Abian memang sengaja tidak pulang seperti yang diminta oleh Hira tadi. Pemuda itu kini diam - diam dari kejauhan mengikuti langkah beberapa rombongan perawat dan juga Mila yang membawa Hira pindah dari IGD keruang rawat inap. Rasa khawatir sekaligus rasa penasaran karna merasa ada sesuatu yang ganjil yang kemungkinan besar sedang disembunyikan oleh calon istrinya itulah yang membuatnya tetap bertahan.
Abian menunggu, hingga akhirnya kesempatan itu datang selang beberapa jam. Abian melihat Mila keluar dari kamar inap Hira. Dan dengan segera lelaki itu pun mencegat Mila.
"Mila..."
Mila terkejut, Abian kini berdiri dihadapannya. Raut mukanya seketika kembali berubah masam.
"Astaga, masih belum pulang juga lo." Gerutunya.
"Gue mau ngomong sama lo."
Mila merotasikan matanya malas, dan memilih untuk tidak menggubris Abian. Mila berjalan kembali.
"Mila," Abian meraih lengan Mila dan menghentikannya.
"Ish! gak usah pegang - pegang, najis tahu gak!" Bahkan tanggapan Mila pun terasa berlebihan bagi Abian.
"Lo kenapa sih Mil? kenapa lo tiba - tiba jadi kesel banget sama gue?" Ya dari pada basa basi ini itu, Abian merasa lebih baik langsung to the point saja. "Gue salah apa? gue udah berbuat gak baik apa? atau gue udah berbuat jahat kayak gimana sampai lo liat gue kayak benci banget gini?”
“Lo kesel karna gue yang bawah Hira kerumah sakit? Atau lo iri karna yang tahu lebih dulu Hira sakit itu gue bukan lo?” Abian kembali bertanya, karna sikap Mila yang acuh tak acuh. Sementara Mila yang mendengar malah tergelak merasa lucu dengan tuduhan – tuduhan Abian itu.
“Dan juga kenapa lo tiba – tiba ngelarang gue buat ketemu atau deket sama Hira? Oke, gue tahu memang persahabatan kalian itu kuat banget, tapi bukan berarti lo bisa seenaknya ikut campur bahkan ngatur – ngatur hidupnya Hira.”
“Untuk kali ini gue berhak ya, bahkan kayak yang gue bilang tadi, gue bahkan lebih berhak dari pada lo.”
“Jangan ngomong atau protes dulu gue belum selesai.” Mila menimpali Abian yang hendak berucap itu.
“Gue sebenernya tetep pengen merahasiakan ini ke lo, tapi kayaknya lebih baik lo tahu. Dan gue harap setelah lo tahu, lo bisa ambil keputusan dengan bijak dan beneran stop gangguin Hira.”
Wanita itu kemudian menghela nafas kasarnya. Sementara Abian mengernyit berusaha mencernah apa yang akan dikatakan oleh Mila itu.
"Sejak Hira tahu lo selingkuh dulu, Hira jadi punya trauma. Dan traumanya itu cukup parah sampai butuh bantuan professional. Hira udah berobat kemana – mana sampai akhirnya dia bisa sembuh meskipun gak seratus persen. Setahun ini dia udah damai. Udah jarang kambuh, bahkan bisa ngontrol diri. Tapi sejak kedatangan lo lagi, traumanya jadi kambuh lagi dan gue rasa kambuhnya lebih parah dari pada yang sebelum – sebelumnya. Dia muntah – muntah lagi, dia juga mulai nyakitin diri sendiri lagi. Bahkan kalau lo perhatikan dibibirnya udah ada bekas luka dan lengan sebelah kirinya juga banyak banget baret – baret lukanya.”
Abian cukup tak menduga dengan fakta yang disampaikan oleh Mila ini.
“Katanya waktu ngelihat lo, dia jadi inget lagi waktu lo berdua sama cewek lo diatas ranjang.”
“Mil, lo tahu sendiri kalau itu gue murni dijebak kan?" Abian berusaha membela diri.
“Entah lo dijebak atau enggak, yang pasti lo udah bikin Hira sakit. Hira ngerasa dunianya hancur dan ngerasa kalau dirinya itu kotor karna selama ini udah biarin lo nyentuh dia, mangkannya selama ini dia kalau ngelihat lo selalu dengan tatapan yang kayak gitu. Itu semua efek dari traumanya."
Abian lagi – lagi mengusap wajahnya kasar. Rupanya keadannya lebih serius dari pada yang dia kira.
“Jadi Bi, gue minta karna lo sekarang tahu kenyataannya, please jangan ganggu Hira, jangan deketin Hira dan jauhi Hira. Biari dia tenang sampai traumanya beneran hilang."
"Gue tahu kalau lo sebetulnya juga gak ada niatan kan buat balik ke Hira? Gue tahu lo cuma mau manfaatin Hira aja biar orang – orang gak lagi ngecap lo sebagai tukang selingkuh lagi. Gue tahu lo pengen ngasih pelajaran ke Hira karna selama ini udah mandang lo dengan remeh dan tatapan jijiknya. Tapi bukankah rasa trauma ini udah lebih dari cukup buat Hira? dia udah terlalu sakit buat lo sakitin lagi Bi."
Abian terdiam, merasa bersalah sepenuhnya pada Hira. Kini dia sepenuhnya paham kenapa Hira selama ini seperti itu. Begitu juga kemarahan yang ditunjukkan Mila padanya. Tapi seharusnya bukankah lebih baik hal ini diungkapkan di awal, agar hal ini tak kembali terjadi. Yang mana disini membuatnya jadi satu - satunya manusia yang jahat. Lalu bagaimana dengan Hira. Bukankah Hira juga punya tujuan untuk menghancurkan dirinya juga?
“Tapi Mil, gue masih gak ngerti. Bukankah gue udah buktikan kalau gue gak salah? Gue dijebak sama Andreas dan lo sendiri tahu itu, bahkan sampai sekarang pun Andreas masih dikurung akibat perbuatannya itu. Tapi kenapa Hira masih aja gak bisa percaya sama gue dan malah punya trauma? Harusnya kan setelah tahu kalau itu gak bener, gue dan Hira udah gak ada masalah. Dan juga gimana sama Hira? bukannya dia juga pengen manfaatin gue aja? dia pengen buat gue bertekuk lutut ke dia, menyerahkan semua harta gue, terus setelah itu dia mau buang gue gitu aja?"
"Dia begitu karna lo duluan yang begitu. Yang yang tiba - tiba muncul jelas bikin dia curiga dan gak nyaman. Coba lo pikir seandainya lo gak muncul dan gak ganggu dia apa mungkin dia punya pikiran kayak gitu? gue rasa enggak. Dan kenapa Hira bisa trauma dan sulit percaya sama lo, karna sekali lagi gue bilang. Dia liat dengan mata kepalanya sendiri waktu lo berhubungan badan sama tuh cewek." Jelas Mila.
"Kapan gue berhubungan Mil? Waktu itu gue dalam keadaan gak sadar dan itu cuma akal - akalan mereka aja." Elak Abian dengan frustasi.
Mila mendecih.
Abian mengusap wajahnya frustasi. "Mil, bahkan lo juga gak percaya sama gue. Padahal lo sendiri tahu kalau gue dijebak."
"Mau percaya gimana, orang gue juga liat videonya juga. Thats why gue kalau ada lo juga selalu menghindar selama ini. Dan gue rasa lo juga cukup peka kan dengan sikap gue selama ini."
"Tunggu Mil," Abian jelas kaget, baru kali ini lelaki itu mendengar sesuatu tentang hal tersebut. "Maksud lo video?”
Mila memutar bola matanya malas.
“Mil, please, tolong jelasin ke gue. Gue beneran gak ngerti, video itu video apa?” Abian semakin panik dan frustasi. “Bisa gue liat videonya? Gue beneran gak tahu kalau ada hal semacam ini. Please kasih tahu gue Mil. Gak mungkin gue ngelakuin hal kotor kayak gitu.” Abian mengiba.
“Tapi siapapun yang lihat video itu pasti tahu kalau lo emang sebejat itu.”
Ucapan Mila jelas membuat Abian sedikit syok. Apa benar dirinya sebejat itu? Padahal jelas – jelas Abian tahu kalau saat itu dirinya hanyalah dijebak.
Mila kembali menghela nafas kasarnya sedikit kasian pada Abian yang sudah tampak frustasi dan sepertinya memang tak tahu menahu tentang keberadaan video tersebut. Dia kemudian meraih ponselnya dan menggeser – geser layarnya, lalu mengirim sebuah laman penyimpanan cloud pada nomor Abian.
“Video ini emang sengaja gue simpen kalau - kalau lo datang dan ganggu Hira lagi biar bisa dipakai sebagai pengingat tentang kelakuan lo. Dan ternyata firasat gue bener. Lo nilai sendiri tuh video gimana. Tapi setelah itu gue harap lo bisa ambil keputusan dengan bijak."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments