14. Keputusan yang berat

Abian duduk diruang kerjanya. Bercahayakan lampu teraman yang menyorot ke laptop yang baru saja dia hidupkan. Abian mengusap wajahnya kasar. Mencoba menenangkan pikirannya bahwa apa yang akan dia lihat ini bukanlah sesuatu hal yang akan membuat pikirannya semakin semrawut.

Abian menggeser tutikusnya, mengarahkan pada sebuah link yang tadi dikirimkan Mila padanya.

Dilayar laptopnya, kini sudah terpampang sebuah video dengan format mp4. Abian menekan tutikusnya dan video itu secara otomatis berputar.

Abian tertegun ditempat. Baru saja video itu dibuka, tapi suara dari si perempuan yang mengerang langsung saja menyeruak mengisi keheningan diseluruh ruangan hingga bulu kuduknya berdiri. Apalagi Gerakan naik turun yang diperagakan sang perempuan yang tak mengenakan selembar benang yang berada diatasnya juga begitu nyata adanya. Abian tak sanggup lagi melihatnya. Pemuda itu dengan kasar menutup laptopnya merasa jijik sendiri.

"Fu*ck!!!" Pekiknya dengan nafas tertahan. "Aaarrrrggghhh!!!" Menunjukkan seberapa besar emosinya kini.

Pantas saja Hira begitu jijik padanya, pantas saja Mila masih saja menunjukkan rasa ketidaksukaannya padanya. Rupanya hal seperti ini ada. Dan kenapa dirinya tidak sadar selama ini? Abian menghela nafasnya kasar dan mengacak rambutnya frustasi merasa kecolongan sekaligus merasa sangat bodoh sekali.

Cukup lama Abian dalam rasa frustasinya. Dan cukup lama dia memikirkan apa yang harus dilakukannya sekarang. Jadi, pemuda itu pun kemudian memutuskan untuk menemui seseorang. Abian, meraih kunci mobilnya dan kemudian meninggalkan apartemennya.

Abian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hingga beberapa waktu berselang, dirinya kini tiba di pelataran parkir sebuah rumah sakit jiwa.

Abian menghela nafasnya Panjang. Sedikit menimbang keputusannya itu kembali. Apakah perlu dia menemui seseorang yang menjadi penyebab hancurnya hubungan antara dirinya dan Hira lalu menanyakan apa saja yang sudah dia lakukan yang belum Abian ketahui sambil sedikit mengancam. Sekali lagi Abian merasa bimbang.

Tapi rupanya Abian memilih tetap memasuki rumah sakit jiwa itu. Dan disinilah dia sekarang berada. Di sebuah ruangan berskat kaca yang menjadi pembatas antara ruangannya dan ruangan kecil di depannya. Yang tak berselang lama, seorang perawat datang dengan seorang pemuda yang memakai baju pasien.

Andreas, langsung tersenyum sumringah tatkalah matanya menatap kehadiran Abian.

“Mas Bian …??” Andreas menyerukan nama Abian dengan antusias, pemuda itu juga langsung duduk dikursi yang berhadapan dengan Abian, tangannya memegang kaca yang menjadi pembatas yang mungkin jika kaca itu tak ada, Andreas sudah memeluk Abian dengan sangat erat.

“Akhirnya kamu datang Mas. Mas, kamu tahu aku itu udah kangen banget sama kamu Mas. Tiap hari aku nunggu kedatangan kamu, tapi kamu gak datang - datang.” Cerocos Andreas dengan raut wajah bahagia yang sangat kentara. Tapi sedetik kemudian wajah itu berubah cemberut. “Tapi aku sebel sama Mas Bian, kenapa Mas Bian baru datang sekarang? tahu gak sih Mas, disini itu gak enak. Aku gak bisa ngapa – ngapain, aku bosan, setiap hari aku cuma disuruh bersih – bersih, disuruh merajut, disuruh masak, disuruh olahraga. Aku pengen keluar Mas, Mas Bian kapan mau ngeluarin aku dari sini? Kata mama sama papa aku harus minta ke Mas Bian biar aku bisa keluar dari sini.”

Abian menghela nafas kasarnya. 2 tahun Andreas mendekam disini rupanya belum juga membuat pemuda itu waras juga. Dan sepertinya keputusannya untuk menemui Andreas setelah sekian lama adalah salah. Abian tidak akan pernah mendapat jawaban tentang apa yang hendak dia tanyakan. Malahan mungkin akan semakin membuat semuanya jadi lebih sulit.

“Mas Bian kenapa? Mas Bian lagi kesulitan? Mas Bian lagi banyak pikiran?” Andreas menampakkan wajah khawatirnya. Obsesinya yang besar membuatnya hafal dengan segala hal tentang Abian.

"Mas kenapa diam aja? Mas Biannn..."

Merasa sudah sangat percuma, Abian pun bangkit dan pergi begitu saja tanpa peduli lagi pada Andreas yang kemungkinan besar akan kembali histeris.

Abian duduk dikursi kemudinya. Menyandarkan kepalanya ke stir sambil sedikit mengetuk – ngetukkan kepalanya. Abian menghela nafasnya kasar. Pikirannya penuh tak bisa berpikir harus bagaimana untuk memperbaiki semuanya. Bahkan untuk marah pun Abian tak tahu harus ditujuhkan pada siapa. Andreas si pelaku sudah tidak waras dan sudah dia jebloskan kedalam rumah sakit jiwa dalam kurun waktu yang sangat lama. Sementara Rasya, si wanita yang ada di video sudah kabur duluan dan tak tahu dimana keberadaannya.

Pikiran penuh itu, rupanya malah berhasil membawa Abian kembali kerumah sakit tempat Hira dirawat. Sepertinya melihat Hira adalah satu – satunya cara untuk mengembalikan ketenangan didalam hatinya.

Abian sekarang sudah berdiri didepan pintu ruang rawat Hira. Memandang dari balik kaca pintu kepada Hira yang sedang terlelap diatas ranjangnya.

Abian meraih gagang pintunya secara perlahan. Mungkin apa yang dilakukannya ini lancang. Tapi sungguh, Abian sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tak melihat Hira dari dekat. Dan secara perlahan Abian berjalan mendekat ke keranjang. Mengabaikan keberadaan Mila dan Pak Rafi yang juga sedang tidur di sofa sambil duduk.

Abian menatap wajah Hira. Sungguh damai tidur wanita itu malam ini. Matanya kemudian secara perlahan beralih ke bibir Hira. Disana memang ada luka dan Abian sadar sejak pertama kali melihatnya. Dan itu karnanya. Setelah memperhatikan bibir, mata Abian beralih pada lengan sebelah kirinya seperti kata Mila tadi. Lengan itu juga penuh goresan luka, dan itu juga karnanya. Abian merasa bersalah. Merasa perih juga. Rupanya sedalam ini rasa sakit Hira padanya.

Abian sudah hendak pergi, tapi naasnya Mila terbangun lebih dulu dan memergokinya. Dan jadilah mereka disini, berdiri disalah satu lorong rumah sakit yang sedikit sepi agar tak mengganggu pasien lain saat mereka kembali berbicara.

“Gue akan jauhi Hira.” Ucap Abian penuh dengan penyesalan.

“Thank, ternyata lo masih punya rasa malu dan hati nurani.”

Abian tersenyum getir mendengar ucapan Mila itu. “Dan sorry …”

“Jangan minta maaf ke gue. Tapi minta maaf ke Hira.”

Abian mengangguk dengan lemah.

Mila menunggu Abian untuk berucap lagi, tapi rupanya lelaki itu hanya diam menunduk.

“Oke, karna udah clear gue harap lo tepatin ucapan lo ini.” Mila akhirnya bersuara.

Dan lagi – lagi Abian mengangguk dengan lemah dengan senyuman getirnya. Membuat Mila jadi sedikit tidak tega.

“Abian,”

Mendengar namanya disebut, Abian mengangkat wajahnya meskipun masih dengan tatapan nanar.

“Gue harap lo juga bisa hidup bahagia, anggep aja kalian gak pernah ketemu. Gue tahu lo sekarang ngerasa bersalah banget sama Hira karna udah bikin dia kayak gini. Tapi please, jangan buat rasa bersalah lo ini malah bikin lo stuk yang akhirnya, nanti, mungkin suatu hari nanti, malah buat Hira jadi ikutan ngerasa bersalah juga ke lo yang akhirnya lo sama Hira jadi gak kelar – kelar. Gue tahu mungkin kejadian itu diluar kuasa lo, dan lo gak ada niatan buat nyakitin Hira. Tapi mau gimana lagi, kesalahpahaman udah terlanjur terjadi dan rasanya buat memperbaikipun udah gak bisa lagi. Jadi dari pada kalian berdua saling menyakiti lagi, lebih baik kalian saling nerima, saling mendoakan dan saling mengikhlaskan."

“Iya Mil, thank …”

“Ya udah gue balik. Dan mending lo pulang, istirahat. Lo kayaknya udah capek banget gue rasa."

Mila pun meninggalkan Abian setelah berkata panjang lebar. Semoga apa yang Mila ucapkan itu dapat membuat Abian sedikit tenang. Meskipun sebenarnya tidak.

Terpopuler

Comments

Sumiati Sinawa

Sumiati Sinawa

lanjut

2024-08-02

1

lihat semua
Episodes
1 1. Kabar terdasyat
2 2. Pertemuan keluarga
3 3. Abian Si Psikopat
4 4. Pikiran gila
5 5. Jalankan misi
6 6. Pokoknya aneh
7 7. Lomba balas dendam
8 8. Sama - sama tahu
9 9. Raja dan ratu drama
10 10. Kenangan masa lalu
11 11. Tentang trauma
12 12. Rasa sakit
13 13. Abian Tahu
14 14. Keputusan yang berat
15 15. Rindu?
16 16. Curiga
17 17. Separuh jiwa yang hilang
18 18. Peliknya sebuah permasalahan
19 19. Kebohongan berlapis
20 20. Firasat
21 21. Ayo sembuh
22 22. Ini adalah cinta
23 23. Ayo bangkit
24 24. You look so beautiful in red
25 25. Oke, deal!
26 26. Harus bisa berdamai dengan perasaan
27 27. Perfect in white
28 28. Sedikit percikan masa lalu
29 29. Hari terakhir masa single
30 30. Coba lebih pengertian lagi
31 31. Rasa haru
32 32. Janji suci?
33 33. Hari pertama pernikahan
34 34. Apakah ini tanda Hira sembuh?
35 35. Permintaan maaf
36 36. Udah ingin cerai
37 37. Sesuatu yang tak terduga
38 38. Kekhawatiran
39 39. Diluar BMKG
40 40. Singapura
41 41. Rencana tantrum
42 42. Tantrum
43 43. Jatuh cinta lagi
44 44. hipnotis lagi
45 45. Teriakan pagi hari
46 46. Tantrum kedua
47 47. Sesuatu yang tak terduga
48 48. Rasya is back
49 49. Siap balas dendam
50 50. Saling ancam
51 51. lupakan kecanggungan dan gengsi
52 52. Beraksi
53 53. Tidak sadar
54 54. Frustasi dengan perasaan
55 55. Hira sudah sembuh
56 56. Masih cinta?
57 57. Hari baru dimulai
58 58. Tiba - tiba ruwet
Episodes

Updated 58 Episodes

1
1. Kabar terdasyat
2
2. Pertemuan keluarga
3
3. Abian Si Psikopat
4
4. Pikiran gila
5
5. Jalankan misi
6
6. Pokoknya aneh
7
7. Lomba balas dendam
8
8. Sama - sama tahu
9
9. Raja dan ratu drama
10
10. Kenangan masa lalu
11
11. Tentang trauma
12
12. Rasa sakit
13
13. Abian Tahu
14
14. Keputusan yang berat
15
15. Rindu?
16
16. Curiga
17
17. Separuh jiwa yang hilang
18
18. Peliknya sebuah permasalahan
19
19. Kebohongan berlapis
20
20. Firasat
21
21. Ayo sembuh
22
22. Ini adalah cinta
23
23. Ayo bangkit
24
24. You look so beautiful in red
25
25. Oke, deal!
26
26. Harus bisa berdamai dengan perasaan
27
27. Perfect in white
28
28. Sedikit percikan masa lalu
29
29. Hari terakhir masa single
30
30. Coba lebih pengertian lagi
31
31. Rasa haru
32
32. Janji suci?
33
33. Hari pertama pernikahan
34
34. Apakah ini tanda Hira sembuh?
35
35. Permintaan maaf
36
36. Udah ingin cerai
37
37. Sesuatu yang tak terduga
38
38. Kekhawatiran
39
39. Diluar BMKG
40
40. Singapura
41
41. Rencana tantrum
42
42. Tantrum
43
43. Jatuh cinta lagi
44
44. hipnotis lagi
45
45. Teriakan pagi hari
46
46. Tantrum kedua
47
47. Sesuatu yang tak terduga
48
48. Rasya is back
49
49. Siap balas dendam
50
50. Saling ancam
51
51. lupakan kecanggungan dan gengsi
52
52. Beraksi
53
53. Tidak sadar
54
54. Frustasi dengan perasaan
55
55. Hira sudah sembuh
56
56. Masih cinta?
57
57. Hari baru dimulai
58
58. Tiba - tiba ruwet

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!