Abian duduk diruang kerjanya. Bercahayakan lampu teraman yang menyorot ke laptop yang baru saja dia hidupkan. Abian mengusap wajahnya kasar. Mencoba menenangkan pikirannya bahwa apa yang akan dia lihat ini bukanlah sesuatu hal yang akan membuat pikirannya semakin semrawut.
Abian menggeser tutikusnya, mengarahkan pada sebuah link yang tadi dikirimkan Mila padanya.
Dilayar laptopnya, kini sudah terpampang sebuah video dengan format mp4. Abian menekan tutikusnya dan video itu secara otomatis berputar.
Abian tertegun ditempat. Baru saja video itu dibuka, tapi suara dari si perempuan yang mengerang langsung saja menyeruak mengisi keheningan diseluruh ruangan hingga bulu kuduknya berdiri. Apalagi Gerakan naik turun yang diperagakan sang perempuan yang tak mengenakan selembar benang yang berada diatasnya juga begitu nyata adanya. Abian tak sanggup lagi melihatnya. Pemuda itu dengan kasar menutup laptopnya merasa jijik sendiri.
"Fu*ck!!!" Pekiknya dengan nafas tertahan. "Aaarrrrggghhh!!!" Menunjukkan seberapa besar emosinya kini.
Pantas saja Hira begitu jijik padanya, pantas saja Mila masih saja menunjukkan rasa ketidaksukaannya padanya. Rupanya hal seperti ini ada. Dan kenapa dirinya tidak sadar selama ini? Abian menghela nafasnya kasar dan mengacak rambutnya frustasi merasa kecolongan sekaligus merasa sangat bodoh sekali.
Cukup lama Abian dalam rasa frustasinya. Dan cukup lama dia memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang. Jadi, pemuda itu pun kemudian memutuskan untuk menemui seseorang. Abian, meraih kunci mobilnya dan kemudian meninggalkan apartemennya.
Abian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga beberapa waktu berselang, dirinya kini tiba di pelataran parkir sebuah rumah sakit jiwa.
Abian menghela nafasnya Panjang. Sedikit menimbang keputusannya itu kembali. Apakah perlu dia menemui seseorang yang menjadi penyebab hancurnya hubungan antara dirinya dan Hira lalu menanyakan apa saja yang sudah dia lakukan yang belum Abian ketahui sambil sedikit mengancam. Sekali lagi Abian merasa bimbang.
Tapi rupanya Abian memilih tetap memasuki rumah sakit jiwa itu. Dan disinilah dia sekarang berada. Di sebuah ruangan berskat kaca yang menjadi pembatas antara ruangannya dan ruangan kecil di depannya. Yang tak berselang lama, seorang perawat datang dengan seorang pemuda yang memakai baju pasien.
Andreas, langsung tersenyum sumringah tatkalah matanya menatap kehadiran Abian.
“Mas Bian …??” Andreas menyerukan nama Abian dengan antusias, pemuda itu juga langsung duduk dikursi yang berhadapan dengan Abian, tangannya memegang kaca yang menjadi pembatas yang mungkin jika kaca itu tak ada, Andreas sudah memeluk Abian dengan sangat erat.
“Akhirnya kamu datang Mas. Mas, kamu tahu aku itu udah kangen banget sama kamu Mas. Tiap hari aku nunggu kedatangan kamu, tapi kamu gak datang - datang.” Cerocos Andreas dengan raut wajah bahagia yang sangat kentara. Tapi sedetik kemudian wajah itu berubah cemberut. “Tapi aku sebel sama Mas Bian, kenapa Mas Bian baru datang sekarang? tahu gak sih Mas, disini itu gak enak. Aku gak bisa ngapa – ngapain, aku bosan, setiap hari aku cuma disuruh bersih – bersih, disuruh merajut, disuruh masak, disuruh olahraga. Aku pengen keluar Mas, Mas Bian kapan mau ngeluarin aku dari sini? Kata mama sama papa aku harus minta ke Mas Bian biar aku bisa keluar dari sini.”
Abian menghela nafas kasarnya. 2 tahun Andreas mendekam disini rupanya belum juga membuat pemuda itu waras juga. Dan sepertinya keputusannya untuk menemui Andreas setelah sekian lama adalah salah. Abian tidak akan pernah mendapat jawaban tentang apa yang hendak dia tanyakan. Malahan mungkin akan semakin membuat semuanya jadi lebih sulit.
“Mas Bian kenapa? Mas Bian lagi kesulitan? Mas Bian lagi banyak pikiran?” Andreas menampakkan wajah khawatirnya. Obsesinya yang besar membuatnya hafal dengan segala hal tentang Abian.
"Mas kenapa diam aja? Mas Biannn..."
Merasa sudah sangat percuma, Abian pun bangkit dan pergi begitu saja tanpa peduli lagi pada Andreas yang kemungkinan besar akan kembali histeris.
Abian duduk dikursi kemudinya. Menyandarkan kepalanya ke stir sambil sedikit mengetuk – ngetukkan kepalanya. Abian menghela nafasnya kasar. Pikirannya penuh tak bisa berpikir harus bagaimana untuk memperbaiki semuanya. Bahkan untuk marah pun Abian tak tahu harus ditujuhkan pada siapa. Andreas si pelaku sudah tidak waras dan sudah dia jebloskan kedalam rumah sakit jiwa dalam kurun waktu yang sangat lama. Sementara Rasya, si wanita yang ada di video sudah kabur duluan dan tak tahu dimana keberadaannya.
Pikiran penuh itu, rupanya malah berhasil membawa Abian kembali kerumah sakit tempat Hira dirawat. Sepertinya melihat Hira adalah satu – satunya cara untuk mengembalikan ketenangan didalam hatinya.
Abian sekarang sudah berdiri didepan pintu ruang rawat Hira. Memandang dari balik kaca pintu kepada Hira yang sedang terlelap diatas ranjangnya.
Abian meraih gagang pintunya secara perlahan. Mungkin apa yang dilakukannya ini lancang. Tapi sungguh, Abian sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tak melihat Hira dari dekat. Dan secara perlahan Abian berjalan mendekat ke keranjang. Mengabaikan keberadaan Mila dan Pak Rafi yang juga sedang tidur di sofa sambil duduk.
Abian menatap wajah Hira. Sungguh damai tidur wanita itu malam ini. Matanya kemudian secara perlahan beralih ke bibir Hira. Disana memang ada luka dan Abian sadar sejak pertama kali melihatnya. Dan itu karnanya. Setelah memperhatikan bibir, mata Abian beralih pada lengan sebelah kirinya seperti kata Mila tadi. Lengan itu juga penuh goresan luka, dan itu juga karnanya. Abian merasa bersalah. Merasa perih juga. Rupanya sedalam ini rasa sakit Hira padanya.
Abian sudah hendak pergi, tapi naasnya Mila terbangun lebih dulu dan memergokinya. Dan jadilah mereka disini, berdiri disalah satu lorong rumah sakit yang sedikit sepi agar tak mengganggu pasien lain saat mereka kembali berbicara.
“Gue akan jauhi Hira.” Ucap Abian penuh dengan penyesalan.
“Thank, ternyata lo masih punya rasa malu dan hati nurani.”
Abian tersenyum getir mendengar ucapan Mila itu. “Dan sorry …”
“Jangan minta maaf ke gue. Tapi minta maaf ke Hira.”
Abian mengangguk dengan lemah.
Mila menunggu Abian untuk berucap lagi, tapi rupanya lelaki itu hanya diam menunduk.
“Oke, karna udah clear gue harap lo tepatin ucapan lo ini.” Mila akhirnya bersuara.
Dan lagi – lagi Abian mengangguk dengan lemah dengan senyuman getirnya. Membuat Mila jadi sedikit tidak tega.
“Abian,”
Mendengar namanya disebut, Abian mengangkat wajahnya meskipun masih dengan tatapan nanar.
“Gue harap lo juga bisa hidup bahagia, anggep aja kalian gak pernah ketemu. Gue tahu lo sekarang ngerasa bersalah banget sama Hira karna udah bikin dia kayak gini. Tapi please, jangan buat rasa bersalah lo ini malah bikin lo stuk yang akhirnya, nanti, mungkin suatu hari nanti, malah buat Hira jadi ikutan ngerasa bersalah juga ke lo yang akhirnya lo sama Hira jadi gak kelar – kelar. Gue tahu mungkin kejadian itu diluar kuasa lo, dan lo gak ada niatan buat nyakitin Hira. Tapi mau gimana lagi, kesalahpahaman udah terlanjur terjadi dan rasanya buat memperbaikipun udah gak bisa lagi. Jadi dari pada kalian berdua saling menyakiti lagi, lebih baik kalian saling nerima, saling mendoakan dan saling mengikhlaskan."
“Iya Mil, thank …”
“Ya udah gue balik. Dan mending lo pulang, istirahat. Lo kayaknya udah capek banget gue rasa."
Mila pun meninggalkan Abian setelah berkata panjang lebar. Semoga apa yang Mila ucapkan itu dapat membuat Abian sedikit tenang. Meskipun sebenarnya tidak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sumiati Sinawa
lanjut
2024-08-02
1