Hira dan Pak Rafi memasuki sebuah rumah. Sudah jelas sekali ini rumahnya siapa. Ini adalah rumah kediaman keluarga Iskandar orang tua Abian. Yang sudah 2 tahun ini Hira tidak menginjakkan kaki. Jangan tanya bagaimana perasaan Hira saat masuk kembali kesini. Karna rasanya biasa saja. Tidak ada yang istimewa dan tidak ada yang wah meskipun rumah ini jauh lebih besar dari pada rumahnya.
"Hira ..." Dan ya, suara Bu Lina langsung menyeruak saat melihat kedatangan Hira.
"Hira, sayang. Akhirnya kamu datang Nak." Bu Lina memeluk hangat Hira.
Jangan salah, sedari dulu Bu Lina memang sangat menyayangi Hira. Bu Lina juga adalah orang yang paling terpukul saat mendengar kabar putusnya hubungan Hira dan Abian.
"Ma." Begitu juga dengan Hira, Hira juga menyayangi Bu Lina.
"Mama kangen kamu sayang, kangen sekali."
"Sama Ma, Hira juga kangen."
Beberapa saat keduanya berpelukan, tanpa peduli pada beberapa orang yang ada disekitar mereka. Hingga akhirnya tak lama pelukan itu pun terurai.
"Bagaimana kabar kamu selama ini sayang? Kamu baik - baik saja kan Hira?"
"Baik kok Ma, kayak yang mama lihat."
"Syukurlah sayang." Bu Lina menatap sayang Hira dan membelai lembut wajah ayunya. Mata Bu Lina tiba - tiba jadi berkaca - kaca.
"Ma..." Hira yang paham pun tersenyum menenangkan.
"Maaf ya sayang, mama terbawa suasana." Bu Lina menghapus air matanya. "Maaf ya Pak, saya terlalu senang karna Hira sudah mau menerima Abian lagi." Ucapnya kemudian pada Pak Rafi.
"Tidak apa - apa Bu, saya sendiri juga merasa bahagia karna anak - anak kita bisa kembali bersama." Saut Pak Rafi.
Kini beralih pada dua sosok pemuda yang sedari tadi berdiri disamping sang ibu. Mereka adalah sepasang kakak beradik yang bernama Abian dan Rega.
"Pak," Rega menyapa lebih dulu Pak Rafi kemudian menyapa Hira. "Mbak,"
"Hay Ren," Sapa Hira begitu ramah pada Rega.
Rega kini sudah tumbuh menjadi sosok lelaki dewasa. Pemuda itu kini sudah terlihat begitu rupawan dan kharismatik.
"Gimana kabarnya Mbak? Aku kangen lo Mbak sebenarnya selama ini sama Mbak. Tapi aku takut mau hubungin Mbak duluan."
"Lah ngapain juga takut? emang tampang aku nyeremin?"
"Ya gak gitu Mbak, cuma takut aja nanti sama Mbak Hira malah gak dibales."
"Ya pasti aku baleslah Ren, kamu kan gak salah apa - apa." Jawab Hira yang jelas dengan nada penuh sindiran.
"Hehehe. Iya juga sih, yang salah kan Mas Bian ya? kenapa selama ini aku yang jadi insecure gini mikirnya." Celetuk Rega dengan tampang polosnya. Membuat Hira jadi terkikik.
"Aaahh!!" Rega memekik. Kepalanya tiba - tiba dipukul seseorang yang tidak lain adalah sang kakak. "Mas ... sakit tahu!" Rega meringis.
Abian tersenyum mengejek. Dan kemudian Abian membuat sebuah kode yang mengisyaratkan agar Rega jangan banyak bicara.
"Ish!! dasar psikopat." Gerutu Rega.
Tak peduli pada Rega. Abian sekarang lebih memilih menyapa sang calon mertua.
"Pa, berangkat jam berapa tadi? gak kena macet kan?" Abian basa - basi. "Duduk Pa." Abian juga mempersilahkan duduk.
"Gak kok, tadi untungnya perjalananya lancar." Saut Pak Rafi.
"Syukur kalau begitu. Soalnya biasanya jam segini rawan sekali sekarang disekitar sini macet."
Pak Rafi manggut - manggut.
"Maaf ya ini kebetulan Papanya Bian lagi ada perjalanan bisnis mulai seminggu yang lalu, jadi gak bisa ikut menemui juga." Bu Lina berucap.
"Gak apa - apa. Pak Reno kan memang sibuk orangnya jadi wajar saja."
Abian melirik Hira. Niat hati lelaki itu ingin menyapa Hira. Tapi saat itu Hira lebih dulu memalingkan wajah ke arah Bu Lina. Gadis itu dengan sengaja menghindari Abian. Abian tersenyum tipis melihatnya.
"Jadi bagaimana Pak?" Bu Lina bertanya. "Apa Hira mau menerima Abian kembali?" Wanita paru baya itu menatap Hira penuh harap.
Sementara Hira yang ditatap langsung kikuk dan mengalihkan perhatian. Karna sejujurnya dalam hatinya Hira sungguh tidak mau dan tidak sudi sama sekali untuk kembali bersama seorang Abian. Jadi ketika ditatap seperti itu oleh Bu Lina, Hira tak bisa.
"Iya, kedatangan kita hari ini karna ingin menjawab pertanyaan itu." Saut Pak Rafi. "Hir, bagaimana kamu mau kan menerima Abian kembali?" Pak Rafi bertanya pada sang anak.
"Papa udah tahu kan jawabnya." Saut Hira.
"Lebih baik kan kamu yang memberitahu mereka langsung."
"Sama aja Pa, Papa aja deh."
"Kenapa Mbak Hir? malu ya?" Rega nyeletuk menggoda Hira.
Hira tersenyum palsu. Iya, anggap aja begitu.
"Cie, gitu aja malu." Goda Rega.
"Ya sudah kalau memang kamu malu dan gak mau bilang sendiri, gak apa - apa kok sayang. Yang penting kamu mau kembali sama Abian dan menikah lagi sama dia." Bu Lina merasa senang. Dan lagi - lagi membuat Hira tersenyum palsu. Tetapi saat matanya tak sengaja bertemu dengan Abian, senyum itu langsung lenyap seketika dan berganti dengan lengosan.
Abian tersenyum geli. Masih saja dendam saja dia ternyata.
Sejak deklarasi persetujuan pernikahan tadi diucapkan. Maka obrolan berubah arah berganti menjadi seputar persiapan pernikahan. Mulai dari undangan, souvenir, baju pengantin, tempat dan acaranya. Semua dibicarakan disini.
Hira hanya iya - iya saja. Terserah bagaimana orang tua mengatur. Sejak awal Hira memang sudah tidak antusias sama sekali. Hira sudah terlihat lelah dan bosan. Dan segera ingin mengakhiri pertemuan ini.
"Hir, bisa kita ngobrol berdua sebentar?" Kata Abian tiba - tiba. Pemuda itu terlalu peka kalau Hira tidak berminat sama sekali dengan obrolan seputar persiapan pernikahan mereka.
Hira mengernyit. Ngapain Abian tiba - tiba mengajak dia ngobrol.
"Ikut aku, ketaman belakang." Abian lalu bangkit. "Ma, Pa, saya sama Hira ketaman belakang." Pamitnya kemudian.
"Oh, iya, sayang. Nikmati waktu kalian berdua ya." Sang mama bahkan memberi kode godaan pada Abian.
Hira mengikuti Abian. Mereka menuju taman belakang. Disana keduanya kemudian duduk di gazebo.
"Lomg time no see ..."
"Long time no see, long time no see. Perasaan baru juga seminggu yang lalu kita gak sengaja ketemu di nikahannya Mila. Pakai acara bilang long time no see. long time no see segala." Hira langsung mendecak membalas sapaan Abian.
Abian langsung terkekeh melihat reaksi Hira.
"Udah seminggu kan? berarti sama saja sudah lama kan? Dalam seminggu itu ada 7 hari. Dalam sehari ada 24 jam. Lah kalau 7 hari dijadikan jam berarti 24 x 7 sama dengan ... sudah 168 jam. Terus kalau djadikan menit berarti 168 x 60 menit em ... 1440 menit, terus kalau di detikin berarti 1440 x 60 detik berapa itu jadinya, coba kamu hitung pasti banyak banget itu." Balas Abian.
"Gak penting banget mau ngitung waktu."
"Ya biar gak penasaran, coba deh kamu hitung. Cepet."
"Ish! bentar. Berapa kata kamu tadi?" Hira mengeluarkan ponselnya dengan malas. "1140 x 60 kan?" Hira mulai mengetik. "Ish!!!" Tapi tiba - tiba langsung dia urungkan karna tersadar. Kenapa dia jadi menuruti perintah Abian?
Abian kembali terkekeh. Lelaki itu berhasil mengelabuhi Hira.
"Gak lucu!"
"Yang bilang lucu itu memangnya siapa? orang aku cuma ketawa aja kok."
"Ck!"
"Kamu belum berubah ya... Masih aja gampang dikibulin."
"Kamu juga gak berubah. Kamu masih aja suka mainin perasaan orang!" Balas Hira penuh dengan nada sindiran. Membuat Abian sedikit tersentak tapi kemudian berusaha dia tutupin kembali.
"Em, kayaknya itu memang bakatku." Ucap Abian dengan sikap jumawanya.
"Cih!"
Abian tersenyum melihat tanggapan Hira yang ketus sekaligus jutek itu.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Abian kemudian.
"Lo liatnya gue gimana?"
Ah, Hira mengubah panggilannya menjadi gue lo. Membuat Abian diam - diam merasa kecewa.
"Gue lihatnya," Abian membalas Hira, kemudian memperhatikan penampilan Hira yang sangat cantik itu. "Lo kayaknya, tambah seksi aja." Godanya kemudian.
"Ish!! dasar mesum!!!"
Abian terkekeh lagi. Puas sekali bisa menggoda Hira kembali.
"Kenyataannya memang begitu lo Hir, lo makin hot aja. Bagian depan, bagian belakang makin berisi aja."
"Ish!!" Hira semakin mendengus kesal.
"Bikin gue jadi tambah suka aja. Kalau gini gak nyesel gue bilang minta kawin lagi sama lo." Kan? belum apa - apa Abian sudah bikin migran.
"Kayaknya unfaedah banget gue ngobrol sama lo disini."
"Mending ngobrol sama gue lah, didalam lo jelas - jelas bosen."
"Lebih bosen lagi lihat muka lo dari deket kayak gini, tahu!"
Hira hendak meninggalkan taman belakang saat dengan tiba - tiba Abian lebih cepat menarik lengan Hira. Hingga membuat gadis tersebut terhuyung dan jatuh dipangkuan sang mantan tunangan.
"Aahhh ..."
Sejenak keduanya terpaku pada posisi masing - masing.
Hira dan Abian saling tatap. Keduanya tiba - tiba merasa getaran aneh pada diri masing - masing. Apa lagi aroma wangi dari tubuh mereka tiba - tiba menyeruak mengisi semua indra penciuman.
Abian mengarahkan wajahnya mendekat.
Cup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Indah MB
cup
di apain tuh? 🤭🤭
GET MARRIED WITH UNCLE ARKHAN, mampir
2024-08-04
1