Abian baru saja sampai di apartemennya. Langkahnya tampak tertatih – tatih seolah raganya juga kesakitan. Abian duduk disofa. Menyandarkan tubuh serta kepalanya pada sandaran sofa lalu memejamkan matanya. Pikirannya yang kacau. Membuat dirinya tak peduli dengan suasana apartemen yang sepi dan gelap.
Abian merasa hampa. Rasanya separuh jiwanya tiba – tiba hilang. Semangatnya pupus. Rasa dendam yang dulu dia rasakan langsung menguap begitu saja. Abian menyadari bahwa selama ini itu hanyalah topeng untuk menutupi rasa cintanya pada Hira yang tak pernah hilang.
Sekarang, semuanya berakhir. Hira sudah tidak bisa digapai atau pun dimiliki. Hira sudah terlalu menderita karnanya. Dan Abian tidak mau jika Hira semakin menderita. Sekarang, cukup dia saja. Abian akan benar - benar merelakannya.
Abian meraih ponsel dalam saku celananya. Kemudian menekan satu nomor pada layar ponselnya. Hingga tak lama, panggilan pun tersambung.
“Ada apa Bi, malam - malam telpon” Saut Bu Lina sambil menguap, menahan rasa kantuknya.
"Ma," Abian tampak sedikit ragu. Lalu diam untuk beberapa saat.
"Hem, apa? kok diam."
“Ma, aku mau batalin pernikahanku sama Hira.” Ucap Abian kemudian, dengan suara yang berat.
"Hem, apa? kamu ngomong apa. Mama kok gak ngerti."
"Aku mau batalin pernikahanku sama Hira Ma." Ulang Abian, dan yang jelas ditempatnya sana Bu Lina langsung terpengarah dan merasa kantuknya jadi hilang seketika,
"Tunggu, kamu bilang apa tadi? Mama gak salah dengar kan?"
"Aku mau batalin pernikahanku Ma."
"Abian." Bu Lina memekik bingung. "Kamu jangan ngomong yang aneh – aneh. Ini masih malam lo Bi.” Omel Bu Lina.
"Aku serius Ma,"
"Serius? serius apa?" Bu Lina mendengus kesal. Sementara Abian hanya bisa pasrah saja.
"Denger Mama, kamu jangan ngomong yang aneh - aneh. Ini tengah malam, Mama masih ngantuk Mama mau tidur. Kita ngomong ini besok. Dan Mama harap besok kmu gak bikin jantung Mama copot."
Abian pun menghela nafas beratnya.
"Sekarang kamu tidur. Siapa tahu besok pikiran kamu udah berubah."
Setelah berkata seperti itu. Bu Lina pun mematikan panggilannya. Sementara Abian lagi - lagi hanya bisa pasrah dan menarik nafasnya berat.
***
Ting tung ...
Ting tung ...
Suara bel menggema beberapa kali. Cahaya matahari juga sudah menyinari dari balik gorden di apartemen. Kini apartemen itu sudah tidak gelap lagi. Sayup - sayup Abian mendengar suara bel tadi.
Ting tung ...
Ting tung ...
Abian mulai tersadar. Matanya perlahan membuka lebar dan tampak ruang tengah apartemennya. Ah, rupanya gara - gara pikiran kacaunya dia sampai ketiduran di sofa. Abian pun mengusap wajahnya kasar:
Ting tung ...
Ting tung ...
Belnya masih berbunyi. Jadi Abian dengan wajah kusutnya pun segera beranjak untuk membuka pintunya. Bu Lina rupanya yang datang. Sebelum membuka Abian mengintip lebih dulu dari interkomnya.
"Abian!" Seru Bu Lina, wajahnya sudah menunjukkan kemarahannya. Tapi Abian rupanya masih cukup lelah untuk menimpali dipagi hari itu. Abian tak berkata - kata pemuda itu hanya kembali dengan langkah gontainya duduk di sofa tadi. Membuat Bu Lina pun jadi tak tega dan sekarang menatapnya iba.
"Bi, bisa kamu jelasin ke Mama maksud perkataan kamu selamam? kalau dari wajah kamu sekarang sepertinya apa yang kamu omongin semalam memang bukan bercanda." Cecar Bu Lina setelah dirinya juga duduk di sofa.
Abian menghela nafasnya berat sambil mengusap wajahnya yang lusuh.
"Kamu sama Hira ada masalah apa? Gak mungkin kamu tiba - tiba bilang mau batalin pernikahan kalau gak ada masalah. Apa Hira yang minta pernikahan ini dibatalkan? Apa dia masih aja gak percaya sama kamu dan masih nuduh kamu selingkuh?"
"Ma, bukan Hira. Hira gak salah apa - apa."
"Terus kalau gitu apa masalahnya?"
Abian lagi - lagi menghela nafas beratnya. Dan lagi - lagi juga mengusap wajahnya kasar. "Ma, disini murni yang salah itu aku."
Melihat betapa frustasinya anaknya, Bu Lina pun jadi ikutan menghela nafas berat.
"Coba sekarang kamu jelasin pelan - pelan biar Mama ngerti."
Abian menundukkan kepalanya. Matanya menatap nanar ujung meja didepannya. Abian kembali mengingat bagaimana wajah Hira yang kesakitan dan menderita. Dan itu kembali membuat Abian jadi merasa bersalah.
"Hira sakit karna aku Ma."
"Maksud kamu? kenapa dia sakit gara - gara kamu?"
"Selama ini aku udah buat dia menderita. Dan aku gak sadar itu." Suara Abian bergetar. Diujung pelupuk matanya sudah tergenang air mata.
"Aku udah jahat ke Hira Ma. Seandainya aku tahu kalau Hira semenderita itu, mungkin aku gak akan berani deketin dia lagi Ma. Mungkin aku akan pergi sejauh mungkin dari dia dan gak akan pernah kembali lagi."
Bu Lina menghela nafas beratnya. Tak berusaha menimpali. Wanita paru baya itu sekarang menatap iba sang anak. Sepertinya anaknya ini sedang tidak baik - baik saja. Dan sepertinya Abian kembali hancur seperti 2 tahun lalu.
"Aku egois Ma. Aku jahat. Aku udah buat Hira sakit. Aku bahkan menyusun balas dendam. Jebak Hira supaya mau menikah sama aku. Dan itu aku lakuin cuma karna Hira yang selama ini selalu ngeliat aku dengan mata jijiknya tanpa tahu penyebabnya."
"Tunggu Bi, Mama gak ngerti bagian kamu menjebak Hira, bisa kamu jelasin lebih rinci? itu maksud kamu, Hira itu berarti mau menikah sama kamu karna terpaksa? karna kamu jebak dan bukan karna dia yang ingin juga?" Bu Lina yang tadinya iba sekarang kembali ingin marah jika apa yang dia ucapkan ini benar.
Abian mengangguk.
"Astaga Abian!" Dan Bu Lina langsung mendengus marah.
Abian pasrah. Dia tahu kalau dia salah.
"Bisa - bisanya kamu melakukan itu? Kamu gak kasian sama Hira?"
Abian semakin menunduk.
"Dan sekarang kamu menyesal?" Bu Lina kehabisan kata - kata. Menarik nafas dalam supaya dirinya tenang.
"Oke, sekarang cerita ke Mama, Bagaimana caranya kamu jebak Hira sampai akhirnya Hira mau sama kamu. Gak mungkinkah cuma dengan ancaman biasa. Pasti dengan ancaman yang sulit dia tolak."
Abian mengusap wajahnya kasar dengan tidak tenang. Tenggorokannya rasanya tercekat. Tak sanggup bercerita pada Bu Lina.
"Abian!" Bu Lina sedikit memekik karna Abian yang diam sedikit lama.
"Aku ..." Abian menunduk.
"Aku buat perusahaannya Pak Rafi bangkrut."
Dan makinlah Bu Lina marah besar. "A, Apa???"
"Aku bikin skenario dikalanganan investor dan lawan bisnis Pak Rafi. Aku beli semua sahamnya. Ketika perusahaan Pak Rafi mau dinyatakan pailit aku lunasi semua hutang - hutangnya, sampai akhirnya sekarang perusahan Pak Rafi jatuh ketanganku dan Pak Rafi bersedia menikahkan Hira sama aku."
"Astaga, kamu??!!" Bu Lina sampai tak bisa berkata - kata. Rasanya ingin sekali memukul Abian agar pikiran sehatnya kembali. "Astaga!!" Bisa - bisanya dia melahirkan anak yang sebusuk ini.
"Aku tahu Ma, aku jahat. Aku tahu aku sudah kelewatan. Aku tahu aku sebusuk itu. Mangkannya sekarang aku menyesal. Sangat menyesal." Abian pun tak kuasa menahan dirinya. Air matanya sekarang jatuh. Sungguh apa yang dia lakukan adalah sesuatu hal yang tidak bisa dimaafkan oleh siapapun itu.
"Mama dan Papa gak pernah mengajari kamu seperti ini Bi. Selama ini Mama sama Papa berusaha selalu ngasih kamu contoh yang baik. Tapi sekarang apa yang udah kamu lakukan? kamu malah menghancurkan sebuah keluarga hanya demi ego kamu. Gimana caranya kamu balikin semuanya seperti semula? Kalau Pak Rafi dan Hira tahu apa mereka gak semakin benci sama kamu? harusnya kamu mikir kesana."
Abian semakin menunduk.
"Mama gak mau tahu ya, kamu harus segera selesaikan masalah ini. Kamu harus tanggungjawab dengan apa yang sudah kamu perbuat. Kembalikan perusahaan Pak Rafi ke keadaan sedia kala. Dan juga jangan pernah membuat Hira menderita lagi."
Abian mengangguk pelan ditengah air mata yang tak kunjung usai itu.
"Dan untuk masalah pernikahan, memang baiknya dibatalkan saja."
"Sekarang kamu cepet mandi. Ikut Mama, temui Papamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments