Pagi ini matahari terbit dengan cerah. Daun - daun bergerak syahdu mengikuti arah angin yang menyapa. Udara juga terasa begitu segar. Rasanya begitu damai dan nikmat. Pas sekali dengan isi hati seorang Abian.
Ya, Abian sedang dalam keadaan mood baik pagi ini. Senyumnya mengembang dan tak pernah pudar sejak memasuki kantornya. Beberapa karyawannya disapa satu persatu dengan hangat dan ramah. Bahkan diantara mereka, dengan sengaja Abian beri kopi dalam gelas kertas yang sengaja dibelinya tadi.
"Ckckckc! senyum - senyum kayak orang gila." Komentar Roby, salah satu karyawan Abian sekaligus sahabat serta orang kepercayaannya. "Kira - kira ada kabar bahagia apa pagi ini?" Roby juga merangkulkan tangannya dipundak Abian.
Abian tak menjawab. Pemuda itu cuma tersenyum misterius.
"Apaan sih malah senyum - senyum gak jelas."
Centing. Terdengar bunyi dentingan dari lift yang baru saja terbuka. Abian dan Roby pun masuk kedalamnya.
"Bian," Pekik Roby yang penasaran.
"Coba tebak, kira - kira menurut lo gue bawah kabar baik apa?"
"Menang tender??"
"Seratus." Jawab Abian jumawa.
"Weehhh ... serius??" Dan Roby melompat kegirangan, tak kalah bahagianya.
Abian mengangguk mantap.
"Woooowww ... yes. Akhirnya tuh proyek bisa jatuh ketangan kita. Good job. Yang katak gini ini nih, yang namanya kabar bahagia."
"Seneng kan lo? jadi gila juga kan lo pagi - pagi?" Sindir Abian,
"Hahaha, ya kan gue seneng. Siapa yang gak seneng dapet proyek gede." Saut Roby. "Dan demi memperlancar proyek kita nanti, lo mau kita rapt kapan? biar gue siapin bahan - bahan sama kebutuhannya."
"Pagi ini juga kalau bisa."
"Cih, tapi gak pagi ini juga dong Bi." Protes Roby.
"Ya gimana lagi, bisanya gue cuma pagi ini. Soalnya siangan dikit gue ada urusan sama calon binik gue."
Roby mengernyit. "Calon binik? maksud lo?"
"Gue mau kawin."
"Heh???" Roby memekik kaget.
Abian terkekeh geli melihat ekspresi kaget Roby yang sangat kentara.
"What is kawin?"
"Menurut lo?" Saut Abian sambil mengangkat salah satu alisnya, dimana tandanya dia sedang serius.
"Wait, wait, wait. Maksud lo kawin nikah? nikah yang buat jadi suami istri secara sah? atau cuma kawin, kawin yang buat nanam benih doang?"
Seketika itu juga Abian langsung menyentil kening Roby bersamaan dengan decakan dari mulutnya. "Ck! pikiran lo. Ya menurut lo maksud gue kawin yang mana? Lo kira gue cowok gak bener, heh?"
"Aish!" Roby meringis kesakitan. "No way!"
Dan Abian cuma mendecak.
Roby menatap Abian dengan seksama. Memastikan bahwa tak ada kebohongan dari ucapan Abian.
"Oke, gue serius. Gue mau tanya. Lo beneran mau nikah?"
Abian mengangguk mantap.
"Nikah sama siapa? Setahu gue, lo kan gak punya calon. Jangankan calon, pacar aja lo gak punya. Dan sekarang lo bilang mau nikah? dan lo minta gue percaya?"
"Ngeremehin gue banget lo ya. Siapa bilang gue gak punya calon. Kalau gue gak punya calon gimana caranya juga gue mau nikah. Oon lo!"
"Wait, jangan bilang lo mau nikah sama si Sukma??"
Sukma adalah salah satu karyawan mereka yang juga merupakan sahabat mereka.
"Ck! ngaco lo!"
"Kalau bukan Sukma berarti Inggrid?"
"Ngawur, gila aja gue nikah sama dia. Ogah! gak sudi gue."
Inggrid adalah wanita panggilan yang biasanya menemani mereka saat mereka berada di karaoke atau di bar.
"Ya terus sama siapa? karna setahu gue cuma mereka berdua yang deket. Atau sama Rasya??" Saat menyebut nama Rasya, Roby sedikit hati - hati.
Sementara Abian langsung mendengus kesal begitu mendenger nama itu.
"Pasti bukan." Ralat Roby segera, dengan gerakan sedikit takut. "Oke, terus lo mau nikah sama siapa? lo jawab, karna gue udah gak mau main tebak - tebakan lagi."
Abian tersenyum smirk. "Hira."
"Heh? siapa lo bilang? no way!"
Bertepatan dengan kekagetan Roby. Dentingan suara pintu lift terdengar. Dan tak lama setelahnya, pintu tersebut terbuka.
Abian tergelak tak percaya, lelaki itu melangkahkan kakinya keluar dimana dibelakangnya Roby mengekorinya dan berusaha mensejajari langkahnya.
"Abian, ini, ini lo serius, maksud lo Hira? Hira Yasmin? mantan tunangan lo itu? realy?"
Abian mengangguk, dengan senyum smirk diwajah.
"Oh My God, bentar." Roby masih berusaha berpikir agar apa yang baru saja terdengar itu masuk diakalnya. "Bentar Bi, kok bisa? Please tolong lo jelasin gimana ceritanya lo bisa tiba - tiba ngeklaim mau nikahin dia. Sementara gue sendiri tahu gimana hubungan lo sama Hira selama ini."
"Dan menurut lo gimana?" Jawab Abian dengan sikap jumawanya yang menyebalkan dimata Roby, sampai - sampai Roby pun langsung mendengus kesal.
Abian mendorong pintu ruangannya. Pemuda itu juga langsung duduk di kursi kebesarannya. Sementara Roby kini berdiri didepan mejanya.
"Ya coba lo tebak."
"Ck! gak bisa apa langsung lo jawab aja tanpa perlu tebak - tebakan lagi?" Protes Roby.
"Gak bisa, kalau lo mau tahu ya lo tebak."
"Aish! lo gak jebak dia kan?" Tanyanya asal. Tapi Abian malah menjentikkan jariya.
"Seratus."
"Hehh?? what the hell? lo yang bener aja?"
"Hahaha, biasa aja kali tuh muka, gak perlu kaget - kaget amat."
"Lo gila??" Roby masih mengangah tak habis pikir. "Lo mau apain si Hira? sumpah kalau emang beneran lo sengaja jebak dia, fix lo jahat banget."
"Yang jahat itu siapa?" Muka Abian berubah serius. "Gue apa dia? padahal lo tahu sendiri gimana tatapan jijiknya setiap kali liat gue." Ada rasa marah dan benci dalam kalimat Abian setiap kali mengingatnya.
"Ya tapi meskipun begitu, gak seharusnya juga lo jebak dia gini. Apa lagi sampai mau nikahin dia. Ingat Bi, pernikahan itu bukan mainan, pernikahan itu sakral."
"I know, but, gue cuma pengen aja bales dia. Gue pengen dia tahu rasanya. Gimana kalau nantinya tatapan jijik itu berbalik arah ke dia sendiri. Selama ini, dia udah nganggep gue lebih kotor dari kotoran. Padahal lo tahu sendiri gue gak salah apa - apa? dulu gue murni dijebak, dan dia gak mau percaya sedikit pun."
"Dan sekarang lo mau nikahin dia gitu? dan gue rasa apa yang lo rasain ini gak ada hubungannya sama sekali sekali, Jadi come on, jangan lakuin hal aneh yang berhubungan sama pernikahan, Pernikahan itu sakral, jangan dimainin. Karna menurut gue pun lo gak akan dapet apa - apa."
"Siapa bilang gue gak dapet apa - apa?" Abian kembali tersenyum smirk. Sementara Roby langsung mengernyit curiga.
"Dengan gue nikahin dia. Gue dapat hidup dia." Ucap Abian lalu menunjuk kakinya. "Dibawah sini."
"What?? jangan gila lo!!" Roby tergelak tak percaya. "Ini sama aja lo ngancurin hidupnta Hira Bi, come on??"
"Yap, gue emang gila. Dan asal lo tahu, emang itu yang gue pengen." Abian sedikit menerawang. "Gue pengen dia hancur ditangan gue."
"What the fu*ck!" Roby tak bisa berkata - kata lagi.
"Salah siapa juga dia selalu natap gue dengan tatapan jijik gitu? emang separah apa dosa gue sampai dia berani - beraninya menghakimin gue gitu. Dan juga gara - gara dia, gue jadi dipandang sebelah mata sama orang - orang. Disetiap ada berita perselingkuhan nama gue juga selalu dibawah - bawah. Sampai akhirnya sampai sekarang, gue jadi ikon lelaki tidak setia dan suka selingkuh."
"Dan lo dendam sampai sekarang? Dan itu semua jadi pembenaran lo buat balas dendam ke Hira gitu? padahal jelas - jelas sikap lo ini itu salah?"
"Salahnya dimana? gue cuma pengen memulihkan nama baik gue kok. Sesimpel itu."
"Tapi caranya juga gak gini Abian Iskandar. Dan apa hubungannya juga sama rencana lo yang mau menikahi Hira? seandainya lo mau balas dendam harusnya yang elegan, cukup tunjukin kalau lo sukses dan lo bisa dapat cewek yang lebih dari pada dia." Cerocos Roby masih berusaha memulihkan akal sehat sang sahabat.
"Gue udah lakuin itu, tapi nyatanya gak ada tuh cewek yang lebih baik dari pada Hira."
Roby pun tergelak. Bisa - bisanya Abian disaat ingin melancarkan balas dendamnya malah memuji Hira.
"Dan lagian nih ya, kalau gue nikah sama Hira banyak juga manfaatnya. Di satu sisi gue bisa nyelametin keluarganya yang lagi bangkrut. Disisi lain gue bisa mengendalikan dia. Nantinya orang - orang yang pikirannya sempit akan terbuka lagi. Mereka pasti akan berhenti mikir buruk tentang gue. Mereka juga pasti akan melupakan kejadian dulu. Karna Hira sang korban sudah kembali menerima gue lagi."
Oke dari sini Roby bisa membaca sesuatu yang baik selain niat balas dendam Abian. Ya, anggap saja sebetulnya Abian masih tidak bisa melepaskan seseorang yang bernama Hira ini.
"Dan terlebih lagi. Gue bakalan buat dia jatuh cinta lagi sama gue, sampai dia bertekuk lutut dan gak bisa hidup tanpa gue." Abian pun tersenyum smirk.
"Ya ... ya ... ya ... terserah lo aja. Tapi awas aja jangan sampai lo nya yang jadi jatuh cinta lagi sama si Hira."
"Cih! gak akan! dan gak akan pernah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments