11. Tentang trauma

"Dam,"

"Hem?"

"Lo tahu sesuatu gak?"

Adam menghentikan aktifitasnya untuk menoleh pada Abian yang dirasanya sejak tadi sikapnya sedikit aneh. Dan akhirnya, setelah beberapa waktu Abian duduk dikursi bar cafenya, lelaki itu mau bersuara dan bertanya padanya.

"Tentang?"

"Tentang Hira." Dan ternyata, karna Hira.

"Hira? kenapa?"

"Kayaknya ada yang aneh sama dia."

"Aneh? Aneh kenapa?"

"Gue gak tahu pastinya, tapi dihati gue kayak ada sesuatu yang ganjal yang dia sembunyikan gitu."

"Perasaan lo aja kali."

Jelas ini bukan sekedar firasat atau perasaan saja bagi Abian. Tapi ini sudah seperti sebuah hopotesis yang harus dia pecahkan. Sikap Hira yang tak biasa, tatapan jijik Hira serta raut wajah penuh kesedihan membuat Abian tak bisa tidur dan selalu kepikiran.

"Dam,"

"Hm, apa?"

"Lo tahu ciri - ciri orang yang punya trauma?"

Adam berpikir sejenak. "Emang Hira punya trauma?"

"Ck, kenapa lo langsung nyimpulinya kesana?" Abian mendengus.

"Ya kan awalnya lo bilang Hira bersikap aneh, terus ini sekarang tanya ciri - ciri orang yang punya trauma, ya wajar dong kalau gue langsung to the point kesana?" Bela Adam.

Abian pun menghela nafas panjangnya. Cukup masuk akal jawaban dari Adam itu memang.

"Gini deh sekarang gue tanya, emang si Hira kemarin kenapa?" tanya Adam kemudian, mencari tahu kejadian siapa tahu setelah dia tahu akhirnya dia bisa membantu.

Abian pun menceritakan apa yang terjadi kemarin dengan runtut. Sementara Adam mendengarnya dengan seksama sambil maggut - manggut.

"Kalau menurut gue, lo gak bisa menyimpulkan secara tiba - tiba kalau Hira punya trauma. Bisa aja karna emang kondisinya dia kan lagi sakit, lagi mual - mual dia jadi malu ke lo. Jadinya saat lo mau bantu dia tepis tangan lo, secara muntahan itu kan termasuk barang yang menjijikkan. Buktinya setelah dia dalam kondisi lebih baik dia langsung minta maaf ke lo." Ucap Adam akhirnya setelah mendengarkan cerita Abian tadi.

"Tapi Dam, tatapan Hira itu beda Dam." Abian yang masih belum puas kembali bertanya.

"Bukannya selama ini kata lo Hira itu selalu liat lo kayak liat barang jijik ya? Jadi bedanya dimana?"

Lagi - lagi ucapan Adam masuk akal. Tapi kenapa kemarin itu tatapannya serasa berbeda. Abian pun kembali membuang nafas panjangnya.

"Udahlah bro, gak usah terlalu dipikirin lagi. Seandainya ada apa - apa pun gue pastinya tahu. Lo tahu kan Hira itu kalau ada apa - apa pastinya cerita ke binik gue. Dan binik gue cerita ke gue. Jadi calm down. Oke?"

Abian mengangguk meskipun rasanya tidak puas. "Kasih tahu gue kalau emang ada sesuatu yang salah sama Hira."

"Pasti gue kabarin, lo tenang aja."

.

***

Uwek ...

Uwek ...

Hira memegang kedua sisi wastafel didalam kamar mandinya. Sejak semalam gadis itu tak berhenti merasa mual.

Wajahnya sudah sangat pucat. Keringat dingin sudah bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Badannya juga tak kalah bergetar hebat.

Hira kelelahan. Gadis itu menghidupkan kran dengan tangannya yang gemetar untuk membasuh mulut dan seluruh wajahnya.

Nafas Hira terdengar naik turun. Sekujur tubuhnya gemetar hebat. Hira tak memiliki kekuatan lagi. Gadis itu menyandarkan tubuhnya ketembok lalu secara berangsur terduduk dilantai.

Betapa menderitanya Hira sekarang. Perutnya nyeri sekali dan kepalanya sangat pusing dan terasa berat. Tapi dari sekian rasa sakit yang ada difisiknya maaih tidak mampu mengalahkan rasa sakit didalam hatinya.

Hira mulai meneteskan air matanya. Gadis itu menangis. Seiring kembalinya Abian dalam hidupnya. Bayangan akan adegan setiap adegan saat Abian tidur dengan seorang wanita kembali mengusiknya di setiap hari.

Hira merasa jijik. Apa lagi saat mengingat Abian yang memeluknya hingga menciumnya kemarin. Mengingat bagaimana tubuhnya bersentuhan dengan lelaki yang sudah menghianatinya.

Hira mengusap seuruh tubuhnya kasar. Mencoba menghapus setiap jejak Abian disana. Bahkan bibirnya juga tak luput dari usahannya. Tanpa terasa cincin berbatu kecil juga melukai bibirnya. Jadilah bibir mungil itu kini berdarah.

Hira kembali merasa mual. Dengan cepat dia lalu berdiri kembali kewestafel diatasnya.

"Astaga, Hira ..."

Entah sebuah keberuntungan atau apa hari ini Mila tiba - tiba datang kerumahnya. Mila berlari kearah Hira. Menatap iba sang sahabat yang sudah terlihat lusuh.

"Ya Tuhan Hir, lo sakit ini, badan lo anget:"

Mila membantu Hira, membawanya ke atas kasurnya lalu menyelimuti Hira yang sudah sudah lemas.

"Harusnya kalau udah kayak gini lo langsung telpon gue. Jadi gue bisa cepet datang kesini. Ini kalau hari ini gue gak ada inisiatif kesini nasib lo gimana coba? mana Om Rafi kata Bik Sulis berangkat ke Bandung hari ini." Omel Mila dengan nada cemasnya.

"Bentar, lo taruh dimana obatnya?" Mila membuka setiap laci yang ada didekat kasur Hira.

"Habis." Walaupun lirih Mila bisa mendengar suara Hira.

"Astaga. Kenapa sampai kehabisan sih?" Mila mendecak kesal. Lalu menghela nafas panjangnya lagi. Tidak seharusnya dia kesal disaat seperti ini.

"Ya udah bentar gue beliin dulu. Lo taruh mana resep yang biasanya?"

"Gak usah Mil, gue cuma butuh istirahat."

"Apanya yang cuma butuh istirahat Hir? Ini kondisi lo lumayan parah tahu gak sih? Padahal udah lama banget lo gak kambuh sampai kayak gini. Jadi please nurut ke gue. Kasih tahu dimana resep obatnya biar bisa cepet gue beliin."

"Ada di laci." Hira menjawab, dengan sisa tenaganya.

Mila pun bergegas mencari resep obat milik Hira. Setelah ketemu dia langsung pergi ke apotik. Tak butuh waktu lama baginya untuk segera kembali ketempat Hira.

Kini, Mila mendapati Hira yang sudah tertidur pulas. Wajah pucat Hira, dengan lingkaran hitam dibawah matanya serta pipi tembam yang berubah tirus dalam beberapa minggu ini membuat Mila kembali menatap iba. Hatinya rasanya juga sakit melihat Hira yang seperti ini. Dan tak ingin mengganggu tidur Hira. Mila pun memilih untuk keluar dari kamar Hira.

Dua jam berlalu. Semangkok sup dan beberapa lauk pauk sudah siap dimeja makan. Mila tidak pulang. Dia memasak beberapa lauk pauk Hira.

"Heh, udah bangun? gimana udah enakan?" tanya Mila.

"Lumayan."

"Nih makan, gue udah capek - capek ya masakin lo. Awas aja gak lo habisin." Ucap Mila penuh dengan nada sinis tapi juga perhatian. Membuat ahira tersenyum geli.

"Habis makan minum obatnya, tadi gue udah beli, tuh." Mila menggerakkan dagunya menunjuk obat yang dia letakkan diatas meja tak jauh dari tempat mereka.

Hira mengangguk. Gadis itu lalu menyeret kursi didekatnya dan duduk di meja makan. Tangannya juga sibuk mengambil beberapa makanan menuruti perkataan Mila tadi.

Selesai makan dan minum obat, Mila dan Hira kembali ke dalam kamarnya. Kedua wanita itu duduk bersebelahan diatas sofa yang ada disana.

"Hir,"

"Hm?"

"Gue boleh tanya kan?"

"Hm."

"Sejak kapan trauma lo ini kambuh?" Tanya Mila penasaran.

"Sejak papa bilang ke gue harus nikah sama Abian."

"Dan setiap lo kambuh gelajanya parah kayak gini?"

Hira menggeleng. "Enggak, ini yang paling parah. Yang kemarin - kemarinnya mual - mual biasa dibuat tidur udah bisa ilang."

Mila menghela nafasnya panjang. "Pantes, gue udah curiga kalau trauma lo pasti kambuh. Lihat aja badan lo kelihatan kurusan."

Hira tersenyum tipis.

"Papa lo masih gak tahu?"

Hira menggeleng.

"Terus sampai kapan lo bakalan ngerahasiain ini dari papa lo?"

"Selamanya."

Mila tergelak tak habis pikir. "Terus kalau lo pas kumat kayak tadi apa papa lo gak curiga?"

"Papa tahunya gue punya sakit maag kan Mil."

"Tapi papa lo itu berhak tahu tentang keadaan anaknya Hira."

"Iya gue tahu, tapi buat sekarang meskipun papa tahu semuanya juga gak bakalan berubah Mil. Kita udah gak bisa mundur."

Mila lagi - lagi menghela nafasnya kasar. "Terus kalau lo kumat terus - terusan gini, ini juga gimana? gak mungkin lo nahan buat seterusnya kan?"

"Buat saat ini, sebisa mungkin bakalan gue tahan. Walaupun gue jijik, walaupun gue eneg, walaupun gue muak, gue tetep mau bertahan. Gue bakalan berobat ke psikolog atau ke psikiater terbaik sampai gue sembuh total. Karna gue udah gak mau Mil, sekali lagi dipermainkan sama Abian. Udah cukup dia nyakitin hati gue sampai gue begini. Dan sekarang gue gak akan biarin dia ngambil semua harta benda gue ataupun keluarga gue. Lo ngerti kan?"

Episodes
1 1. Kabar terdasyat
2 2. Pertemuan keluarga
3 3. Abian Si Psikopat
4 4. Pikiran gila
5 5. Jalankan misi
6 6. Pokoknya aneh
7 7. Lomba balas dendam
8 8. Sama - sama tahu
9 9. Raja dan ratu drama
10 10. Kenangan masa lalu
11 11. Tentang trauma
12 12. Rasa sakit
13 13. Abian Tahu
14 14. Keputusan yang berat
15 15. Rindu?
16 16. Curiga
17 17. Separuh jiwa yang hilang
18 18. Peliknya sebuah permasalahan
19 19. Kebohongan berlapis
20 20. Firasat
21 21. Ayo sembuh
22 22. Ini adalah cinta
23 23. Ayo bangkit
24 24. You look so beautiful in red
25 25. Oke, deal!
26 26. Harus bisa berdamai dengan perasaan
27 27. Perfect in white
28 28. Sedikit percikan masa lalu
29 29. Hari terakhir masa single
30 30. Coba lebih pengertian lagi
31 31. Rasa haru
32 32. Janji suci?
33 33. Hari pertama pernikahan
34 34. Apakah ini tanda Hira sembuh?
35 35. Permintaan maaf
36 36. Udah ingin cerai
37 37. Sesuatu yang tak terduga
38 38. Kekhawatiran
39 39. Diluar BMKG
40 40. Singapura
41 41. Rencana tantrum
42 42. Tantrum
43 43. Jatuh cinta lagi
44 44. hipnotis lagi
45 45. Teriakan pagi hari
46 46. Tantrum kedua
47 47. Sesuatu yang tak terduga
48 48. Rasya is back
49 49. Siap balas dendam
50 50. Saling ancam
51 51. lupakan kecanggungan dan gengsi
52 52. Beraksi
53 53. Tidak sadar
54 54. Frustasi dengan perasaan
55 55. Hira sudah sembuh
56 56. Masih cinta?
57 57. Hari baru dimulai
58 58. Tiba - tiba ruwet
Episodes

Updated 58 Episodes

1
1. Kabar terdasyat
2
2. Pertemuan keluarga
3
3. Abian Si Psikopat
4
4. Pikiran gila
5
5. Jalankan misi
6
6. Pokoknya aneh
7
7. Lomba balas dendam
8
8. Sama - sama tahu
9
9. Raja dan ratu drama
10
10. Kenangan masa lalu
11
11. Tentang trauma
12
12. Rasa sakit
13
13. Abian Tahu
14
14. Keputusan yang berat
15
15. Rindu?
16
16. Curiga
17
17. Separuh jiwa yang hilang
18
18. Peliknya sebuah permasalahan
19
19. Kebohongan berlapis
20
20. Firasat
21
21. Ayo sembuh
22
22. Ini adalah cinta
23
23. Ayo bangkit
24
24. You look so beautiful in red
25
25. Oke, deal!
26
26. Harus bisa berdamai dengan perasaan
27
27. Perfect in white
28
28. Sedikit percikan masa lalu
29
29. Hari terakhir masa single
30
30. Coba lebih pengertian lagi
31
31. Rasa haru
32
32. Janji suci?
33
33. Hari pertama pernikahan
34
34. Apakah ini tanda Hira sembuh?
35
35. Permintaan maaf
36
36. Udah ingin cerai
37
37. Sesuatu yang tak terduga
38
38. Kekhawatiran
39
39. Diluar BMKG
40
40. Singapura
41
41. Rencana tantrum
42
42. Tantrum
43
43. Jatuh cinta lagi
44
44. hipnotis lagi
45
45. Teriakan pagi hari
46
46. Tantrum kedua
47
47. Sesuatu yang tak terduga
48
48. Rasya is back
49
49. Siap balas dendam
50
50. Saling ancam
51
51. lupakan kecanggungan dan gengsi
52
52. Beraksi
53
53. Tidak sadar
54
54. Frustasi dengan perasaan
55
55. Hira sudah sembuh
56
56. Masih cinta?
57
57. Hari baru dimulai
58
58. Tiba - tiba ruwet

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!