Abian baru saja memasuki apartemennya yang sepi. Pemuda itu masih tak memiliki semangat hidup. Masih seperti kemarin. Berjalan gontai yang kini menuju pantri. Abian menuangkan segelas air putih didalam gelas. Air putih itu lalu diteguk hingga habis. Sejenak Abian dapat merasakan sedikit kesegaran karna kerongkongannya yang kering sejak kemarin.
Abian kemudian kembali melangkahkan kakinya gontai. Menuju kamar, lalu menyandarkan dirinya di headboard kasur dan menutupi sebagian wajahnya dengan lengan kekarnya.
Sayup - sayup matanya yang terpejam mulai terasa ngantuk ditengah riuh pikirannya. Hingga akhirnya saat dia baru saja akan terlelap, ponselnya tiba - tiba bergetar panjang.
Abian mengusap wajahnya kasar. Berusaha mengembalikan kesadarannya. Pemuda itu lalu meraih ponselnya dan menggeser layar ponselnya.
"M."
"Woy, kemana aja sih lo? gue telpon dari kemarin gak ada jawaban sama sekali. Ngilang kemana aja lo?" Roby langsung mendengus kesal. Pasalnya bukan hanya sekali dia menghubungi Abian tapi sudah berkali - kali. Tak tahu kan Abian bahwa banyak pekerjaan jadi terbengkalai gara - gara dirinya tidak bisa dihubungi.
"Ini juga, kenapa hari ini lo malah gak ke kantor? padahal lo tahu kan kalau hari ini jadwal kita padat? mulai pagi kita rapat, terus bentar lagi kita harus ketemu investor, terus nanti kita ketemu vendor."
"Bisa lo hendel dulu kerjaannya?" Tanya Abian dengan suara datarnya yang terdengar lelah.
"Enggak! gila aja lo. jangan macem - macem! gue dari pagi udah kayak orang gila ngurusin semuanya sendiri, tadi juga rapat udah gue hendel. Dan sekarang lo minta gue juga hendel kerjaan lo buat ngegait investor sama vendor?! enggak gue gak mau. Dan lagi nih ya Bi, investor kita ini Pak Jeremy, lo tahu sendiri sepak terjangnya dia gimana. Dia detailnya kebangetan, kita harus bener - bener prepare, dan kalau sampai nanti gue berangkat sendiri dan gue gak berhasil ngegait dia, lo nanti malah jadi nyalahin gue. Ogah banget gue kalau gitu."
Abian mengusap wajahnya kasar. Apa yang dikatakan Roby tidak sepenuhnya salah. Investornya ini memanglah orang penting.
"Pokoknya sekarang gue gak mau tahu, lo harus dateng ke kantor. Cepetan gue tunggu, setengah jam lagi kita ketemu Pak Jeremy. Atau kalau enggak kita bisa ketemuan ditempat biar lebih cepet dan lo gak bolak balik. Lo di apart kan? Jadi gak butuh waktu lama kalau gitu."
"M."
"Jangan M, M aja, gue tunggu lo. Lo gak dateng gue pulang. Bodoh amat sama investasi atau sama proyek - proyek lo yang bikin pusing ini." Ancam Roby yang kemudian langsung mengakhiri panggilannya begitu saja.
Abian kembali menghela nafas beratnya. Bolehkan untuk hari ini saja Abian ingin sendirian dan menenangkan pikirannya tanpa perlu mengurusi segala macam pekerjaan yang tak kunjung usai?
Tapi ingat lagi bahwa dia juga harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan pada perusahaan Pak Rafi. Jadi mau tak mau Abian pun kini beranjak meskipun dengan langkah malasnya.
Abian mengambil kunci mobilnya yang tadi sempat dia letakkan diatas nakas disamping cermin besar. Dan disaat itu pula langkahnya sedikit tertahan. Bayangan dirinya yang lusuh membuatnya kini menghela nafas panjang. Kacau sekali penampilannya.
Abian pun membuka bajunya, kemudian menarik sembarangan kemeja didalam lemarinya. Tapi setelahnya hanya itu yang dia lakukan. Hanya sedikit Abian merapikan rambutnya dan itu pun dengan tangannya
Abian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menatap jalanan yang sedikit ramai hingga akhirnya berbelok pada sebuah restoran bintang lima yang kebetulan pas berada tepat didepan rumah sakit dimana Hira dirawat.
Abian memarkirkan mobilnya. Kemudian mematikan mesinnya. Tapi setelahnya matanya tertuju pada bangunan rumah sakit yang ada didepannya.
Bagaimana kabar Hira hari ini? apakah dia sudah baikan? ataukah dia masih kesakitan? bersama siapakah dia sekarang? apakah sendirian? Abian jelas penasaran. Hingga rasanya kakinya ini ingin sekali berlari kesana. Abian kembali menghela nafas berat.
Tapi kemudian, Abian meraih ponselnya. Menekan nama Pak Rafi disana.
"Pa," Abian melantunkan panggilan Papa pada Pak Rafi dengan canggung. Rasanya dia sudah tidak pantas lagi memanggil Pak Rafi seperti itu.
"Iya Bi, ada apa?"
"Hira gimana?"
"Hira, masih mual - mual sama muntah - muntah. Tapi sudah gak separah kemarin."
"Berarti masih sakit."
"Tapi sudah bisa dibilang lebih baik dari pada kemarin, meskipun hanya sedikit perubahannya."
Abian kembali dirundung rasa bersalah.
"Abian, kira - kira malam ini kamu sibuk gak?"
"Kenapa Pa?"
"Bisa kamu temenin Hira sebentar? soalnya Papa nanti masih harus ketemu sama klain dan Hira gak ada yang jaga. Tadi Papa sudah minta Mila kesini tapi Mila sendiri ternyata sekarang ada di Bandung. Dan minta tolong ke Bu Sulis, kebetulan Bu Sulis anaknya juga lagi sakit."
Permintaan Pak Rafi ini seperti buah simalakama bagi Abian. Dan Abian pun bingung harus bagaimana.
"Tapi kalau kamu tidak bisa, ya gak apa - apa. Kayaknya kamu juga ada jadwal ketemu investor ya?"
"Oh, iya, Pa," Dengan kikuk Abian mengiyakan.
"Ya sudah kalau gitu, gak usah dipikirin. Nanti Papa minta tolong saja sama susternya buat sering - sering ngecek ke kamar."
"Iya, Pa." Dan semakinlah Abian merasa bersalah.
"Ya sudah, kalau sudah gak ada yang mau diomongin ..."
"Em, Pa," Abian memotong ucapan Pak Rafi cepat.
"Iya Bi?"
Tapi kemudian diam sedikit lama.
"Em Pa, sepertinya, untuk sementara, lebih baik pekerjaan Papa, biar Bian hendel saja bagaimana?" Tanya Abian.
"Maksudnya?"
"Em, Maksudnya biar pekerjaan Papa, Bian saja yang mengerjakan. Papa biar bisa fokus jaga Hira. Kalau Hira ditinggal sendirian seperti nanti, Bian sendiri juga khawatir. Takutnya nanti malah kenapa - napa. Apalagi kondisinya Hira masih belum stabil betul. Dan Bian sendiri, tidak mungkin kesana." Ucap Abian lirih, diakhir. Dan sambil menunduk. Tapi kemudian tersadar ucapannya. Dan Abian segera meralat. "Em maksudnya bukan gak mungkin yang seperti apa. "Tapi Papa tahu sendirikan gimana padatnya jadwal Bian. Hari ini saja Bian harus ketemu sama investor dan vendor dan tidak tahu harus selesai kapan. Terus besok pagi Bian juga ada rapat sama dewan direksi. Jadi Abian belum sempat kerumah sakit lagi. Maaf, Pa."
"Iya, Papa paham, kamu gak perlu khawatir." Jawab Pak Rafi penuh pengertian.
"Dan ... besok siang, sepertinya Bian harus ke Singapura Pa." Entah dari mana munculnya ide ini secara tiba - tiba yang sedetik kemudian langsung disesali oleh Abian.
"Singapura?"
"Iya Singapura Pa, kebetulan kantor cabang yang disana ada masalah Pa. Jadi mangkannya lebih baik seperti itu aja, pekerjaan Papa biar Bian yang hendel." Abian pun mengumpat dalam hati. Sungguh alibinya tidak nyambung sama sekali. Dan sangat aneh didengar.
Tapi untungnya Pak Rafi malah tertawa kecil. Membuat hati Abian seketika itu lega. "Gimana caranya kamu hendel pekerjaan Papa kalau kamu ada di Singapura?"
"Hehehe." Abian tertawa canggung.
"Papa tahu kalau kamu khawatir sama Hira. Tapi bukannya kalau gitu semakin buat kamu repot? sudah kamu jangan pikirin pekerjaannya Papa kalau kamu sendiri sudah sibuk seperti ini."
"Ya, tapi kan maksud Abian masih ada Roby Pa. Roby nanti yang hendel dibawah perintah Bian." Dan kali Abian merasa lega dengan jawabannya.
"Roby sudah terlalu banyak kerjaannya, kasian dia kalau masih harus disuruh hendel kerjaannya Papa. Sudah gak usah biarin saja Papa urus kerjaannya Papa sendiri."
"Pa, dikantor bukan cuma Roby saja Pa, masih ada Kamal dan Malik orang kepercayaan Bian juga. Ada juga karyawan lain. Kan perusahaan Bian juga perusahaan Papa. Jadi Papa gak perlu khawatir. Tolong, Papa jagain Hira saja dirumah sakit sampai Hira benar - benar sembuh. Jangan mikir yang lain - lain apa lagi tentang pekerjaan. Karna Bian sendiri sudah tidak bisa memberikan perhatian ke Hira."
Pak Rafi terlihat berpikir. "Ya sudah kalau gitu kalau memang itu mau kamu. Toh memang Hira sudah tidak punya siapa - siapa lagi selain Papa.Dan Papa juga sangat khawatir sama Hira. Ya maklum mungkin karna anak satu - satunya, dan Mamanya sudah meninggal dari kecil." Seru Pak Rafi seolah menyindir secara halus Abian.
"Iya Pa."
"Oh iya, terus kamu kembali dari Singapura kapan?"
"Ha?" Baru saja Abian merasa tersindir sekarang dia harus kembali memutar otaknya untuk menutupi kebohongannya lagi.
"2 minggu lagi." Sautnya Abian asal.
"2 minggu? berarti kalau begitu mepet sekali sama acara pernikahan dong?"
"Hah?" Abian kembali mengumpat dalam hati. Bisa - bisanya dia lupa dengan tanggal pernikahan.
"Iya, Pa." Saut Abian canggung.
"Terus gimana nanti persiapan pernikahan kalian? ini kalau Hira tahu, dia pasti marah. Mau menikah tapi kamu tinggal lama."
"Hee ..." Abian tertawa canggung. "Iya, em, nanti Bian suruh urus orang. Dan Papa gak usah khawatir masih ada Mama Pa. Nanti Bian pasrah ke Mama."
Pak Rafi menghela nafas. Sebetulnya tak setuju dengan ide Abian.
"Ya sudah kalau gitu, mau bagaimana lagi. Kamu memang sibuk, nanti Papa coba kasih tahu Hira baik - baik supaya dia mengerti. Jadi kamu gak perlu khawatir."
"Iya Pa."
"Iya sudah gak apa - apa."
"Terima kasih Pa."
"Hem." Pak Rafi mengangguk.
"Tapi sebelum berangkat ke Singapura kamu kesini dulu kan? Ya tolong paling tidak sempatkan sebentar." Pintah Pak Rafi.
"Iya Pa, pasti."
"Baiklah kalau gitu."
"Iya Pa, kalau gitu Bian tutup telponnya Pa."
Telpon pun berakhir. Dan Abian pun langsung menyandarkan kepalanya ke stir mobilnya. Helaian nafas berat kembali ditiupkan. Sekarang, Abian sudah tak bisa kembali lagi. Dan mungkin kedepannya, dia akan terus berbohong untuk menutupi kebohongannya yang lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments