Hira menatap jauh kepada Abian yang tengah berjalan kearahnya dari balik kaca mobil. Gadis itu masih saja merasa aneh dengan setiap perubahan yang ditunjukkan oleh Abian padanya.
Ada beberapa kejadian tak biasa yang menurutnya aneh. Seperti halnya tadi saat direstaurant. Lagi - lagi Hira yang mau menjalankan misinya dengan cara menunjukkan perhatiannya pada Abian, harus mengalami kesia - siaan.
"Ini, americano special for you."
Hira tahu, Abian punya kebiasaan ngopi sebelum makan. Jadi Hira pun memesankan kopi itu untuk Abian.
"Gue udah gak ngopi."
Kemudian saat makanan datang. Biasanya Abian akan senang kalau dia diberi perhatian lebih. Jadi dengan inisiatif lagi Hira pun segara mendekatkan beberapa makanan ke dekat Abian. Gadis itu juga mengambilkan beberapa lauk untuk Abian dan menyisihkan tulang ikan untuknya juga. Karna Abian adalah salah satu orang yang tidak bisa makan ikan. Tapi tiba - tiba Abian langsung menghentikannya.
"Gak usah, gue bisa sendiri. Lo makan aja."
Dan alhasil, ternyata sekarang Abian sudah bisa makan ikan laut dengan bersih dan hanya menyisahkan tulangnya saja.
Acara makan siang sudah selesai. Kini mereka hendak membayar di kasir. Kebetulan saat itu ada antrian sedikit panjang orang - orang yang hendak membayar juga. Disaat seperti itu, Abian biasanya akan ngomel - ngomel dan jadi tidak sabar. Jadi, Hira pun hendak kembali melancarkan aksinya, tapi rupanya,
"Mana dompetnya, ini antrinya panjang." Pintah Hira.
"Gak usah, biar gue aja."
"Heh?? Gak salah?"
"Maksud lo? Emang apanya yang salah?"
"Ya kan biasanya gue yang antri, lo yang nunggu dimobil."
"Mulai detim ini, gue yang antri lo yang duduk dimobil."
Dan kejadian terakhir.
"Lo mau gue anter kemana? langsung pulang atau lo masih mau kesesuatu tempat?" Tanya Abian.
"Langsung pulang."
"Oke." Dan Abian langsung mengemudikan mobilnya.
"Loh kok langsung jalan? lo gak mau ngerokok dulu?"
Ya, satu kebiasaan yang Hira hafal juga, Abian akan selalu membuat Hira menunggu sampai lelaki itu menghabiskan sebatang rokok selepas makan. Entah apapun keadaannya. Tak peduli meskipun Hira sedang terburu - buru sekali pun atau punya kepentingan yang lain. Kalau urusan ahli hisap Abian tidak akan mau mengalah sama sekali.
"Gue udah berhenti ngerokok."
"Heh?? Seriusan?? Lo berhenti ngerokok? Demi apa?"
Dan yang terakhir. Tiba - tiba Abian menghentikan mobilnya disalah satu trotoar jalan. Lalu turun dari mobil menenteng beberapa plastik makanan dari restaurant tadi. Dan kemudian membagikannya pada anak - anak jalanan yang ada disana.
Sungguh pemandangan yang menakjubkan bukan. Hingga mampu membuat Hira tercengang dan tak mampu berkata - kata.
***
"Woy ..." Mila menepuk pundak Hira lumayan keras. Wanita itu baru saja tiba di sebuah cafe dimana Hira sudah lebih dulu datang. "Kenapa lagi lo?"
Hira menoleh, tapi tatapannya terasa kosong dengan wajah terlihat cengong.
"Hir!" Mila mengernyit. "Kenapa lagi sih lo? jangan bikin gue takut deh lo. Perasaan makin kesini lo makin gak normal aja deh."
Hira tiba - tiba mendengus dengan sedikit tergelak.
"Hira?" Mila menanti penjelasan dari Hira.
"Mir, Bian berubah." Ucap Hira yang membuat Mila kembali mengernyit.
"Seorang Abian berubah Mila. Lo percaya?"
"Maksud lo?"
"Lo tahu gak Bian sekarang gimana?"
Mila menggeleng, bingung.
"Dia berubah Mil."
Mila kembali mengeryit, bingung.
"Mil, gue ngerasa Abian itu kayaknya lagi kerasukan arwah jin sholeh deh Mil. Masak nih ya dia itu sekarang lebih care, lebih slow, lebih sabar tahu gak sih? dia itu bener - bener berubah banget 180 derajat dari pada dulu."
"Oh ya? Masak sih?"
Hira mengangguk mantap. "Beda banget, sumpah. Mulai dari sikap, sifat, sampai ke tampang - tampangnya sumpah beda. Kayaknya fix tuh anak emang beneran kerasukan arwahnya orang - orang sholeh deh." Hira nyeletuk sekali lagi.
"Wow ... Bagus dong kalau gitu."
"Bagus apanya Mila, ya enggaklah. Malah yang ada aneh tahu gak sih."
"Lah? Kenapa begitu?"
"Coba deh lo pikir Mil, itu seorang Abian lo Mil. A.Bi.An. Yang sukanya semaunya sendiri, gak peduli sama orang, cuek sama orang, suka ngatur - ngatur, gak punya jiwa sosial, selalu mikirin diri sendiri and now, dia tiba - tiba berubah jadi orang yang care plus dermawan?? Mil, this is something wrong! something wrong!" Hira menekan kata - katanya.
"Itu mah cuma karna pikiran lo aja yang selalu negatif thinking sama Abian. Jadi lo ngerasa kalau perubahannya Abian itu aneh."
"Gak gitu Mila, tapi ini emang beneran aneh. Gak mungkin juga dia tiba - tiba jadi orang baik dalam waktu sekejab. Bayangin nih ya, dulu itu Bian itu selalu deh nyuruh - nyuruh gue buat pakai baju yang lebih all out, yang lebih kebuka katanya biar gue gak kalah cantik sama pacar temen - temennya. Dan kemarin waktu fitting baju pas gue pilih yang agak kebuka eh dia tiba - tiba ngelarang. Dia gak suka dan takut gue diliatin orang? selain itu, dia juga udah berhenti gak ngopi, makan gak mau gue layanin katanya dia udah bisa sendiri dan malah dia dengan perhatian motongin gue ikan. Dia juga udah gak ngerokok padahal lo tahu sendiri kalau dia perokok berat. Dia juga udah mau nunggu dengan sabar antrian yang panjang. Dan tiba - tiba, yang paling gak masuk akal si Abian jadi lebih dermawan?? wow ... Imposible Mila!"
"Seriusan si Abian begitu?"
"Yap, serius, beneran, sumpah."
"Woow, berarti beneran keren dong kalau gitu."
"What?? keren lo bilang?" Hira mendecak tak percaya.
"Lah terus apa dong kalau gak keren? Hebat lo Hir, seandainya Bian emang udah bisa berubah lebih baik kayak gitu. Harusnya lo seneng."
"Cih! seneng lo bilang? bagi gue tetep gak masuk akal. Apa lagi berubahnya dalam waktu sekejab gini. Its imposible!"
Mila tersenyum. Gadis itu tanpa disuruh juga menyesap es kopi milik Hira yang ada dimeja. "Bentar deh, maksud lo dalam sekejab gimana sih?perasaan menurut gue kayaknya gak dalam waktu sekejab juga deh perubahannya."
Hira mengernyit, bingung kenapa jadinya Mila membela Abian?
"Gini ya, lo putus sama Abian udah berapa lama?"
"2 tahun."
"Udah 2 tahun kan? Berarti juga udah lama kan? Dan selama itu lo juga gak bakalan tahu apa yang dialami sama Abian sampai akhirnya dia bisa berubah jadi lebih baik."
"Ya tapi tetep aja aneh Mila, gak masuk akal gitu." Hira tetap kekeh.
Mila menghela nafas. "Terserah lo aja deh."
"Ish! Lo pasti gitu, ujung - ujungnya pasti bilang terserah." Hira mencebik.
"Ya mau gimana lagi, gue ngomong pun lo tetep kekeh sama pikiran lo. Lagian juga nih ya, kan bagus kalau emang Abian beneran berubah kearah yang lebih baik. Lo udah gak perlu lagi ngadepin sikap sama sifat jeleknya dia. Lo juga pasti bakalan bahagia juga pas waktu nikah sama dia."
"Cih! Yang mau bahagia sama dia emang siapa?" Hira mendecih, meremehkan ucapan Mila.
"Lah emang lo gak mau gitu hidup bahagia?"
"Enggak, kalau itu sama Abian."
"Astaga."
"Lo inget kan rencana gue dulu."
"Rencana? Rencana yang mana?"
"Rencana ngerebut harta kekayaan Abian." Hira tersenyum smirk.
"Hir, jangan bilang dulu lo serius?" Mila menatap tak percaya.
"Ya seriuslah Mila. Bahkan gue udah ngejalanin misi gue."
"Hir?" Mila semakin tak percaya.
Hira semakin menampakkan senyum smirknya yang jahat. "Lihat aja, gue bakalan bikin Bian bertekuk lutut sama gue. Terus setelah itu gue bakalan kuras habis hartanya. Gue pastiin, si Bian jatuh miskin dan menderita. Dan setelah itu gue bakalan ceraiin dia."
Mila pun melonggo saat Hira mengungkapkan kalimat itu.
"Mil, lo harus dukung gue. Karna ini adalah pembalasan dendam gue ke Abian karna udah berani - beraninya hianatin gue dulu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments