Hira menghempaskan tubuhnya diatas Kasur. Pagi itu, dia baru saja tiba dirumahnya setelah 5 hari menghuni rumah sakit.
"Ah ... sampai juga di kasur kesayangan." Yang kemudian diikuti dengan nafas lega.
Hira menikmati rasa nyaman diatas kasurnya. Harum lembut seprei membuat pikirannya tenang untuk sejenak.
Hira membalikkan badannya. Memposisikan tubuhnya nyaman. Dan kemudian meraih ponsel yang ada di saku roknya. Gadis itu berkerut. Sudah 5 hari ini ponselnya sepertinya sepi dari notifikasi. Khususnya notifikasi dari seorang Abian. Entah kemana perginya orang itu. Hira tidak tahu.
"Emang di Singapura sesibuk apa sih dia? bisa - bisanya dia gak hubungin gue sama sekali?" Hira bertanya - tanya.
"Dia tahu kan kalau gue masuk rumah sakit? Berarti paling enggak tanya dong gimana keadaan gue? Udah sehat apa masih sekarat? Udah keluar rumah sakit atau belum?"
"Ish! dasar manusia gak peka. Tetep aja sifat gak pedulinya gak ilang - ilang." Hira mendengus kesal.
“Ah, tapi bodoh amatlah. Ngapain mikirin si Bian. Bukannya lebih baik gini? Jadi gue bisa istirahat, bisa memulihkan keadaan tanpa ada gangguan tuh cowok toxic. Dan lagi, gue bisa berobat tanpa perlu sembunyi - sembunyi biar trauma gue bisa sembuh."
Hira pun melempar ponselnya di kasur. Gadis itu kemudian kembali mencari kenyamanan kasurnya. Dan ditengah - tengah suasana itu. Suara Bu Sulis tiba - tiba terdengar.
“Mbak Hira, …”
Hira mendongak, “Iya Bu?"
“Mbak, ada mertuanya datang."
Mertua? Siapa? Oh ... pasti Bu Lina dan Pak Reno. Orang tua Abian. Hira hampir lupa.
"Oh, iya Bu, bentar."
"Iya Mbak, sekarang nunggu diruang tamu."
"Iya Bu. Bu, jangan lupa buatin minum ya…”
"Iya Mbak."
Hira pun segera beranjak dan pergi menemui sang mertua.
"Mama..." Hira menyapa Bu Lina lebih dulu, tak lupa juga gadis itu langsung bersalaman dan mencium kedua pipi sang mertua. "Sendirian Ma?"
"Hira, he'em Mama sendirian." Bu Lina membalas salamnya dengan memeluk sang menantu. Jadi Hira pun akhirnya ikut membalas pelukan sang mertua.
"Kamu kurusan. Masih kelihatan pucet juga." Ucap Bu Lina cemas setelah melepas pelukannya. Mertua Hira itu juga mengusap lengan sang menantu dengan lembut.
"Tapi Hira udah baikan kok Ma."
"Tapi kamu masih belum benar - benar sehat."
"Ini cuma kelihatannya aja kok Ma, aslinya udah beneran sehat kok. Aku juga udah doyan makan lagi, jadi Mama gak perlu khawatir."
"Syukurlah kalau gitu. Semoga bisa cepet pulih sama benar - benar sehat ya ..." Seru Bu Lina masih dengan tatapan khawatirnya.
Hira pun mengangguk sambil tersenyum lembut.
Bu Lina masih terus mengusap lembut lengan Hira. Ekspresi Bu Lina tiba - tiba berubah sedih. Ada genangan air mata juga yang perlahan terlihat dipucuk matanya.
"Mama?" Hira jelas sedikit bingung dengan keadaan ini. Kenapa tiba - tiba sang mertua berubah sedih dan akan menangis.
"Oh ... Iya." Bu Lina berusaha menahan air matanya agar tak terjatuh. Dan mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ini. Ini tadi Mama bikin beberapa kue sama cookies buat kamu. Ini nanti siapa tahu kalau kamu pengen makan sesuatu bisa kamu makan. Terus ini, ada madu asli katanya bagus untuk memulihkan tenaga apa lagi kalau habis sakit. Terus lagi, ada juga ini racikan jahe bisa buat minuman. Biar badan kamu hangat. Katanya ini juga bagus kalau orang punya penyakit maag. Gak usah kuwatir, ini Mama bikin sendiri. Mama sengaja pilihin jahenya yang bagus."
"Makasih ya Ma, kenapa Mama sampai repot buatin ini itu buat Hira. Padahal Hira udah gak apa - apa."
Hira menerima semua pemberian Bu Lina. Wajahnya jelas sedang khawatir. Bu Lina sedang berusaha terlihat biasa saja dihadapannya. Padahal sekarang ini jelas sekali kalau Bu Lina sedang tidak baik - baik saja. Dan entah apa yang membuat Bu Lina jadi berubah sedih seperti ini.
"Enggak, Mama merasa gak repot sama sekali. Mama malah seneng bisa buatin ini itu buat kamu. Karna cuma ini yang bisa Mama lakuin buat kamu. Jadi, Hira ..." Bu Lina akhirnya tak bisa menahan air matanya. Perempuan paru baya itu pun menangis. Dan kemudian meraih telapak tangan Hira untuk digenggam dan di usap lembut. "Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bilang sama Mama. Mama akan buatin semua yang kamu mau."
"Mama ..." Hira semakin khawatir melihat Bu Lina yang menangis. "Mama kok nangis?"
Tapi Bu Lina masih terus menangis sambil mengusap tangan Hira. "Maafin Mama ya sayang ... Maafin Bian juga." Ucap Bu Lina kemudian. Membuat Hira mengerutkan keningnya.
"Kenapa minta maaf?"
"Karna Mama sama Bian udah nyakitin kamu."
"Maksudnya Ma?" Hira jelas bingung dengan perkataan Bu Lina. Tapi juga jadi curiga. Jangan - jangan Bu Lina dan Abian tahu kalau dia punya trauma?
"Oh Ya Tuhan, astaga. Maaf ya sayang. Sangking khawatirnya sama kamu Mama jadi ngomong ngelantur." Bu Lina menghapus air matanya. Dan Hira tak sepenuhnya percaya dengan perkataan Bu Lina.
"Maksud Mama, Mama sama Bian merasa bersalah sama kamu. Kamu lagi sakit, tapi Mama sama Bian gak bisa nemenin. Mama pengennya kemarin setiap hari nemenin kamu dirumah sakit. Tapi sayang gak kesampaian. Sementara Bian, dia malah pergi jauh dan gak bisa jagain kamu sama sekali." Jelas Bu Lina semasuk akal mungkin. "Jadi maafin Mama sama Bian ya Hir?"
Hira pun mengangguk. Ternyata seperti itu dan bukan seperti yang dia pikirkan. "Gak apa - apa juga Ma. Lagian kemarin juga ada Papa yang nemenin Hira. Kata Papa, Mama kemarin juga datangkan tapi pas Hira lagi tidur. Jadi gak perlu merasa bersalah sama Hira. Ini juga sekarang udah dibikinin banyak banget makanan sama minuman. Gini aja Hira udah seneng kok Ma, udah merasa diperhatikan. Merasa punya ibu lagi." Seru Hira yang kemudian terkikik kecil.
"Iya, tolong, selalu anggap Mama ini Ibu kamu. Apapun keadaannya." Ucap Bu Lina yang kembali serasa seperti ada pesan tersirat didalamnya.
Hira memilih untuk mengangguk saja.
"Ya udah sana, ini bawah dulu masuk kedalam." Perintah Bu Lina kemudian.
Hira menurut. Meskipun merasa sedikit aneh. Dan setelah meletakkan oleh - oleh dari Bu Lina. Hira lun segera kembali ke ruang tamu tanpa lupa membawa secangkir teh yang sudah dibuatkan Bu Sulis tadi.
"Ini Ma diminum dulu."
"Terima kasih."
Bu Lina pun meminum tehnya.
"Hira," Seru Bu Lina setelahnya.
"Iya Ma?"
"Boleh Mama tanya sesuatu ke kamu?" Bu Lina bicara dengan hati - hati.
"Iya Ma mau tanya apa?"
"Mama pengen tahu gimana perasaan kamu sebenarnya sama Bian. Apa kamu masih sayang dan cinta sama Bian? Atau sebenarnya sudah tidak memiliki perasaan apa - apa."
Hira kembali mengernyit. Entah apa yang membuat Bu Lina tiba - tiba bertanya seperti itu.
"Enggak, bukan maksud apa - apa Mama tanya ini ke kamu. Mama murni, cuma ingin tahu bagaimana perasaan kamu sebenarnya. Mama cuma merasa semua ini serba mendadak dan juga terburu - buru. Kalian sudah lama berpisah. Dan perpisahan kalian dulu bukanlah perpisahan yang penyebab masalahnya sepele. Kalian pasti sama - sama terluka. Dan sejak kalian berpisah, setahu Mama kalian juga tidak pernah berhubungan sama sekali. Tapi tiba - tiba, Bian bilang ke Mama sama Papa, kalau kalian sudah kembali bersama dan mau melanjutkan pernikahan secepatnya."
"Mama bukannya gak seneng dengan keputusan kalian ini. Mama dan Papa senang sekali. Tapi dibalik itu semua, Mama juga perlu tahu dari sisi kamu. Apa kamu juga juga menginginkan pernikahan ini dan mau kembali lagi sama Bian? Atau kamu hanyalah terpaksa."
Untuk sejenak Hira terpaku mendengar penuturan Bu Lina itu. Bagaimana dia harus menjawabnya. Haruskah dia jujur dan bilang kalau dia terpaksa. Atau haruskah dia berbohong.
"Hira, seandainya memang, kamu sudah tidak punya perasaan sama Abian. Dan kamu merasa tidak bahagia. Mama ikhlas kalau kamu mau membatalkan pernikahan ini lagi. Kamu bisa meninggalkan Abian. Jangan pernah kembali lagi."
"Kenapa Mama tiba - tiba ngomong kayak gini?"
"Karna Mama gak mau kalau kamu jadi tersiksa. Mama juga ingin kamu bahagia."
"Hira bahagia Ma, dan pernikahan ini Hira juga yang ingin." Potong Hira cepat dengan seribu dusta. Kalau pun bisa dibatalkan dan lari. Hira pasti akan membatalkannya. Tapi sayang tidak semuda itu. "Mama kenapa kok tiba - tiba bisa berpikiran seperti ini?"
"Mama cuma tiba - tiba kepikiran saja. Kalau - kalau Bian yang memaksakan kehendaknya ke kamu dan kamu terpaksa menerimanya. Mangkannya Mama tanya ke kamu. Jangan sampai kamu sakit hati lagi gara - gara Bian. Kalau kamu sampai sakit hati lagi, sepertinya Mama gak akan pernah bisa memaafkan diri Mama sendiri dan juga Bian."
"Kayaknya terlalu banyak pikiran jadi mikirnya sampai kemana - mana. Mama tenang aja, Hira baik - baik aja kok. Dan Hira gak akan biarin Bian nyakitin Hira lagi. Jadi janga khawatir."
Bu Lina pun mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Ya udah sekarang senyum yang lebar, jangan sedih lagi."
Dan Bu Lina menuruti. Dia tersenyum lebar sambil sedikit tertawa kecil.
"Oh iya, Bian lagi ke Singapura, kantor cabang disana sepertinya lagi banyak masalah. Kemarin berangkatnya buru - buru dan gak sempat pamit ke kamu."
"Iya Ma, Hira udah tahu kok. Papa udah bilang."
"Sepetinya masalah disana lumayan berat, soalnya beberapa kali Mama coba hubungi, dia gak merespon. Dan sampai detik ini si Bian juga masih gak jawab." Bu Lina menghela nafas dengan raut wajah kembali khawatir. Sementara Hira hanya manggut - manggut. Ternyata bukan cuma pada dirinya Bian tak memberi kabar. Pada ibunya pun sama.
"Maaf ya sayang, padahal kalian mau menikah tetapi malah kayak gini."
Hira tersenyum. "Gak apa - apa Ma, santai saja. Toh katanya segala sesuatunya udah ada yang ngurusin."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments