Jika ada penghargaan akting terbaik didunia nyata. Mungkin Hira dan Abianlah sang juaranya. Karna tidak akan ada yang lebih baik dari sebuah senyuman palsu yang ditampilkan oleh keduanya.
Hira dan Abian saling berpandangan, saling tersenyum manis. Berlagak sama - sama senang atas pertemuan tak terduga keduanya.
"Kok kamu gak bilang kalau mau kesini?" Abian menyapa Hira dengan nada yang dibuat selembut mungkin. Entah terbang kemana lo gue yang biasanya mereka gunakan.
"Kamu sendiri kok gak bilang kalau mau kesini?" Balas Hira, tak mau kalah. Hingga membuat Abian mendecih diam - diam.
"Tadi tiba - tiba, habis dari kantor pengen yang seger - seger jadi mampir kesini."
"Oh, sama. Aku juga gitu. Tadi tiba - tiba di telpon Mila disuruh kesini."
Abian menarik kursi disampingnya lalu menepuknya. "Sini, duduk sini."
Dan dengan tidak senang hati, Hira pun duduk disamping Abian sambil memamerkan senyum manis palsunya.
"Mau minum apa?"
"Kayak biasanya. Kamu masih ingat kan apa yang aku suka?" Sebuah pertanyaan pematik sengaja diberikan oleh Hira.
"Dam, leci yakultnya." Seru Abian pada Adam tanpa mengalihkan padangannya pada Hira dengan sikap jumawanya. Yang sesungguhnya sangat menyebalkan dimata Hira.
"Mau makan malam sekalian? ini udah jam 7, biasanya kamu makannya jam segini kan?"
Hira menggeleng. "Enggak, aku lagi diet. Soalnya nanti takut pas acara hari H, aku malah gendut dan bikin gaunnya gak muat."
Abian sebetulnya ingin tertawa mengejek. Seorang Hira diet? wow.
"Mana mungkin gak muat Hir, ini badan kamu juga kecil gini. Ngapain diet. Itu malah gak sehat juga jadinya nanti. Lagian kamu meskipun gemuk pun tetep aja cantik."
Hira diam - diam mendecih. "Oh iya? berarti kamu suka kalau aku jadi gendut?"
"Kenapa enggak?" Bian mengangguk. Meskipun dalam hati berkata, ya enggaklah.
"Oke kalau gitu. Aku gak jadi diet deh." Saut Hira enteng sengaja ingin membuat Abian kesal. Dan itu sukses. Meskipun cuma diam - diam.
"Oke, kalau gitu, kamu mau makan apa?"
"Mil, sisa apa?" Hira memekik pada Mila yang berdiri disamping Adam didepan meja bar,
"Sisa apa yang?" Mila melempar pertanyaan pada Adam.
"Cuma ada nasi goreng sama mie aja, mau?" Adam langsung menjawab Hira.
"Oke, gas."
Adam dan Mila beranjak dari tempatnya untuk menyiapkan makanan. Maklum saja, saat itu sudah malam. Cafenya sudah tutup dan para karyawan sudah pulang semua. Jadi mau tidak mau Mila dan Adam pun yang menyiapkan sendiri.
"Gila, bisa - bisanya mereka berdua cosplay jadi pasangan yang saling menyayangi." Rupanya Roby menyusul Adam dan Mila ke dapur. Lelaki itu sudah eneg melihat kepura - puraan yang dipamerkan Hira dan Abian.
"The real best actor and artist in the world." Saut Adam sambil terkekeh. Yang disusul juga oleh Roby. Sementara Mila cuma menghela nafas panjang mendengar setiap celetukan Roby dan Adam yang tak kalah dengan emak - emak komplek.
"Dam, sini coba liat tuh." Roby sedikit menarik Adam agar Adam bisa mengintip Hira dan Abian.
"Lo liat, kayaknya mereka ini sebetulnya lagi sama - sama muak, tapiditahan - tahan." Ucap Roby lagi.
"Mana?" Adam memvalidasi."Iya woy ..." Kemudian kembali terkikik.
"Eh, gue punya ide." Roby tiba - tiba tersenyum jail. Membuat Mila yang sedari tadi cuma diam akhirnya mengernyit curiga.
"Gimana kalau kita buat mereka CLBK?" Seru Roby mengeluarkan idenya.
"What?" Mila berucap segit.
"Ayo kita bikin mereka jadi deket lagi. Kita buat mereka saling jatuh cinta lagi biar pernikahan mereka bisa jadi pernikahan yang sakral. Biar gak ada lagi tuh cerita balas dendam, balas dendaman lagi."
"Ck! Kayak yang gampang banget gitu nyatuhin mereka lagi." Decak Mila malas.
"Ya kan dicoba. Siapa tahu berhasil." Seru Roby.
Tapi Mila acuh tak acuh.
"Kayaknya boleh juga sih usulan lo." Adam malah setuju.
"Kok jadinya kamu malah dukung si yang?" Mila protes.
"Ya apa salahnya sayang, siapa tahu pernikahan mereka beneran bisa jadi pernikahan yang sakral. Apa lagi mereka juga temen kita."
"Tapi aku gak yakin, apa lagi gak ada jaminan juga kalau si Bian gak bakalan nyakitin si Hira lagi." Ungkap Mila.
"Lah kapan si Bian nyakitin Hira?" Roby nyeletuk. "Lo tahu sendiri lo Mil, gimana faktanya dulu. Bian gak pernah selingkuh. Dia gak pernah menghianati Hira. Pure murni kejadihan dulu itu karna Bian yang dijebak. Tapi si Hiranya tuh yang gak mau sabar sama percaya sama Bian." Cerocos Roby kesal.
"Eh, gak menyakiti gimana? Asal lo tahu, Hira berbulan - bulan udah kayak mayat hidup ya gara - gara temen lo itu. Dan gimana Hira bisa percaya kalau dulu buktinya juga begitu. Inget, Hira liat pakai mata kepalanya sendiri waktu Bian tidur sama tuh cewek. Jadi ya gak salah juga kalau Hira akhirnya gak percaya!" Mila ikut mendengus kesal.
"Lah kenapa jadi berantem gini sih?" Adam mendadak bingung. Disatu sisi ada sang istri, disisi lain ada sang sahabat.
"Temen kamu itu bilangi. Lagian nyari bukti aja lama banget, heran." Mila melengos.
"Aish!!!" Roby juga melengos kesal.
"Udah ya udah. Please jangan berantem. Oke?intinya disini semuanya salah. Mereka sama - sama ber ego tinggi, dan gak ada yang mau ngalah. Padahal sebetulnya mereka dulu cuma salah paham. Jadi sekarang jangan dibahas lagi. Lebih baik kita lurusin aja masalah itu buat mereka. Oke?" Ucap Adam dengan bijak. Tangannya juga sibuk mengelus lengan sang istri agar tak emosi kembali.
***
Kembali pada Abian dan Hira. Mereka sepertinya sedang asik mengobrol. Dengan nada masih saling sindir menyindir meskipun terasa halus.
"Habis ini masih ada rencana?" Abian tanya.
Hira menggeleng. "Gak ada sih, free."
"Mau gak ikut aku?"
Hira mengernyit. Ini sudah hampir tengah malam padahal. "Emang mau kemana?"
"Jalan - jalan malam, keliling kota, sambil naik motor misalnya." Jawab Abian yang seketika langsung membuat Hira tergelak.
"Lah kenapa malah ketawa?" Tanya Abian heran.
"Biasanya kamu kalau udah ngajak aku naik motor malem - malem gini lagi banyak pikiran."
Abian ikut tergelak, tapi dalam hati langsung mendecih, Hira ternyata masih ingat akan kebiasaannya. "Kamu masih inget kebiasaanku?"
"Of course. Semua kebiasaan kamu aku masih ingat banget. Mau aku sebutin?" Ucap Hira jumawa. Tapi dalam hati, "Kenak kan lo,cih!"
Abian mengangguk mempersilahkan.
"Kamu itu kalau lagi galau atau stres pasti motoran malem - malem. Terus kalau lagi sibuk, tetep ngabarin meskipun lama balesnya. Kalau lagi seneng atau punya kabar baik, suka datang tiba - tiba. Terus kalau lagi sedih, ini yang paling aku gak suka. Kamu pasti ngilang." Celetuk Hira dengan sangat detail. Dan tak lupa sikap jumawanya yang menyebalkan.
"Bener." Adam menyetujuinya. "Dan aku juga, aku juga masih hafal sama kebiasaan kamu." Adam tak mau kalah.
"Really?"
Abian mengangguk.
"Yang pertama. Kamu itu kalau lagi datang bulan bawahannya pasti sensi terus. Apa - apa pasti salah dimata kamu. Kamu juga jadi suka marah - marah. Gak peduli aku lagi kangen, aku lagi labil, aku lagi kesel juga. Entah itu ditempat umum atau waktu kita berdua, pokoknya kamu tetep marah - marah."
Hira mencebik kesal. Dibatinnya pasti Abian sengaja.
"Jangan kesel dulu. Aku belum selesai."
"Malas ah, lo, ingetnya cuma yang jeleknya doang." Hira pun manyun.
Abian tergelak. Dalam beberapa detik, Abian kembali terhipnotis pada ekspresi manyun Hira yang cute itu. Tapi kemudian, lelaki itu berusaha menyadarkan dirinya. Dia tidak boleh jatuh kembali pada pesona Hira.
"Tenang enggak kok ini udah gak ada yang jelek." Bela Adam.
"Cih."
"Aku terusin ya..."
Hira tak menjawab tapi mempersilahkan, meskipun dengan sikap malas.
"Kamu itu kalau lagi badmood sukanya maka pedes - pedes. Kalau udah makan yang pedes - pedes pasti moodnya balik lagi."
"Terus, setiap kali kamu panik, kamu pasti jadi pelupa. Jadi aku yang selalu jadi reminder kamu kalau udah gitu."
"Em terus kebiasaan yang lain. Kamu suka ceroboh. Kalau lagi pengan sesuatu kadang gak memperhatikan sekitar atau keadaan. Yang berakhir kadang malah bikin kamu sakit atau terjebak dalam situasi yang sulit. Dan disaat itu, kamu pasti panggil aku buat beresin semua yang udah kamu lakuin."
Lah kenapa jadi makin kesini makin muji diri sendiri kayak yang paling bisa diandalkan? Jadinya diam - diam Hira pun merotasikan matanya jengah. Tapi kemudian tersenyum manis nan palsu pada Adam.
"Tapi dari semua kebiasaan kamu itu. Itu yang bikin aku jatuh cinta sama kamu." Ucap Abian kemudian.
Oh jadi ini arah pembicaraannya.
"Hir, kamu itu wanita yang apa adanya. Gak pernah sekalipun kamu menutupi itu semua dari aku. Sikap kamu yang gitu itu malah membuat aku ngerasa kalau aku itu adalah pelindungnya kamu." Ungkap Abian.
"Kamu yang selalu telpon aku ketika butuh bantuan atau pertolongan membuat aku ngerasa bahagia dan ngerasa dicintai serta dihargai juga." Lanjut Abian.
"Jadi Hir, please jangan lagi benci aku dan tolong terima aku yang kotor ini jadi suami kamu." Pintahnya kemudian.
Abian menatap dalam mata Hira. Tangannya juga perlahan meraih jemari Hira dan menggenggamnya lembut. Jika, seandainya Abian berkata seperti ini disaat Hira tidak tahu apa rencana Abian padanya mungkin saat ini Hira sudah terharu dan ke GRan. Tapi sayangnya Hira sudah tahu lebih dulu rencana Adam. Jadinya Hira pun hanya tersenyum, yang dibuat semanis mungkin.
Hira tersenyum dan mengangguk. Dan Abian juga begitu.
"Boleh aku peluk kamu?" Tanya Abian.
Hira pun mengangguk.
Abian pun memeluk erat Hira. Mebelai lembut rambutnya yang panjang. Tapi kemudian dibalik pelukan itu. Adam tersenyum smirk merasa dialah pemenangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments