"Ngomong - ngomong, Hira baru sadar. Hira kok gak lihat Papa kerja ya?” Hira bertanya dengan mulut yang penuh makanan. “Emang lagi gak ada kerjaan ya?”
Hari ini adalah hari ketiga Hira berada dirumah sakit. Dan selama itu pula sang papa selalu menemaninya, memberikan sejumlah perhatian dan tidak meninggalkan dirinya barang sedetik pun.
Pak Rafi tersenyum sambil meletakkan potongan melon yang sudah dia kupas dipiring yang ada dihadapan Hira. “Kalau ngomong soal kerjaan yang jelas ya gak ada habisnya. Cuma karna kamu lagi sakit jadi Papa dikasih ijin gak ke kantor buat jagain kamu sampai kamu sembuh.”
“Lah, tapi emang gak apa – apa gitu Pa? emang kerjaannya bisa ditinggal lama – lama?”
"Gak apa – apa, kan kerjaannya udah ada yang hendel, jadi aman.”
Hira manggut – manggut. “Syukur deh kalau gitu, soalnya biasanya kerjaannya Papa tuh selalu dikejar – kejar deadline. Takutnya gak kelar – kelar malah Papa dicap gak becus terus dipecat tuh sama yang punya perusahaan.”
Pak Rafi tergelak kecil mendengar ucapan Hira yang terkesan seperti sindiran halus itu. "Emang siapa yang mau pecat Papa cuma gara – gara gak masuk ke kantor tiga hari?”
“Ya siapa lagi, bosnya Papa sekarang itu siapa."
“Bian?”
“Lah itu tahu.”
“Ya mana berani dia pecat Papa. Kamu ini terlalu berpikiran negatif.”
“Ya siapa tahu, orang itu gak ada yang tahu lo Pa isi pikirannya. Siapa tahu dia sengaja memanfaatkan momentum buat cari – cari kesalahannya Papa. Dan sekarang adalah waktu yang tepat. Karna aku sakit, Papa jadinya harus jagain aku disini. Papa gak masuk ke kantor dan otomatis pekerjaannya Papa juga sedikit banyak jadi terbengkalai. Dan itu bisa dibuat jadi alasannya.”
Pak Rafi lagi – lagi tergelak kecil tapi kali ini sambil geleng – geleng.
“Kamu tahu gak Hir,” Pak Rafi menatap lembut sang anak.
"Hem?"
"Sekarang Papa jadi lega."
Hira mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Kalau kamu sudah ngomel – ngomel kayak gini, ini tandanya kamu sudah sembuh.”
“Papa ih, Hira serius.” Hira mencebik.
“Ya Papa juga serius.”
Hira semakin mencebik.
“Sudah, sekarang, mending kamu habiskan buahnya. Dan lagi, jangan suka mikir yang aneh – aneh soal Bian. Justru, harusnya kamu itu berterima kasih sama dia. Berkat dia Papa bisa fokus jagain kamu tanpa perlu memikirkan pekerjaan. Pekerjaan juga gak terbengkalai karna Bian sendiri yang hendel pekerjaannya bukan orang lain. Dan juga ini, Papa bisa jagain kamu fulltime gini juga berkat dia. Bian, yang kasih inisiatif sama yang kasih ijin, bukan Papa yang minta.”
Hira masih mencebik, walaupun sebetulnya dalam hatinya sedikit melunak mendengar perkataan Pak Rafi.
“Eh, karna sudah kadung ngomongin si Bian, Papa jadi mau cerita ke kamu tentang dia.”
Hira mengangkat setengah alisnya, dari gestur yang diberikan Pak Rafi sepertinya cerita tentang Abian adalah sebuah hal yang menarik.
“Kamu tahu gak, kenapa perusahaannya Bian itu bisa berkembang pesat?”
“Emang kenapa?”
“Karna Bian itu gila.”
“Hah??” Hira yang tak paham dengan maksud dari Pak Rafi jadi mengerutkan keningnya.
“Kamu tahu, beberapa minggu yang lalu ada acara lelang tender dari pemerintah. Papa diajak kesana sama Bian. Rencananya kita memang mau ikut yang proyek untuk pengadaan kain seragam. Ya kamu tahu sendirikan pabrik sudah lama gak beroperasi dan sudah rugi banyak. jadi untuk menghidupkan kembali kita perlu proyek ini. Tapi kamu tahu, sesampainya disana Bian malah lebih tertarik sama proyek lain dan malah mau melepas proyek yang sudah kita persiapkan segala sesuatunya. Jadinya karna itu, Papa sama Bian akhirnya adu argumen. Papa sudah kesel tuh kan sama Bian, karna menurut Papa peluang buat menangnya itu gak lebih dari 10% dan Bian tetep aja kekeh sama kemauannya.”
“Tuh kan Papa tahu sendiri kan sekarang, Bian itu emang kepala batu tahu Pa.” Saut Hira dengan wajah sebalnya.
“Dengerin dulu, Papa masih belum selesai ceritanya.”
Hira menanggapi malas.
“Akhirnya karna Bian yang udah kekeh dan gak mau dengerin Papa. Papa pun ambil keputusan sudah tidak peduli lagi sama dia. Papa biarin dia urus segala sesuatunya sendiri. Papa cuma lihatin aja. Tapi kamu tahu apa hasil akhirnya."
"Hem, apa emang?" Saut Hira sambil terus memasukkan buah kedalam mulutnya.
"Bian beneran berhasil memenangkan tender itu.”
“Wah, kok bisa?”
“Dan asal kamu tahu, bukan cuma satu tender tapi langsung tiga tender.”
"Wah, kok bisa? pakai ajian apa dia?"
“Ck, kok malh bawah - bawah aijian segala kamu ini." Seru Pak Rafi sedikit gemas dengan tanggapan sang anak.
Tapi Hira cuma mencebik tak peduli.
"Ya, dia bisa menang ya kayak yang Papa bilang tadi. Karna Bian itu gila.”
“Papa ih, bilang Bian gila mulu. Tapi arti gilanya bukannya ngejek tapi muji.” Hira protes.
“Ya emang itu kenyataannya. Karna dia ini berani ambil resiko tanpa peduli apapun. Mainnya gak main aman terus. Dan Papa gak menyangkah itu.”
“Cih, puji terus. Palingan juga itu cuma karna beruntung aja.”
“Bisnis itu gak bisa cuma mengandalkan keberuntungan Hira. Bisnis itu tentang kemampuan, strategi dan eksekusi. Dan Papa akui Bian punya itu semua. Dia memang berbakat. Pendekatan yang dimiliki Bian jauh lebih baik dan halus dari pada pendekatan yang biasanya Papa lakukan. Jadi gak heran kalau perusahaannya berkembang. Selain itu bukti nyatanya itu ya perusahaan Papa. Berkat di akusisi sama Bian, sekarang beberapa pabrik sudah mulai beroperasi lagi. Investor – investor juga mau bekerja sama. Beberapa kerugian juga sudah berhasil Papa tutup. Jadi ini bukan sekedar keberuntungan.”
“Oh.” Hira manggut – manggut dengan acuh, tak mau mengakui kemampuan Bian, meskipun dalam hatinya ada sedikit kekaguman.
“Dan ngomong – ngomong lagi soal Abian, kamu gak kangen sama dia?” Pak Rafi tiba – tiba menggoda Hira.
“Kok Papa jadi tiba – tiba kesana sih pertanyaannya?”
“Ya siapa tahu kangen, kan udah berapa hari gak ketemu.”
“Ih enggak ya.” Hira jelas mengelak. Karna ada dasarnya Hira memang tidak rindu.
“Beneran?” Pak Rafi tersenyum menggoda.
“Astaga, gak percayaan banget sih.”
“Syukur deh kalau memang gak kangen.”
Hira mencebik. Tapi ngomong – ngomong, Abian kemanakah? Hira belum melihatnya lagi sejak malam itu.
“Tapi iya, emang Bian kemana? Hira kok gak ngeliat dia sama sekali?"
Pak Rafi tersenyum geli. “Tadi katanya gak kangen, tapi sekarang kok malah tanya."
“Ya udah gak jadi.” Hira kembali mencebik.
Pak Rafi tertawa kecil melihat tingkah sang anak yang seperti anak kecil yang sedikit – sedikit ngambek.
“Bian lagi ada perjalanan bisnis ke Singapura. Sudah mulai hari pertama waktu kamu sakit itu dia berangkat. Dan kemungkinan baru kembali lagi kesini nanti dua minggu lagi.”
“What? dua minggu lagi? yang bener aja! kalau dua minggu lagi, bukannya mepet banget ya sama acara pernikahan?” Hira yang tadinya merasa tak peduli kini pun tak bisa menahan diri.
Pak Rafi tersenyum. “Tuh kan ternyata nyariin juga."
"Pa, ini beda urusannya. Please deh Pa."
"Iya - iya Papa tahu." Jawab Pak Rafi meskipun dengan wajah tak percaya.
Hira mendengus kesal. "Bisa - bisanya perjalanan bisnis lama banget."
"Sudah, kamu gak usah khawatir. Kemarin Bian bilang ke Papa katanya kamu gak usah khawatir. Katanya segala urusan udah dihandel sama anak buahnya, nanti kamu tinggal terima jadi kalau butuh apa - apa terutama soal persiapan pernikahan." Pak Rafi menenangkan.
“Astaga, tetep aja gak bisa gitu Pa," Hira mengerang frustasi. “Pa, kita nikahnya udah tinggal 3 mingguan lagi lo, dan kalau Bian baru 2 minggu lagi pulang berarti itu … astaga! kurang 5 hari dari hari H. Padahal seinget Hira kemarin fitting baju aja gak beres. Belum milih buat maharnya. Apa yang kayak gitu bisa diurusin sama anak buahnya?"
"Ya bisa aja Hir."
"Fitting baju sama anak buahnya? pilih mahar sama mas kawin sama anak buahnya? gitu maksud Papa?" Mendengar jawaban Hira Pak Rafi pun cuma bisa tersenyum kikuk.
"Biat gak sih dia itu sebenernya mau nikah? atau jangan - jangan emang sengaja mau dibatalin?"
“Ya jangan sampai batal. Kalau batal kamu tahu sendiri konsekuensinya."
Hira pun mendengus kesal.
"Sudah, gini saja, nanti kamu coba hubungin Bian biar kamu gak uring - uringan gini. Nanti kalau kamu uring - uringan terus, terus kumat lagi sakitnya, malah gak pulang - pulang dari rumah sakit." Saut Pak Rafi kembali berusaha menenangkan sang anak.
“Oh iya kemarin, Bu Lina kesini tapi pas kamu tidur. Dia bawah itu, mungkin kepikiran juga karna Bian yang perginya lama.”
Pak Rafi kemudian mengambilkan beberapa barang yang dibawahkan Bu Lina. Disana ada beberapa catalog baju pernikahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments