"Mil, cariin gue kerjaan." Kata Hira menggebu begitu gadis cantik itu mendudukkan dirinya dikursi yang berada di depan Mila itu.
Siang itu, Mila dan Hira sengaja bertemu disebuah cafe yang tak jauh dari rumah Mila.
"Kerjaan? maksud lo?" Mila bertanya dengan wajah polosnya.
"Ya kerjaan Mila, masak gitu aja lo gak ngerti sih??"
"Ya lo gak jelas, datang - datang main minta kerjaan aja. Kerja apaan gue kan mana paham."
"Ish! dasar lo." Hira mendengus. "Gue lagi butuh duit banyak nih."
"Tumben?" Mila menatap heran. Seorang Hira Yasmin anak orang kaya butuh uang?
"Stres nih gue. Ayo dong Mil, bantuin. Lo kan biasanya ada aja tuh info loker." Rengek Hira.
"Emang lo butuh berapa banyak?"
"1,5T."
"What???" Mila mengangah. "Buat apaan dueit segitu Hira?? lo jangan ngadi - ngadi deh."
"Gue gak ngadi - ngadi Mila, ini serius. Cariin deh Mil, gimana caranya biar gue bisa dapat uang segitu. Kerja apa aja deh Mil, gue siap." Hira kembali mengiba.
"Hira, kerja apaan bisa dapet duit segitu? Mau lo jual diri lo atau lo jual organ lo pun juga gak bakalan dapat segitu. Gila aja lo, udah deh jangan aneh - aneh. Lagian ngapain juga bingung duit. Orang duit lo juga banyak."
Hira menghela nafasnya panjang. "Mil, gue lagi dalam masalah besar. Besar banget. Sampai rasanya ini badan gue gak sanggup lagi buat nompang hidup. Jadi please Mil, bantu gue. Kalau gak dapat kerja pinjemin gue deh."
Mila tergelak tak percaya. Dipikirnya uang segitu bisa dapat dalam sekejap mata. "Lo kira duit gue seberapa banyak, ha? Terus ini emang lo lagi ada masalah apa sampai lo butuh duit segitu banyak. Jangan bilang lo ikut judi online terus kalah ya?" Selidik Mila.
"Ini lebih dari sekedar judi Mil. Ini itu udah termasuk game yang taruhannya pakai nyawa gue."
"Hira???" Mila menatap khawatir.
Hira kembali menghela nafas panjangnya. "Bokap gue bangkrut Mil." Ucap Hira dengan wajah lesu.
"What?? bangkrut, kok bisa??? lo serius?" Dan Hira mengangguk.
"Terus, terus?"
"Terus, kemarin yang nyelametin papa si Abian."
"Wait, Abian? Abian? Abian??" Hira mengangguk. "Abian ex fiance lo? Kok bisa? gimana ceritanya?"
"Gak tahu, yang pasti ceritanya gitu. Terus sekarang bokap punya hutangnya ke dia."
Mila masih mengangah tak percaya. "Dan akhirnya sekarang lo mau gak mau harus bayar itu hutang, gitu?"
Hira mengangguk.
"Wah, gila ya... gak sekalian aja dia ancurin hidup lo." Mila memekik kesal. Setelah Abian menghianati Hira dulu, Mila juga jadi membenci Abian.
"Udah, udah diancurin." Saut Hira lemah dan terdengar pasrah.
"Maksud lo?"
"Ya dia udah ngancurin hidup gue Mila. Dia minta gue nikah sama dia." Ucap Hira frustasi.
"What?? No way!" Mila kembali terkejut.
"Katanya hutangnya bakalan dihitung lunas kalau gue mau nikah sama dia."
"Wah ..." Mila masih mengangah tak percaya.
"Tapi Mil, lo tahu kan kalau gue gak mau?" Wajah Hira mulai terlihat sendu. "Lo tahu kan seberapa sakitnya gue waktu itu."
Mila menghela nafas beratnya. Mila jelas tahu. Dia adalah saksi hidup bagaimana kacaunya hidup Hira saat itu.
"Bahkan sampai sekarang, bayangan Abian yang tidur sama perempuan itu masih gue inget Mil." Benar, bahkan sampai sekarang Hira tidak bisa sepenuhnya lepas dari rasa sakit dari apa yang sudah Abian perbuat. Hira mulai berkaca - kaca.
Mila menatap iba sang sahabat. Mengelus lengan Hira sebagai penghiburannya.
"Dan sekarang, gue diminta buat terima dia lagi. Gue gak bisa, Mil. Itu terlalu sakit." Hira berusaha menahan air matanya yang sudah diujung. Hira harus kuat dan tidak boleh lagi menangis karnanya.
"Mil, menurut lo gue harus gimana biar gue bisa lepas dari Abian? dan biar gue bisa bayar hutang itu. Dia ngasih gue waktu selama sebulan sebelum tanggal pernikahan Mil, jadi gimana? gue harus gimana?" Hira tampak sangat frustasi.
Mila menghela nafas beratnya. Sedikit bingung juga mau memberi saran apa pada Hira.
"Lo kerja apapun juga gak bakalan bisa dapet uang 1.5T Hir. Apa lagi kata lo Abian cuma kasih lo waktu 1 bulan. Itu aja udah imposible. So, no another way."
Hira kembali menekuk wajahnya dan menjatuhkan kepalanya diatas meja putus asa.
"Kayaknya pilihan yang terbaik memang lo nikah sama Abian deh Hir." Ucap Mila kemudian. Yang jelas langsung dapat penolakan keras.
"Enggak Mil, gue gak mau. Pasti ada cara lain yang bisa dilakuin tanpa harus nikah sama Abian."
"Udah gak ada cara lain Hira. Mau lo jual tubuh jual organ jual rumah atau apapun harta yang lo punya gue yakin gak akan bisa dapet uang segitu banyak. Itu 1,5T bukan juta bukan milyar lagi. Satu Triliyun Hira Yasmin." Mila menekan kalimatnya diakhir.
"Kenapa bisa nasib gue begini? kenapa bisa gue harus menikah sama si brengsek itu!!! Gue masih trauma ..." Hira memekik frustasi.
"Tapi Hir, coba loambil sisi positifnya."
Hira kembali menegakkan tubuhnya untuk mendengar lebih lanjut perkataan Mila.
"Kalau dipikir - pikir apa salahnya lo nikah sama Abian? Disini lo kalau menurut gue bida aja lo yang untung."
Hira mengeryit.
"Bayangin aja dengan menikah sama Abian, hutang Papa lo yang segitu banyak secara otomatis bakalan lunas. Dan yang terpenting hidup lo bakalan terjamin karna Abian sendiri udah pasti banyak duitnya. Lo gak perlu kerja keras cari duit demi mencukupi kehidupan lo. Lo tinggal duduk manis, kalau suntuk lo bisa ke salon, bisa jalan - jalan, bisa shopping and wherever where you go, up to you."
"Dan menurut lo karna itu semua hidup gue bakalan seneng gitu?" Pekik Hira.
"Lo lupa? dulu bahkan saat gue punya segalanya, gue bisa ke salon, gue bisa jalan - jalan, gue bisa menikmati hidup gue, sikap Abian gimana? Dia seenaknya sendiri ke gue. Apa lagi sekarang gue udah gak punya apa - apa? apa gak tambah gimana perlakuan dia ke gue? Dia pasti lebih seenaknya lagi ke gue. Dan gue juga gak bayangin, seandainya gue jadi istrinya. Gue harus lihat dia tiap hari. Terus amit - amit dia sama wanita lain lagi. Ngomong begini aja gue udah ngerasa eneg tahu gak sih." Hira bahkan bergidik.
"I, iya sih ... tapi lo gak apa - apakan? Lo gak mual muntah lagi kan?" tanya Mila dengan raut wajah cemas.
"No, masih aman." Jawab Hira dengan senyum tipis diwajah, tapi terlihat mencurigakan?
"Syukur deh kalau gitu."
Hira kembali menjatuhkan kepalanya di meja. Gadis itu kembali merengek. "Gue harus gimana Mil??? gue gak mau jadi istrinya Abian. Hiks!"
"Mil, please kasih gue cara lain."
Mila menghela nafasnya berat. Wanita itu juga sedang buntu pikirannya.
"Atau lo punya dukun yang rekom? gue mau Mil."
"Astaga, jangan gila deh Hir, ngapain juga bawah - bawah dukun segala, ih."
"Ya biar bisa gue santetlah. Atau kalau enggak, apa gue guna - guna aja ya? biar nurut sama gue, gimana?"
"Ngawur!!" Mila melempar tisu kotornya ke Hira.
"Ya terus gimana dong Mila, kayaknya cuma itu cara satu - datu buat selamat dari si Abian psikopat itu."
"Tahu ah, pusing gue jadinya." Mila menghela nafasnya.
Tiba - tiba Hira yang sedang frustasi itu kembali duduk tegak di kursinya. Bibirnya tiba - tiba mengembang dan seulas tawa jahat langsung terpampang.
"Hir, lo kenapa? lo belum gila kan?" Mila menatap aneh sang sahabat. Sedikit ngeri juga.
"Gue punya ide Mil."
"Ide? ide apaan? jangan lagi lo kepikiran hal gila lainnya." Mila memberi peringatan.
"Gue bakalan tetep nikah sama Abian."
Mila tergelak tak percaya. Ya emang harusnya tetap menikahkan solusinya.
"Terus gue bakalan kuras habis hartanya sampai dia jatuh miskin."
Mila mengernyit.
"Dan setelah itu, gue bakalan ceraiin dia dan buat dia berlutut dihadapan gue."
"What? Are you sure??"
"Sure!" Hira mengangguk mantap dengan seringaian jahat diwajahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments