18. Peliknya sebuah permasalahan

Sudah diduga, begitu mendengar cerita dari Bu Lina, Pak Reno langsung marah besar. Laki - laki paru baya itu tak bisa menahan emosinya. Dan terlihat sangat geram pada Abian yang duduk menunduk disofa. Seorang anak laki - laki yang selama ini dia banggakan sekarang mampu membuat kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Sungguh Pak Reno sangat kecewa pada Abian.

"Bisa - bisanya kamu bermain - main dengan perusahaan orang padahal kamu sendiri tahu bagaimana perasaan kamu waktu dijebak sama Andreas?" Pak Reno memekik.

"Sebenci - bencinya kamu sama Hira dan sedendam - dendamnya kamu sama Hira harusnya kamu kendalikan pikiran kotor kamu itu."

"Apa seperti ini Papa mendidik kamu? Apa seperti ini Papa membesarkan kamu?"

"Papa kecewa sama kamu Bi. Papa sangat kecewa."

Pak Reno mengusap wajahnya kasar. Sudah tak tahu lagi harus berkata bagaimana.

"Maafin Bian Pa. Bian tahu Bian salah. Bian akan memperbaiki semuanya."

"Dengan cara apa kamu memperbaikinya, ha? Apa kamu kira semuda itu?" Saut Pak Reno dan Abian pun kembali menunduk. Setuju dengan perkataan Pak Reno.

Memperbaiki perusahaan Pak Rafi memang tak semuda itu. Abian harus menggelontorkan banyak dana. Abian juga harus menemui banyak investor. Selain itu, Abian juga harus aktif ikut tender yang dilelang pemerintah atau pihak swasta. Dan itu semua memang melelahkan.

"Selain itu, apa kamu kira kalau Pak Rafi dan Hira tahu mereka tetap akan senang dan tetap mau menerima kamu? Harusnya kamu mikir. Mereka akan semakin membenci kamu. Bahkan ke Papa dan Mama juga."

"Dan lagi pernikahan kalian hanya tinggal beberapa minggu saja. Dan sekarang Hira juga sakit. Terus kamu sekarang mau bagaimana? Mau kamu batalkan lagi? dengan alasan apa kamu mau membatalkan pernikahan kamu itu, ha?"

"Papa tanya sekarang. Jangan jauh - jauh ke Pak Rafi dan Hira yang orang lain. Sebelum melakukan perbuatan kamu ini, apa gak memikirkan Papa sama Mama gimana? kamu tidak merasa kalau apa yang kamu perbuat juga bisa menyakiti Mama dan Papa? Padahal kamu tahu bagaimana bahagianya Papa sama Mama waktu kamu bilang sudah berbaikan sama Hira dan memutuskan untuk menikah lagi."

"Abian, Abian. Mau ditaruh dimana muka Papa sama Mama kalau bertemu dengan Pak Rafi dan Hira? Harus berapa kali Papa bilang ke kamu kalau bisnis itu bukan tempat untuk main - main?"

Abian semakin tak kuasa menahan dirinya. Pemuda itu semakin menunduk dan semakin mengusap wajahnya kasar. Abian semakin merasa bersalah.

Pak Reno duduk di sofa dengan kasar. Kembali menatap sang anak dengan tatapan marahnya. Bu Lina yang memahami kini mengusap lembut lengan sang suami. Berharap emosi itu bisa reda.

"Pokoknya Papa gak mau tahu, pernikahan kamu dan Hira harus tetap lanjut." Putus Pak Reno kemudian.

"Pa?"

"Tapi Pa,"

Yang langsung diprotes oleh Bu Lina dan Abian.

"Papa gak mau tahu, pokonya tetap lanjut. Kamu harus bertanggung jawab. Kamu gak bisa dengan seenaknya membatalkan pernikahan yang cuma tinggal beberapa minggu saja."

"Tapi Pa, aku sudah gak bisa menikah sama Hira lagi."

"Kenapa gak bisa? bukannya ini kemauan kamu? Bahkan kamu sudah menghancurkan perusahaan Papanya hanya demi bersanding dengan Hira. Selain itu seperti kata Papa tadi, kamu juga harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan. Papa sudah tidak mau lagi malu kepada kolega Papa. Sudah cukup kemarin kamu gagal menikah. Jadi sekarang kamu harus tanggung jawab. Jalani resikonya."

"Masalahnya Hira itu sekarang lagi sakit dan tidak baik - baik saja Pa. Hira sudah gak bisa dekat dengan Bian lagi, Pa." Bujuk Abian.

Abian menelan savilanya. Sebelum kembali melanjutkan ceritanya. Pemuda itu juga mengusap wajahnya kasar.

"Hira, Hira trauma kalau dekat sama Bian, Pa." Ucap Abian dengan lemah.

Pak Reno dan Bu Lina pun mengernyit. Tak paham dengan maksud ucapan Abian.

Akhirnya Pemuda itu memilih untuk bercerita.

"Kemarin Hira sakit ternyata karna Bian. Karna kita ketemu lagi. Jadi selama ini, tanpa Bian tahu, tatapan jijik Hira ke Bian itu karna dipicu oleh traumanya. Selama ini, setiap Hira ingat Bian. Hira pasti muntah - muntah. Dan karna itu Hira jadi di vonis maag akut. Hira juga sampai butuh bantuan ahli. Selama ini dia pergi berobat ke psikolog dan ke psikiater juga. Jadi gimana Bian bisa sama - sama Hira lagi kalau keadaannya Hira kayak gitu? Hira bisa mati Pa kalau dia terus - terusan sama Bian? Bian gak mau itu. Dan itu semua pemicunya itu dari rekaman video yang Bian gak tahu munculnya dari mana dan baru Bian tahu beberapa hari yang lalu. Di rekaman video itu, Bian sama Raisa..." Abian mengusap wajahnya kasar tak mampu meneruskan ceritanya.

"Kamu dan wanita itu kenapa?" Bu Lina tak sabar.

"Ya .. begitu ..." Suara Abian melemah.

"Begitu? begitu apa Bi, yang jelas kalau ngomong, kamu ngapain? jangan bilang kalian beneran berhubungan badan!." Bu Lina memekik.

Abian menghela nafasnya frustasi. Dan dari sikap Abian ini Bu Lina dan Pak Reno sudah bisa menyimpulkan.

"Ya Tuhan, jadi kamu beneran berhubungan badan dengan wanita itu Bi??" Bu Lina tak bisa menahan dirinya.

"Bian sendiri gak tahu Ma, Bian sendiri juga syok. Bian gak sadar. Bian bahkan baru tahu kemarin waktu Mila nunjukin video itu."

"Kamu jangan macam - macam ya Bi, selama ini Mama sama Papa percaya sama kamu. Kamu bilang kamu dijebak dan sekarang kamu bilang kamu berhubungan badan dengan wanita itu?? terus sekarang Mama harus percaya sama siapa??" Bu Lina memekik.

"Aku gak tahu Ma, aku beneran gak tahu. Aku sendiri bingung." Abian bahkan tak bisa berpikir jerni kalau mengingat hal menjijikkan itu.

Bu Lina dan Pak Reno juga tak bisa berpikir. Mereka tak bisa berkata - kata juga. Rasanya permasalahan anaknya ini sungguh pelik. Mereka bertiga kini hanya diam dan beberapa kali terlihat menghela nafas berat.

"Kamu yakin kamu tidak pernah berhubungan badan dengan wanita itu?" Pak Reno kembali bersuara.

"Awalnya Bian yakin. Tapi waktu lihat video itu, Bian sudah gak yakin lagi. Bian bener - bener gak sadar dan gak ingat secuilpun kejadian waktu itu." Abian kembali menunduk.

Bu Lina dan Pak Reno kembali menghela frustasi.

"Kamu sudah periksa kebenaran video itu?" Ucap Pak Reno lagi. Dan Abian menggeleng.

"Periksa dulu, siapa tahu video itu dipalsu atau direkayasa."

Abian mengangguk.

"Dan entah itu video asli atau palsu, Papa tetap ingin pernikahan kamu dilanjutkan."

"Tapi Pa? Papa kan tahu sendiri keadaan Hira gimana? Bian gak mungkin membuat Hira semakin mederita lagi."

"Kalau gitu, ayo temui Pak Rafi dan Hira, minta maaf pada mereka yang benar." Ucap Pak Reno dengan tegas.

Abian terdiam. Tenggorokannya tercekat. Sepertinya pemuda itu tak punya keberanian itu mengaku pada Pak Rafi dan Hira.

"Bagaimana? kamu berani kan mengakui kesalahan kamu pada mereka?" Tanya Pak Rafi lagi.

"Pa, kasih Bian waktu. Bian pasti akan mengakui kesalahan Bian ini. Bian juga janji akan mengembalikan perusahaan Pak Rafi."

"Sampai kapan? pernikahan kamu ini hanya tinggal beberapa minggu saja." Ingat Pak Rafi.

Abian kembali terdiam.

"Ternyata kamu gak berani." Cemooh Pak Rafi.

Abian semakin tak berkutik. Sementara Bu Lina hanya bisa menghela nafasnya kasar.

"Sekarang, turuti permintaan Papa. Selesaikan masalah kamu diam - diam. Jangan sampai Pak Rafi atau Hira tahu perbuatan kamu. Kembalikan semua saham Pak Rafi. Menikahlah dengn Hira sesuai yang sudah direncakan dan setelah semua itu selesai. Ceraikan dia. Tinggalkan Hira dan jangan pernah muncul lagi dihadapannya. Papa rasa itu adalah balasan yang setimpal untuk kamu."

"Tapi Pa, gimana dengan Hira? Seperti kata Abian tadi, gimana kalau traumanya Hira kambuh?" Bu Lina menyaut.

"Ya itu urusannya dia. Seperti yang Papa bilang tadi. Anggap saja itu adalah resiko dan balasan yang harus dia hadapi. Siapa suruh bermain api. Sudah, sekarang Papa anggap permasalahan ini selesai. Dan dikemudian hari Papa gak mau lagi ada hal - hal yang seperti ini. Jadi kamu jangan pernah coba - coba melakukan hal gila yang berakibat merugikan keluarga kita. Atau kalau tidak jangan pernah lagi kamu berani panggil saya Papa." Dan setelah berkata seperti itu, Pak Reno berlalu.

"Pa?" Sementara Bu Lina langsung beranjak dari duduknya. Hendak protes.

"Kamu," Bu Lina beralih pada Abian. "Kamu tahu kan kalau Papamu sudah seperti ini artinya itu sudah tidak bisa dibantah. Jadi Mama harap kamu bisa ambil keputusan yang bijak. Atau kalau tidak Mama juga gak mau punya anak seperti kamu lagi." Dan kali ini Bu Lina juga pergi meninggalkan Abian sendirian untuk menyusul sang suami.

Abian memejamkan matanya. Pemuda itu mengacak rambutnya frustasi.

Episodes
1 1. Kabar terdasyat
2 2. Pertemuan keluarga
3 3. Abian Si Psikopat
4 4. Pikiran gila
5 5. Jalankan misi
6 6. Pokoknya aneh
7 7. Lomba balas dendam
8 8. Sama - sama tahu
9 9. Raja dan ratu drama
10 10. Kenangan masa lalu
11 11. Tentang trauma
12 12. Rasa sakit
13 13. Abian Tahu
14 14. Keputusan yang berat
15 15. Rindu?
16 16. Curiga
17 17. Separuh jiwa yang hilang
18 18. Peliknya sebuah permasalahan
19 19. Kebohongan berlapis
20 20. Firasat
21 21. Ayo sembuh
22 22. Ini adalah cinta
23 23. Ayo bangkit
24 24. You look so beautiful in red
25 25. Oke, deal!
26 26. Harus bisa berdamai dengan perasaan
27 27. Perfect in white
28 28. Sedikit percikan masa lalu
29 29. Hari terakhir masa single
30 30. Coba lebih pengertian lagi
31 31. Rasa haru
32 32. Janji suci?
33 33. Hari pertama pernikahan
34 34. Apakah ini tanda Hira sembuh?
35 35. Permintaan maaf
36 36. Udah ingin cerai
37 37. Sesuatu yang tak terduga
38 38. Kekhawatiran
39 39. Diluar BMKG
40 40. Singapura
41 41. Rencana tantrum
42 42. Tantrum
43 43. Jatuh cinta lagi
44 44. hipnotis lagi
45 45. Teriakan pagi hari
46 46. Tantrum kedua
47 47. Sesuatu yang tak terduga
48 48. Rasya is back
49 49. Siap balas dendam
50 50. Saling ancam
51 51. lupakan kecanggungan dan gengsi
52 52. Beraksi
53 53. Tidak sadar
54 54. Frustasi dengan perasaan
55 55. Hira sudah sembuh
56 56. Masih cinta?
57 57. Hari baru dimulai
58 58. Tiba - tiba ruwet
Episodes

Updated 58 Episodes

1
1. Kabar terdasyat
2
2. Pertemuan keluarga
3
3. Abian Si Psikopat
4
4. Pikiran gila
5
5. Jalankan misi
6
6. Pokoknya aneh
7
7. Lomba balas dendam
8
8. Sama - sama tahu
9
9. Raja dan ratu drama
10
10. Kenangan masa lalu
11
11. Tentang trauma
12
12. Rasa sakit
13
13. Abian Tahu
14
14. Keputusan yang berat
15
15. Rindu?
16
16. Curiga
17
17. Separuh jiwa yang hilang
18
18. Peliknya sebuah permasalahan
19
19. Kebohongan berlapis
20
20. Firasat
21
21. Ayo sembuh
22
22. Ini adalah cinta
23
23. Ayo bangkit
24
24. You look so beautiful in red
25
25. Oke, deal!
26
26. Harus bisa berdamai dengan perasaan
27
27. Perfect in white
28
28. Sedikit percikan masa lalu
29
29. Hari terakhir masa single
30
30. Coba lebih pengertian lagi
31
31. Rasa haru
32
32. Janji suci?
33
33. Hari pertama pernikahan
34
34. Apakah ini tanda Hira sembuh?
35
35. Permintaan maaf
36
36. Udah ingin cerai
37
37. Sesuatu yang tak terduga
38
38. Kekhawatiran
39
39. Diluar BMKG
40
40. Singapura
41
41. Rencana tantrum
42
42. Tantrum
43
43. Jatuh cinta lagi
44
44. hipnotis lagi
45
45. Teriakan pagi hari
46
46. Tantrum kedua
47
47. Sesuatu yang tak terduga
48
48. Rasya is back
49
49. Siap balas dendam
50
50. Saling ancam
51
51. lupakan kecanggungan dan gengsi
52
52. Beraksi
53
53. Tidak sadar
54
54. Frustasi dengan perasaan
55
55. Hira sudah sembuh
56
56. Masih cinta?
57
57. Hari baru dimulai
58
58. Tiba - tiba ruwet

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!