa? Apa lagi sama Papa?"

"Hira gak lagi sama Papa Bi, Papa sekarang lagi di Bandung ketemu vendor yang kata kamu itu. Kamu gak coba hubungin dia?"

“Udah Pa, tapi dari tadi gak diangkat."

“Coba telpon Mila siapa tahu lagi sama Mila."

“Oh iya Pa ..."

"Oh astaga, Bian." Tiba - tiba saja Pak Rafi memekik dengan nada cemas.

Abian mengernyit, rasanya jadi ikut panik juga. "Iya Pa, kenapa?"

“Bian, kamu bisa kerumah? Tolong kamu tengokin Hira, tadi pagi anaknya bilang lagi pusing sama mual - mual. Papa khawatir maagnya kambuh terus anaknya sakit. Dirumah lagi gak ada orang soalnya. Bik Sulis yang bantu dirumah jam 11 siang udah pulang biasanya."

"Iya Pa, Bian langsung kesana ya Pa, Papa jangan khawatir."

“Makasih ya Bi, nanti kalau sudah sampai sana tolong kamu kabari Papa. Ini Papa telponkan Bik Sulis biar bawahin kunci cadangan rumah ke kamu.”

“Iya Pa, kalau gitu Bian tutup dulu telponnya Pa.”

Setelah telpon itu berakhir, Abian langsung bergegas menuju rumah Hira. Pemuda itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Terlihat buru – buru agar bisa segera sampai dengan raut wajah yang pastinya begitu khawatir. Dan sesampainya disana, kedatangannya sudah ditunggu Bik Sulis yang bertugas untuk memberikan kunci rumah Hira padanya.

Abian berjalan menuju kamar Hira. Hendle pintunya dia tarik secara perlahan. Saat itu, Abian bisa melihat Hira yang sedang tertidur pulas diatas kasurnya. Begitu damai dan begitu tenang. Abian mendekat, memandang sejenak wajah ayu Hira.

Abian mengernyit. Tidur Hira tidaklah damai dan tenang. Hira terlihat gemetar. Bibirnya terluka dengan bekas darah yang sudah mengering. Butiran keringat juga membasahi kening dan seluruh wajahnya. Pantas saja seharian ini Hira tidak ada kabar. Rupanya sang gadis sedang sakit.

“Ya Tuhan Hira,” Abian berseru cemas.

Hira menggeliat. Matanya terbuka dan dengan samar melihat bayangan seorang lelaki. Tapi karna tubuhnya yang lemas dan tak bertenaga lagi, Hira pun hanya bisa pasrah. Saat merasakan tubuhnya dibopong dan entah mau dibawah kemana.

Satu jam berlalu. Dan sekarang selang infus sudah terpasang ditangan Hira. Hira masih tak sadar dan tertidur pulas diatas ranjangnya. Sementara Abian, duduk disampingnya, menemaninya sambil menunggu dokter jaga memanggilnya untuk pindah keruangan.

“Hira,” Mila baru saja datang dengan wajah panik dan cemas yang sangat kentara.

“Jangan kenceng – kenceng, dia lagi tidur.”

Tadi, Abian langsung memberi kabar pada Pak Rafi dan juga Adam kalau Hira dia larikan kerumah sakit.

“Ya ampun Hir, …” Mila menatap iba sang sahabat.

Mila menghela nafas beratnya. Dan kemudian beralih menatap tajam pada Abian yang berada disampingnya. Yang baginya patut menjadi seseorang yang harus disalahkan atas kesakitan Hira ini. "Gimana cerita lo bisa bawah dia kerumah sakit? Mana Om Rafi?”

Ditatap seperti itu, Abian mengeryitkan keningnya. “Papa masih di Bandung karna ada perjalanan bisnis, dan kebetulan tadi Papa titip ke gue buat ngecek Hira dirumahnya dan ternyata Hira lagi sakit.”

Lagi - lagi Mila menghela nafas panjang. Kenapa jadinya dia malah tambah kesal setelah mendengar suaranya Abian.

“Oke, karna gue udah disini, sekarang lo bisa pulang. Biar Hira sama gue.” Seru Mila dengan gestur kesalnya yang sangat kentara.

Abian kembali mengeryit. Merasa aneh kenapa Mila tiba - tiba jadi marah padanya. "Apa hak lo ngusir gue? dan kenapa juga lo kok jadinya malah marah - marah ke gue?"

“Gue sangat punya hak, bahkan hak – haknya pun melebihi hak yang lo punya. Dan kenapa gue marah, because it's you." Mila menekan kalimatnya.

Abian semakin mengeryit, tapi juga sedikit kesal juga karna Mila yang begitu. “What? why? and atas dasar apa hak - hak lo itu?"

Mila kembali menarik nafas panjangnya. Merasa lelah menghadapi Abian barang sebentar saja. “Lo gak perlu tahu kenapa yang pasti gue berhak karna gue adalah sahabatnya Hira sekaligus orang yang paling ngerti dia, dan gue disini ingin melindungi sabahat gue dari segala macam mara bahaya terutama dari lelaki macam lo."

Abian mendecih, dan tersenyum remeh. Siapa Mila sampai berani menilai dirinya. Memang apa yang salah pada dirinya. Dan jika diaduh, harusnya kedudukan Abianlah yang jauh lebih tinggi dari pada Mila. "Lo lupa gue siapa?”

“I don’t care lo nyebut diri lo siapa, yang pasti gue minta sekarang lo pulang dan please jangan datang kesini lagi. Jangan temuin Hira lagi. Jauh – jauh dari Hira. Ngilang dari hidupnya juga kalau bisa. Kalau emang lo peduli sama dia.” Cerocos Mila yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya sama sekali.

Abian tergelak tak percaya. Kenapa jadinya dia disuruh menjauh dari Hira, memang dia salah apa? Tapi, saat hendak membalas perkataan Mila, Hira terbangun.

“Mil …”

“Hir,” Mila mendekat pada Hira dan sedikit mendorong Abian sambil melengos agar Abian segera berpindah tidak lagi menghalangi jalannya. "Gimana, lo gak apa – apa kan? Masih ada yang sakit? Perlu gue panggilin dokter?” tanya Mila dengan nada cemas.

“Gue gak apa – apa. Tapi Mil, please …” Hira menatap penuh arti pada sang sabahat. Dan harusnya Mila paham apa yang dia mau.

"Tapi Hir..."

Hira menggenggam tangan Mila lebih erat masih dengan tatapan mengibanya.

Mila menghembuskan nafas panjangnya. Lalu sedikit mengatur emosinya agar tak kebablasan seperti tadi. Mila kemudian beralih menatap Abian dengan sudut matanya, tapi kemudian langsung melengos lagi dan kembali memusatkan perhatiannya pada Hira.

“Oke, kalau itu mau lo, tapi please buat hari ini, istirahatkan badan lo dengan tenang." Pintah Mila.

Hira mengangguk. Lalu kemudian mengarahkan pandangnya pada Abian. “Bi, bisa gak gue minta tolong." Ucapnya kemudian.

Abian mendekat, dan kemudian berkata lembut. "He'em, mau minta tolong apa?"

"Bisa gak lo pulang dulu hari ini, gue mau berdua sama Mila.”

“Tapi Hir,” Abian jelas menolak.

“Please, jangan debat, badan gue udah sakit semua, otak gue juga udah penuh rasanya.”

Abian menghela nafasnya kasar. Lalu menatap tajam dan kesal pada Mila. Seolah nanti dia bersiap akan membuat sebuah perhitungan padanya.

Episodes
1 1. Kabar terdasyat
2 2. Pertemuan keluarga
3 3. Abian Si Psikopat
4 4. Pikiran gila
5 5. Jalankan misi
6 6. Pokoknya aneh
7 7. Lomba balas dendam
8 8. Sama - sama tahu
9 9. Raja dan ratu drama
10 10. Kenangan masa lalu
11 11. Tentang trauma
12 12. Rasa sakit
13 13. Abian Tahu
14 14. Keputusan yang berat
15 15. Rindu?
16 16. Curiga
17 17. Separuh jiwa yang hilang
18 18. Peliknya sebuah permasalahan
19 19. Kebohongan berlapis
20 20. Firasat
21 21. Ayo sembuh
22 22. Ini adalah cinta
23 23. Ayo bangkit
24 24. You look so beautiful in red
25 25. Oke, deal!
26 26. Harus bisa berdamai dengan perasaan
27 27. Perfect in white
28 28. Sedikit percikan masa lalu
29 29. Hari terakhir masa single
30 30. Coba lebih pengertian lagi
31 31. Rasa haru
32 32. Janji suci?
33 33. Hari pertama pernikahan
34 34. Apakah ini tanda Hira sembuh?
35 35. Permintaan maaf
36 36. Udah ingin cerai
37 37. Sesuatu yang tak terduga
38 38. Kekhawatiran
39 39. Diluar BMKG
40 40. Singapura
41 41. Rencana tantrum
42 42. Tantrum
43 43. Jatuh cinta lagi
44 44. hipnotis lagi
45 45. Teriakan pagi hari
46 46. Tantrum kedua
47 47. Sesuatu yang tak terduga
48 48. Rasya is back
49 49. Siap balas dendam
50 50. Saling ancam
51 51. lupakan kecanggungan dan gengsi
52 52. Beraksi
53 53. Tidak sadar
54 54. Frustasi dengan perasaan
55 55. Hira sudah sembuh
56 56. Masih cinta?
57 57. Hari baru dimulai
58 58. Tiba - tiba ruwet
Episodes

Updated 58 Episodes

1
1. Kabar terdasyat
2
2. Pertemuan keluarga
3
3. Abian Si Psikopat
4
4. Pikiran gila
5
5. Jalankan misi
6
6. Pokoknya aneh
7
7. Lomba balas dendam
8
8. Sama - sama tahu
9
9. Raja dan ratu drama
10
10. Kenangan masa lalu
11
11. Tentang trauma
12
12. Rasa sakit
13
13. Abian Tahu
14
14. Keputusan yang berat
15
15. Rindu?
16
16. Curiga
17
17. Separuh jiwa yang hilang
18
18. Peliknya sebuah permasalahan
19
19. Kebohongan berlapis
20
20. Firasat
21
21. Ayo sembuh
22
22. Ini adalah cinta
23
23. Ayo bangkit
24
24. You look so beautiful in red
25
25. Oke, deal!
26
26. Harus bisa berdamai dengan perasaan
27
27. Perfect in white
28
28. Sedikit percikan masa lalu
29
29. Hari terakhir masa single
30
30. Coba lebih pengertian lagi
31
31. Rasa haru
32
32. Janji suci?
33
33. Hari pertama pernikahan
34
34. Apakah ini tanda Hira sembuh?
35
35. Permintaan maaf
36
36. Udah ingin cerai
37
37. Sesuatu yang tak terduga
38
38. Kekhawatiran
39
39. Diluar BMKG
40
40. Singapura
41
41. Rencana tantrum
42
42. Tantrum
43
43. Jatuh cinta lagi
44
44. hipnotis lagi
45
45. Teriakan pagi hari
46
46. Tantrum kedua
47
47. Sesuatu yang tak terduga
48
48. Rasya is back
49
49. Siap balas dendam
50
50. Saling ancam
51
51. lupakan kecanggungan dan gengsi
52
52. Beraksi
53
53. Tidak sadar
54
54. Frustasi dengan perasaan
55
55. Hira sudah sembuh
56
56. Masih cinta?
57
57. Hari baru dimulai
58
58. Tiba - tiba ruwet

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!