Hira berjalan mantap dan percaya diri memasuki sebuah butik. Tadi, selepas pertemuannya dengan Mila, gadis itu langsung kesana untuk fitting baju pernikahan seperti yang sudah dijanjikan kemari bersama sang ibu mertua.
Hira tersenyum lebar tat kala melihat sang ibu mertua terlihat sedang asik melihat - lihat gaun pernikahan.
Yap, jalankan misi. Pertama, ambil hati sang ibu mertua dan bersikaplah bahwa kamu memang menginginkan pernikahan ini.
Hira menyeringai. Lalu mendekat pada sang ibu mertua.
"Mama ..." Sapa Hira dengan senyum palsunya. "Udah dari tadi? Maaf ya ma, telat tadi macet."
"E, sayang, sini. Coba lihat." Bu Lina yang memang sudah bersemangat langsung menunjuk satu gaun pengantin yang cantik.
"Gimana menurut kamu?"
Hira memperhatikan gaun pengantin itu. Gaun pengantin itu sangat cantik dan juga sesuai gayanya. Modelnya, model empire lengan panjang. Berwarna gold. Sangat tertutup, sehingga akan tampak elegan dan anggun saat digunakan.
"Bagus Ma..."
"Kalau yang ini?" Bu Lina kembali menunjukkan satu gaun dengan semangat.
Kali ini modelnya model sabrina dengan dada dan bahu yang sedikit terbuka berwarna putih yang juga tidak kalah cantik.
"Ini juga bagus."
"Eh, atau yang itu?" Kali ini Bu Lina menunjuk gaun pengantin model A line dengan dada terbuka berwarna rose.
"Itu juga bagus." Hira kembali menjawab sama.
"Kalau yang itu?"
"Itu, bagus."
"Nah kan, semuanya emang bagus. Mama jadi bingung jadinya." Bu Lina menghela nafas. Wanita separuh baya itu memang sudah tampak bingung sendiri. Membuat Hira jadi mengulas senyum.
"Ah, mendingan kamu sekarang pilih sendiri saja deh yang mana menurut kamu bagus. Soalnya kalau menurut mama kayaknya emang semuanya itu cocok dibadan kamu."
Hira pun mengangguk. "Oke, kalau gitu, aku lihat - lihat dulu aja deh ma."
"He'em, lihat - lihat aja dulu. Terus nanti kalau ada yang cocok langsung aja dicoba. Mama pengen lihat."
Hira pun mengangguk sambil tersenyum. "Oh iya ma, Bian gak kesini?"
"Gak tahu, dari pagi itu anak sudah mama telpon, tapi gak ada jawab sama sekali. Mama sudah emosi dari tadi. Coba deh kamu yang hubungin siapa tahu langsung dijawab."
"Oh, he ... Iya ma." Hira tersenyum canggung, kemudian berbalik sedikit menghindari tatapan sang ibu mertua. Hei, gimana caranya dia menghubungi Abian? nomornya saja dia sudah tidak punya.
Jadi kemudian Hira pun memilih bodoh amat dan kembali fokus memilih gaun pengantin.
Beberapa gaun sudah dia dapatkan dengan bantuan dari karyawan butik. Dan rata - rata model gaun itu sama. Yaitu sangat tertutup dan berlengan panjang. Tapi kemudian sepintas ingatan tiba - tiba muncul di pikiran Hira.
"Mbak, gak jadi yang model gini. Mbak, bawain aku gaun pengantin yang terbuka dan yang paling seksi." Dan senyum seringaian pun muncul disudut bibir Hira.
Oke rencana kedua. Goda Abian dan buat lelaki itu jatuh cinta hingga bertekuk lutut padanya.
Hira pun mulai mencoba gaun yang direkomendasikan karyawan butik padanya. Gaun itu sangat sesuai dengan permintaannya tadi. Terlihat terbuka dan sangat seksi dengan model blakless yang mengekspos bagian pinggangnya. Saat itu Hira pun tampak sangat seksi.
"Gimana mbak bagus gak?" Tanya Hira pada pelayan tanpa melepas pandangannya ke cermin yang sedang memantulkan bayangannya.
"Cantik banget mbak, terus kelihatan seksi sama elegan juga. Apa lagi ini kulitnya mbak mulus banget sama putih gitu. Jadi perfect, cantik banget." Puji sang pelayan dengan pandangan mata terkesimanya.
Hira pun tersenyum puas. Ya, memang dia ini cantik dan seksi. "Oke, aku pilih ini mbak."
"Siap mbak, aku buka ya mbak tirainya?"
"Heh? ngapain?" Hira mengernyit.
"Ditunjukin dulu gitu ke ibunya." Saut sang pelayan.
Hira tampak berpikir. Perlukah dia menunjukkan pada Bu Lina? kira - kira apa tanggapan Bu Lina saat tahu dia mengenakan pakaian pengantin seterbuka ini? Hira jadi tidak yakin.
"Aduh gak usah deh Mbak, langsung bungkus aja." Putus Hira kemudian.
"Hir, gimana udah?" Ah, tapi sayang sang mertua ternyata berteriak dari luar. Membuat Hira kembali bingung.
Hira menggigit jarinya berpikir. "Ah, bodoh amat. Nanti pun pas nikah juga pasti bakalan diliatin. Oke mbak, buka." Perintah Hira kemudian.
Hira pun berbalik meskipun wajahnya berubah jadi sedikit pucat. Dan Pelayan itu pun membuka tirai kamar pas.
Hira keluar dari dalam kamar pas. Gadis itu kemudian berdiri cemas dihadapan sang ibu mertua.
Bu Lina diam untuk beberapa lama. Dan Hira semakin cemas. Gadis itu rupanya sedikit menyesali keputusannya. Harusnya dia kan mengambil hatinya Bu Lina dulu supaya lebih menyukainya bukannya malah membuat Bu Lina jadi tidak suka padanya.
"Ya ampun Hira, sayang ... Kamu cantik sekali ..." Seketika ucapan Bu Lina itu membuat Hira cengong. "Ini gaunnya cocok banget sama kamu."
"Heh?"
"Gaun ini tadi emang sudah mau mama pilihin ke kamu. Tapi mama pikir kamu pastinya gak akan mau karna terlalu kebuka. Tapi melihat kamu yang malah milih ini mama jadinya seneng."
"He, beneran mama suka? Soalnya Hira sendiri tadi mikirnya juga gitu. Takut mama gak suka. Karna terlalu terbuka." Hira berkata canggung.
"Iya sayang, mama seneng. Coba kamu muter."
Hira pun berputar. Dan Bu Lina semakin menatap takjub dan bahagia.
"Gak salah memang Abian cintanya sama kamu sama gak bisa ngelepasin kamu. Kamu memang secantik ini." Puji Bu Lina masih dengan tatapan takjubnya.
Tapi sayang, eforia itu rupanya harus berhenti tatkalah Abian yang secara tiba - tiba datang.
Abian langsung mendorong sedikit kasar Hira untuk kembali masuk ke dalam kamar pas dengan wajah datar dan dinginnya yang khas.
"Aish! apaan sih lo!" Hira pastinya kesal.
"Ganti!"
"Ganti?"
"Iya ganti!"
"Emang kenapa?"
"Gue gak suka. Terlalu terbuka."
"Hah?" Hira mengernyit.
"Jangan pakai baju ini di pesta pernikahan kita, gue gak suka." Ucap Abian. "Mbak, pilihin baju yang lebih ketutup." Perintahnya kemudian pada sang pelayan.
"Hah? Wait, emang kenapa? Bukannya ini cantik? Lo gak lihat gue?" Tanya Hira kembali dengan tatapan herannya. "Coba lihat gue." Hira bahkan berputar, menunjukkan sisi punggungnya yang mulus yang terekspos sempurna.
"Aish!" Abian mendengus kesal. Lelaki itu lalu melepas jasnya memakaikannya dengan kasar kepada Hira.
"Jangan pernah pakai baju kayak gini lagi. Apa lagi didepan publik, gue gak suka!"
Seketika itu juga Hira jadi cengong tak percaya.
"Mbak, cepet pilihin gaun yang lebih tertutup." Perintah Abian lagi pada sang pelayan yang kali ini langsung dilakukan oleh sang pelayan.
"Tunggu Bi, kenapa lo jadinya gak suka? Bukannya lo paling suka kalau gue tampil seksi gini?" Tanya Hira dengan tatapan tak percayanya.
"Gue suka lo tampil seksi didepan gue, tapi gue gak suka kalau lo jadi konsumsi publik."
"Hah? apa lo bilang?" Perasaan seingat Hira, Abian tidak begitu. Dulu, disetiap kesempatan Abian selalu mengomentari penampilannya agar lebih berani lagi. Apa lagi kalau sudah berkumpul bersama teman - temannya. Katanya biar gak cupu gitu. Dan sekarang?
"Mulai detik ini yang boleh komsumsi lo itu cuma gue, suami lo. Jadi kedepannya tolong lo lebih bijak lagi dalam berpenampilan terutama didepan banyak orang, oke?" Abian bahkan mengusap lembut pipi Hira.
Hira sedikit tersentak dengan usapan lembut dipipinya itu, tapi kemudian dengan cepat dia normalkannya. "Tunggu, gue masih gak percaya, bukannya lo paling suka gue yang kayak gini? Yang berani tampil, yang kebuka, yang seksi?"
"Mana ada."
"Iya, gue inget banget setiap kalau kita mau jalan terutama kalau bareng sama temen - temen lo, lo pasti protes tentang penampilan gue."
Abian tergelak. "Jadi selama ini lo mikirnya gitu toh, oke fine, bo problem. Tapi asal lo tahu. Gue begitu karna gak mau orang yang gue sayang dihujat banyak orang."
"Maksud lo?"
"Udah sana, ganti. And sorry, tadi gue narik lo kekencengan." Ucap Abian tanpa berusaha menjelaskan lebih lanjut lagi. Setelah itu Abian juga mengacak rambut Hira, pertanda bahwa lelaki itu sedang gemas dibuatnya.
"Ish, apaan sih, bikin rambut gue berantakan aja."
"Ya udah, cepet ganti baju. Setelah itu kita makan siang bareng."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments